"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingatan Kematian Berulang Evelyn
Kamar utama kediaman Harrington begitu sunyi. Tirai beludru tebal abu-abu setengah tertutup, membuat cahaya sore masuk. Suasana begitu tenang, terisolasi dari bising dunia luar, hanya dihiasi oleh suara napas hangat Matthew yang berbaring miring di samping Evelyn. Tangan tegap sang Grand Duke melingkar protektif di pinggang gadis itu, merengkuhnya tanpa celah, menjaga seolah Evelyn adalah porselen rapuh yang sanggup hancur jika ditinggalkan barang sedetik.
Napas Evelyn terdengar teratur, namun ketenangan itu hanyalah fatamorgana. Di balik kelopak matanya yang terpejam, kesadarannya perlahan merosot mati rasa, terseret turun melewati pusaran hitam yang dalam dan pekat. Udara hangat kamar menguap seketika, berganti menjadi sensasi dingin menusuk sampai ke tulang.
Dooorr!
Sensasi tajam, panas, menembus pundak dan dada Evelyn. Badannya perlahan roboh ke tanah. Udara di sekelilingnya yang dingin berbau anyir darah dan besi berkarat. Evelyn memandang langit yang hitam pekat disertai gerimis. Evelyn mencoba duduk dan melihat dari kejauhan, meski pandangannya mulai kabur. Itu Cedric dan Leonor! Mereka berdua terlihat tersenyum puas dan berlalu. Lalu Matthew terlihat kaget melihat Evelyn, kemudian menghampirinya dengan wajah cemas dan kemudian gelap.
Evelyn terbangun kembali dan mendapati dirinya di hutan pinus yang sama, bergandengan tangan dengan Cedric. Evelyn masih berusaha memproses apa yang baru saja terjadi dan tidak mendengar satupun kata-kata Cedric. Dan disana Leonor berdiri dengan tangan terlipat ke belakang, Ia berjalan menghampirinya, memeluknya.
Jleb!
Mulut Evelyn mengeluarkan darah. Dia jatuh ke tanah tanpa merasakan apapun kecuali sakit di pinggang nya. Bau anyir darah dan suara tawa Leonor dan Cedric yang melengking di telinganya. Kemudian pisau itu dijatuhkan di depan mata yang sudah mulai kehilangan kesadaran. Lagi-lagi dia cuma dengar suara Matthew memanggilnya, kemudian gelap.
Evelyn terbangun lagi. Kali ini dengan kondisi terduduk dan terborgol di area hutan pinus dengan tubuhnya yang kesakitan karena digigit binatang buas. Lagi-lagi sendirian di tengah hutan pinus yang gelap. Dia dapat melihat gaun putihnya sudah berubah warna. Tidak lama dari ia mengerang kesakitan dan meminta tolong, Matthew datang berlari, menangis dan berusaha membuka borgol di tangannya.
Gelap dan dingin. Evelyn tidak bisa membuka matanya. Tapi ia mendengar Leonor dan Cedric berkata tentang racun. Apakah mereka meracuninya? Tubuh Evelyn mengejang hebat. Dan samar-samar ia mendengar suara Matthew. Tapi tubuh Evelyn makin lemas dan tidak bertenaga.
Hutan pinus ini lagi, pemandangan yang sama. Gelap, gaun putih. Kali ini Evelyn berjalan sendirian dengan menggenggam sepucuk surat yang ketika dia baca ulang, itu tulisan Cedric.
Aku tunggu di bawah pohon bertuliskan nama kita, Evelyn sayang. Tunggu disitu aku segera datang dan ayo kita ke Paris!
Karena terlalu fokus menatap ulang surat itu, Evelyn kemudian tersandung jatuh. Belum sempat dia bangun tiba-tiba ada pohon jatuh menimpanya. Sakit! Evelyn bisa merasakan darah keluar dari tubuhnya karena bau anyir darah sudah tercium dari hidungnya. Evelyn tidak bisa bergerak dan lagi-lagi suara samar Matthew.
