"Aku yang menciptakan penderitaanmu... maka aku juga yang akan jadi takdir bahagiamu."
Lili tidak pernah menyangka akan bertransmigrasi ke dalam novel buatannya sendiri—menjadi Lilian, seorang pelayan biasa. Mengerikannya, ia datang saat Damian, sang tokoh utama pria, berada di titik terendah.
Dibuang keluarga, posisinya dijarah, dan tunangannya direbut anak angkat yang licik.
Tahu betul penderitaan ciptaannya, Lilian pasang badan. Berbekal 'pengetahuan masa depan', ia membongkar kejahatan anak angkat itu dan menuntun Damian merebut kembali segalanya.
Namun, saat dendam terbalaskan dan Lilian berniat pergi, Damian justru menguncinya erat.
"Kamu yang mengajarkanku cara bangkit, Lilian. Jangan harap bisa pergi setelah merebut hatiku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.25 —Jebakan Kenangan
Malam harinya, Sterling Grand Auction Hall dipenuhi oleh jajaran pengusaha kelas atas, pejabat, dan selebritas papan atas. Cahaya lampu gantung kristal yang megah memantul di atas lantai marmer, menciptakan suasana glamor yang eksklusif.
Damian datang menggandeng erat tangan Lilian. Damian mengenakan setelan jas hitam elegan yang disesuaikan sempurna dengan bentuk tubuhnya, sementara Lilian tampak memukau dengan gaun malam simpel namun sangat anggun. Di belakang mereka, Felix berjalan mengekor dengan senyum formal.
"Kamu yakin mau beli barang di lelang ini?" bisik Lilian seraya menatap kerumunan tamu.
Damian menatap Lilian lembut, membelai punggung tangannya. "Alexander Sterling yang mengundangku langsung. Sekaligus aku mau mengenalkan kamu secara resmi ke kolega bisnis Aetheria Tech."
Namun, suasana tenang itu terusik saat Clara melangkah mendekat. Ia mengenakan gaun merah menyala yang menyita perhatian, didampingi Chloe dan Sienna.
"Damian..." sapa Clara dengan suara dibuat seramah dan selembut mungkin, mengabaikan keberadaan Lilian di samping pria itu. "Aku tahu kamu bakal datang malam ini."
Damian merangkul pinggang Lilian rapat-rapat, menatap Clara dingin tanpa ekspresi. "Ada perlu apa?"
"Gak ada apa-apa, aku cuma mau bilang... ada satu barang sangat spesial yang bakal dilelang malam ini. Barang yang aku yakin... sangat berharga buat kamu," bisik Clara dengan senyuman misterius sebelum melangkah pergi bersama sirkelnya.
Lilian menatap punggung Clara dengan kening berkerut. Sistem, ada indikasi jebakan di lelang ini? batin Lilian memanggil sistemnya.
[Ting! Terdeteksi aktivitas manipulasi psikologis dari Karakter Clara. Harap Waspada host.]
Acara lelang dimulai. Satu per satu barang antik dan perhiasan langka berpindah tangan dengan nilai fantastis. Sampai akhirnya, sang juru lelang membawa sebuah kotak beludru tua ke atas panggung.
"Barang lelang berikutnya adalah sebuah Jam Saku Emas Antik Ukiran Mawar peninggalan awal abad ke-19. Barang ini memiliki nilai sentimental tinggi..."
Seketika tubuh Damian menegang kaku. Matanya membelalak menatap jam saku di atas panggung.
Lilian yang berada di sampingnya merasakan perubahan drastis pada Damian. Cengkeraman tangan Damian di jemarinya mendadak mendingin dan gemetar tipis.
"Damian? Kamu kenapa?" tanya Lilian cemas.
"Itu... jam saku milik Nenek," bisik Damian dengan suara serak, dipenuhi rasa bersalah yang mendalam. "Dulu, pas aku gak punya apa-apa. Aku menjual barang itu untuk bertahan hidup."
"Apa?"
Lilian tertegun. Ia ingat bagian ini! Di draf novel aslinya, penyesalan terbesar Damian adalah harus menjual satu-satunya peninggalan nenek kandungnya yang sangat menyayanginya.
Tiba-tiba peri mini muncul di sekitaran Lilian.
"Haduh host, masa gitu aja lupa sih. Kan kamu yang nulis novel, cepat ikut nawar," titah peri mini.
"Iyaa, iyaa. Bawel ihh," balas Lilian pelan.
"Harga awal dibuka di angka 500 juta rupiah!" seru juru lelang.
"Satu miliar!" teriak sebuah suara dari barisan depan.
Semua orang menoleh. Itu Clara! Clara mengangkat papan lelangnya dengan senyum percaya diri. Ia lalu menoleh ke arah Damian, menatap pria itu dengan pandangan penuh arti dan penyesalan yang dibuat-buat.
"Satu setengah miliar!" potong Damian tegas tanpa ragu. Ia harus mendapatkan jam saku neneknya kembali, berapa pun harganya.
Lilian menoleh, tadinya dia ingin ikut menawar untuk diberikan pada Damian. Namun, dia sudah didahului.
"Dua miliar!" balas Clara cepat.
