NovelToon NovelToon
TERJERAT CINTA PAK KADES

TERJERAT CINTA PAK KADES

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Beda Usia
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: julieta

Dari desa yang sederhana tumbuh cinta yang tak pernah disangka...

Hal itulah yang mungkin dirasakan oleh Vallery gadis cantik yang lahir dan dibesarkan di kota dengan berbagai macam vasilitas mewah kemudian dipaksa untuk tinggal didesa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk dan kemudahan fasilitas umum yang biasa ia dapatkan setelah diusir oleh nenenk tirinya dari rumah begitu kedua orang tuanya meninggal dunia. Tanpa disang,ka keputusan cepat yang dimabilnya untuk tinggal di Desa Maju Bersama, kampung halaman sang papa untuk tinggal bersama neneknya mengubah seluruh kehidupan Vallery termasuk kisah cintanya yang terejrat kepada seorang kepala desa yang berstatus duda perjaka di kampung neneknya itu yang terus mengejarnya secara ugal-ugalan hingga membuat hati Vallery pun menjadi luluh...
Kisah cinta romantis namun ada sedikit unsur komedi mewarnai kisah cinta keduanya membuat cerita kali ini bisa terbilang sangat ringan karena jauh dari intrik panjang dan berat.
HAPPY READING.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KALAP

Niat hati hanya akan membelikan anak-anak karang taruna es cendol dan cilok, tapi Vallery melihat banyak diantara pedagang kaki lima yang menggunakan Qris, seketika jiwa konsumsi Vallery keluar.

Tanpa ragu ia pun memborong satu persatu jajanan yang terlihat menarik dimatanya tanpa ragu.

Baruna yang berjalan dibelakang Vallery, kedua tangannya sudah penuh dengan aneka macam camilan yang Vallery beli, hingga tak muat lagi dijarinya.

"Val, sudah cukup. Ini terlalu banyak, sayang kalau sampai nggak habis dan terbuang"

Ucapan Baruna membuat Vallery tersadar dan menoleh, melihat kedua tangan Baruna sudah penuh oleh camilan yang dibelinya, Vallery pun segera menghentikan aksi membeli camilan secara gila-gilaan.

"ok, ini yang terakhir. Di rumah Ayu, banyak anggota laki-laki, camilan segitu pasti akan cepat habis", jawab Vallery sambil mengarahkan ponselnya untuk membayar pembelian camilannya.

Begitu camilan terakhir selesai dibuat, Vallery pun mengambil sebagian bungkus camilan ditangan Baruna.

"Ayo kita kembali...", ajaknya, membuat Baruna merasa lega melihat Vallery menghentikan aksi borong jajanan kali lima dan bergegas menuju dimana motor matic nya diparkir, takut Vallery berubah pikiran dan kalap lagi.

Begitu motor yang Baruna dan Vallery kendarai pergi, tak jauh dari sana ada sepasang mata yang sedari tadi mengamati keduanya dari kejauhan.

"Ternyata dia menyukai camilan seperti itu. Baiklah, kurasa aku punya ide kemana akan mengajaknya nanti", batinnya senang karena upayanya untuk mengikuti keduanya tak sia-sia.

Ia pada akhirnya mengetahui apa yang Vallery sukai sehingga memiliki rencana dalam benaknya dalam memuluskan aksinya untuk melakukan pendekatan dengan gadis cantik tersebut.

Begitu tiba dirumah Ayu, Vallery segera membuka satu persatu camilan yang dibelinya dan mempersilahkan semua orang untuk mengambilnya.

"Ayo dimakan, jangan bengong", ucap Vallery sambil menyodorkan satu sempol ketangan Mila.

Mendengar Vallery mempersilahkan, semua orang pun segera mengambil camilan yang mereka minati.

"Banyak bener Vall, lu lagi seneng nih kayanya", goda Idris.

"Ya gimana nggak seneng kalau  semua camilan ini bisa dibayar dengan Qris secara aku masih terkejut di desa kecil seperti ini para pedang kali limanya ternyata cukup maju juga dengan melampirkan pembayaran dengan Qris", jawab Vallery sambil memasukkan cilok pedas kedalam mulutnya.