Evelyn membuka mata, kali ini bukan hutan pinus yang dilihatnya. Kamar Cedric. Dia masih ingat kamar yang selalu dingin ini. Ranjang yang besar yang selalu dingin dan sepi. Dikamar inilah Cedric selalu meninggalkannya. Entah kenapa Evelyn berjalan keluar karena ada suara berisik di ruangan sebelah. Evelyn membuka pintu perlahan dan mengintip. Disana dia melihat Cedric sedang berciuman dengan wanita lain, wajahnya tampak asing. Evelyn membanting pintu itu. Cedric tampak sudah memprediksi kehadirannya dan sudah menyiapkan senapan. Kemudian senapan itu ditarik dan ditembakkan ke arah gadis di depannya. Bruuk! Evelyn menjerit, gadis yang dicium Cedric jatuh terkapar. Kemudian suara tembakan lagi, dan Evelyn memegang perutnya. Cedric tersenyum puas. Kemudian gelap.
Evelyn mendongak bersusah payah. Pandangannya kabur oleh kombinasi air hujan dan darah. Di hadapannya, berdiri Cedric dengan setelan jas hitam yang rapi. Di tangannya, sebuah pistol perak masih mengepulkan asap tipis dari ujung moncongnya. Di samping Cedric, Leonor—ibunya—berdiri anggun memegang payung hitam. Gaun malam mewahnya yang berwarna marun melambai tertiup angin dingin, sama sekali tidak tercemar oleh lumpur tanah.
"C-Cedric..." suara Evelyn terbatuk, menyemburkan gumpalan darah hangat dari tenggorokannya. "K-kenapa...?"
Cedric bahkan tidak memandang matanya. Pria yang selama tiga tahun ia panggil sebagai kekasih itu menatap jasad Evelyn yang terkulai bagai sampah yang tidak berguna. Wajah Cedric datar, tidak ada jejak penyesalan, amarah, ataupun keraguan di sana—hanya kekosongan dingin yang mengerikan.
Cedric menoleh ke arah ibunya. "Apakah dia sudah mati, Ibu? Tembakan tadi tepat mengenai area vitalnya."
Leonor melangkah maju. Ujung sepatu hak tingginya yang tajam menyenggol bahu Evelyn yang berdarah, membalikkan tubuh gadis itu hingga terlentang memandang langit malam yang kelam. Senyuman tipis, dingin, dan penuh kejiwaan terukir perlahan di wajah wanita tua itu.
"Dia sudah kehabisan darah, Cedric. Nyawanya tidak akan bertahan tiga menit lagi," ucap Leonor dengan nada datar yang teramat tenang, seolah sedang membicarakan cuaca. "Gadis bodoh ini benar-benar percaya bahwa kamu mencintainya. Dia menuruti setiap kata-katamu tanpa bertanya sedikit pun."
"Baguslah," sahut Cedric dingin sambil menyarungkan kembali pistolnya ke dalam jas. "Saya tidak perlu lagi berpura-pura bersikap manis di depannya."
Evelyn meraung tanpa suara. Kesadarannya merosot perlahan, namun pendengarannya masih menangkap dengan amat jelas setiap kata yang keluar dari bibir racun wanita itu.
"Sekarang pengganggu ini sudah tersingkir," Leonor menatap ke arah mansion Pendragon di kejauhan dengan mata berkilat kesetanan. "Sudah saatnya kita ambil alih Pendragon, Cedric. Semua kekayaan, tanah, dan pengaruh Matthew Harrington akan jatuh ke tangan keluarga Ashworth!"
Setiap ingatan maut itu datang bergantian tanpa jeda, masuk ke dalam alam bawah sadar Evelyn. Detail rasa sakit yang amat nyata dan horor yang mencekik.
Enam kematian. Enam cara eksekusi yang brutal, dingin, dan tanpa ampun. Seluruh penderitaan itu dirancang rapi oleh Cedric dan Leonor Ashworth hanya untuk satu tujuan utama: menggunakan Evelyn sebagai wadah, alat, dan batu loncatan demi menghancurkan Pendragon dari dalam.
Namun di balik setiap tragedi berdarah di kedelapan loop tersebut, ada satu pola mengerikan yang selalu berulang di detik-detik terakhir sebelum nyawanya benar-benar padam.
Di tengah kobaran api, di atas aspal bersalju, di lantai marmer yang bersimbah darah, hingga di tanah berlumpur hutan pinus... Evelyn selalu melihat sosok pria berambut gelap yang datang menerobos kegelapan bagai iblis yang mengamuk.
