Bagi keluarga Vardha, Arumi selalu bisa dikorbankan demi Aurelia, kakak angkatnya yang manipulatif. Puncaknya, cinta tiga tahun Arumi, Adrian, direbut Aurelia dengan restu orang tuanya sendiri. Arumi mengalah dan mengikhlaskan mereka.
Namun, mereka tak tahu siapa Arumi sebenarnya.
Saat mengenakan cadarnya di luar rumah, Arumi bertransformasi menjadi maestro biola kelas dunia, peretas jenius, sekaligus CEO rahasia dari imperium bisnis yang ia bangun sendiri.
Dunia Arumi berguncang saat Raja Zean Rothschild—penguasa dunia no 1, pemegang saham mayoritas global, dan pemilik aliansi militer tertinggi—hadir di hidupnya. Sang Raja yang dingin dan tak tersentuh mendadak bertekuk lutut, terobsesi, dan mengejarnya secara posesif setelah menemukan rahasia di balik cadarnya.
Situasi kian memanas saat Kazan, anak mafia psikopat berdarah dingin, juga mengklaim Arumi sebagai miliknya.
Adrian terbakar cemburu, Aurelia gila obsesi ingin merebut Sang Raja. Mampukah Sang Raja melindungi Arumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAGI SETELAH KEGELAPAN DAN CEMBURU YANG MEMBAKAR
Sinar matahari pagi menerobos perlahan melalui celah-celah tirai sutra di kamar Arumi, membiaskan garis-garis cahaya keemasan di atas lantai marmer dingin. Udara pagi terasa menggigit, menyebarkan aroma embun yang membasahi pepohonan di luar mansion. Di atas meja kerja kayu mahoni yang terletak di sudut ruangan, tiga layar monitor tipis berspesifikasi militer milik Arumi sudah berada dalam keadaan mati total, tak meninggalkan jejak barisan kode fosfor hijau yang semalam hampir saja memicu perang digital di dunia bawah.
Arumi berdiri tenang di dekat jendela raksasa kamarnya. Pagi ini, ia mengenakan gamis simpel berwarna abu-abu lembut bermaterial jatuh yang dipadukan dengan hijab senada. Jemari lentiknya yang terbalut sarung tangan tipis mengikatkan tali cadar hitamnya di belakang kepala dengan ketelitian penuh. Kain lembut itu membingkai sepasang mata cokelat jernihnya yang bening bak telaga, namun menyimpan kedalaman es yang sulit ditaklukkan.
Meskipun hembusan angin pagi di luar sana tampak begitu menenangkan, pikiran Arumi sama sekali tidak tenang. Setiap detak jantungnya seolah masih bergetar hebat mengingat kejadian beberapa jam yang lalu—kejadian gila di tengah kegelapan malam saat Raja Zean Rothschild, penguasa tertinggi yang ditakuti seluruh pemimpin dunia, menerobos masuk ke kamarnya melalui balkon lantai dua.
Jemari Arumi refleks menyentuh pelipisnya sendiri, tempat di mana bibir hangat Zean mendarat semalam. Suara bisikan serak, berat, dan penuh kepemilikan mutlak dari pria itu masih terngiang begitu jelas di dalam benaknya: 'Siapa pun yang berani menyentuh selembar benang dari pakaianmu, akan kuhancurkan sampai ke akar-akarnya. Kamu adalah milik Zean Rothschild, Arumi. Selamanya.'
Arumi memejamkan matanya rapat-rapat, menghembuskan napas perlahan di balik kain cadarnya. Pria itu terlalu berbahaya. Dia tidak seperti Adrian yang lemah dan mudah terombang-ambing... Zean adalah predator alami yang tidak akan pernah melepaskan mangsanya.
Cklek.
Pintu kayu jati kamar Arumi diketuk dua kali dari luar sebelum terbuka perlahan. Seorang pelayan wanita paruh baya bernama Bi Asih melangkah masuk.
