Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 — DARAH YANG TAK MENINGGALKAN LUKA
"Ervan... darah siapa itu?" Jemari Rosaline masih mencengkeram tepi daun pintu. "Jawab aku dulu. Itu darahmu, atau darah orang lain?"
Ervan belum sempat menjawab ketika Rosaline sudah menarik lengannya masuk.
Pintu segera ditutup.
Perempuan berusia tujuh puluh tujuh tahun itu berdiri tepat di hadapannya. Tatapannya bergerak cepat dari wajah Ervan, turun ke leher, kedua tangan, lalu berhenti pada bercak darah kering yang masih terlihat di balik jaketnya.
"Buka jaketmu. Aku mau melihatnya sendiri," kata Rosaline.
"Aku bisa menjelaskan. Ini tidak seburuk yang terlihat—" Ervan mengangkat sebelah tangan, mencoba mengulur waktu.
"Buka dulu, Ervan. Penjelasanmu bisa menunggu," potong Rosaline.
Nada Rosaline tidak keras, tetapi cukup tegas untuk membuat Ervan tahu bahwa berdebat hanya akan memperpanjang masalah.
Ia menarik ritsleting perlahan.
Begitu bagian depan jaket terbuka, wajah Rosaline berubah.
Kaus yang dikenakan Ervan masih menyimpan noda merah gelap dalam jumlah yang tidak sedikit. Beberapa bagian bahkan sudah mengeras karena darah mengering.
Rosaline langsung mendekat.
"Ini bukan sedikit darah, Ervan. Orang tidak pulang berjalan kaki setelah kehilangan darah sebanyak ini," gumam Rosaline.
Tangannya menyentuh bahu Ervan, memeriksa lengan dan sisi tubuhnya dengan gerakan cepat namun hati-hati.
"Kamu terluka di mana? Tunjukkan padaku," desak Rosaline.
Ervan terdiam sepersekian detik.
"Semalam, waktu pulang, aku—" Ervan baru mulai bicara.
"Ceritanya nanti. Lukanya dulu, di mana?" sela Rosaline.
Ervan menunjuk sisi tubuhnya.
Rosaline segera melihat bagian tersebut.
Kaus Ervan robek.
Bekas tusukan pada kain terlihat jelas.
Namun kulit di baliknya utuh.
Rosaline membeku.
Jemarinya yang semula bergerak cepat berhenti beberapa sentimeter dari kulit Ervan.
"Ini... tunggu sebentar," bisik Rosaline.
Ia menatap Ervan.
"Kenapa bajumu berlubang? Sobekannya tepat di sini, tapi di bawahnya..." Rosaline tidak menyelesaikan kalimatnya.
Ervan tidak menjawab.
Tatapan Rosaline kembali turun.
Perempuan tua itu menyentuh bagian di sekitar sobekan kain, seakan sedang memastikan matanya tidak salah melihat.
Tidak ada luka.
Tidak ada jahitan.
Tidak ada perban.
Bahkan tidak ada bekas darah baru pada kulit.
"Ervan." Rosaline menarik tangannya dari kaus itu.
Kali ini suara Rosaline lebih rendah.
"Apa yang sebenarnya terjadi semalam? Ceritakan dari awal, dan jangan ada yang kamu lompati," pinta Rosaline.
Ervan menarik napas panjang.
Pertanyaan itu sederhana.
Jawabannya tidak.
"Aku pulang dari minimarket seperti biasa, sesuai jadwal." Ia berhenti sebentar, mencoba menyusun urutan kejadian. "Aku lewat jalan yang biasa kulewati. Di gang dekat jalan utama, ada orang yang tiba-tiba menghadang," tutur Ervan.
"Seseorang? Orang yang kamu kenal, atau orang asing?" tanya Rosaline.
"Orang asing. Perampok, sepertinya," jawab Ervan.
Rosaline mengerutkan kening.
"Sepertinya? Kamu dihadang di gang malam-malam, dan kamu masih bilang 'sepertinya'?" ulang Rosaline.
