Dikhianati dan dibunuh oleh rekan seperjuangannya sendiri, Dinda, Komandan Pertama Barat yang legendaris, justru mendapat kesempatan kedua setelah jiwanya berpindah ke tubuh Ana Pramudia, gadis lemah yang dibunuh oleh saudara tirinya sendiri.
Kini, dengan jiwa seorang jenderal tangguh dan kekuatan mistis yang masih tersisa, Ana siap membalas dendam, merebut kembali harga dirinya, dan mengguncang Kekaisaran. Namun, di tengah intrik dan musuh yang mengincarnya, kemunculan Tuan Muda Adrian yang terus mengikutinya justru menambah misteri.
Akankah Ana berhasil menaklukkan dunia barunya, dan apa sebenarnya tujuan Adrian mendekatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusriani Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seratus poin
Di ruang pengawasan lantai atas, Adrian dan Jenderal Arya berdiri menghadap monitor yang menampilkan area lapangan tembak. Adrian bersedekap, matanya tak lepas dari sosok Ana yang berdiri tenang di bawah sana.
Jenderal Arya terkekeh sambil menggelengkan kepala. "Anak muda sekarang gampang banget kepancing emosi. Masalah sepele saja sampai dijadikan taruhan. Tuan Muda Adrian, kalau menurut Anda ini sudah kelewatan, saya bisa meminta petugas yang di bawah untuk membubarkannya sekarang."
"Ngak usah Jenderal biarkan saja," sahut Adrian tanpa mengalihkan pandangan.
Senyum tipis muncul di wajahnya. "Saya tahu persis kemampuan dia."
Jenderal Arya agak heran melihat ketenangan pemuda di sampingnya. Ia melirik monitor lalu kembali menatap Adrian. "Tuan Muda kenal dekat dengan anak itu? Aksa Aditama?"
"Aksa?" Adrian mendengus pelan. "Dia belum ada di level itu jadi dia tidak perlu saya kenali."
"Lalu siapa yang Anda maksud tuan?"
Adrian menunjuk layar, tepat ke arah Ana yang sedang memeriksa pelindung telinganya.
"Perempuan di sebelah Adit. Dia pacar saya."
Jenderal Arya terdiam. Langkah kakinya tertahan, matanya bolak-balik menatap layar dan wajah Adrian dengan ekspresi tidak percaya.
Di lapangan, Aksa mengangkat dagunya menantang. "Siapa duluan?"
"Aku aja," lanjut Aksa tanpa menunggu jawaban Ana. "Biar aku kasih contoh sekalian. Biar kau nggak punya alasan kalau aku ngecurangin cewek."
Aksa memakai kacamata pelindung, mengambil posisi menembak yang kokoh, lalu menarik pelatuknya.
Dor! Dor! Dor!
Sepuluh tembakan dilepaskan dengan jeda yang teratur.
Ketika papan skor digital menyala, hasilnya langsung keluar: total sembilan puluh tujuh poin. Semua peluru bersarang rapat di area lingkaran dalam.
"Gila akurat banget Sa!" puji temannya heboh.
"Dengan nilai segini, kau udah pasti lolos seleksi militer!"
Aksa menurunkan senjatanya dengan senyum bangga.
Melihat angka itu, Adit langsung lemas. Ia mendekati Ana dengan wajah pucat. "Kak, sembilan puluh tujuh itu susah banget dikejar. Biar aku aja yang maju ngegantiin Kakak. Aku cowok, kalaupun harus kalah dan malu nggak masalah."
"Emangnya sekarang giliran kamu?" sahut Ana santai. Ia sama sekali tidak terlihat terintimidasi. "Tapi boleh juga, sembilan puluh tujuh."
Aksa yang mendengar kalimat itu langsung menyahut, "Kenapa Ana? Kau bahkan tidak tahu cara pegang pistol yang bener nggak? Katanya anak keluarga militer, jangan-jangan cara lepas aman (safety) aja kamu nggak tahu?"
Teman-temannya menimpali sambil tertawa, "Jangankan dapet sembilan puluh, pelurunya kena papan sasaran aja itu sudah jadi keajaiban!"
Ana tidak membalas dengan kata-kata. Ia mengambil pistol di mejanya, memeriksa bobotnya sebentar lalu dalam satu gerakan cepat tiba Ana mengarahkan pistol itu tepat ke arah Aksa.
