NovelToon NovelToon
Ibu Susuan Sang Mafia

Ibu Susuan Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Suhada Bintan

Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.

Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.

Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Suara monitor medis tiba-tiba mendadak berubah. Bunyi bip yang tadinya cepat, kini terdengar lebih teratur.

Dikta yang sedang duduk menyandarkan kepalanya langsung beranjak dari kursi plastik. Matanya melebar, menatap tajam ke arah layar monitor digital yang ada di atas inkubator.

"Dokter! Dimana dokter jaga? Kenapa monitornya berubah?!" teriak Dikta panik. Ia bergerak maju, hendak memencet tombol darurat di dinding.

"Pak, tenang dulu. Jangan dipencet tombol itu. Tolong lihat angkanya baik-baik," cegah Marco yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Tangan kanannya menahan lengan Dikta, sementara jari kirinya menunjuk ke arah barisan angka digital yang berkedip hijau di layar monitor.

"Saturasi oksigen Den Arkan naik ke angka 96%, Pak. Ini menandakan ada berita baik," lanjut Marco dengan senyum tipis.

Dikta tertegun. Dadanya naik turun menahan napas yang mendadak sesak oleh rasa tidak percaya. Ia memandangi angka-angka itu satu per satu, memastikan mata merahnya tidak salah melihat, lalu beralih menatap tubuh mungil putranya di dalam inkubator yang kini tampak tertidur.

"Kau serius, Marco? Tolong jangan membuatku berharap jika ini hanya sementara," bisik Dikta dengan suara yang bergetar.

"Saya berani jamin dengan kepala saya sendiri, Pak. Grafik ini nyata," jawab Marco mantap.

Sebelum Dikta sempat merespons lagi, pintu bergeser memperlihatkan Hendra yang masuk dengan langkah tegap.

"Marco benar, Pak Dikta. Masa kritis Den Arkan malam ini sudah lewat." Hendra memberikan konfirmasi setelah selesai memeriksa parameter alat.

Mendengar kata-kata Hendra, hati Dikta merasa lega. Ia mencengkeram tepi besi inkubator dengan kedua tangannya yang gemetar. Air mata yang sejak kemarin siang ia tahan sekuat tenaga di hadapan musuh maupun anak buahnya, kini benar-benar jatuh mengalir membasahi pipinya yang kasar.

"Kau hebat, Nak... Kau anak Papa yang paling kuat," bisik Dikta lirih, menatap wajah pucat Arkan yang kini tampak lebih tenang. "Terima kasih, Tuhan. Terima kasih..."

"Nah, kalau begini kan suasananya jadi enak. Ketampanan Serigala Malam bisa kembali sedikit, tidak kusut seperti kain pel lagi," celetuk sebuah suara dari arah pintu.

Billy melongokkan kepalanya dari balik celah pintu kaca yang sengaja dibuka sedikit. Cengiran khasnya yang tanpa beban langsung terlihat, mencoba mencairkan ketegangan yang sempat membeku di dalam ruangan sejak ancaman Carlos datang.

Hendra langsung menoleh dengan tatapan membunuh. "Billy! Kembali ke posisimu di luar! Koridor tidak boleh kosong satu detik pun!" tegur Hendra ketus.

"Siap, perintah Bos Hendra dimengerti!" sahut Billy, menaikkan dua jarinya di pelipis membentuk sikap hormat yang asal-asalan. "Saya cuma mau bilang ke Pak Dikta, nasi goreng dan kopi hangat dari warung depan tadi terbukti manjur sebagai keberuntungan untuk Den Arkan. Saya keluar lagi, permisi!"

Pintu kaca kembali menutup rapat saat Billy menarik kepalanya keluar. Dikta yang awalnya emosi, terpaksa terkekeh pelan sambil menghapus sisa air mata di wajahnya menggunakan punggung tangan. Kehadiran tiga orang ini di saat-saat genting begini mengubah hidupnya jauh lebih hangat.

Namun, tawa kecil Dikta tidak bertahan lama. Wajahnya kembali mengeras. Ia menatap Marco dan Hendra secara bergantian.

"Kita tidak bisa merayakan ini terlalu lama," ucap Dikta, melangkah mundur mendekati meja kecil. "Bagaimana situasi di dermaga tua setelah Carlos menyadari kita telah menipunya? Berapa banyak waktu yang kita beri dari strategi pengalihan kalian?"

Marco memperbaiki posisi earpiece yang menempel di telinga kirinya sebelum menjawab. "Dia mengamuk besar, Pak. Informan kita yang mengawasi dari kejauhan melaporkan bahwa Carlos menembak ban mobil sewaan kita berulang kali di lokasi penyergapan karena frustrasi. Dia baru menyadari bahwa dia hanya mengejar bayangan kosong dan dua mobil sewaan yang sengaja kita setel agar melaju ke arah pelabuhan."

"Bajingan itu pasti merasa sangat bodoh saat ini," timpal Dikta dengan menyeringai dingin. "Tapi Carlos bukan orang yang lambat dalam berpikir. Dia akan segera tahu bahwa aku masih berada di dalam kota."

"Benar, Pak," sahut Hendra, melangkah mendekat ke arah Dikta. "Dia sudah mulai membagi sisa pasukannya menjadi beberapa kelompok kecil. Rencananya adalah menyisir tiga rumah sakit besar yang memiliki fasilitas perawatan bayi intensif di pusat kota ini. Mereka bergerak cepat."