"Aku tidak sempat meminta kartu identitasnya," sahut Ervan, mencoba terdengar ringan.
Dalam keadaan lain, Rosaline mungkin akan menegurnya karena jawaban itu.
Sekarang tidak.
"Lanjutkan. Apa yang dia mau darimu?" kata Rosaline datar.
Ervan menghela napas kecil.
"Dia minta uang dan barang yang kubawa. Lalu semuanya terjadi cepat sekali... kami bergumul," kata Ervan.
"Kamu melawan? Sendirian, di gang yang sepi?" Suara Rosaline naik sedikit.
"Kalau aku cuma diam, kemungkinan hasilnya juga tidak jauh berbeda. Orang seperti itu belum tentu berhenti setelah mendapat dompet," bela Ervan.
"Ervan." Rosaline menyebut namanya seperti peringatan terakhir.
"Aku tahu. Itu bukan pilihan yang pintar," kata Ervan, lebih pelan.
"Tidak. Kamu belum tahu." Rosaline menunjuk noda darah pada kausnya. "Kalau kamu benar-benar tahu, kamu tidak akan berdiri di depanku dengan pakaian seperti ini, lalu bicara seolah semalam cuma salah paham di jalan."
Ervan terdiam.
Sulit membantah ketika bukti kekhawatiran Rosaline masih melekat di seluruh pakaiannya.
Rosaline menatapnya beberapa saat.
"Jawab yang jujur, Ervan. Apa dia membawa senjata?" tanya Rosaline.
Ervan mengangguk pelan.
"Pisau. Dia membawa pisau," jawab Ervan.
Ekspresi Rosaline langsung menegang.
"Dia menusukmu?" Rosaline nyaris tidak menggerakkan bibirnya. "Ervan, lihat aku. Apa dia menusukmu?"
Hening.
Ervan sebenarnya sudah menyiapkan berbagai kemungkinan jawaban sejak perjalanan pulang.
Namun ketika berada di depan Rosaline, semuanya terasa buruk.
Berbohong sepenuhnya tidak mungkin.
Pakaiannya sendiri akan menyangkalnya.
Ervan akhirnya mengangguk.
"Ya. Dia menusukku," kata Ervan.
Wajah Rosaline kehilangan warna.
"Di mana? Di bagian mana pisaunya mengenaimu?" tanya Rosaline lirih.
Ervan menunjuk bagian robek pada kausnya.
"Di sini. Tepat di balik sobekan ini," jawab Ervan.
Rosaline menatapnya.
Lalu menatap kulit Ervan.
Kemudian kembali menatap wajahnya.
"Kamu yakin? Bukan cuma bajumu yang tersayat?" tanya Rosaline.
"Aku masih ingat bagaimana rasanya. Itu bukan hal yang bisa salah kuingat," kata Ervan.
"Kalau begitu lukanya di mana, Ervan? Aku sudah melihatnya sendiri. Kulitmu bahkan tidak tergores," balas Rosaline.
"Itu juga yang sedang kupikirkan sejak bangun tadi. Aku belum punya jawaban yang masuk akal," kata Ervan.
Rosaline tidak langsung berbicara.
Ervan dapat melihat kebingungan bercampur kekhawatiran di wajahnya.
Ia tidak menyalahkan Rosaline.
Kalau posisi mereka dibalik, Ervan mungkin akan mempertanyakan kewarasan orang yang menceritakan kisah seperti ini.
"Setelah ditusuk, apa yang terjadi? Ada yang menolongmu?" tanya Rosaline.
"Tidak ada siapa-siapa. Aku jatuh, lalu tidak sanggup bangun lagi," jawab Ervan.
"Lalu? Setelah kamu jatuh?" desak Rosaline.
"Setelah itu... tidak banyak yang kuingat," kata Ervan.
Ervan memilih kata-katanya dengan hati-hati.
Ia belum ingin membicarakan CORE.
Bukan karena tidak mempercayai Rosaline.
Justru karena ia sendiri belum memahami apa yang terjadi.
