Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.
Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.
Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Masih Hidup
Tanah lembap itu terasa dingin di punggung Ye Chan. Jari-jarinya meraba bagian dada, memastikan tulang-tulangnya masih tersambung meski remuk.
Ia menarik napas pelan, mencoba merasakan pusaran energi di dalam tubuhnya. Yang ia temukan hanyalah kehampaan dan rasa ngilu yang menusuk tulang.
"Intinya hilang," gumam Ye Chan pelan, suaranya serak tertelan kabut lembah.
Tidak ada lagi lautan Qi yang bergemuruh. Jalur-jalur meridian utamanya robek parah, meninggalkan lubang-lubang hitam yang menolak aliran energi sekecil apa pun.
Ia memaksakan diri menarik sedikit udara dari sekitar, mencoba menguji peruntungannya. Seketika itu juga, sekujur tubuhnya kejang oleh rasa sakit yang luar biasa.
"Meridian rusak," bisiknya lagi, keringat dingin membasahi pelipis.
"Qi tidak bisa digunakan."
Ia memejamkan mata, membiarkan kesunyian merayap di antara bebatuan tajam. Kondisinya jelas berada di ambang batas terburuk bagi seorang manusia.
Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ada satu kesimpulan logis yang ia tarik dari rasa sakit itu.
'Kesimpulan... aku belum mati.'
Meski jalurnya hancur, kulit dan dagingnya masih merasakan udara lembap yang masuk. Tubuhnya memang bukan lagi wadah kultivator, tetapi nyawanya masih melekat di raga ini.
Gerakan kecil dilakukan dengan hati-hati. Lidahnya mendorong rongga mulut bagian dalam, meraba sisi gigi gerahamnya.
Sebuah benda keras seukuran biji kacang terdorong keluar. Ye Chan meludahkannya pelan ke telapak tangan yang gemetar.
Itu adalah cincin ruang cadangan yang ia sembunyikan sebelum pertarungan pecah. Sifat paranoia dan kebiasaannya menimbun barang-barang kecil kini menyelamatkan nyawanya dari kematian konyol.
Ia menyalurkan sisa kesadaran tipis untuk membuka ruang penyimpanan kecil di dalam cincin itu.
Tidak ada giok pusaka atau pil pemulih tingkat surga di dalamnya. Ruang itu hanya berisi beberapa botol air bersih, bungkusan dendeng kering, salep obat luka dasar, dan sehelai jubah ganti.
"Cukup untuk beberapa hari," ucapnya lirih.
Ia menghitung persediaan air dan makanan dengan cermat. Tubuhnya yang hancur saat ini tidak akan mampu menyerap obat-obatan keras, jadi ia harus mengandalkan pemulihan alami secara perlahan.
'Jangan gunakan semuanya sekaligus,' batin Ye Chan mengingatkan dirinya sendiri.
Setiap butir dendeng dan tetes air kini bernilai sama mahalnya dengan batu spiritual tingkat tinggi. Keputusan masa lalu untuk selalu menyiapkan jalur cadangan terbukti jauh lebih berguna daripada pedang pusaka yang baru saja dirampas.
Belum sempat ia menarik napas panjang untuk beristirahat, suara aneh memecah kesunyian lembah.
Suara gesekan cakar tajam di atas batu karang terdengar mendekat. Disusul oleh dengkusan berat yang memantul di dinding ngarai yang sempit.
Ye Chan menghentikan gerakannya. Ia mencium bau amis yang pekat, dan ia sadar bau itu berasal dari darahnya sendiri yang mengotori tanah.
Darah seorang mantan kultivator adalah umpan paling lezat bagi monster di tempat terkutuk ini.
'Sial, mereka datang lebih cepat dari perkiraan,' pikirnya dingin.
Otaknya langsung berputar cepat menghitung pilihan yang ada. Melawan adalah bunuh diri mutlak dengan raga yang lumpuh ini.
Bersembunyi bergantung sepenuhnya pada seberapa tajam penciuman makhluk itu. Melarikan diri sama sekali bukan opsi karena kakinya bahkan gemetar saat digerakkan.
Ia memilih opsi kedua. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menyeret tubuhnya masuk lebih dalam ke celah batu yang sempit dan gelap.
Suara langkah itu berhenti tepat di luar celah tempatnya bersembunyi.
Seseorang—atau lebih tepatnya, seekor monster lembah—mengendus-endus tanah yang basah oleh sisa darahnya.
Ye Chan menahan napas serapat mungkin. Jantungnya berdetak lambat, berusaha tidak memicu getaran energi yang bisa terdeteksi.
Dari balik celah sempit, ia melihat sepasang mata merah menyala menatap ke dalam kegelapan. Makhluk itu memiliki cakar besar berlapis cangkang hitam legam.
Ukuran tubuhnya dua kali lipat lebih besar dari harimau biasa, dengan aura haus darah yang menguar pekat.
'Kekuatannya setara tingkat fondasi awal,' analisis Ye Chan dalam hati.
Bahkan dalam kondisi puncaknya dulu, membunuh makhluk itu butuh beberapa jurus. Sekarang, satu gigitan saja cukup untuk meremukkan tengkoraknya tanpa perlawanan.
Ia tidak membuang waktu untuk berharap keajaiban datang. Tangannya meraba isi cincin cadangan, mencari sesuatu yang bisa dimanfaatkan.
Moncong makhluk itu mulai menjorok masuk ke dalam celah batu. Gerakannya melambat karena ruang yang terlalu sempit, tetapi cakarnya mulai mengais tanah di dekat kaki Ye Chan.
Aroma darah di ujung kuku makhluk itu semakin dekat.
Makhluk itu berhenti total tepat di depan celah sempit tempat Ye Chan meringkuk.
Hembusan napas panasnya menerpa kulit wajah Ye Chan yang pucat.
Ye Chan perlahan menggenggam sebuah benda kecil dari dalam cincin ruangnya. Itu bukan senjata tajam, melainkan botol kecil berisi bubuk penyengat bau pekat.
Ia menatap celah sempit di depannya dengan tatapan tajam tanpa rasa takut.
"Sepertinya istirahat harus ditunda," bisiknya pelan.
Makhluk itu melengking tinggi lalu menerjang masuk dengan rongga mulut terbuka lebar.