NovelToon NovelToon
Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:24.4k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!

​Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34.Mulai goyah

Suasana di dalam ruang kerja pribadi Damar Diksara terasa jauh lebih tenang dibandingkan badai yang baru saja terjadi di ruang makan utama. Jendela kaca besar yang kedap suara meredam seluruh hiruk-pikuk kota Jakarta di luar sana, menyisakan keheningan yang diisi oleh deru AC lembut dan aroma khas kayu cendana yang menenangkan.

Naya menutup pintu ruang kerja itu rapat-rapat, lalu bersandar sejenak sambil menghela napas panjang. Ia melirik ke arah Damar yang sudah berdiri di dekat meja kerjanya, menatap lurus ke luar jendela dengan postur tegap namun menyiratkan ketegangan sisa amarah.

"Heh, Pak Direktur Utama," panggil Naya blak-blakan, memecah keheningan sambil melangkah mendekat. "Kamu beneran serius tadi mau ngajak aku pindah ke apartemen pribadi? Kalau Mamah kamu serangan jantung betulan gara-gara ancaman itu gimana? Repot kan urusannya, nanti aku dikira menantu durhaka pembawa malapetaka."

Damar perlahan membalikkan tubuhnya. Pria berdarah dingin itu menatap Naya lekat-lekat dengan sorot mata yang jauh lebih teduh dibanding sebelumnya. Amarah yang tadi sempat membakar matanya kini telah menguap, menyisakan ketenangan asing yang hanya muncul saat ia berada berdua dengan gadis di hadapannya ini.

"Saya tidak main-main dengan ucapan saya, Naya," jawab Damar dengan suara baritonnya yang rendah dan tenang. "Jika itu satu-satunya cara agar Mamah berhenti mengusik dan menghina kamu di rumah ini, maka pindah adalah opsi paling masuk akal."

Naya mengerjap kaget, sedikit tertegun mendengar keseriusan di balik suara suaminya. Ia mendengkus pelan untuk menutupi rasa salah tingkahnya, lalu melipat kedua tangannya di dada.

"Dih, sok pahlawan banget," cibir Naya mengalihkan pandangan. "Padahal aslinya kamu cuma pengen nyingkirin aku dari hadapan Mamah supaya kamu nggak pusing dengar omelan tiap hari, kan?"

Damar tidak langsung menjawab. Pria itu justru melangkah mendekat, mempersempit jarak di antara mereka perlahan-lahan. Langkah kaki pria itu begitu tenang, membuat Naya spontan mundur satu langkah hingga pinggulnya menbentur tepi meja kerja.

"Bukan itu alasannya," bisik Damar rendah, tepat saat ia berhenti hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari tubuh Naya.

Jantung Naya langsung berdegup kencang. Ia mendongak, menatap manik mata gelap suaminya yang memantulkan bayangannya secara utuh. Ada kelembutan yang teramat sangat di dalam sorot mata itu—sebuah sorot mata yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan akan dimiliki oleh seorang CEO kulkas dua pintu dalam novel fiksi yang ia masuki.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, di balik bilik hatinya yang paling dalam, Damar Diksara akhirnya mengakui kenyataan yang selama ini mati-matian ia sangkal.

Aku telah jatuh cinta padanya.

Kalimat itu bergemuruh pelan di dalam dada Damar. Pria yang terbiasa hidup terstruktur, dingin, rasional, dan menganggap cinta hanyalah omong kosong para pujangga kini harus takluk di tangan seorang gadis cerewet, absurd, dan hobi makan cilok pinggir jalan yang datang secara tiba-tiba ke dalam hidupnya. Damar sadar, ia tidak lagi peduli pada kontrak empat bulan itu. Ia tidak ingin Naya pergi ke mana pun.

Namun, di hadapan Naya, gengsi tingkat dewa milik sang CEO kembali mengambil alih. Ia belum siap mengatakannya secara blak-blakan. Bibirnya masih terlalu kaku untuk merangkai kata-kata manis.

Meskipun Damar memilih bungkam dan menutupi pengakuan batinnya di balik ekspresi datarnya, tindakan kecil yang ia tunjukkan setelahnya justru berbicara jauh lebih keras daripada ribuan kata cinta.

Damar mengulurkan tangan kanannya, meraih pergelangan tangan Naya dengan sangat lembut—tanpa paksaan, tanpa intimidasi. Ia mengangkat tangan gadis itu dan melihat ada sedikit goresan kemerahan samar di kulit pergelangan tangan Naya, akibat gesekan gelang imitasi tajam yang sempat ia pakai kemarin.