Memberi tahu orang lain bahwa CORE yang selama bertahun-tahun mati di angka nol tiba-tiba aktif ketika ia hampir kehilangan nyawa hanya akan menambahkan pertanyaan yang belum bisa dijawab siapa pun.
"Aku kehilangan kesadaran," lanjut Ervan. "Waktu bangun, sudah pagi. Orang itu sudah tidak ada. Ponselku masih di saku, barangku masih lengkap. Lukanya juga... hilang."
Rosaline menggeleng perlahan.
"Luka tidak hilang begitu saja, Ervan. Aku sudah terlalu sering mengobati anak-anak di rumah ini untuk percaya hal semacam itu," kata Rosaline.
"Aku tahu," jawab Ervan.
"Pisau juga tidak menembus pakaian tanpa mengenai tubuh di baliknya," lanjut Rosaline.
"Aku tahu," ulang Ervan.
"Dan kamu kehilangan banyak darah. Buktinya masih menempel di bajumu," kata Rosaline.
Ervan melihat pakaiannya.
"Aku juga tahu," gumam Ervan.
Rosaline menatapnya tajam.
"Kalau semua jawabanmu 'aku tahu', lalu jelaskan padaku kenapa kamu masih bisa berdiri di sini," tuntut Rosaline.
Ervan sedikit mengangkat alis.
"Justru itu satu-satunya yang tidak kutahu. Kalau aku punya jawabannya, sejak tadi sudah kujelaskan," kata Ervan.
Rosaline memejamkan mata sejenak.
Bukan karena marah.
Lebih seperti sedang menahan banyak hal yang ingin ia katakan sekaligus.
Ketika matanya terbuka lagi, ia meraih pergelangan tangan Ervan.
"Kita ke klinik. Biar dokter yang memeriksa, bukan cuma mataku," putus Rosaline.
Ervan tidak bergerak.
"Sekarang, Ervan," tegas Rosaline.
"Tidak perlu sampai ke klinik," tolak Ervan hati-hati.
Rosaline menoleh.
"Itu bukan pertanyaan. Aku tidak sedang meminta pendapatmu," kata Rosaline.
"Aku merasa baik-baik saja. Tidak pusing, tidak ada yang sakit," kata Ervan.
"Kamu ditemukan—tidak, bahkan bukan ditemukan. Kamu bangun sendiri setelah semalaman tidak pulang, dengan pakaian penuh darah dan cerita bahwa seseorang menusukmu. Lalu menurutmu aku harus menerima 'aku merasa baik-baik saja'?" Cengkeraman Rosaline di pergelangan tangannya mengencang.
Argumennya masuk akal.
Terlalu masuk akal.
Ervan menunduk sebentar.
Kalau dirinya dibawa untuk pemeriksaan sekarang, banyak hal mungkin akan terungkap.
Setidaknya kondisi CORE-nya.
Dan ia belum siap menjelaskan sesuatu yang bahkan belum bisa ia pahami.
"Aku tidak bilang tidak mau diperiksa." Ervan berbicara lebih pelan. "Beri aku waktu sebentar. Aku cuma ingin membersihkan diri dan istirahat dulu. Kalau nanti ada yang terasa aneh, sekecil apa pun, aku akan langsung memberi tahu."
Rosaline tidak langsung menerima.
"Kamu berjanji? Bukan janji yang kamu ucapkan supaya aku berhenti bertanya?" tanya Rosaline.
Ervan mengangguk.
"Aku janji. Kalau sakit, pusing, mual, atau apa pun yang terasa tidak normal, aku akan bilang," kata Ervan.
"Dan kamu tidak akan menyembunyikannya dariku?" tanya Rosaline.
"Tidak," jawab Ervan tanpa jeda.
Ada sedikit rasa bersalah setelah mengucapkan kata itu.
Karena jelas ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan.
Hanya saja Ervan belum tahu apakah sesuatu itu benar-benar masalah.
Rosaline masih terlihat tidak puas, tetapi akhirnya melepaskan pergelangan tangannya.
