Janitra Widari Pramudya memutuskan kembali ke Tanah Air. Sebelumnya, ia tinggal di luar negeri selama lima tahun karena melanjutkan kuliah. Orang tuanya telah meninggal dunia sejak enam tahun yang lalu karena kecelakaan.
Janitra akhirnya menerima perjodohan dari Keluarga Syailendra sesuai wasiat mendiang kakeknya. Janitra baru mengetahui ternyata dirinya dijodohkan dengan Kresna Maharaja Syailendra sejak lama. Bagi Janitra, Kresna adalah cinta pertamanya.
Aku mencintainya sederas hujan. Namun, dia memilih untuk membangun tembok setinggi langit~Janitra.
Jangan pernah melangkah jauh menembus batasan yang sudah aku terapkan karena itu percuma saja. Kita menikah bukan karena cinta. Hanya sebatas utang budi keluarga. Aku harap kamu tidak pikun~Kresna.
Simak kisah mereka.💋💋
Mohon dukungannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Perjodohan
Setelah lima tahun Janitra Widari Pramudya hidup dan kuliah di luar negeri, akhirnya ia kembali ke Tanah Air.
Wanita muda yang kini berusia dua puluh tiga tahun itu sedang menatap hamparan awan putih yang membentang di luar jendela pesawat yang ditumpanginya. Tatapannya tampak biasa. Wajahnya juga datar tanpa senyuman.
Padahal seharusnya Janitra memancarkan rona bahagia karena seminggu lagi dirinya akan menikah dengan Kresna Maharaja Syailendra, pria yang menjadi cinta pertamanya.
Janitra baru mengetahui jika ternyata mendiang kakeknya yang bernama Kakek Sigit menjodohkan dirinya dengan Kresna sejak lama.
Dahulu Kakek Haryo Dirojo Syailendra dengan Kakek Sigit berteman baik. Kakek Haryo Dirojo punya utang budi ke Kakek Sigit karena pernah diselamatkan dari tembakan musuh sewaktu zaman perang.
Lalu, keduanya sepakat mengikat janji bahwa cucu pertama laki-laki yang lahir dari rahim permaisuri Keluarga Syailendra akan menikah dengan cucu pertama perempuan di Keluarga Pramudya di masa depan.
Janitra adalah cucu semata wayang mendiang Kakek Sigit. Sedangkan Kresna adalah cucu pertama laki-laki yang lahir dari rahim permaisuri bernama Ayu Gayatri Kemuning. Mereka berdua akhirnya dijodohkan.
Tiga bulan lalu, ibu kandung Kresna pergi ke luar negeri bertemu Janitra untuk menyampaikan wasiat tersebut.
Gusti Kanjeng Ayu datang ke sana tanpa Kresna maupun suaminya. Akan tetapi, ayah kandung Kresna yakni Sinuhun Barata sudah mengetahui dan menyetujui perjodohan itu.
"Separuh kepingan koin emas yang terbelah ini adalah sebagai tanda pengikat janji perjodohan Kakek Haryo Dirojo Syailendra dengan kakekmu. Kamu pasti punya kepingan yang satunya lagi. Benar kan?" tanya Bu Ayu seraya telapak tangannya meletakkan separuh kepingan koin emas yang dibawanya ke atas meja di depannya.
"Benar, Gusti Kanjeng Ayu."
"Panggil saja aku Bu Ayu,"
"Tapi_"
"Kamu akan jadi menantuku. Anggap aku seperti ibu kandungmu sendiri," potong Bu Ayu dengan nada lembut namun penuh ketegasan pada Janitra.
Lalu, Janitra sedikit menundukkan kepalanya pada calon ibu mertuanya tersebut sebagai tanda 'iya' sekaligus memberi hormat baktinya.
Detik selanjutnya, Janitra membuka sebuah kotak kuno dengan ukiran seorang laki-laki dan perempuan yang tengah bersanding atau berdampingan. Di dalamnya terdapat setengah kepingan koin emas.
Sedikit cerita, Janitra pertama kali menemukan kotak berharga berisi setengah kepingan emas yang menjadi jembatan perjodohan tersebut di lemari kamar orang tuanya. Tepatnya, selepas kepergian kedua orang tuanya untuk selamanya enam tahun yang lalu.
Janitra membawa beberapa benda penting peninggalan keluarganya ke luar negeri bersamanya ketika baru saja lulus SMA dan hendak berkuliah di sana.
Rumah peninggalan orang tuanya tetap ada dan tidak ia jual. Sebab, di sana terlalu banyak kenangan indah bersama keluarganya sejak kecil. Janitra biasanya akan membayar orang untuk membersihkan rumah tersebut tiap seminggu sekali.
Selain kuliah jurusan kedokteran di luar negeri, Janitra juga bekerja paruh waktu yakni sebagai loper koran hingga pelayan restoran. Walaupun bukan berda_rah ningrat, Keluarga Pramudya sebenarnya bukan kategori miskin.
Harta peninggalan dari mendiang kedua orang tua Janitra sebenarnya masih cukup untuk menghidupi segala kebutuhannya di luar negeri. Hanya saja Janitra bukanlah wanita yang manja untuk menghabiskan harta keluarganya begitu saja.