Persaingan sengit terjadi. Clara terus menaikkan harga hingga menyentuh angka 5 miliar rupiah. Saat Damian hendak mengangkat papannya lagi untuk menawar lebih tinggi, Clara tiba-tiba menurunkan papannya dan berjalan mendekati meja Damian diiringi tatapan ratusan tamu undangan.
Clara memegang kotak jam saku tua itu—yang telah disahkannya—lalu berlutut pelan di samping kursi Damian. Matanya berkaca-kaca, memancarkan raut wajah penuh penyesalan.
"Damian... aku tahu aku banyak salah di masa lalu. Aku tahu dulu aku buta karena memilih Gavin," tangis Clara pecah pelan, cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitar mereka. "Tapi waktu aku tahu jam saku almarhum Nenek kamu dijual... aku nyari barang ini ke mana-mana demi kamu."
Clara menyodorkan kotak jam saku itu ke tangan Damian.
"Ambil ini, Damian... Ini milik Nenek kamu. Aku gak minta kamu bales perasaan aku dan maafin aku, aku cuma mau kamu tahu kalau aku bener-bener menyesal udah nyakitin kamu dulu..."
Seluruh ruangan mendadak berbisik-bisik.
"Wah, bukannya itu mantan tunangannya?"
"Bukan, Clara itu mantannya Gavin anak angkat keluarga Laurent. Tapi dengar-dengar mereka putus, dan harusnya Clara sama Damian. Sekarang Clara dekati Damian lagi."
"Ternyata dia rela keluarin 5 miliar cuma buat balikin barang peninggalan neneknya Damian..."
"Terharu banget, kelihatan masih cinta banget ya..."
"Halah bukan cinta itu mah, tapi mantannya udah jatuh miskin. Makanya dekatin Damian."
Damian terpaku menatap jam saku di tangannya. Tangan pria itu gemetar meraba ukiran mawar yang sangat familier. Benteng pertahanan emosionalnya retak seketika oleh memori masa kecil bersama neneknya. Damian menatap Clara dengan pandangan yang perlahan melunak—bukan karena cinta, melainkan karena rasa terkejut dan emosi mendalam atas barang peninggalan tersebut.
"Clara... kamu..." gumam Damian pelan.
Namun di mata Lilian yang duduk di sebelahnya, pemandangan itu terasa amat menyayat hati. Tatapan mata Damian yang melunak pada Clara, tangisan penuh pengorbanan Clara, dan bisik-bisik orang di sekitar membuat Lilian mendadak merasa... terasing.
Lilian melepaskan genggaman tangannya dari tangan Damian secara perlahan.
"Di draf awal novel yang gue tulis... Clara memang takdirnya Damian," batin Lilian dengan dada sesak. "Mau sekeras apa pun gue berusaha mengubah takdir, dunia ini selalu punya cara buat narik Damian kembali ke orang-orang di masa lalunya..."
Damian menerima jam tersebut dan tersenyum tipis pada Clara.
"Terima kasih," ucap Damian.
"Sama-sama," balas Clara tersenyum senang, lalu melirik ke arah Lilian dan tersenyum miring.
Ting!
"Gawat Host, rasa percaya Damian pada Clara muncul sekitar dua puluh persen. Sedangkan padamu berkurang sebanyak tiga puluh persen!" seru si peri sistem panik.
"Apa? Bagaimana bisa, Sistem?!" batin Lilian terkejut, menatap panel transparan yang berkedip merah.
"Iya, Host! Karena barang dari Neneknya punya nilai emosional paling dalam di hidup Damian. Aksi Clara yang sok pahlawan ini berhasil meretas benteng pertahanan trauma masa kecil Damian!" cerocos peri mini frustrasi.
Lilian terdiam membisu. Ia menatap Damian yang masih terdiam memandangi jam saku itu, lalu melirik Clara yang tersenyum penuh kemenangan. Rasa sesak dan cemburu yang luar biasa menghantam dada Lilian.
"Sistem..." bisik Lilian dalam hatinya dengan nada pasrah. "Mungkin dari awal... aku emang cuma orang luar yang gak seharusnya mengacaukan jalan cerita ini. Sehebat apa pun Sistem membantu aku, takdir novel ini bakal selalu nemuin cara buat nyatuin tokoh utamanya."
"Host." Lirih si peri mini.
"Lilian?" Damian tersadar dan menoleh, menyadari genggaman tangan Lilian sudah terlepas. Wajah Lilian tampak pucat dan tatapannya terasa begitu jauh. "Kamu kenapa? Ada yang sakit?"
Lilian menarik tangannya pelan, memberikan senyuman tipis paling palsu yang pernah ia buat. "Nggak apa-apa, Damian... Aku cuma agak pusing. Selamat ya, jam saku Nenek kamu akhirnya kembali."
Damian mengerutkan keningnya. Ada kepanikan aneh yang mendadak menyerang dadanya melihat sikap dingin Lilian secara tiba-tiba. Retakan dalam hubungan mereka resmi tercipta malam itu.
Bersambung...
buat apa bertahan demi laki² yang tidak mau menikahi'mu
balik wwooii... balikk...
wow....
kejutan....
ada apa ini Li...
Emak Bapak'mu gak nyariin Kamu Li
tarik nafas lewat mulut...
buang lwt bawah...
bbrrooootttt🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
tapi Kamu jadi kaya raya Li
mengganggu aja
dia kau Gagav
kita double date sm mereka
🤣🤣