"Pergi mandi. Pakai bajumu yang bersih, dan yang ini jangan dicampur dengan cucian lain," kata Rosaline.
Ervan hendak berjalan.
"Dan Ervan," panggil Rosaline.
Ia berhenti.
"Setelah itu kembali ke sini. Jangan langsung masuk kamar," lanjut Rosaline.
Ervan menoleh.
"Kupikir interogasinya sudah selesai," kata Ervan.
"Belum. Yang tadi baru bagian yang mudah," sahut Rosaline.
Rosaline menunjuknya.
"Kita bahkan belum membicarakan kenapa kamu merasa perlu melawan orang bersenjata pisau sendirian," kata Rosaline.
Ervan menghela napas.
Entah kenapa, bagian itu terdengar lebih mengerikan daripada pemeriksaan medis.
Air mengalir dari kepala hingga ujung kaki Ervan.
Warna merah muda tipis sempat berputar di lantai kamar mandi sebelum akhirnya menghilang bersama aliran air.
Ervan berdiri cukup lama di bawah pancuran.
Tangannya kembali menyentuh sisi tubuhnya.
Tempat yang sama.
Kulit yang sama.
Utuh.
Ia menekannya.
Tidak sakit.
Ervan menambah tekanan menggunakan dua jari.
Tetap tidak ada rasa nyeri yang semestinya muncul dari luka serius kurang dari sehari lalu.
Ia menatap pantulan dirinya pada cermin yang mulai berembun.
Tidak ada perubahan mencolok.
Wajah yang sama.
Rambut yang sama.
Tubuh yang selama ini ia kenal.
Namun sensasinya berbeda.
Ia merasa sudah seharusnya lemas.
Tubuh kehilangan darah dalam jumlah seperti itu semestinya meninggalkan dampak.
Akan tetapi setelah mandi, Ervan justru merasa semakin segar.
Napasnya stabil.
Kepalanya ringan.
Bahkan rasa pegal setelah bekerja semalam nyaris tidak ada.
Ervan menatap telapak tangannya.
"CORE..." gumam Ervan.
Kata itu keluar begitu saja.
Potongan-potongan kejadian kembali muncul.
Gelap.
Darah.
Tubuhnya yang perlahan kehilangan tenaga.
Kemudian suara mekanis yang selama bertahun-tahun hanya menjadi sesuatu yang ingin ia dengar.
Installation Progress.
Angka itu bergerak.
Satu demi satu.
Sampai—
100%.
Ervan mengepalkan tangannya.
Itulah satu-satunya peristiwa yang terjadi di antara dirinya tertusuk dan terbangun tanpa luka.
Tetapi satu korelasi bukan bukti.
CORE memang dapat memperkuat manusia.
Hunter mampu mencapai kemampuan fisik yang berada jauh di atas manusia biasa.
Namun Ervan tidak pernah mendengar seseorang mendapatkan luka tusuk, pingsan semalaman, lalu bangun tanpa bekas sedikit pun hanya karena proses instalasi selesai.
"Luka tusuk tidak sembuh dalam semalam. Jadi apa yang sebenarnya terjadi padaku?" bisik Ervan.
Pantulan di cermin tidak memberikan jawaban.
Ketika Ervan keluar, Rosaline sudah menunggunya di ruang kecil dekat dapur.
Secangkir minuman hangat berada di meja.
Di sampingnya terdapat sepiring makanan.
"Duduk. Minumannya masih hangat," kata Rosaline.
Ervan menurut.
Rosaline mendorong piring itu ke arahnya.
"Makan. Perutmu kosong sejak semalam," ucap Rosaline.
"Aku tidak terlalu lapar. Bisa nanti siang saja?" tawar Ervan.
"Kamu boleh memilih: makan sendiri, atau aku panggil anak-anak dan bilang kakak mereka perlu disuapi," kata Rosaline tenang.
Ervan langsung menarik piring itu.
"Itu ancaman yang tidak adil. Mereka akan mengungkitnya sampai tahun depan," gerutu Ervan.