Alis tajam Damar langsung berkerut dalam. Tanpa berkata apa-apa, pria itu membuka laci meja kerjanya, mengambil sebotol salep antiseptik khusus luka ringan dan selembar kapas bersih.

Naya tertegun, menatap bingung setiap gerak-gerik suaminya. "E-eh, ngapain? Ini cuma kegores sedikit gara-gara gelang murahanku kemarin, nggak usah lebay deh..." protes Naya setengah salah tingkah saat Damar dengan hati-hati mulai mengoleskan salep dingin itu ke pergelangan tangannya.

"Diam dan jangan banyak bergerak," titah Damar dengan suara serak yang begitu lembut, jauh dari kesan galak atau otoriter seperti biasanya.

Peniupan pelan yang dilakukan Damar pada luka kecil di pergelangan tangan Naya membuat bulu kuduk gadis itu meremang seketika. Sentuhan jemari hangat pria itu terasa begitu kontras dengan julukan "kulkas dua pintu" yang selama ini melekat padanya. Perhatian kecil yang tulus itu terpancar nyata tanpa bisa disembunyikan di balik gengsinya.

Naya menelan ludahnya susah payah. Ia menatap wajah tampan Damar yang sedang fokus mengobati lukanya dari jarak dekat. Di titik inilah, alarm darurat di kepala Naya berbunyi nyaring hingga memekakkan telinga.

Bahaya! Bahaya besar! batin Naya menjerit histeris memperingatkan dirinya sendiri. Dia mulai beraksi dengan jurus perhatian mendadak! Kalau dia terus-terusan bersikap semanis ini, benteng pertahananku bisa runtuh total!

Naya buru-buru menarik paksa tangannya dari genggaman Damar, lalu mundur dua langkah dengan napas yang sedikit memburu.

"U-udah! Udah sembuh kok! Nggak usah berlebihan begitu kayak perawat IGD!" seru Naya dengan nada ngegas yang sengaja dilebay-lebaykan, berusaha menutupi debaran jantungnya yang sudah menggila di luar batas kendali. "Ingat ya, Pak Direktur Utama! Jangan coba-coba bersikap manis atau perhatian sama aku! Kita kan punya perjanjian kontrak profesional! Empat bulan lagi aku tetap mau cabut jadi janda kaya, titik!"

Mendengar kata-kata "kontrak" dan "cabut" yang diucapkan berulang-ulang oleh Naya untuk kesekian kalinya, rahang Damar langsung menegang kaku. Kilatan tidak suka dan rasa sesak yang familiar kembali menghantam dadanya.

Gengsi Damar langsung meroket naik ke level maksimal. Ia paling tidak tahan dan paling sensitif setiap kali Naya dengan sengaja mengingatkan tentang perpisahan mereka.

Pria itu menegakkan kembali tubuhnya, memasang kembali topeng dingin dan angkuhnya dalam sekejap mata.

"Bagus kalau kamu masih ingat isi perjanjian itu, Naya," balas Damar dengan suara dingin yang sengaja ditegas-tegas kan, menepis rasa sakit di dadanya dengan nada sinis. "Jangan khawatir. Saya juga tidak sabar menunggu hari di mana kontrak empat bulan itu berakhir, supaya saya tidak perlu lagi melihat perempuan cerewet sepertimu berkeliaran di mansion saya."

Meskipun kalimat itu terdengar sangat menyebalkan dan menusuk, jauh di lubuk hati Naya, ucapan tersebut justru bekerja bagaikan air dingin yang menyiram bara api di dadanya.

Nah, begitu dong! Bagus! batin Naya bernapas lega secara keliru, merasa argumen itu berhasil menyelamatkannya dari rasa baper. Syukurlah dia masih konsisten jadi kulkas jutek. Dengan begini, aku bisa tetep fokus sama misi utamaku tanpa harus merasa bersalah kalau nanti beneran kabur bawa cek dua miliar!

"Baguslah kalau kita sehati!" balas Naya dengan senyuman lebar penuh kepalsuan, mengangkat dagunya tinggi-tinggi. "Kalau begitu, aku mau kembali ke kamar mau lanjut nulis draf novel dan merencanakan ruko janda kaya! Permisi, Pak Suami Kontrak!"

Tanpa menunggu balasan lagi, Naya memutar balik badan dan langsung ngibrit keluar dari ruang kerja Damar dengan langkah terburu-buru, seolah-olah ia sedang kabur dari kejaran monster menakutkan.

