Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.
Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!
"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."
Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JAWABAN YANG MEMBUAT KEVIN ERROR
Vania tidak berkedip. Dia menatap lurus ke dalam mata Kevin, membiarkan pria itu melihat pantulan wajahnya sendiri di pupil hitam yang dalam dan gelap itu. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada air mata, dan yang paling penting, tidak ada cinta yang tersisa di sana. Hanya ada logika dingin yang terstruktur rapi, seperti spreadsheet Excel yang baru saja di-save.
"Karena saya ingin hidup tenang," ucap Vania. Suaranya datar, tanpa sedikit pun getaran emosi. "Raka yang bahagia berarti Larasati yang bahagia. Larasati yang bahagia berarti alur cerita utama berjalan sesuai naskah. Dan jika alur cerita berjalan sesuai naskah, saya aman. Tidak lebih, tidak kurang."
Hening.
Keheningan yang jatuh di ruangan itu bukanlah keheningan yang dramatis dan puitis seperti di adegan-adegan romantis sinetron. Ini adalah keheningan yang canggung, keheningan yang terasa seperti ketika seseorang baru saja menjelaskan cara kerja mesin fotokopi kepada anak TK.
Kevin menatapnya. Mulutnya sedikit terbuka, lalu menutup kembali. Rahangnya yang tegas mengeras, otot-otot di lehernya menegang. Otaknya yang terbiasa memproses skema balas dendam yang rumit, pengambilalihan perusahaan yang kejam, dan manipulasi emosional tingkat tinggi, tiba-tiba mengalami blue screen.
Dia menatap Vania, mencari-cari tanda-tanda kebohongan. Dia mencari-cari air mata yang tertahan, bibir yang bergetar, atau tatapan yang menghindar. Tapi tidak ada. Vania menatapnya balik dengan tatapan seorang akuntan yang sedang menjelaskan mengapa pengeluaran bulan ini harus dipangkas.
Dia... menyelamatkan Raka karena perhitungan aneh? batin Kevin, rasa tidak percaya merayap di dadanya. Bukan karena dia masih mencintainya? Bukan karena dia ingin membuatku cemburu? Bukan juga karena dia ingin membuktikan sesuatu padaku? Tapi karena... Raka bahagia sama dengan dia aman?
Vania menatap perubahan mikro di wajah Kevin. Dia bisa melihat dengan jelas saat ego pria itu retak.
Vania menoleh sedikit ke arah "kamera" imajinernya yang melayang di dekat lampu meja. Lihat kan? tatapan matanya seolah berkata pada penonton. Ini dia masalah utama pria-pria di novel dark romance. Mereka pikir mereka adalah pusat alam semesta. Mereka pikir setiap tindakan wanita di sekitar mereka pasti berpusat pada mereka. Disukai, dibenci, atau ditakuti, yang penting ada di pikiran mereka. Padahal, Tuan Kevin yang terhormat, di mata saya, Anda cuma variabel pengganggu dalam rencana pensiun dini saya.
Kevin akhirnya bergerak. Dia menarik napas panjang, dadanya naik turun di bawah kemeja putih yang sedikit kusut di bagian dada. Dia melangkah mundur selangkah, menciptakan jarak di antara mereka. Tatapannya yang tadi penuh dengan kecemburuan posesif kini berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih gelap, lebih dingin, dan jauh lebih terluka.
"Kau..." suara Kevin terdengar serak, hampir seperti bisikan yang penuh dengan rasa tidak percaya. "Kau menyelamatkan nyawanya, kau mengorbankan waktumu, kau berurusan dengan Om Reza yang menjijikkan itu... semua itu hanya agar kau bisa 'hidup tenang'?"
"Efisiensi, Tuan Kevin," jawab Vania santai, mengambil serbet dan mengelap sisa remah selai kacang di sudut bibirnya. "Mengapa harus membuat hidup rumit jika bisa diselesaikan dengan persamaan sederhana?"
Wajah Kevin berubah. Senyum tipis yang tadi sempat muncul saat dia memakan roti tawar kini lenyap tanpa jejak. Digantikan oleh ekspresi dingin yang biasa dia gunakan di ruang rapat direksi saat dia baru saja memecat setengah karyawannya. Harga dirinya sebagai antagonis utama, sebagai pria paling ditakuti di kota ini, baru saja dihancurkan oleh seorang wanita yang baru saja makan roti selai stroberi.
Dia tidak terima.