"Tapi efektif. Sendoknya sudah di tanganmu," balas Rosaline.
Ervan mulai makan.
Untuk beberapa menit, ruangan hanya diisi suara kecil sendok menyentuh piring.
Rosaline duduk di seberangnya.
Kali ini ia tidak langsung bertanya.
Justru diamnya terasa lebih berat.
"Aku minta maaf," kata Ervan akhirnya.
Rosaline mengangkat pandangan.
Ervan melanjutkan, "Karena tidak memberi kabar. Pesan-pesanmu baru kubaca pagi ini."
"Kamu sedang tidak sadar. Aku tidak akan memarahimu karena gagal mengirim pesan saat pingsan," sahut Rosaline.
"Bukan cuma soal itu," kata Ervan.
Rosaline menunggu.
Ervan meletakkan sendok.
"Aku membuatmu khawatir. Kamu terjaga semalaman gara-gara aku," ucap Ervan.
Wajah Rosaline sedikit melunak.
Namun hanya sedikit.
"Kamu memang membuatku khawatir. Aku sempat menghitung berapa kali teleponku tidak diangkat, lalu berhenti menghitung," kata Rosaline.
"Maaf. Aku tidak punya kata lain selain itu," ucap Ervan.
Rosaline mengembuskan napas.
"Kamu tahu apa yang paling membuatku marah?" tanya Rosaline.
Ervan mengira jawabannya jelas.
"Karena aku pulang dengan pakaian penuh darah?" tebak Ervan.
"Bukan. Darah itu membuatku takut, bukan marah," jawab Rosaline.
Ervan menatapnya.
"Yang membuatku marah, kamu selalu seperti ini," kata Rosaline.
"Seperti apa maksudmu?" tanya Ervan.
"Merasa semuanya harus kamu tanggung sendiri. Sampai orang berpisau pun kamu hadapi sendirian," jawab Rosaline.
Ervan tidak menjawab.
Rosaline melanjutkan.
"Kamu bekerja sambil mengurus banyak hal. Kalau ada sesuatu yang rusak di panti dan kamu merasa bisa memperbaikinya, kamu yang maju. Kalau ada kebutuhan yang kurang, kamu mencari cara membantu. Aku tahu kenapa kamu melakukannya." Rosaline menautkan jemarinya di atas meja.
Ervan menundukkan pandangan pada piringnya.
"Aku cuma membantu. Itu tidak seberapa dibanding yang kuterima di sini," kata Ervan.
"Aku tidak pernah bilang itu salah," sahut Rosaline.
Rosaline mencondongkan tubuh sedikit.
"Tapi membantu orang lain tidak berarti kamu harus memperlakukan dirimu seolah hidupmu lebih murah daripada hidup mereka," ujar Rosaline.
Tangan Ervan berhenti.
Kalimat itu mengenai tempat yang tidak ia duga.
Rosaline sudah mengenalnya hampir sepanjang hidupnya.
Ia tahu bagaimana Ervan tumbuh.
Tahu berapa kali dirinya pulang terlambat karena bekerja.
Tahu berapa banyak mimpi yang perlahan berhenti dibicarakan setelah hasil pemeriksaan CORE-nya tidak pernah berubah.
Termasuk satu mimpi yang dulu paling sering ia ceritakan.
"Kalau kamu mendapat masalah," lanjut Rosaline, "pulanglah dan ceritakan. Kalau kamu tidak sanggup mengurus sesuatu sendirian, minta bantuan. Kamu punya rumah."
Ervan mengangkat kepala.
Rosaline menatapnya tanpa senyum.
"Kamu bukan tamu di sini, Ervan. Tamu boleh sungkan. Kamu tidak perlu," kata Rosaline.
Untuk beberapa detik, Ervan tidak menemukan jawaban.
Akhirnya ia hanya mengangguk.
Kali ini Rosaline tidak menuntut lebih.
"Habiskan makananmu. Setelah itu tidur, dan jangan kunci pintu kamarmu," kata Rosaline.
