Ogah jadi istri kedua aki-aki tapi tak mau rugi, Elara (22) memutar otak saat hendak dijadikan istri muda oleh Pak Broto (65). Di tengah acara lamaran yang tegang, dengan nekat dia menunjuk pria berjas hitam di seberang meja.
"Maaf Pak, saya nolak jadi istri kedua Bapak. Tapi kalau nikah sama anak Bapak yang itu... saya mau."
Arka (30), CEO sekaligus anak tunggal Pak Broto, mendadak tersedak dan langsung mengiyakan tawaran gila itu, demi menyelamatkan perasaan ibunya. Namun, niat Arka menyelamatkan rumah tangga orang tuanya justru menjadi awal dari bencana di rumah mewahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kardus Thrifting dan Dapur yang Kacau
Keheningan malam di lorong lantai dua itu terasa begitu tebal. Arka masih mematung di ambang pintu kamar Elara, menatap gadis berdaster merah menyala di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Di dunia bisnis, tidak ada satu orang pun yang berani menyuruh CEO Valora Group mengangkat barang. Namun malam ini, di rumahnya sendiri, Arka justru diberikan penawaran layaknya seorang kuli angkut dadakan.
"Gimana, Mas CEO? Deal nggak?" Elara mengedipkan matanya, masih menyodorkan botol parfum yang ia jadikan mik. "Cuma tiga kardus, kok, di bagasi mobil. Kalau Mas Arka bantuin, musik dangdutnya saya matiin total. Tapi kalau nggak mau... ya terpaksa lagu Tarik Sis Semongko ini bakal diputar ulang sampai subuh."
Arka memejamkan mata, menghela napas panjang hingga dadanya naik turun. Otak bisnisnya memproses kalkulasi sederhana, mengorbankan gengsi sepuluh menit demi kedamaian tidur sepanjang malam, atau mempertahankan harga diri tapi kepalanya pecah mendengar dangdut koplo.
"Kunci mobilnya mana?" desis Arka, menyerah pada keadaan.
Elara tersenyum puas. Kemenangan telak di malam pertama. Dia langsung menyambar kunci mobil dari meja rias dan menyerahkannya ke telapak tangan Arka. "Ada di bagasi, ya, Mas Suami. Hati-hati, kardusnya agak berat soalnya isinya jaket-jaket jeans tebal."
Sepuluh menit kemudian, Arka kembali naik ke lantai dua dengan napas yang sedikit memburu. Setelan kemeja putih mewahnya yang kotor oleh debu kardus tampak sangat kontras dengan pemandangan di sekitarnya. Pria itu menaruh tiga kardus besar di sudut kamar Elara dengan dentuman pelan.
"Sudah," ujar Arka dingin sambil mengelap keringat tipis di dahi dengan saputangannya. "Sekarang matikan musik itu dan tidur."
"Siap, Mas! Terima kasih ya, Suami Siagaku," sahut Elara, lantas bergegas mematikan speaker bluetooth-nya.
Melihat musik benar-benar mati, Arka berbalik dan melangkah menuju kamarnya sendiri di sebelah kanan. Namun, baru dua langkah Arka berjalan, suara Elara kembali menghentikannya.
"Mas Arka!"
Arka memutar badannya malas. "Apa lagi?"
"Besok pagi Mas mau sarapan apa? Biar Ara masakin sekalian. Hitung-hitung tanda terima kasih udah dibantuin angkat kardus," tawar Elara dengan wajah polos.
Arka menatap Elara dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu mendengus halus. "Tidak usah. Saya biasa minum kopi hitam dan sarapan roti gandum atau omelet tanpa minyak. Lagipula, saya ragu kamu bisa masak."
"Penghinaan!" Elara menepuk dadanya berakting terluka. "Lihat aja besok pagi. Ara bakal bikin sarapan yang bikin Mas Arka merem-melek."
"Terserah," pangkas Arka, lalu masuk ke kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat.
Keesokan harinya, pukul enam pagi.
Arka terbangun seperti biasa dengan kedisiplinan yang sudah menyatu di dalam darahnya. Pria itu sudah selesai mandi, mengenakan kemeja biru tua yang terpasang rapi, dan siap menyeduh kopi hitamnya sebelum berangkat ke Valora Tower.
Namun, begitu Arka melangkah turun ke lantai dasar, aroma yang sangat asing menusuk indra penciumannya. Bukan bau biji kopi Arabika yang harum, melainkan aroma minyak goreng panas, terasi yang dibakar, dan bumbu tumisan yang menyengat hingga membuat tenggorokannya gatal.
Arka mempercepat langkahnya menuju dapur. Dan, pemandangan di sana sukses membuat pupil matanya melebar.
Dapur mewahnya yang bernilai ratusan juta rupiah, yang biasanya bersih kinclong bak laboratorium, kini sudah berubah total menjadi medan perang. Di atas kompor induksi yang mahal, terdapat wajan wajan hitam yang dibawa Elara dari rumahnya. Percikan minyak goreng bertebaran di atas permukaan granit dapur, sementara asap tipis membumbung memenuhi ruangan.
Elara berdiri di depan kompor, masih mengenakan piyama panjang dengan celemek gambar kartun, sedang mengaduk sambal dan ikan asin yang berderit di minyak panas.
