NovelToon NovelToon
Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Romansa pedesaan
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia menutupi nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, lalu memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.

Hingga suatu malam, Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.

Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang merendahkannya. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka, Danang pantas mendapatkan wanita yang lebih cantik, lebih bergengsi, dan lebih menguntungkan.

Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas, lalu pulang ke Yogyakarta.

Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, hingga jaringan dagang milik keluarga Raras selama ini diam-diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.

Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh. Ketika penyesalan itu datang terlambat, Danang sudah kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 — Pintu yang Ditutup (Revisi)

“Kowe nesu (kamu marah)?”

Pertanyaan Eyang jatuh di tengah pendapa. Lampu minyak berayun di balok jati, dan di atas tikar pandan, buku besar milik Pak Hadi terbuka lebar di samping gelas-gelas teh yang belum disentuh. Aditya duduk di sisi kiri Eyang, Retno di kanan. Raras duduk paling ujung, tangan kirinya di pangkuan.

“Sedikit, Eyang.”

“Sedikit?”

“Raras tidak mau bilang tidak marah. Itu bohong.” Raras menegakkan punggung. “Tapi Raras belajar sejak semalam. Marah boleh ada di dada, jangan sampai pindah ke tangan.”

“Tangan sing nandatangani opo (tangan yang menandatangani apa)?”

“Tangan yang mengambil keputusan, Eyang.”

Eyang mengetukkan ujung tongkat ke lantai. Pak Hadi di seberang tikar menunduk dalam, kacamatanya hampir jatuh.

“Bapak mau tanya dulu,” sela Aditya. “Kamu yakin tidak mau bertindak lebih tegas? Mereka mengancammu langsung.”

“Kalau Raras ikut bertindak kasar, Raras tidak ada bedanya dengan mereka, Pak. Raras mau tegas, bukan kejam.”

“Yo wis. Ngomong, Nduk. Kowe sing mutuske (ya sudah. Bicaralah, Nduk. Kamu yang memutuskan).”

Raras menarik napas. “Pak Hadi sudah menyampaikan, tapi Raras ulang supaya semuanya jelas. Yang dicabut hanya keistimewaan. Tenggang empat puluh lima hari diganti syarat umum: tiga puluh hari untuk pembeli yang punya jaminan bank, selebihnya tunai. Prioritas panen mengikuti antrean biasa. Harga rekanan lama diganti harga standar.”

“Itu hak kita,” kata Aditya. “Tapi kalau Danang menggugat karena fasilitasnya dihentikan?”

“Tidak ada perjanjian tertulis soal fasilitas itu, Pak. Semuanya kebijakan lisan. Raras sudah memeriksanya siang tadi bersama Pak Hadi.”

“Betul, Mbak,” kata Pak Hadi lirih. “Tapi Pak Danang tidak punya jaminan bank.”

“Berarti tunai, Pak. Syaratnya sama untuk semua pembeli.”

“Ada empat hal yang tidak boleh kita lakukan.” Raras menatap meja. “Pertama, tidak ada kontrak yang dibatalkan.”

“Kedua?” tanya Retno.

“Tidak menahan barang yang sudah dipesan dan dibayar.”

“Ketiga?”

“Tidak mempersulit hak pembeli, sekecil apa pun. Keempat, tidak ada yang menjelek-jelekkan Mas Danang, di pasar, di kantor, atau di mana pun.” Ia menuliskan keempat aturan itu satu per satu di buku catatan hitam kecil di pangkuannya.

“Mbak.” Pak Hadi mengangkat wajahnya. Ada sesuatu di sorot matanya, bukan pembangkangan, tetapi gelisah. “Saya sudah menyiapkan surat untuk semua pemasok supaya Pak Danang tidak dilayani. Suratnya sudah selesai, tinggal tanda tangan Bapak.”

Hening menyelimuti pendapa. Retno menoleh pada Aditya. Aditya menoleh pada Raras.

“Pak Hadi, surat itu di mana?”

“Ada di tas saya, Mbak.”

“Tolong ambil.”

Pak Hadi mengeluarkan amplop cokelat dengan tangan sedikit gemetar. Raras membukanya, membaca sekilas dua paragraf pertama, lalu mengangkat wajahnya.

“Pak, Raras tidak marah. Raras tahu Bapak sudah puluhan tahun bersama keluarga ini dan ingin membela Raras.”

“Saya tidak tega melihat Mbak diperlakukan begitu.”

“Raras mengerti, Pak. Terima kasih.” Raras menyobek surat itu menjadi dua, lalu empat. “Tapi surat ini untuk menghukum Danang. Raras tidak mau keluarga ini menutup pintu rezeki siapa pun.”

“Mbak...”

“Kalau kita memutus semua pemasoknya, itu sudah keterlaluan, Pak. Hari ini Mas Danang. Besok siapa lagi yang akan kita anggap pantas dihukum?”

“Nggih, Mbak,” bisik Pak Hadi.

