Dua hari menjelang pernikahan megahnya, Cinderella Huntington harus menelan kenyataan pahit: sang tunangan mengkhianatinya bersama adik kandungnya sendiri.
Dijatuhi tuduhan tak adil dan selalu dituntut mengalah oleh keluarganya, Cinderella memilih pergi melintasi dinginnya malam untuk meluapkan amarah dan rasa sakitnya hingga mengakhiri hidup.
Namun takdir berkehendak lain. Ia terbangun dalam raga Marcella Ember Vitiello—gadis 18 tahun yang tewas mengakhiri hidup akibat pengabaian orang tuanya.
Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya kembali dengan Draxler Lutolf Ashford—pemuda 19 tahun berparas tampan yang ia kira hanyalah mahasiswa biasa.
Cinderella bertekad membalas setiap ketidakadilan.
Bisakah ia benar-benar menghapus jejak Draxler dari hidupnya ketika takdir pria muda itu ternyata jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#21
Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menyembuhkan luka, namun bagi seorang Draxler Lutolf Ashford, waktu tujuh tahun justru menjelma menjadi kurungan abadi yang dipenuhi amarah, kekecewaan, dan bayang-bayang seorang wanita yang telah menghancurkan hidupnya.
...oOo...
Udara malam California bergetar hebat, membawa getaran bass rendah yang menghentak dada dari pengeras suara raksasa. Di dalam sebuah kelab malam eksklusif dan paling mewah di pusat kota, lampu-lampu sorot laser berwarna merah darah dan biru neon memantul liar di atas lantai dansa yang dipadati lautan manusia.
Kelab malam itu tidak bernama sembarangan. Di atas pintu masuk utamanya, terukir sebuah papan neon raksasa berwarna keemasan: EMBER.
Sebuah nama yang sengaja dipilih, dipatenkan, dan dibanggakan oleh pewaris tunggal dinasti Ashford sebagai monumen kemarahan.
Draxler tidak menamai kelab paling megah itu dengan nama EMBER karena merindukannya—oh, tidak.
Ia menamainya demikian agar setiap pria hidung belang, setiap pebisnis kotor, dan setiap orang di luar sana selalu menyebut nama sialan itu setiap kali mereka datang untuk mabuk atau mencari kesenangan.
Ia ingin nama itu menjadi kutukan, sebuah simbol bahwa wanita penghancur itu pernah meninggalkan bekas luka busuk di dalam hidupnya.
Di sudut paling privat lantai mezanin, tepat di atas area VIP yang menghadap langsung ke kerumunan, Draxler duduk bersandar malas di atas sofa kulit hitam legam.
Penampilannya hari ini jauh berbeda dari pemuda 19 tahun yang dulu polos dan penuh gengsi.
Di usianya yang kini menginjak 26 tahun, Draxler telah bertransformasi menjadi pria matang yang berbahaya. Garis rahangnya makin tegas, bahunya makin bidang dalam balutan kemeja hitam berkerah terbuka yang memperlihatkan tato tipis di balik tulangnya, dan sorot matanya... sorot mata itu sedingin es yang membeku di kutub utara.
Ia menenggak habis cairan wiski bourbon mahalnya dalam sekali teguk, lalu membanting gelas kristal itu ke atas meja marmer dengan kasar.
JEDUK!
"Kubilang, enyah dari hadapanku sebelum aku menyuruh keamanan membuangmu ke tempat sampah!" desis Draxler dengan suara bariton beratnya, menatap tajam ke arah seorang wanita bergaun seksi berkilau yang sejak sepuluh menit lalu mencoba mendekat dan meraba lututnya.
Wanita berambut pirang itu tersentak kaget, mundur teratur dengan wajah pucat pasi akibat tatapan mematikan yang dilemparkan oleh sang pemilik kelab.
Tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun, wanita itu langsung berbalik dan kabur menyelamatkan diri.
Di sisi kiri dan kanannya, Brave dan Kal El menghela napas panjang secara bersamaan.
Kedua pria itu—yang selama tujuh tahun terakhir setia mendampingi sang pewaris Ashford melalui setiap fase kegegeran, kemarahan, dan kemabukan—hanya bisa menggelengkan kepala melihat betapa malangnya nasib Sang Sahabat.
"Sudah wanita yang kesembilan malam ini, Drax," komentar Brave datar sambil menyesap koktailnya. "Rekor yang luar biasa untuk ukuran orang yang bersumpah tidak akan pernah menyentuh perempuan seumur hidupnya."
"Biarkan saja dia frustrasi," timpal Kal El santai, melirik meja di sebelah mereka yang dipenuhi botol-botol kosong minuman keras berharga fantastis.
"Tujuh tahun, kawan. Tujuh tahun penuh kita harus mendengar lagu Gasoline diputar berulang-ulang di tempat ini setiap kali dia teringat pada hari sial saat gadis itu menguras rekening sepuluh juta dolarnya."
Mendengar nama itu diungkit, rahang Draxler langsung mengeras. Ia menyambar botol wiski yang tersisa, menuangkannya kembali ke dalam gelas hingga hampir tumpah.
Lagu Gasoline dari pengeras suara kelab berderum makin kencang, mengalun seiring dengan kepulan asap tipis dari cerutu mahal yang dibakar Draxler dengan gerakan kasar.
"Sialan..." maki Draxler pelan, suaranya bergetar hebat menahan amarah yang kembali membakar dadanya. Ia mendongak, menatap langit-langit kelab dengan mata merah berair akibat alkohol.
"Perempuan jalang itu... perempuan sialan bernama Marcella Ember Vitiello!"
Brave dan Kal El langsung saling berpandangan.
Oh, mulai lagi ritual sumpahnya, batin mereka kompak.