"Selamat pagi, Nona Arumi," panggil Bi Asih dengan nada suara sangat sopan dan lembut. Ia menundukkan kepala begitu melihat Arumi sudah berdiri rapi dengan busana muslimah lengkap. "Maaf mengganggu waktu Nona. Bapak Kyai dan Umi meminta Nona untuk segera turun ke ruang makan utama di lantai bawah. Pagi ini, Raja Zean beserta asistennya akan menyantap sarapan bersama keluarga sebelum mengadakan rapat pembahasan investasi raksasa di ruang kerja Bapak."
Arumi mengangguk pelan, menyembunyikan keterkejutan di dalam hatinya. "Terima kasih, Bi. Tolong sampaikan pada Abi dan Umi bahwa saya akan segera turun setelah merapikan beberapa berkas."
"Baik, Nona. Saya permisi dulu," balas Bi Asih seraya menutup kembali pintu kamar dengan rapat.
Setelah Bi Asih pergi, Arumi menarik napas dalam-dalam. Ia melangkah menuju meja kerjanya, memastikan seluruh sistem peretasannya sudah dalam mode enkripsi bertingkat agar tak ada seorang pun yang bisa membukanya. Setelah yakin semuanya aman, ia merapikan lipatan gamisnya dan melangkah keluar kamar menuju ruang makan utama.
Sementara itu, suasana di ruang makan utama keluarga Vardha tampak begitu megah dan sarat akan ketegangan tersembunyi. Meja makan kayu jati berukir yang sanggup menampung dua puluh orang itu telah dipenuhi oleh puluhan hidangan sarapan kelas atas—mulai dari hidangan tradisional nusantara hingga masakan Barat yang disiapkan langsung oleh koki pribadi mansion.
Aurelia duduk di salah satu kursi bagian tengah dengan gaun pagi berwarna merah muda menyala yang cukup mencolok. Rambut panjangnya ditata bergelombang sempurna, dan wajah cantiknya telah dipoles riasan tebal. Setiap kali mendengar langkah kaki di lorong luar, Aurelia refleks membetulkan posisi duduknya, berusaha menampilkan senyum paling menawan yang ia miliki.
Di sebelah Aurelia, Adrian duduk dengan kemeja putih kasual yang terpasang rapi. Namun, raut wajah pria itu tampak sangat pucat dan gelisah. Lingkaran hitam tipis di bawah matanya menandakan bahwa ia sama sekali tidak bisa tidur nyenyak semalam. Jemari Adrian terus-menerus memutar-mutar cangkir kopinya secara tidak fokus, sementara pandangan matanya berkali-kali menyapu ke arah tangga utama, menunggu kehadiran satu sosok yang belakangan ini terus menghantui pikirannya.
"Adrian, kamu kenapa sih dari tadi gelisah banget?" bisik Aurelia dengan nada bermanja yang sedikit ditekan saat menyenggol lengan Adrian. "Lihat deh, gaun aku bagus kan? Menurut kamu, Raja Zean bakal terkesan tidak kalau lihat penampilan aku pagi ini?"
Adrian menoleh lambat, menatap Aurelia dengan pandangan dingin yang datar. "Aurelia, menjaga kesopanan di depan tamu agung Abi jauh lebih penting daripada memikirkan gaunmu."
Aurelia menyunggingkan bibir cemberutnya, merasa kesal karena perhatian Adrian tak lagi terpusat padanya seperti biasa. "Kamu kok malah ketus gitu sih?! Harusnya kamu bangga punya calon istri yang cantik dan tahu tata krama seperti aku!"
Sebelum Adrian sempat membalas, langkah kaki yang tegap, konstan, dan sarat akan intonasi kekuasaan terdengar melintasi lorong pualam luar.
Seketika itu juga, atmosfer di ruang makan yang tadinya riuh pelan mendadak hening seketika. Suhu udara di ruangan itu seolah merosot drastis, berganti dengan tekanan dominasi yang membuat siapa pun secara refleks menahan napas. Sesosok tubuh jangkung nan tegap melangkah masuk ke dalam ruang makan dengan keanggunan yang berbahaya.