Kevin melangkah maju lagi. Kali ini, gerakannya bukan lagi gerakan seorang pria yang sedang cemburu, tapi gerakan seorang predator yang harga dirinya diinjak-injak. Dia mencondongkan tubuhnya, menatap Vania dengan intensitas yang bisa membakar kertas. Angin indoor yang misterius itu kembali berhembus pelan, mengibarkan ujung rambut bob Vania.
"Jadi, aku bukan alasanmu?" desis Kevin, suaranya rendah, bergetar di ambang kemarahan. Dia menatap bibir Vania, lalu naik ke matanya. "Aku tidak cukup berbahaya untuk membuatmu takut? Kau pikir kau bisa bermain-main dengan hidupku, dengan obsesiku, lalu menganggapku tidak ada di dalam persamaan matematikamu itu?"
Vania menatapnya. Dia melihat kilatan kekecewaan yang tulus di mata pria itu. Kevin, sang villain yang kejam, sedang pouting. Dia sedang cemburu bukan pada Raka, tapi pada logika Vania. Dia marah karena dia tidak menjadi pusat dari keputusan Vania.
Astaga, batin Vania, merasa sedikit bersalah tapi juga sangat geli. Dia benar-benar tersinggung. Ini seperti melihat anak kecil yang marah karena mainannya tidak mengajak bermain. Padahal, Tuan Kevin, kalau saya memasukkan Anda ke dalam persamaan, hasilnya adalah 'Kematian Dini di Episode 150'. Maaf ya, risikonya terlalu tinggi.
Vania tahu dia harus mengakhiri percakapan ini. Semakin lama dia berinteraksi dengan Kevin, semakin dia menyimpang dari Aturan Nomor Tiga: JAUHI KEVIN. Pria ini adalah bom waktu, dan Vania baru saja menyadari bahwa dia memegang pemantik apinya. Dia perlu mundur. Dia perlu menegaskan batasannya. Dia perlu membuat Kevin mengerti bahwa dia bukan bagian dari permainan sinetron ini.
Dengan gerakan yang lambat dan terukur, Vania mundur selangkah. Dia mematahkan tatapan intens Kevin, menatap lurus ke dada bidang pria itu. Dia menarik napas, mempersiapkan kalimat yang dia pikir paling aman, paling logis, dan paling tidak menyakitkan.
"Anda berbahaya, Tuan Kevin," ucap Vania, suaranya tenang namun tegas. "Sangat berbahaya. Tapi Anda bukan prioritas saya."
Kalimat itu keluar dari mulutnya dengan mulus.
Dan tepat di detik itu, Vania menyadari bahwa dia baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Suhu di dalam kamar itu seolah anjlok drastis. Angin indoor yang tadi berhembus pelan tiba-tiba berhenti total, meninggalkan keheningan yang mencekam dan berat.
Vania mendongak, menatap wajah Kevin.
Pria itu tidak bergerak. Dia tidak berteriak. Dia tidak membanting barang. Dia hanya menatap Vania dengan tatapan yang sama sekali kosong. Tatapan yang tidak memiliki emosi, tidak memiliki cahaya, dan tidak memiliki kemanusiaan. Pupil matanya membesar, menelan seluruh bagian putih matanya, membuat tatapannya terlihat seperti lubang hitam yang siap menyedot segala sesuatu di sekitarnya.
Rahang Kevin mengeras begitu rupa hingga Vania bisa melihat ototnya berkedut di bawah kulitnya. Tangan kanannya, yang tadi terkulai santai di samping tubuh, perlahan mengepal. Buku-buku jarinya memutih, urat-urat di tangannya menonjol jelas di bawah kulit.
"Bukan... prioritas," gumam Kevin. Suaranya sangat pelan, hampir tidak terdengar, tapi setiap suku kata diucapkannya dengan penekanan yang tajam dan membeku.
Vania menelan ludah. Insting bertahan hidupnya, yang sedari tadi tertidur karena kenyamanan selai kacang, tiba-tiba terbangun dan berteriak keras di seluruh sistem sarafnya. System failure. System failure. Wrong dialogue choice. Abort mission.
Kevin menunduk, menatap Vania dari atas. Senyum tipis yang mengerikan perlahan terukir di sudut bibirnya. Bukan senyum bahagia. Bukan senyum sinis. Tapi senyum seorang pria yang baru saja menemukan tantangan terbesar dalam hidupnya, dan memutuskan untuk menghancurkannya sampai tuntas.
"Baiklah, Vania," bisik Kevin, suaranya bergetar rendah, penuh dengan ancaman yang terbungkus rapi dalam beludru. "Kalau aku bukan prioritasmu... maka aku akan membuatmu tidak punya pilihan lain selain menjadikanku satu-satunya."
BERSAMBUNG...