"Kalian tahu apa yang paling membuatku gila?!" gerutu Draxler dengan nada suara setengah berteriak di tengah dentuman musik.
Ia menunjuk-nunjuk udara di depannya dengan jari telunjuknya.
"Dia mengambil keperawananku! Dia merenggut kesucianku dengan mata berair dan desahan paling manis di dunia! Dia membuatku menangis seperti orang bodoh! Dan setelah aku menyerahkan seluruh jiwaku... dia memeras kantong keluargaku di New York sebesar sepuluh juta dolar, lalu Boom! Menghilang bagaikan hantu!"
"Ya, ya, kami tahu, Drax. Kau sudah menceritakan kisah sedih itu ribuan kali selama tujuh tahun ini," potong Kal El jengah, meski ada nada iba di balik suaranya.
"Dan sekarang apa?!" lanjut Draxler, mengabaikan protes temannya, dadanya naik turun menahan sesak.
"Jika kalian bertanya bagaimana kabar gadis itu sekarang... hah! Dia bahkan bertingkah seolah tidak pernah mengenalku seumur hidupnya! Dia menjelma menjadi wanita paling sombong, paling dingin, dan paling kejam di seluruh pesisir pantai timur!"
Draxler benar.
Berita mengenai kebangkitan sang ratu baru dunia bisnis menghiasi halaman utama majalah ekonomi sejak lima tahun lalu.
Marcella Ember Vitiello—yang Tidak pernah kembali menggunakan nama aslinya—berhasil menendang keluar keluarga Huntington dari tampuk kekuasaan—kini berdiri sebagai CEO terkejam di Amerika Serikat.
Ia telah melibas habis Huntington Group, memenjarakan ayah kandungnya sendiri, dan membuang Siena serta Jonah ke jalanan kumuh tanpa belas kasihan.
Wanita itu kini menjadi sosok diktator berdarah dingin yang memegang kendali atas imperium bisnis raksasa.
Dan hebatnya? Selama lima tahun berturut-turut memimpin puncak kejayaan bisnis, tidak ada satu pun skandal percintaan yang pernah melekat pada namanya.
Ia menolak mentah-mentah setiap lamaran dari para pangeran bisnis, politisi kaya, dan bangsawan dunia.
Namun justru kenyataan itulah yang membuat Draxler merasa ingin membunuh seseorang setiap kali ia membaca profil majalah bisnis tentang wanita itu.
Draxler kembali meneguk wiskinya, matanya menatap kosong ke lantai dansa bawah.
Rasa sakit, patah hati, dan kebencian yang teramat pekat bergolak di dalam dadanya. Karena trauma masa lalu yang begitu mendalam akibat pengkhianatan Ember, Draxler menepati sumpahnya dengan mutlak: Ia tidak akan pernah berpacaran, tidak akan pernah membuka hati, dan tidak akan pernah menikah seumur hidupnya.
Tidak ada satu pun gadis di dunia ini yang mampu menggantikan posisi hancur yang ditinggalkan oleh wanita berisik dari kampus dulu—bahkan versi dingin dari wanita itu sekalipun.
Draxler mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tajam pada dua sahabat setianya dengan mata yang menyala-nyala karena amarah dan alkohol.
"Sumpah demi Tuhan..." bisik Draxler dengan gigi terkatup rapat, suaranya begitu kejam namun menyiratkan kepedihan yang teramat sangat.
"...aku menyumpahi wanita sialan itu. Aku menyumpahi agar Marcella Ember Vitiello—tidak akan pernah bisa dimiliki oleh pria manapun di muka bumi ini!"
Brave membelalakkan matanya ngeri.
"Wah, wah... sumpahan macam apa itu, Drax? Kau ingin dia menjadi perawan tua sampai Mati?"
"Biarkan dia melajang seumur hidupnya!" teriak Draxler frustrasi, menggebrak meja marmer hingga beberapa gelas bergetar.
"Biarkan dia hidup kesepian di singgasana CEO-nya yang dingin! Biarkan tidak ada satupun pria di dunia ini yang bisa menyentuhnya, menciumnya, atau melihat air matanya seperti yang pernah kulakukan! Kalau aku tidak bisa memilikinya secara utuh tanpa dikhianati... maka tidak boleh ada satu pun pria keparat di luar sana yang berani menyentuh kulitnya!"
Kal El terkekeh sinis, menggeleng-gelengkan kepala.
"Tuh kan, apa kubilang? Kau tidak membencinya, Draxler. Kau hanya cemburu buta karena kau tahu sampai detik ini, hatimu masih sepenuhnya tersangkut di sepatu hak tingginya."
"DIAM KAU, KAL!" geram Draxler melempar kacang mede ke arah kepala temannya. "Aku membencinya! Aku ingin mencekiknya dengan kedua tanganku sendiri!"
"Ya, tentu saja. Dan nanti setelah mencekiknya, kau pasti akan langsung memeluk mayatnya sambil menangis histeris seperti di drama opera sabun," balas Kal El tanpa beban, sukses membuat Brave terbahak-bahak keras.
Draxler mendengus kesal, menyandarkan kembali punggungnya di sofa, lalu memejamkan matanya rapat-rapat.
Alunan lagu Gasoline terus menghentak, namun di balik topeng kemarahan dan sumpah serapahnya yang kejam di hadapan kedua sahabatnya, ada bagian terdalam dari jiwa Draxler yang tahu persis satu kebenaran pahit:
Tujuh tahun berlalu, dan ia masih pria yang sama—pria bodoh berusia 19 tahun yang menyerahkan seluruh kesucian dan harga dirinya di kamar hotel mewah itu, seorang pria yang tidak akan pernah bisa mencintai wanita lain selain sang ratu es yang telah merenggut nyawa hatinya.