Ceklek. Pintu ruang kerja tertutup rapat.

Damar berdiri sendirian di tengah ruangan luas itu. Ia menatap pintu yang sudah tertutup lama sekali, sementara rahangnya mengeras dan jemarinya mengepal erat di sisi tubuhnya.

Bohong, batin Damar merutuk lirih di dalam hatinya yang sunyi. Kamu bahkan tidak tahu, Naya... bahwa sedetik pun aku tidak pernah berniat membiarkanmu pergi dari sisiku.

Waktu berjalan cepat, hari demi hari bergulir di dalam kemewahan mansion Diksara. Minggu-minggu berikutnya diisi dengan dinamika rumah tangga yang semakin unik dan menguji kesabaran.

Mamah Ratna masih sering melayangkan tatapan tajam dan sindiran-sindiran pedas setiap kali berpapasan dengan Naya di lorong mansion. Namun, setiap kali sang ibu mencoba melangkah lebih jauh untuk menyerang Naya, Damar selalu berdiri di garis depan menjadi perisai paling kokoh yang membuat Mamah Ratna terpaksa menelan kembali amarahnya mentah-mentah.

Di sisi lain, interaksi antara Damar dan Naya di dalam kamar utama perlahan berubah menjadi medan perang gengsi tingkat tinggi yang dibumbui oleh perhatian-perhatian kecil yang disembunyikan rapat-rapat.

Suatu sore, saat Naya tertidur pulahan di atas sofa ruang kerja Damar karena kelelahan mengetik draf novelnya selama berjam-jam, Damar dengan sangat hati-hati mengangkat tubuh gadis itu dan memindahkannya ke atas ranjang king size dengan gerakan paling lembut agar tidak terbangun, lalu menyelimutinya sampai dada. Namun, begitu Naya mulai menggeliat dan membuka mata, Damar langsung berpura-pura sibuk membaca dokumen perusahaan di meja seberang sambil berkata dengan nada paling ketus, "Jangan tidur sembarangan di ruang kerja saya, mengganggu pemandangan."

Naya yang mendengarnya tentu saja mendengkus kesal, melempar gulungan kertas kosong ke arah suaminya sambil menggerutu panjang pendek.

Namun, di balik pertengkaran-pertengkaran kecil dan adu mulut yang tiada hentinya itu, dinding pertahanan yang dibangun oleh Naya perlahan-lahan mulai menunjukkan retakan halus. Setiap tatapan lembut yang disembunyikan di balik sorot mata tajam Damar, setiap perlindungan mutlak yang diberikan pria itu, dan setiap debaran jantung yang gagal ia bohongi setiap kali mereka bersentuhan... semuanya menggerus keyakinan Naya tentang batasan dunianya sebagai seorang transmigrator.

Naya mulai ketakutan. Ia takut bahwa sebelum empat bulan kontrak itu habis dan cek dua miliar rupiah itu cair, ia bukan lagi seorang gadis dari dunia nyata yang ingin menjadi janda kaya mandiri—melainkan seorang wanita yang telah sepenuhnya menyerahkan hatinya kepada sang CEO berdarah dingin.

Dan di luar sana, sisa waktu kontrak pernikahan mereka terus berdetik mundur, membawa mereka semakin dekat pada jurang keputusan terbesar dalam hidup keduanya.

_Bersambung

1
Uthie
cieee😁
Uthie
makan tuhhhh gengsi yaa Nayyy 😜😂
Uthie
cieeeee 😁😁😁
Uthie
sukkkaaaa 😂👍
Uthie
kalau ada kata Transmigrasi ingin selalu intip-intip.. Soo... sy mampir 🤗
Fany Aja
tiba-tiba bangettt ngomong gitu🤭
dinda aja
🤣🤣🤣🤣
Runa fatia
rada ngakakkk ngebayangin wajah damar🤣🤣🤣 apa ga malu kali tuh
Luna
toh akhirnya si damar jadi ikutan stress juga kayak naya🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
🤣🤣🤣aset dua milyar🤣🤣🤣🤣🤣bangke si Naya ini
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣njir baperan kali si damar
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
siap siap aja mama Ratna nyetok obat darah tinggi, stroke, jantung, asma🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Penulis kentang🍠: asli suka ngakak kebayang muka mama ratna🤣
total 1 replies
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣awal yg bagus
Bambang Suanto
lanjut
Golda
😂😂😂
Diki Nd
🤣🤣🤣
Diki Nd
🤭🤭🤭
dinda aja
sukaaa kak
Pendi Gudung
sukaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!