Suasana langsung senyap. Wajah Aksa langsung memucat saat melihat lubang itu senjata berada beberapa senti di depan matanya.
"He-hei! Mau ngapain kau? Jangan gila ya! Turunin!" pekik Aksa gagap, suaranya mulai meninggi.
"Bisa diam nggak?" suara Ana mendadak marah. "Aku lagi fokus, jangan sampai tangan aku tidak sengaja tergelincir karena kalian berisik."
Aksa refleks melompat mundur berlindung di balik punggung temannya. "Aku peringatin ya! Kalau kau berani macam-macam, keluarga Pramudia bakal aku bikin hancur!"
Orang-orang di sekitar lapangan tembak mulai berbisik-bisik tegang. Melihat reaksi ketakutan itu, Ana perlahan menurunkan senjatanya lalu tertawa.
"Katanya calon militer, tapi diarahin senjata kosong aja langsung sembunyi," sindir Ana.
"Santai, magazinnya bahkan belum aku pasang."
Adit yang menyadari situasi langsung menyemburkan tawa. "Aduh Sa, mukamu pucat banget. Hampir ngompol ya tadi?"
Aksa keluar dari balik punggung temannya dengan wajah merah padam menahan malu.
"Kau sengaja ngerjain aku?!" Ucap Aksa.
"Magazinnya," pinta Ana tanpa memedulikan amukan Aksa, tangannya terulur ke arah Adit.
"Oh ini Kak. Biar aku pasangin."
Belum sempat Adit mengambil magazin tersebut, Ana sudah menyambarnya. Dengan satu gerakan saja tangannya begitu cepat memasang magazin itu dan sudah terkunci sempurna di dalam pistol.
Kedua teman Aksa melongo. Gerakan tangan Ana begitu cepat khas orang yang sudah terbiasa melakukan reload ribuan kali.
Di ruang pengawasan, Jenderal Arya yang tadinya santai kini menegakkan posisi duduknya. Matanya melebar menatap monitor.
"Kecepatan reload seperti itu bahkan prajurit aktif yang dilatih bertahun-tahun belum tentu punya refleks semulus itu."
Adrian melirik sang jenderal dengan senyum tipis. "Itu baru pemanasan Jenderal."
Di bawah, Aksa berusaha keras mengembalikan harga dirinya yang runtuh.
"Halah! Cuma menang gaya doang. Ini kompetisi akurasi, bukan pamer kecepatan pasang peluru!"
"Di medan tempur selisih satu detik itu penentu kamu mati atau bertahan hidup," potong Ana tajam. "Kamu bilang itu cuma pamer gaya?"
Aksa tertawa paksa. "Sok tahu banget! Gaya kamu kayak orang yang pernah muter-muter di medan perang aja. Mending kamu tembak dulu tuh papan baru banyak omong!"
Ana menarik slide pistol untuk memasukkan peluru ke kamar senjata. Posisi berdirinya berubah drastis sangat tegap, dan kokoh. Fokus matanya menatap tajam ke arah papan sasaran di depannya.
Dor! Dor! Dor! Dor!
Suara letusan keras terdengar memenuhi arena. Sepuluh tembakan dilepaskan dalam hitungan detik dengan gerakan yang sangat cepat dan kontrol yang sempurna. Pistol di tangannya hampir tidak bergoyang.
Setelah tembakan terakhir, Ana menurunkan senjatanya, mengembuskan napas perlahan, lalu menoleh ke arah Aksa yang sedang terpaku.
Tepat saat itu, petugas yang berjaga di dekat papan sasaran memeriksa monitor nilai dan berteriak dengan suara bergetar lewat pengeras suara. "Seratus poin sempurna! Sepuluh tembakan semuanya menembus lingkaran dalam!"
Aksa langsung membeku, badannya kaku melihat grafis hasil tembakan di layar yang berpusat di titik tengah yang sama.
Adit spontan bersorak heboh sampai melompat, sementara di ruang pengawasan atas, Jenderal Arya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala takjub.
"Luar biasa," gumam Jenderal Arya.
Adrian hanya tersenyum makin lebar dari balik kaca ruangan, seolah hasil itu sudah sangat bisa ia tebak sejak awal.