Angin malam berhembus dingin, membawa aroma pinus yang tajam menyapu halaman belakang sekte pinggiran. Lin Chen duduk bersila di atas batu basal yang dingin, menarik napas panjang. Malam ini terasa berbeda. Setelah bertahun-tahun menderita dan dihina oleh sesama murid, ia akhirnya bangkit dan menyadari satu kebenaran mutlak yang selama ini tertidur di dalam darahnya: tubuhnya sama sekali bukanlah sampah. Meridian yang selama ini tersumbat perlahan mulai beresonansi, menandakan ia telah melangkah mantap di tahap awal kultivasi, yakni ranah Penempaan Tubuh.
Ia membuka mata perlahan. Tepat pada saat itu, dari kejauhan di bawah cahaya bulan purnama yang pucat, pandangannya tertuju pada sesosok gadis yang sedang berdiri di anjungan tebing.
Gadis itu adalah Su Qingyue. Untuk pertama kalinya, Lin Chen melihatnya dari jarak sejauh ini, tampak sangat dingin dan cantik tiada tara, seolah-olah ia bukanlah makhluk yang berasal dari dunia yang fana ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Kekuatan Baru dan Babi Tanduk Berbulu
Hutan di belakang sekte pinggiran itu tertutup bayang-bayang pepohonan raksasa. Cahaya bulan purnama hanya mampu menembus celah dedaunan, menciptakan pola di atas tanah yang lembap. Udara malam terasa membekukan tulang, tetapi anehnya, Lin Chen tidak merasakan hawa dingin itu sama sekali.
Sejak kebangkitannya malam ini, ia menyadari dengan pasti bahwa tubuhnya yang selama bertahun-tahun dihina sama sekali bukanlah sampah. Darahnya berdesir hangat, dan untuk pertama kalinya, ia bisa merasakan energi murni mengalir di bawah kulitnya. Ia telah resmi menginjakkan kaki di ranah kultivasi paling awal, yakni Penempaan Tubuh.
Di depannya, Zhu Da berjalan mengendap-endap sambil memegang sebuah ranting kayu tebal sebagai "senjata". Pemuda bertubuh gempal itu rela menyelinap di tengah malam buta dan menembus hutan berbahaya cuma gara-gara satu hal: ia sangat ingin makan daging.
"Chen-ge, kau yakin lewat sini?" bisik Zhu Da dengan suara gemetar, perut buncitnya berbunyi nyaring memecah keheningan. "Babi tanduk berbulu itu biasanya ganas. Kalau kita ketahuan tetua asrama, kita bisa dihukum gantung terbalik di gerbang!"
Lin Chen hanya tersenyum tipis. "Tenanglah, Zhu Da. Malam ini, biar aku yang mengurusnya."
Tiba-tiba, dengusan keras terdengar dari balik semak belukar di sebelah kanan mereka. Seekor babi hutan berukuran sebesar anak sapi dengan sepasang gading melengkung tajam melompat keluar. Matanya merah menyala menatap Zhu Da yang langsung memucat.
"Hahaha! Makhluk rendahan macam apa ini?" Suara pongah Tua Hitam kembali menggema di benak Lin Chen. Roh kuno yang baru saja bangun dari tidur panjangnya itu mendengus remeh."Di zamanku, babi kurus seperti ini hanya dipakai untuk mengganjal meja! Bocah, cepat habisi dia! Setelah itu, pamerkan ototmu ke gadis es yang kau lihat tadi. Wanita suka pria berdarah-darah!"
Lin Chen mengabaikan celotehan roh kuno di kepalanya. Ia tahu persis bahwa semua ilmu asmara yang diajarkan Tua Hitam itu sangat salah kaprah dan hanya akan membuatnya terlihat konyol. Lagipula, gadis yang ia lihat tadi, Su Qingyue, sangat dingin seperti es dan menganggap semua orang sama saja. Pamer otot di depannya hanya akan memancing tatapan jijik.
Babi tanduk berbulu itu mengais tanah dengan kuku kakinya, lalu menyeruduk lurus ke arah Zhu Da.
"Huaaa! Chen-ge, tolong!" Zhu Da menjatuhkan ranting kayunya dan jatuh terduduk, menutup mata rapat-rapat.
Namun, sebelum gading tajam itu menyentuh perut Zhu Da, sesosok bayangan melesat ke depan. Lin Chen menanamkan kakinya kuat-kuat ke tanah. Mengandalkan ranah Penempaan Tubuh yang baru saja ia sadari, ia mengepalkan tangan kanannya dan meninju tepat di antara kedua mata babi tersebut.
BAM!
Suara retakan tulang terdengar keras. Babi raksasa yang sedang berlari kencang itu terhenti seketika, terangkat ke udara sejenak, lalu jatuh terlempar ke tanah. Debu mengepul. Binatang buas itu kejang sesaat sebelum akhirnya tak bergerak lagi. Hanya dengan satu pukulan fisik murni!
Zhu Da perlahan membuka matanya. Rahangnya jatuh nyaris menyentuh tanah. Ia menatap babi yang sudah mati itu, lalu menatap Lin Chen seolah sedang melihat hantu.
"Chen... Chen-ge... kau... kau tidak lemah lagi?" kata Zhu Da, air liur menetes dari sudut bibirnya bukan karena takjub, tapi karena membayangkan daging panggang.
Lin Chen melihat kepalan tangannya sendiri. Tenaga ini nyata. Meridiannya benar-benar telah terbuka. Jalan kultivasinya baru saja dimulai, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun menginjak-injaknya lagi.
"Cepat kumpulkan ranting kering," ucap Lin Chen sambil menepuk debu dari bajunya, nada suaranya tenang. "Kita makan besar malam ini."
Satu jam kemudian, aroma daging panggang yang luar biasa lezat menguar di udara. Zhu Da mengunyah daging dengan rakus, melupakan semua ketakutannya tadi. Sementara itu, Lin Chen hanya memakan sebagian kecil. Pandangannya kembali tertuju pada puncak tebing tempat ia melihat Su Qingyue sebelumnya.
Gadis itu mungkin tidak mengenalnya sekarang. Bagi gadis secantik dan sedingin itu, Lin Chen merasa jalan mereka pasti jauh berbeda. Namun, memandang langit berbintang di atas sana, sebuah tekad yang jauh lebih panas dari api unggun mulai menyala di dada Lin Chen. Ia akan mendaki hingga ke puncak, langkah demi langkah, melampaui semua ekspektasi, hingga suatu hari nanti, tidak ada satu pun orang bahkan langit sekalipun yang berani memandang rendah dirinya.