Ia adalah wanita pekerja keras, bukan tipe ong_kang-ong_kang kaki yang cuma kipasan duit turun dari langit. Kalau bahasa anak zaman now adalah hedon alias foya-foya.
☘️☘️
Setengah kepingan koin emas bergambar laki-laki dibawa oleh Keluarga Syailendra. Sedangkan setengah kepingan yang lain bergambar perempuan dibawa oleh keturunan Keluarga Pramudya yakni Janitra.
Bu Ayu perlahan menyatukan dua kepingan koin emas tersebut.
"Akhirnya mereka bisa disatukan kembali setelah sekian lama berada di tempat yang berbeda," ucap Bu Ayu seraya tersenyum penuh haru.
Lalu, ia berucap doa tulus untuk perjodohan Kresna dan Janitra. Sebagai seorang ibu, Bu Ayu tentu ingin yang terbaik untuk masa depan putra kesayangannya tersebut.
"Semoga jodohmu bersama putraku-Kresna, langgeng abadi sampai akhir hayat sesuai keinginan mendiang ayah mertuaku dengan kakekmu. Dijauhkan dari segala godaan wadon ga_tel sing mung kedonyan harta Syailendra lan murahan seneng ngobral barange," sambungnya.
Deg...
Wadon ga_tel.
Murahan.
Ngobral 'barange'.
Janitra cukup terkejut mendengar kata-kata di ujung kalimat doa yang diucapkan oleh calon ibu mertuanya barusan. Namun, ia tetap mengaminkan dalam hatinya untuk doa-doa baik dari Bu Ayu.
Jika ditelaah dari makna kalimat doa yang terlontar barusan dari bibir Bu Ayu, tidaklah salah. Justru doa tersebut adalah perwujudan nyata sebuah bentuk kasih sayang tulus dan mulia dari seorang ibu kandung pada anaknya.
Seorang ibu pasti tak ingin anaknya salah langkah, salah pilih jodoh, maupun hal buruk lainnya di masa depan.
"Apa saya boleh bertanya, Bu?" tanya Janitra memberanikan diri.
"Silahkan saja, Nduk. Dengan senang hati ibu akan menjawabnya selama mampu," jawab Bu Ayu dengan wajah tersenyum manis di depan Janitra.
"Saya berasal dari keluarga biasa, bukan berda_rah biru atau ningrat. Keluarga Pramudya cuma dari da_rah rakyat jelata. Apa nantinya tidak menimbulkan polemik di dalam maupun luar Kasepuhan?" tanya Janitra sedikit dilanda khawatir.
"Kamu tidak perlu risau akan hal itu, Nduk. Rama Barata sudah merestui wasiat perjodohan ini. Begitu pun ibu," jawab Bu Ayu secara jujur.
"Apa Mas Kresna setuju dengan perjodohan ini?"
Bersambung...
🍁🍁🍁
Note :
*Cerita ini hanya kehaluan Othor semata. Jadi, jangan disamakan dengan dunia nyata baik aturan maupun pakem-pakemnya. Novel ini berlatar belakang keluarga bangsawan atau ningrat tapi bergaya modern.
*Othor sengaja tidak menulis gelar secara lengkap maupun panggilan kehormatan atau sebutan. Gaya penulisan Othor dominan tetap menggunakan Bahasa Indonesia. Hanya sesekali saja terselip pakai bahasa daerah. Hal ini untuk memudahkan pembaca secara umum agar bisa lebih fokus pada inti ceritanya. Semoga dimengerti dan dipahami bersama ya. Jangan lupa dukungannya selalu.
Matur nuwun sanget. 💋💋
*Dipahami silsilah dan nama tokoh-tokohnya di bawah ini ya. 👇👇
☘️Kasepuhan Kota Mawar☘️
Silsilah Keluarga Syailendra :
👉Kakek Haryo Dirojo Syailendra menikah dengan Nenek Ageng Maheswari. Punya anak tunggal Barata Syailendra (Putra mahkota).
👉Barata Syailendra menikah 2 kali.
❤️Pernikahan pertama dengan Ayu Gayatri Kemuning (Permaisuri).
Nama Anak :
Kirana Danastri Syailendra (30 tahun)
Kresna Maharaja Syailendra (27 tahun)
Kartika Intan Syailendra (16 tahun)
❤️Pernikahan kedua dengan Gandawati (Selir).
Nama Anak : Arya Gumilang Syailendra (40 tahun).
👉Arya menikah dengan Mayang Gendiko Asmoro (27 tahun).
Anak : Aksa Wira Syailendra (4 tahun)
💋Silsilah Keluarga Pramudya
👉Kakek Sigit menikah dengan Nenek Ningrum. Punya anak bernama Rahadi Pramudya.
👉Rahadi Pramudya menikah dengan Legi Susilowati.
Anak : Janitra Widari Pramudya (23 tahun).
gak bisa tidur karna belum berendam racikan rempah cinta ala janitra
wahhh KY nya ada yang mau unboxing nihh😅😅😅
kresna butuh di ninabobokan sama janitra😄