Raja Zean Rothschild. Pria nomor satu di muka bumi itu mengenakan kemeja kustom berwarna hitam pekat yang tiga kancing atasnya dibiarkan terbuka asal, memperlihatkan sedikit cetakan dada bidangnya yang kokoh dan leher jenjangnya yang perkasa. Lengan kemejanya digulung rapi hingga batas siku, memamerkan urat-urat tegas di lengan bawahnya serta jam tangan bersepuh platina yang nilainya sanggup membeli sebuah pulau. Sepasang mata abu-abu gelapnya berkilat dingin bak elang pemangsa, sementara asisten pribadinya, Felix, berjalan dua langkah di belakangnya seraya membawa dokumen kerja.
Abi Vardha dan Umi seketika berdiri dari kursi kehormatan mereka untuk menyambut sang Raja.
"Selamat pagi, Raja Zean. Suatu kehormatan besar bagi kami Anda berkenan menyantap sarapan bersama keluarga kecil kami pagi ini," sapa Abi Vardhana dengan nada penuh penghormatan dan keramahan seorang tuan rumah.
Zean mengangguk tipis—sebuah gestur minim yang tetap memancarkan keagungan mutlak seorang penguasa tertinggi. "Selamat pagi, Kyai Vardhana. Terima kasih atas sambutan hangat Anda."
Aurelia yang melihat ketampanan Zean secara langsung dari jarak dekat mendadak terpana. Dadanya berdebar liar. Wajah Zean yang terukir sempurna bak patung Yunani, dipadukan dengan aura penguasa dunia yang begitu pekat, membuat sosok Adrian di sebelahnya mendadak terlihat sangat biasa dan tak berarti. Obsesi gila seketika membakar benak Aurelia—ia harus bisa menarik perhatian pria ini, apa pun taruhannya!
Dengan senyum paling manis yang ia buat-buat sehalus mungkin, Aurelia berdiri dari kursinya lalu menunjuk kursi kosong di sebelah kanannya.
"Selamat pagi, Raja Zean! Silakan duduk di sini, saya sudah meminta pelayan menyiapkan tempat dan hidangan terbaik khusus untuk Anda!" ujar Aurelia dengan nada suara yang sengaja dilembut-lembutkan, berharap bisa meluluhkan hati pria dingin itu.
Namun, Zean bahkan tidak menolehkan pandangannya sedikit pun ke arah Aurelia. Pria itu melangkah melewatinya seolah-olah Aurelia tak lebih dari sekadar patung atau udara kosong yang tak berharga. Uluran tangan dan senyuman Aurelia diabaikan secara total hingga membuat wanita itu membeku di tempat dengan wajah memerah padam karena rasa malu yang luar biasa.
Mengabaikan Aurelia yang dipermalukan secara halus, Zean melangkah menuju sisi meja yang berseberangan. Jemari tegapnya menarik sendiri sebuah kursi kayu jati bermotif ukir—sebuah kursi yang terletak tepat di sebelah kursi kosong tempat Arumi biasa duduk.
Umi Vardhana tersenyum canggung melihat hal itu, sementara Adrian mengepalkan tangannya rapat-rapat di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa cemburu yang teramat sangat membakar dada Adrian. Melihat Zean harus memilih duduk di area itu
Tak lama berselang, suara gesekan kain yang halus terdengar dari arah pintu masuk ruang makan.
Arumi melangkah masuk. Kehadirannya begitu tenang, anggun, dan penuh martabat. Tubuh rampingnya terbalut gamis abu-abu lembut yang melambai pelan seiring langkah kakinya. Wajah cantiknya yang terlihat dingin namun memikat.
Detik saat sosok Arumi menginjakkan kaki di ruangan tersebut, aura dingin dan tak tersentuh dari Raja Zean seketika melunak secara drastis.Sepasang mata abu-abu gelap milik Zean yang tadinya sedingin es kini berbinar terang, dipenuhi oleh binar gairah, kehangatan, dan obsesi kepemilikan yang amat pekat. Pandangan tajam pria itu mengunci Arumi sepenuhnya, mengabaikan seluruh keberadaan orang lain di dalam ruang makan tersebut.
