Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.
Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.
Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gairah di bawah senjata
Celeste mendorong dada bidang Lucian sekuat tenaga hingga pria itu terhuyung dua langkah ke belakang. Matanya menyala penuh amarah dan kejengkelan.
"Kamu... kamu pura-pura bisu selama ini?!" jerit Celeste dengan suara bergetar.
Lucian yang mendadak didorong hanya menatapnya sejenak sebelum tertawa sinis, sebuah tawa penuh dominasi yang amat menakutkan.
Tanpa bersuara lagi, Lucian melepas jas hitamnya dan melemparnya sembarangan ke lantai. Langkah kakinya kembali mengikis jarak, memburu Celeste yang panik dan melangkah mundur waswas.
Brak!
Punggung Celeste terbentur lemari kaca berisi deretan senjata di belakangnya. Lucian mengukung tubuh ramping istrinya dengan kedua lengan kokoh. Namun, Celeste tak tinggal diam dengan kelincahan tubuhnya, ia meluncur menunduk melewati bawah lengan Lucian untuk kabur.
Sayangnya, Lucian jauh lebih cekatan. Tangan besarnya menyambar pergelangan tangan Celeste dalam sekali gerakan, membalikkan tubuh perempuan itu dan menubruk kembali ke lemari kaca. Kedua tangan Celeste diangkat paksa dan dikunci rapat di atas kepalanya.
"Lepaskan!" caci Celeste, menatap tajam mata hitam di hadapannya.
Wajah Lucian mengikis jarak hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. "Aku menyukai wanita pemberani sepertimu, Este-ku," bisik Lucian rendah.
"Kamu mau apa, hah?!" desis Celeste berani.
Lucian tertawa pelan, tawanya merambat hangat di permukaan kulit wajah Celeste. "Apa lagi yang kumau dari istri cantikku di malam pertama?"
Tangan kiri Lucian yang bebas merayap turun menyusuri belahan gaun pesta Celeste, meraba paha mulusnya sebelum naik mengusap dan meremas bokongnya dengan sentuhan lembut namun possessif.
Mata Celeste melotot sempurna. "Kamu mesum sekali!"
"Mesum dengan istri sendiri... apakah salah, hm? Kau milikku malam ini, Baby," bisik Lucian. Suara baritonnya yang serak dan sarat gairah membuat seluruh bulu kuduk Celeste berdiri seketika.
Pria di depannya ini jauh lebih liar, lebih dominan, dan jauh lebih berbahaya daripada sosok pria yang menidurinya di hotel seminggu lalu. Tatapan mata Lucian membara penuh hasrat murni yang siap melahapnya bulat-bulat.
Celeste hendak membalas, tapi lidahnya mendadak kelu dan gugup. "A-aku... aku..."
Lucian melepaskan kuncian tangan Celeste, lalu beralih mencengkeram lembut dagu gadis itu, memaksanya menatap lurus ke dalam matanya. "Malam itu... kamu membuatku kecanduan, Este."
Lucian mundur satu langkah. Jemari tangannya bergerak lincah membuka satu per satu kancing kemeja hitamnya tanpa melepaskan tatapan intens pada sang istri. Begitu kemeja itu terbuka lebar, Celeste tak sengaja menelan ludah kasar. Ia tak bisa memungkiri betapa indahnya pahatan dada bidang dan perut berotot suaminya.
Celeste tersentak saat Lucian merogoh balik celananya dan mengeluarkan sebuah pistol hitam mengilap, lalu melemparnya santai ke atas meja kayu di samping mereka.
"Tubuhku penuh senjata," ujar Lucian santai. "Silakan cari semua senjata di tubuhku. Aku takut melukaimu saat kita berhubungan intim nanti."
Celeste makin yakin pria ini adalah seorang penguasa dunia bawah. Bagaimana bisa seseorang membicarakan senjata api seolah itu barang mainan? Karena Celeste masih mematung, Lucian meraih tangan gemetar istrinya dan meletakkannya tepat di dadanya.
Dengan jemari yang gemetaran hebat, Celeste mulai meraba tubuh kekar itu. Di saku celana depan, jarinya menyentuh besi dingin. Ia menarik keluar sebuah belati emas berukir yang sangat tajam, lalu meletakkannya di meja dengan napas memburu. Meraba lebih jauh ke saku samping, ia menemukan pistol kecil lain.
"Sudah selesai?" tanya Lucian dengan nada menggoda.
Celeste mengangguk cepat, hendak menarik tangannya.