"Lalu kenapa mereka belum sampai ke lantai ini?" tanya Dikta bingung. "Rumah sakit ini adalah salah satu yang terbesar di pusat kota."

Hendra tersenyum tipis, ada kilat kepuasan di matanya. "Karena mereka terjebak, Pak. Posisinya saat ini macet total di gerbang keluar pinggiran distrik barat. Anak-anak kita di luar sengaja 'mengkondisikan' sebuah kecelakaan beruntun tiruan di jalur utama, disusul dengan razia senjata skala besar dari kepolisian setempat yang kami pancing melalui laporan warga anonim. Carlos dan pasukannya harus memutar jalan jauh atau tertangkap polisi jika memaksakan diri menerobos dengan senjata lengkap."

Dikta mengangguk puas, merasa kagum dengan taktik bawah tanah yang disusun anak buahnya dengan begitu rapi tanpa melanggar prinsip untuk tidak menumpahkan darah di area medis. "Kerja yang sangat bersih, Hendra. Tapi itu tidak akan menahan mereka selamanya."

"Betul, Pak Dikta. Itu sebabnya kita harus memanfaatkan momentum ini," kata Marco sambil mengeluarkan ponsel taktisnya dan menunjukkan sebuah dokumen digital berlogo medis. "Rumah Sakit Medika Prima yang berada di pinggiran kota distrik utara sudah siap menerima Den Arkan subuh ini juga. Saya sudah mengatur semuanya."

Dikta mengernyitkan dahi, membaca dokumen tersebut dengan cepat di bawah temaram lampu ruangan. "Medika Prima? Setahuku itu rumah sakit privat kelas atas. Bagaimana kalian bisa menembus birokrasinya dalam waktu sesingkat ini?"

"Pemilik saham di sana adalah seorang Dokter, relasi lama yang dulu pernah Anda selamatkan dari pemerasan kelompok distrik selatan, Pak," jelas Marco tenang. "Begitu saya menyebut nama Anda, dia langsung mengosongkan satu ruangan ICU privat di lantai teratas. Akses masuk ke lantai itu sepenuhnya menggunakan kartu khusus dan dijaga oleh sistem keamanan internal mereka yang sangat ketat. Orang luar tidak akan bisa masuk sembarangan."

Dikta terdiam sejenak. "Bagaimana dengan proses pemindahannya, Hendra? Aku tidak akan mengizinkan anakku dipindahkan jika ambulans yang digunakan hanya memiliki fasilitas seadanya," tegas Dikta.

Hendra langsung menegakkan tubuhnya. "Ambulans medis khusus sudah stand-by di basement ruang bawah tanah, Pak. Kendaraan itu bukan ambulans biasa. Di dalamnya sudah terpasang peralatan lengkap. Jadi Anda tak perlu khawatir. Dan seperti yang Anda tahu, Billy yang akan memegang kemudi. Tidak ada supir di kota ini yang bisa meloloskan diri dari kejaran musuh di jalanan kecuali Billy."

Dikta memejamkan matanya, menarik napas dalam demi menenangkan.

"Carlos memiliki mata dan telinga di banyak tempat, bahkan mungkin di dalam administrasi rumah sakit ini," ucap Dikta setelah membuka mata. "Bagaimana dengan data medis Arkan di server rumah sakit ini? Jika Carlos menyuap orang dalam untuk memeriksa manifes pasien, dia akan langsung tahu ke mana kita pergi."

Marco tersenyum penuh percaya diri, seolah sudah memprediksi pertanyaan tersebut sejak awal. "Itu sudah masuk dalam bagian tugas saya, Pak. Laptop taktis saya sudah terhubung dengan server lokal rumah sakit ini sejak dua jam yang lalu. Begitu roda ambulans kita bergerak keluar. Saya akan meluncurkan skrip peretasan yang akan menghapus seluruh riwayat digital, hingga rekaman kamera CCTV atas nama Den Arkan di gedung ini."

Dikta menatap Marco, lalu beralih kepada Hendra.

Dikta melangkah maju, lalu menepuk pundak Marco dan Hendra secara bergantian dengan erat. "Aku tidak tahu harus berkata apa lagi kepada kalian. Aku benar-benar berutang nyawa anakku pada kalian bertiga."

"Jangan berkata seperti itu, Pak Dikta," balas Hendra dengan wajah tulus. "Bagi kami, Anda bukan hanya sekadar mantan bos. Anda adalah orang yang mengangkat kami dari kerasnya jalanan. Tugas kita belum selesai, mari kita bawa Den Arkan ke tempat yang aman terlebih dahulu."

"Setuju," sahut Dikta, matanya kini berkilat tajam, seolah sudah tak takut lagi dengan musuhnya.

Dikta melirik ke arah luar jendela. Cahaya matahari pagi mulai menampakan wajahnya dari kejauhan.

"Hendra, beri tahu Billy untuk menyalakan mesin ambulans dan bersiap di posisinya. Dan kau tetap di depan komputer untuk bersiaplah membersihkan jejak digital kita. Kita pindahkan Arkan sekarang juga, sebelum Carlos menyadarinya."

"Siap, Pak!" jawab Marco dan Hendra serentak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!