Matthew.
Pria itu selalu datang—meski terlambat beberapa detik. Matthew akan berlutut di atas tubuh Evelyn yang mulai dingin, menangis histeris berteriak memanggil namanya, memeluk jasad dinginnya yang tak bernyawa rapat-rapat ke dada bidangnya.
Lalu, memori itu kembali membawa Evelyn berputar penuh menuju titik awal sebelum kematiannya : Hutan Pinus di kediaman keluarga Harrington.
Evelyn kembali berlutut di tanah basah yang dingin, dengan pundak yang tertembus peluru. Darahnya mengalir membendung lumpur di sekelilingnya. Rasa sakit dari kedelapan kematian sebelumnya seolah terakumulasi dan menumpuk di tubuhnya saat ini, membuatnya menjerit tanpa suara.
Cedric dan Leonor masih berdiri di hadapannya sambil membawa payung hitam. Mereka menatap tubuh Evelyn yang mendekati ajalnya bagai melihat bangkai hewan yang tak berharga.
"Apakah sudah selesai, Ibu?" tanya Cedric pendek, menyeka titik air hujan yang menempel di lengan jasnya dengan ekspresi jijik.
"Sudah," jawab Leonor lembut, namun nada suaranya menebarkan hawa busuk penderitaan. "Gadis malang ini akhirnya binasa juga. Kita akan menghancurkan nama Pendragon sampai ke akar-akarnya, mengambil alih seluruh aset kerajaan bisnisnya, dan mendudukkan keluarga Ashworth di puncak tertinggi! Kita buat seolah Samantha dan Matthew membunuh Evelyn atas nama kecemburuan ha..ha..ha.. Sungguh rencana licik yang luar biasa Ibuku sayang"
Leonor mendongakkan kepalanya sedikit, lalu tawa menggelegar keluar dari kerongkongannya. Tawa yang mula-mula pelan itu berkembang menjadi gelak tawa melengking, dingin, nyaring, dan penuh kemenangan yang membahana di antara hembusan angin malam dan rintik hujan hutan pinus.
Cedric ikut menyunggingkan senyum lebar yang sinis. Tawanya yang bernada rendah dan penuh kelicikan menyatu sempurna dengan tawa melengking ibunya, menciptakan simfoni ketawa iblis yang bergema hebat di dalam tempurung kepala Evelyn.
"Selamat tinggal, Evelyn..." pangkas Cedric dingin di antara tawanya. "Terima kasih sudah menjadi alat yang sangat berguna untuk kami."
Suara tawa bersahut-sahutan dari Leonor dan Cedric terus menggema melintasi hutan, makin keras, makin nyaring, memecahkan gendang telinga Evelyn, menyiksa jiwanya dengan gema kejahatan mutlak yang tak termaafkan.
"Hahaha! Seluruh Pendragon akan menjadi milik kita! Hahaha!"
"Evelyn! Eve, bangun!"
Goncangan keras namun sarat akan kepanikan di bahunya memutus tawa melengking itu seketika.
Evelyn tersentak hebat di atas ranjang. Matanya terbuka lebar secara mendadak, pupil matanya mengecil sewaktu napasnya terengah-engah parah, memburu udara bagai orang yang hampir tenggelam di kedalaman laut maut. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, membasahi kain kemeja dan helai rambutnya.
Cahaya kamar utama Grand Duke yang temaram dan aroma parfum Matthew membuat Evelyn terbangun.
Di atasnya, Matthew menunduk dengan raut wajah yang amat sangat cemas. Dahi pria itu berkerut dalam, mata keemasannya memancarkan kilau kepanikan absolut sewaktu jemari tegapnya merengkuh kedua pipi Evelyn yang basah oleh air mata yang mengalir tanpa henti.
"Eve... kamu mimpi buruk! Aku di sini, Eve! Kamu aman!" suara Matthew bergetar serak, memeluk erat tubuh gadis itu yang masih gemetar hebat di dalam dekapannya.
Namun di dalam kepala Evelyn, gema tawa melengking Leonor dan kekehan dingin Cedric atas rencana pengambilalihan Pendragon masih terus berdengung, menyisakan jejak horor yang membakar jiwanya hingga ke dasar.