"Selamat pagi, Arumi..." sapa Zean. Suaranya yang semula dingin mendadak berubah menjadi sangat berat, seksi, dan sarat akan intonasi keintiman yang amat dalam.
Abi dan Umi Vardhana seketika saling pandang dengan raut wajah terkejut. Bagaimana mungkin seorang Raja Penguasa Dunia yang terkenal kejam, tidak tersentuh, dan hemat bicara, menyapa putri kedua mereka yang selalu mengurung diri dengan nada suara yang begitu lembut dan terkesan sangat akrab?
Arumi menghentikan langkahnya sejenak. Ia merasakan tatapan Zean yang begitu menghujam tubuhnya, namun dengan ketenangan luar biasa, Arumi menundukkan kepalanya sedikit untuk menjaga kesopanan di hadapan orang tuanya.
"Selamat pagi, Raja Zean... Abi, Umi, kak Aurelia dan Adrian." balas Arumi pelan namun sangat jernih.
Arumi melangkah mendekati meja makan, lalu menarik kursinya—kursi yang kini berada persis di sebelah Raja Zean. Begitu Arumi menduduki kursinya, aroma khas sandalwood dan expensive leather yang amat maskulin dari kemeja hitam Zean mendadak merebak, mengurung indera penciuman Arumi secara penuh. Aroma yang sama persis dengan aroma yang menyelimuti kamarnya semalam.
Di bawah meja makan yang tertutup kain taplak tebal bersulam emas, tanpa bisa dilihat oleh Abi, Umi, Aurelia, maupun Adrian, jemari tegap Zean yang hangat bergerak perlahan.
Dengan gerakan posesif yang teramat percaya diri, Zean mengusap lembut punggung tangan Arumi yang terbalut sarung tangan hitam, lalu menyusupkan jemarinya untuk melingkari pergelangan tangan Arumi dalam kuncian yang erat namun lembut.
Arumi tersentak pelan di balik duduk anggunnya! Matanya menyipit tajam menatap Zean dari samping. Arumi mencoba menarik pergelangan tangannya secara diam-diam, namun cengkeraman jemari Zean sama sekali tak bergeming—justru semakin mengerat, menegaskan bahwa wanita ini berada di dalam kekuasaannya.
Zean merendahkan tubuh jangkungnya sedikit ke arah kiri, menunduk hingga bibirnya hampir menyentuh kain hijab yang menutupi telinga Arumi. "Makan sarapanmu dengan baik, Wanitaku..." bisik Zean dengan nada suara sangat pelan yang hanya bisa didengar oleh Arumi seorang. Suaranya serak dan amat bertenaga. "...aku tahu kamu tidak bisa tidur nyenyak semalam karena terus memikirkanku."
Desakan napas hangat Zean yang menerpa kulit leher dibalik hijabnya membuat bulu kuduk Arumi meremang seketika. Jantung Arumi berdebar liar secara tidak teratur, namun ia berusaha keras mengontrol raut wajahnya agar tetap terlihat tenang dan tak beremosi di depan keluarganya.
Sementara itu, di seberang meja, Adrian menyaksikan interaksi jarak dekat di antara Zean dan Arumi dengan mata memerah menahan amarah yang membakar jiwanya. Meskipun ia tidak bisa mendengar apa yang dibisikkan Zean, cara pria itu menunduk dan menatap Arumi dengan pandangan penuh gairah kepemilikan sudah cukup untuk membuat dada Adrian terasa seperti diremas hingga hancur.
Pria yang dulu selalu menuruti kata-katanya, wanita yang dulu selalu diabaikannya dan akhirnya ia campakkan demi Aurelia... kini sedang diincar dan diperlakukan bak seorang ratu yang teramat berharga oleh pria paling berkuasa di bumi ini. Penyesalan yang luar biasa dahsyat mulai merayapi setiap sudut hati Adrian, menyisakan rasa hina dan cemburu gila yang tak tertahankan.
kaburrrr...takut ad gempa lokal...
bikin pinisirin /Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/