"Ya karena desa kita tinggal ini terpencil sehingga sulit untuk mengambil uang di ATM yang hanya ada di supermarket yang ada dikecamatan, banyak orang menggunakan Qris sebagai alternatif pembayaran. Lagipula, jika memakai Qris para penjual juga tak bingung memberikan pengembalian karena semua pembeli akan membayar sesuai dengan tagihan dan uang tersebut bisa mereka belanjakan lagi untuk membeli bahan baku untuk jualan mereka secara online karena beberapa toko grosir besar sudah menyediakan jasa antar untuk pembelian online demi memudahkan warga membeli barang mereka tanpa perlu pergi ke kecamatan atau kabupaten", jelas Yanti yang mulutnya tak pernah berhenti mengunyah, sambil menjelaskan tangannya terus mengambil aneka camilan didepannya, membuat Vallery merasa senang karena ia sepertinya telah memiliki teman yang hobi jajan sepertinya.

Yanti sendiri pada dasarnya tak terlalu membenci Vallery, hanya saja diawal ia sempat merasa sedikit kasihan dengan  sahabatnya Ayu yang sudah sangat lama menyukai Baruna tapi tak bisa mengungkapkan sehingga begitu melihat Baruna tertarik dengan seorang gadis, ada sudut hatinya yang merasa tak senang, takut Ayu terluka.

Tapi setelah melihat bagaimana cara Baruna dan Vallery berinteraksi, kemungkinan perhatian yang Baruna berikan kepada Vallery murni rasa kagum atas kecantikan Vallery, belum sampai ke tahap menyukai sehingga peluang Ayu untuk mendapatkan hati Baruna masih terbuka lebar karena sepertinya Vallery juga hanya menganggap Baruna sebagai teman biasa saja.

Melihat Vallery memakan camilan paling banyak, lima orang gadis yang ada disana menatapnya heran pasalnya setelah menghabiskan camilan yang penuh karbohidrat itu, perut Vallery sama sekali tak membuncit, tak seperti yang lainnya dimana perut mereka sudah membuncit, bahkan ada beberapa orang yang sampai membuka kancing celananya demi melonggarkan perut ya agar tak terasa  sesak ketika dibuat duduk.

Vallery yang ditatap aneh oleh kelima gadis didepannya, sedikit menyipitkan matanya, "Ada apa?", tanyanya penasaran.

"Kamu makan sebanyak itu tapi tak gemuk, apa kamu cacingan?", tanya Ningsih dengan wajah polos, membuat semua orang yang mendengarnya terkikik pelan.

Vallery yang sudah sering mendapatkan pertanyaan seperti itu hanya mengangkat kedua bahunya"Entahlah, aku sendiri tak tahu, tapi yang jelas sebanyak apapun aku makan, aku tak bisa gemuk. Kalau kata mama mungkin itu keturunan karena mamaku dan nenek juga tak gemuk-gemuk padahal makanan yang mereka makan lebih banyak dariku", jelasnya, membuat semua orang pun mengingat bagaimana bentuk tubuh nenek Gendhis yang tetap ramping tak seperti nenek-nenek lainnya yang setidaknya memiliki lemak di sekitar perut mereka hingga penjelasan yang diberikan oleh Vallery pun mereka percayai.

"Kamu seperti sepupu jauhku yang tinggal di pulau B, sebanyak apapun ia makan, ia tak pernah bisa gemuk. Bahkan kedua orang tuanya sampai membelikannya berbagai macam vitamin agar tubuhnya berisi tapi ya tetap saja, nafsu makannya bertambah tapi berat badan tetap stabil", jelas Yanti, membuat keempat gadis yang ada disana hanya bisa menghela nafas berat.

"Hal ini berbanding terbalik denganku. Aku makan satu suap saja rasanya berat badanku naik sekilo. Karena itulah aku sering membantu kedua orang tua ku diwarung, setidaknya dengan banyak bergerak lemak di tubuhku bisa terbakar sebagian", ucap Mila dengan nada sedih.

Apa yang Mila alami juga dirasakan oleh para gadis lainnya sehingga mereka juga sangat membatasi makanan yang mereka makan, tak seperti Yanti walau makan banyak, gadis itu sangat aktiv diberbagai kegiatan sehingga makanan yang ia makan berubah jadi otot sehingga tubuhnya menjadi tinggi besar seperti atlit, tak seperti mereka yang hobi mager di rumah dan leyehan setelah selesai makan.

Begitu semua camilan telah habis dan semua orang telah menentukan jam berapa mereka akan bergerak esok hari, semua orang pun segera membubarkan diri.