“Kita hanya berhenti memberi fasilitas khusus.” Raras meletakkan potongan kertas itu di atas tikar. “Kalau Mas Danang datang sebagai pembeli, kita layani dengan harga dan syarat yang sama seperti pembeli lain.”

“Pintu yang ditutup, ora dikunci (pintu yang ditutup, tidak dikunci),” gumam Eyang.

“Inggih, Eyang.”

Eyang mengangguk satu kali. “Hadi, kowe krungu (Hadi, kamu dengar)?”

“Inggih, Romo. Kula lepat (iya, Romo. Saya salah).”

“Ora lepat. Mung kelewat (bukan salah. Hanya berlebihan).”

“Mbak,” kata Pak Hadi, “saya minta maaf. Saya ikut terbawa marah.”

“Marah boleh, Pak. Menghukum orang bukan hak kita.”

Raras menunduk, dan untuk pertama kalinya sejak tiba di dalem, wajahnya menghangat oleh sesuatu yang bukan luka.

“Kowe isih tresna karo bojomu (kamu masih mencintai suamimu)?” tanya Eyang tiba-tiba.

“Masih, Eyang. Dan itu bagian yang paling menyebalkan.”

Eyang tertawa kecil, serak dan pendek. “Tresna ora kudu dipateni. Cukup ora dikon mimpin (cinta tidak harus dibunuh. Cukup tidak disuruh memimpin).”

“Raras akan ingat itu.”

“Kalau dia datang ke sini?” tanya Aditya.

“Kalau datang sebagai suami, Raras temui. Kalau sebagai pembeli, Pak Hadi yang melayani.”

“Lan yen teka dadi wong sing ora ngerti dhiri (dan kalau datang sebagai orang yang tidak tahu diri)?” tanya Eyang.

“Raras akan memintanya duduk dan bicara jujur.”

“Pak Wiryo perlu dihubungi, Rama,” kata Aditya. “Dia pemasok terbesar, dan dia tahu semuanya.”

“Biar Raras yang menelepon,” kata Eyang.

Raras mengeluarkan ponselnya, menekan nomor yang sudah ia hafal, lalu menaruhnya di tengah tikar dengan pengeras suara menyala. Nada sambung berbunyi tiga kali.

“Halo, Mbak Raras? Nuwun sewu, ada apa, Mbak?”

“Pak Wiryo, selamat sore. Raras mau minta Bapak mencatat satu hal.”

“Inggih, Mbak.”

“Mulai hari ini, pesanan Mas Danang dilayani dengan harga dan syarat umum. Tidak ada pengecualian, tapi juga tidak ada yang dipersulit. Barang tetap dikirim tepat waktu seperti biasa.”

Hening sejenak di ujung telepon. Lalu terdengar embusan napas panjang.

“Nggih, Mbak. Saya mengerti. Nalika enjing Mas Danang sampun telepon (tadi pagi Mas Danang sudah menelepon), minta tambahan waktu pembayaran. Saya bilang akan bertanya dulu.”

“Terima kasih, Pak. Tolong jangan ada obrolan soal ini di pasar.”

“Tidak akan ada, Mbak. Saya jaga.”

“Selamat sore, Pak Wiryo.”

Sambungan terputus. Raras menatap layar sebentar, lalu mematikannya. Tangannya tidak gemetar, tetapi dadanya terasa tertekan, seperti baru saja menutup pintu yang pernah ia buka sendiri dengan susah payah.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Retno.

“Raras tidak tahu, Bu. Rasanya aneh. Raras tahu ini benar, tapi tetap sakit.”

“Memang begitu kalau kita melakukan sesuatu yang benar.”

“Seperti mencabut gigi,” kata Aditya. “Sakitnya sebentar, lalu sembuh.”

“Bapak sering mencabut gigi?”

“Dulu. Waktu ibumu ngambek tiga hari soal sepatu.”

“Aditya,” tegur Retno, tetapi bibirnya melengkung, dan ketegangan di pendapa mencair satu tarikan napas.

“Mbak,” kata Pak Hadi hati-hati, “kalau Pak Danang menolak harga standar dan mencari pemasok lain, bagaimana?”

“Itu haknya, Pak. Pasar luas. Kita tidak menahan siapa pun.”

“Pemasok lain mungkin tidak memberi tenggang sepanjang yang kita berikan,” kata Aditya.

“Kalau begitu, dia harus mencari cara sendiri.” Raras merapikan lipatan kebayanya. “Dulu Raras membantu mencarikan jalan untuk dia. Sekarang Raras berhenti menuntunnya.”

“Kamu sedih?” tanya Retno pelan.

“Sedikit, Bu. Waktu Raras menyebut harga standar tadi, Raras teringat wajahnya saat pertama kali mendapat kontrak. Dia senang sekali.”

“Kamu boleh sedih sambil tetap melakukan hal yang benar, Nduk.”

“Raras tahu, Bu. Raras masih belajar.”

Langkah tergesa terdengar dari arah halaman. Seorang lelaki bertubuh kurus dengan kemeja safari lusuh muncul di ambang pendapa, napasnya memburu, ponsel tergenggam di tangan.

