Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.
Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.
Rania menolak.
Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.
Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.
Sistem ingin Rania mengikuti takdir.
Rania justru memilih menolaknya.
Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 — Bayangan di Balik Pilar
Bab 9 — Bayangan di Balik Pilar
Sari sempat menoleh ke belakang, matanya menyipit curiga.
"Putri, tadi kayak ada yang gerak di sana."
Rania ikut menoleh cepat, jantungnya masih berdebar sisa dari percakapan dengan Nyonya Ratih. "Di mana?"
"Pilar itu." Sari menunjuk ke arah pilar besar berukir di ujung koridor, tempat cahaya sore tidak sepenuhnya menjangkau, menyisakan bayangan gelap di baliknya.
Rania menatap ke sana lama. Tidak ada apa-apa. Hanya pilar diam dan debu tipis yang melayang di udara, tertimpa cahaya dari jendela kecil di atasnya.
"Mungkin cuma kucing istana," gumam Rania, meski suaranya sendiri terdengar tidak yakin.
"Istana ini nggak punya kucing, Putri."
Rania menoleh cepat ke arah Sari. "...Serius?"
Sari menggeleng pelan, wajahnya semakin pucat.
Tanpa berpikir panjang, Rania melangkah mendekati pilar itu, rasa penasaran mengalahkan akal sehatnya yang seharusnya bilang untuk tetap di tempat aman.
"Putri, jangan"
"Sebentar aja."
Rania berjalan pelan, telapak tangannya berkeringat dingin. Semakin dekat ke pilar, semakin ia merasakan sesuatu yang aneh seolah udara di sekitar sana lebih dingin dari bagian koridor lainnya.
Ia mengintip ke balik pilar.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa. Hanya lorong kecil menuju gudang penyimpanan kain yang jarang digunakan, pintunya tertutup rapat seperti biasa.
Rania menghela napas lega sekaligus kecewa. "Nggak ada apa-apa."
Namun ketika ia hendak berbalik, matanya menangkap sesuatu di lantai, tepat di sudut pilar.
Sehelai kain kecil, warnanya abu-abu gelap, jauh berbeda dari seragam dayang istana yang biasanya berwarna cerah, dan juga berbeda dari benang hitam bersulam emas Arkapura yang ia temukan malam itu.
Rania memungutnya perlahan.
"Sistem, ini apa?"
[Menganalisis.]
[Bahan kain: katun kasar, umum digunakan oleh rakyat biasa atau pekerja kasar. Tidak ada lambang atau identifikasi khusus.]
Rania mengerutkan kening. "Berarti bukan dari istana, bukan dari Arkapura?"
[Kemungkinan besar bukan dari kalangan bangsawan atau pegawai resmi istana.]
Sari yang akhirnya menyusul mendekat, ikut melihat kain di tangan Rania dengan wajah semakin tegang. "Putri, itu kain orang biasa. Seperti yang dipakai... pedagang pasar, atau nelayan."
Rania teringat sesuatu. Bayangan pria yang berdiri terlalu tegak di bawah pohon kelapa kemarin sore, saat ia pulang bersama Mukti. Pakaiannya sederhana seperti pedagang biasa, tapi caranya berdiri dan tatapannya jelas bukan orang biasa.
"Sari, orang yang kita lihat kemarin yang mengawasi kita dari bawah pohon kelapa ingat nggak pakaiannya kayak apa?"
Sari berpikir sejenak, lalu matanya melebar. "...Mirip ini, Putri. Kain abu-abu, kasar."
Rania menatap kain di tangannya dengan tatapan baru, jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya.
Kalau orang yang mengawasinya di pasar kemarin sama dengan orang yang baru saja bersembunyi di balik pilar istana ini berarti orang itu bukan pengawal Arkapura, bukan pula bagian dari istana Wanunggalih.
Ada pihak ketiga.
Seseorang, atau mungkin sekelompok orang, yang bergerak sendiri, terpisah dari dua kerajaan yang selama ini saling curiga satu sama lain.
"Sistem," bisik Rania, suaranya mulai bergetar, "apa mungkin ada pihak lain selain Arkapura yang terlibat dalam ini semua?"
[Kemungkinan itu terbuka. Data belum cukup untuk memastikan identitas pihak ketiga.]
"Kenapa baru sekarang muncul teori pihak ketiga?!"
[Sistem hanya dapat menganalisis berdasarkan bukti yang tersedia. Bukti pihak ketiga baru muncul sekarang.]
Rania mengusap wajahnya dengan tangan yang masih memegang kain abu-abu itu, mencoba menata pikirannya yang mulai berantakan.
Racun yang mungkin berasal dari perbatasan Arkapura. Nyonya Ratih yang merekomendasikan dayang yang menghilang secara mencurigakan. Pengawal Arkapura yang mengawasinya atas perintah Aryasatya. Dan sekarang, sosok asing berpakaian rakyat biasa yang mengintainya baik di pasar maupun di dalam istana sendiri.
Terlalu banyak benang, dan tidak satu pun terlihat saling terhubung dengan jelas.
"Putri," Sari berbisik, suaranya gemetar, "menurut saya kita harus segera lapor ke pengawal istana."
Rania menggeleng cepat. "Belum. Kalau kita lapor sekarang, dan ternyata orang yang mengawasi kita ini punya hubungan dengan orang dalam istana juga, informasi ini bisa bocor duluan sebelum kita tahu apa-apa."
"Tapi ini berbahaya, Putri."
"Aku tahu." Rania menggenggam kain itu erat-erat, memasukkannya ke balik lengan bajunya. "Makanya kita harus lebih hati-hati sekarang. Jangan cerita ke siapa pun soal kain ini. Termasuk ke Ibunda, ke tabib, bahkan ke Pangeran Mukti."
Sari mengangguk pelan, meski wajahnya masih dipenuhi kekhawatiran.
Mereka berjalan kembali menyusuri koridor menuju kamar Rania, langkah keduanya lebih cepat dan waspada dari sebelumnya. Sesekali Rania melirik ke belakang, memastikan tidak ada bayangan lain yang mengikuti.
Namun jauh di sudut lain istana, di sebuah ruangan kecil yang jarang dikunjungi siapa pun, sosok berpakaian abu-abu itu kini berdiri di hadapan seseorang lain seseorang yang duduk membelakangi cahaya lilin, wajahnya tidak terlihat jelas dalam remang ruangan.
"Dia menemukan kainnya," lapor sosok berpakaian abu-abu itu, suaranya rendah dan hati-hati.
Sosok yang duduk itu tidak langsung menjawab. Jari-jarinya mengetuk pelan permukaan meja kayu di depannya, seirama dengan detak lilin yang bergoyang pelan tertiup angin dari celah jendela.
"Dia lebih cepat dari yang kuduga," gumam sosok itu akhirnya, suaranya terdengar campuran antara kagum dan waspada.
"Apakah kita hentikan pengawasan, Tuan?"
Hening sejenak.
"Tidak," jawab sosok itu pelan. "Justru sekarang saatnya kita lebih dekat."
Sosok berpakaian abu-abu itu menunduk hormat, lalu menghilang dalam kegelapan lorong sempit di belakang ruangan, meninggalkan sosok misterius itu sendirian bersama nyala lilin yang perlahan meredup.
Di kamarnya, tanpa mengetahui percakapan yang baru saja terjadi tidak jauh darinya, Rania duduk menatap sehelai kain abu-abu di atas telapak tangannya, tidak menyadari bahwa langkah kecilnya hari ini baru saja membuat dirinya semakin dekat dengan seseorang yang justru sedang menunggu saat yang tepat untuk mendekat kepadanya.