"Belum. Di balik punggungku, kamu belum memeriksanya," potong Lucian seraya menuntun tangan Celeste melingkari pinggangnya.
Sentuhan halus tangan Celeste di kulit punggungnya membuat tubuh Lucian mendadak menegang menahan gejolak. Karena jangkauan tangannya tak sampai, Celeste terpaksa merebahkan dadanya merapat ke dada bidang Lucian yang bertelanjang, menyandarkan kepalanya di sana seraya meraba punggung suaminya. Benar saja, di balik pinggang belakang tersembunyi sebuah pistol rakitan kecil. Celeste memungutnya dan segera mundur dengan wajah memerah padam akibat posisi intim tadi.
Lucian tersenyum miring. "Temukan satu senjata lagi."
Celeste memberanikan diri menatap mata suaminya. "Di... di mana lagi?"
Lucian membawa kedua tangan bergetar Celeste turun ke kepala sabuk kulitnya, membantunya membuka gesper tersebut. Namun, saat Lucian menuntun jemari Celeste bergerak makin turun ke area bawah celananya, Celeste tersentak kaget dan menarik tangannya secepat kilat.
"Jangan bercanda!" desis Celeste gugup setengah mati.
Lucian tertawa lepas, begitu puas berhasil mengerjai istrinya. Setelah reda, raut wajah Lucian kembali berubah penuh gairah murni. Ia melangkah mendekat, mengikis habis jarak di antara mereka.
"Sekarang... puaskan aku, Este-ku."
Tanpa memberi jeda, Lucian meraup brutal bibir Celeste yang sejak tadi menggodanya. Tangannya menyusup ke tengkuk Celeste, menariknya merapat hingga tak ada celah di antara tubuh mereka.
Celeste terkejut bukan main. Matanya sempat membelalak syok, namun kehangatan lumatan basah dan dominasi lembut Lucian perlahan meluluhkan pertahanannya. Matanya terpejam pasrah, jemarinya meremas bahu kokoh suaminya untuk membalas ciuman panas itu.
"Tubuhmu tak bisa berbohong!"
Lucian melepaskan tautan bibir mereka sejenak, menyatukan dahi mereka dengan napas yang saling memburu. "Kamu selalu membuatku gila dan candu..."
Sebelum Celeste sempat menjawab, Lucian mendadak mengangkat tubuh ramping istrinya. Secara refleks, kedua kaki Celeste melingkar erat di pinggang kokoh Lucian, sementara tangannya mengalung di leher pria itu agar tidak terjatuh.
Lucian membopongnya keluar dari ruang senjata, melangkah lebar menaiki tangga utama mansion. Beberapa pelayan yang melintas di lorong langsung menundukkan kepala dalam-dalam. Mereka tak berani menatap majikan mereka. Itu hal yang paling di larang disini.
"Turunkan pandangan kalian!" titah Lucian dingin dan mutlak. Mana rela ia membiarkan keindahan tubuh istrinya menjadi tontonan orang lain. Walaupun ia tahu, mereka tidak akan berani melihatnya.
Celeste yang menyadari keberadaan para pelayan segera menyembunyikan wajahnya yang membara di ceruk leher Lucian, menggigit bibir bawahnya menahan malu.
"Kau begitu ringan. Apa keluargamu tidak memberimu makan?"
Lucian membawa Celeste masuk ke dalam kamar utama yang sangat luas dan mewah. Dengan gerakan perlahan namun penuh gairah, ia menghempaskan tubuh Celeste ke atas kasur empuk king size.
Sebelum Celeste sempat bereaksi, Lucian menindihnya dan merobek gaun pesta hitam itu dalam sekali tarikan kuat. Kain sutra itu terbelah, menyisakan Celeste yang kini hanya terbalut pakaian dalam tipis. Celeste melotot kaget, refleks menutupi dadanya dengan kedua tangan.
Namun Lucian menahan kedua pergelangan tangan Celeste, menyatukannya di atas kepala. Ia menunduk, mencium leher mulus Celeste, merayap turun menyesap kulit halus di tulang selangka hingga ke area dadanya.
Celeste menggeliat halus. Sensasi panas, sentuhan lidah, dan lumatan menuntut dari Lucian menjalar bagai sengatan listrik di seluruh saraf tubuhnya. Celeste mendesah pasrah, meremas sprei saat Lucian membawanya tenggelam semakin dalam ke dalam gairah malam pertama mereka yang tak terlupakan.