Seperti awal, pulang kali ini Baruna lah yang mengantarkan Vallery sampai ke depan rumahnya dan keduanya kembali berjanji untuk pergi bersama esok hari.

Karena tak memiliki motor maka Vallery pun menerima ajakan Baruna untuk pergi bersama.

Akibat kekenyangan, begitu masuk kedalam rumah, Vallery yang hanya berniat untuk rebahan sebentar ternyata bablas tidur hingga hampir mahgrib, membuat nenek Gendhis yang sedari tadi mencoba membangunkannya tapi tidak berhasil merasa sangat kesal.

"Wes Ndang adus, selak asaharane entek (cepat segera mandi sebelum waktu sholat ashar nya habis)", ucap nek Gendhis.

Melihat jika sudah menunjukkan angka lima sore, Vallery pun buru-buru bangkit dari atas ranjangnya dan segera berlari masuk kedalam kamar mandi agar tak kehabisan waktu sholat ashar.

Vallery yang sejak sholat ashar tak meninggalkan sajadahnya karena sebentar lagi memasuki waktu sholat Maghrib.

Habis sholat Maghrib, Vallery yang tengah membaca Al-Qur'an sambil menunggu masuk waktu sholat isya, tiba-tiba mendengar suara pintu rumah neneknya di ketuk.

Teringat jika tadi neneknya berpamitan untuk pergi ke surau yang dekat dengan rumah, Vallery pun terpaksa keluar dari kamar masih dengan mukenah di tubuhnya.

ceklek, 

Begitu pintu dibuka, kedua mata Vallery membulat sempurna karena tak menyangka jika tamu yang datang berkunjung adalah Dirga, sang kepala desa.

"Maaf pak kades, nenek Gendhis masih ada di surau. Jika pak kades ada keperluan, bisa menunggu didalam atau kembali lagi setelah sholat isya", ucap Vallery yang mengira Dirga datang untuk menemui neneknya.

Bukannya menjawab, Dirga malah memberikan bungkusan plastik yang kalau Vallery lihat seperti berisi nasi dan kue.

Melihat Vallery terdiam tak menyambut  berkat (biasanya berisi nasi dan kue yang didapatkan seseorang setelah menghadiri acara hajatan dirumah salah satu warga), iapun segera bersuara. "Ini adalah berkat buat kamu. Aku mau langsung ke masjid untuk sholat isya jadi berkat ini untuk kamu saja".

Vallery yang masih bingung diberi berkat oleh Dirga hanya terdiam sambil satu tangannya menenteng berkat pemberian Dirga tadi, sementara Dirga yang sudah pergi dengan motornya ke arah masjid desa, tersenyum tipis.

Setelah kesadaran kembali, Vallery pun kembali menutup pintu sambil membawa berkat pemberian Dirga masuk kedalam rumah.

"Apa pak kades salah minum obat, kenapa ia bisa memberikan berkat yang didapatkannya kepadaku padahal berkat itu bisa ia bawa pulang untuk dimakan keluarganya", guman Vallery sambil sedikit bingung.

Tak mau ambil pusing, Vallery pun meletakkan berkat pemberian Dirga di meja makan dan iapun segera melangkah masuk kedalam kamar untuk kembali melanjutkan membaca Al-Qur'an sambil menunggu waktu sholat isya tiba setelah sempat tertunda oleh kedatangan Dirga tadi.

1
Fadilah Fadilah
lanjutkan cerita nya
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Fadilah Fadilah
lanjutkan cerita nya
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Rian Moontero
Mampiiirrr😍👍👍
Fadilah Fadilah
lanjutkan cerita nya 🙏🙏🙏
Fadilah Fadilah
lanjutkan sampai habis cerita ini jan🙏🙏🙏
Fadilah Fadilah
lanjutkan
PengGeng EN SifHa
BERSAMBUNG...


TENG TENG TEEEEEEEEEENNNNGGGGG☕️

SELAMAT PAGI SEMUAAAAAA
PengGeng EN SifHa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Fadilah Fadilah
lanjutkan
PengGeng EN SifHa
walah walah walah walah...dunia dirga benar2 sangat seru dengan mereka yg mempunyai keinginan yg berbeda² demi sebuah VALIDASI
PengGeng EN SifHa
tampah...tledok...kalau ditempatku namane
Fadilah Fadilah
lanjutkan
PengGeng EN SifHa
Tatapanmu bagaikan mata si elang🦅🦅🦅 yang siap menerkam ga🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!