“Nuwun sewu, Romo, Bapak, Mbak.” Pak Slamet membungkuk cepat. “Saya mau melaporkan kabar dari kantor.”

“Ngomong,” kata Eyang.

“Pak Danang baru saja menelepon kantor. Dia menawar dua kali lipat.”

Raras mengangkat wajah. “Dua kali lipat untuk apa, Pak?”

“Kiriman prioritas panen minggu depan, Mbak. Dibayar tunai di muka. Dia bilang tahu ada yang berubah, tapi ingin semuanya tetap berjalan seperti kemarin.”

“Seperti kemarin,” ulang Raras. “Dibayar tunai di muka. Berarti dia benar-benar membutuhkan barang itu.” Ia berhenti sejenak. “Mungkin kita bisa...”

“Mbak,” kata Pak Hadi pelan.

“Iya, Pak. Raras tahu.” Ia mengembuskan napas. “Hampir saja.”

“Prioritas itu tidak pernah kita jual, Mbak. Itu kebijakan, bukan barang dagangan.”

“Antrean tetap mengikuti tanggal pemesanan, Pak. Untuk siapa pun.”

“Dia mau membeli sesuatu yang dulu diberikan tanpa biaya tambahan,” kata Aditya. “Dua kali lipat. Kalau dia punya uang sebanyak itu, dari mana?”

“Itu bukan urusan kita, Pak. Setidaknya, belum.”

“Pak Slamet,” kata Raras, “apa jawaban kantor?”

“Belum dijawab, Mbak. Kami menunggu keputusan Mbak.”

“Kowe arep mangsuli piye (kamu mau menjawab bagaimana)?” tanya Eyang.

“Raras akan menjawab malam ini, Eyang. Raras mau berpikir dulu, bukan menjawab karena emosi.”

“Wis ngerti bedane (sudah tahu bedanya).”

“Dari mana dia tahu harga dan syaratnya berubah?” Aditya mengerutkan kening. “Belum ada surat resmi.”

“Dia belum tahu pasti, Pak. Dia hanya menebak.” Raras menatap tikar. “Dia tahu ada pintu yang tidak lagi terbuka seperti dulu.”

Tidak ada yang bicara. Tongkat Eyang berhenti mengetuk. Jari kiri Raras mencari sesuatu di pangkuan, sebuah cincin yang tidak ada lagi di sana.

“Kalau dia datang sendiri, jangan langsung mengambil keputusan,” kata Aditya. “Dengarkan dulu apa yang dia tawarkan.”

Raras mengangguk. “Raras akan mendengarkan, Pak. Tapi keputusan tetap berdasarkan aturan, bukan karena Mas Danang meminta.”

Di luar, angin menggeser beberapa daun kamboja di halaman. Raras tidak tahu apakah Danang akan datang untuk bicara atau sekadar mencari jalan keluar. Kali ini, ia tidak akan membuka pintu sebelum tahu apa yang dibawa lelaki itu ke hadapannya.

1
Muft Smoker
lanjuuut kak
Nurlaila Hidayah
Dia lah yg telah membersihkan jalan untuk ku mempermudah usahaku tnpa adanya hambatan, tapi dengan tidak tahu malu dan tidak tahu diri nya, diri ini berani untuk menduakan dan menceraikan demi wanita lain. padahal dia yg telah membantu usahaku
Sri Widiyarti
lanjut thor semangat up-nya
Erchapram: Mohon sabar menunggu ya Kak, karena aku sedang revisi mulai bab 1. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Sri Widiyarti
Danang kesuksesanmu ternyata bantuan istri yang kau ceraikan demi perempuan lain..
Erchapram
Yang sudah baca sampai bab ini, boleh gak sih aku minta bintang limanya 🙏 Makasih banyak sebelumnya.
Sri Widiyarti
lanjut thor jangan lama2 🙏
Erchapram: Iya, Kak. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
Raras udh mulai bergerak ,,
Baek chanhun
next thort 💪💪
Muft Smoker
baruuu ini ad cerita byk pake bahasa daerah ,, cerita ny bagus kak ,,
lanjuut
Muft Smoker
hai kak ,, mampir aq ,,
Baek chanhun
thank, saran nya di terimah, yg bab tarakhir itu flasback ya.
🙏💪
Erchapram: Terima kasih kembali Kak dan iya, itu flashback.
total 1 replies
Baek chanhun
senang banget ada bahasa daerah, tapi, kalo ada artinya lebih bagus lagi, gua orang luar jawa ng ngerti apa.yg.di omongin, 🙏🙏
Erchapram: Sudah aku revisi Kak, bisa dibaca ulang. Terima kasih.😍
total 2 replies
Soraya
lanjut thor
Soraya
hadir thor lanjut
Baek chanhun
lanjutkan thort. 💪💪
Erchapram: Baik... terima kasih supportnya.
total 1 replies
Ma Em
mampir Thor , buat Danang menyesal karena sdh menduakan Raras .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!