"Elara! Apa yang kamu lakukan?!" panggil Arka dengan suara menahan amuk.
Elara menoleh, menyunggingkan senyum lebar tanpa dosa. "Pagi, Mas Arka! Tepat waktu banget. Nih, Ara udah bikin sarapan spesial buat Mas."
Arka berjalan mendekat dengan wajah tegang. Matanya menatap piring-piring yang sudah tertata di atas meja makan. Nasi uduk hangat, ikan asin balado, tahu goreng, sambal terasi, dan kerupuk kaleng.
"Kamu... kamu masak ikan asin dan sambal terasi di dapur saya?" desis Arka. Tangannya mengepal di samping tubuh. "Aroma ini bakal menempel di tirai dan sofa sampai berminggu-minggu, Elara!"
"Lho, kan kata Mas kemarin mau sarapan yang bikin merem-melek? Nih, sambal terasi buatan Ara, dijamin bikin mata langsung melek seketika," balas Elara santai, sambil menaruh piring berisi ikan asin ke tengah meja. "Lagian, perut orang Indonesia itu butuh nasi, Mas. Mana kenyang cuma makan roti gandum kembang-kempis gitu?"
Arka memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut hebat. "Saya sudah bilang, saya sarapan roti dan kopi! Dapur ini dirancang untuk makanan simpel, bukan untuk menggoreng ikan asin!"
Elara menghela napas, menaruh sodetnya ke samping, lalu menatap Arka lekat-lekat. "Mas Arka, dengerin Ara, ya. Mas itu kerja cari uang miliaran di Valora Tower, tapi makanannya cuma roti tawar kaku. Kasihan lambungnya! Cobain dulu satu suap. Kalau nggak enak, Ara janji bakal bersihin dapur ini sampai kinclong lagi."
"Tidak mau," tolak Arka tegas.
"Satu suap aja, Mas CEO! Jangan gengsi gitu, ah. Nanti kualat sama istri," goda Elara.
Tanpa aba-aba, Elara mengambil sendok, menyendokkan sedikit nasi uduk lengkap dengan suwiran ikan asin dan secuil sambal, kemudian mengarahkannya ke depan mulut Arka. "Ayo, aaa...."
"Elara, jangan main-main—"
Belum sempat Arka menyelesaikan kalimatnya untuk memprotes, Elara dengan cekatan memanipulasi celah mulut Arka yang terbuka dan langsung mendaratkan sendok itu ke dalam mulut sang CEO.
Mata Arka membelalak sempurna. Pupil matanya melebar karena terkejut atas tindakan nekat wanita di depannya. Pria itu hendak menyemburkan makanan itu kembali, tetapi rasa gurihnya nasi uduk yang berpadu dengan renyahnya ikan asin serta pedas manisnya sambal buatan Elara, mendadak meledak di lidahnya.
Lidahnya yang selama ini hanya terbiasa dengan makanan hambar berkelas restoran bintang lima, mendadak dihantam oleh ledakan rasa masakan rumahan yang begitu kaya.
Arka mengunyah pelan. Sangat pelan. Mencoba mencerna cita rasa asin, gurih, dan pedas yang secara mengejutkan, terasa sangat lezat.
Elara memperhatikan perubahan ekspresi di wajah Arka dengan senyum kemenangan. "Gimana, Mas? Enak, kan? Jujur aja, nggak usah bohong sama lidah sendiri."
Arka menelan makanan di mulutnya dengan susah payah, berusaha keras mengembalikan raut wajah dingin dan kaku khasnya. Pria itu berdeham pelan untuk menutupi rasa canggungnya.
"Biasa saja," sahutnya datar, meski tenggorokannya merindukan suapan kedua. "Terlalu pedas dan terlalu banyak minyak."
"Alah, gengsi gede banget," celetuk Elara sambil tertawa. "Tapi dimakan sampai habis, kan?"
Arka tidak membalas. Dia menarik kursi meja makan, lalu duduk kaku di sana. Tanpa mengucap kata lagi, tangan panjangnya meraih sendok dan mulai memakan nasi uduk buatan Elara dengan tenang. Meski, wajahnya tetap tertekuk kaku, seolah sedang memakan hidangan di rapat direksi.
Elara yang melihat hal itu tersenyum lebar. Dia duduk di seberang Arka, menikmati sarapannya sendiri sambil memandangi suaminya yang kaku.
Namun, ketenangan pagi itu tidak berlangsung lama. Saat Arka baru saja menyuap sendok ketiganya, ponsel mewah Arka di atas meja berdering nyaring. Nama yang tertera di layar membuat kening Arka berkerut dalam. "Papa?"
Arka mengangkat telepon tersebut dan mengaktifkan mode speaker.
"Halo, Pa?"
Dari seberang telepon, suara Pak Broto terdengar heboh dan dipenuhi nada curiga. "Arka! Papa sama Ibu, sekarang lagi di jalan menuju rumah kamu! Papa mau cek langsung, kalian beneran nikah dan tinggal bareng, atau cuma akting buat ngelabui Papa!"
Sambungan telepon diputus sepihak.
Arka mendongak, matanya bertabrakan dengan mata Elara. Kedua orang tua Arka, termasuk Pak Broto yang masih tidak terima, akan mengadakan inspeksi mendadak ke rumah steril ini dalam hitungan menit.