"Sudah pagi. Anak-anak saja sebentar lagi bangun," sahut Ervan.
"Tubuh manusia tidak peduli jam berapa kalau semalaman tergeletak di gang. Tidur, Ervan," balas Rosaline.
Ervan hampir mengatakan tubuhnya justru tidak merasa lelah.
Ia membatalkannya.
Mungkin kali ini menuruti Rosaline adalah pilihan yang lebih bijaksana.
Namun Ervan tidak langsung tidur.
Setelah kembali ke kamarnya, ia duduk di tepi ranjang sambil memandangi pakaian berdarah yang tadi dimasukkan ke kantong terpisah.
Lubang pada kaus itu masih terlihat.
Bukti sederhana yang menolak semua kemungkinan bahwa kejadian semalam hanyalah mimpi.
Ervan membuka ponselnya.
Ia mulai mencari informasi mengenai efek aktivasi CORE.
Satu artikel.
Artikel lain.
Forum Hunter.
Publikasi medis.
Dokumentasi umum tentang proses instalasi.
Tidak ada yang terasa benar-benar relevan.
Kasus instalasi yang gagal memang ada.
Kasus kompatibilitas rendah juga bukan sesuatu yang aneh.
Tetapi CORE dengan Resonance Compatibility 99% yang bertahun-tahun tertahan pada Installation Progress 0%, lalu tiba-tiba menyelesaikan instalasi ketika penggunanya berada di ambang kematian?
Ervan tidak menemukan kasus yang sama.
Apalagi penjelasan mengenai luka yang menghilang.
Ia meletakkan ponsel.
Berbaring.
Menatap langit-langit.
Satu kemungkinan terus kembali meski ia mencoba menolaknya.
CORE miliknya benar-benar telah aktif.
Selama bertahun-tahun, satu angka sudah menentukan banyak hal dalam hidupnya.
0%.
Angka itu yang membuatnya tidak dapat melangkah lebih jauh.
Angka itu yang mengubah sebuah kegagalan teknis menjadi julukan.
Zero.
Ervan menutup mata.
Dulu ia ingin menjadi Hunter.
Bukan karena seragam.
Bukan karena status.
Bukan pula karena nama para Hunter kuat terpampang di berbagai layar.
Ia ingin menjadi cukup kuat untuk mengubah hidupnya.
Untuk tidak terus bergantung pada orang lain.
Untuk bisa membantu tempat yang membesarkannya.
Mimpi itu lama-lama terdengar semakin konyol setelah setiap pemeriksaan memberikan hasil yang sama.
Nol.
Akhirnya Ervan berhenti membicarakannya.
Berhenti mencari jadwal seleksi.
Berhenti melihat persyaratan akademi.
Lebih mudah berpura-pura tidak menginginkan sesuatu daripada terus melihat pintunya tertutup.
Ervan membuka mata.
Tangannya bergerak mengambil ponsel lagi.
Entah karena rasa penasaran atau karena sesuatu yang sejak pagi berusaha ia abaikan, jempolnya membuka mesin pencarian.
Ia diam cukup lama sebelum akhirnya mengetik.
Seleksi Hunter 2026
Hasil pencarian muncul.
Ervan membuka situs resmi yang berada paling atas.
Informasi seleksi memenuhi layar.
Persyaratan.
Tahapan pendaftaran.
Pemeriksaan kesehatan.
Pengujian fisik.
Pemeriksaan CORE.
Tes kompetensi dasar.
Tatapannya bergerak turun.
Kemudian berhenti.
Ervan tidak berkedip selama beberapa detik.
Di sana tertera jadwal pelaksanaan seleksi berikutnya.
Satu bulan lagi.
Kamar mendadak terasa jauh lebih sunyi.
Satu bulan.
Ervan menatap kedua tangannya.
Lalu tanpa sadar menyentuh sisi tubuh tempat pisau seharusnya meninggalkan luka.
Kemarin, informasi seperti itu tidak akan berarti apa-apa.
Hari ini—
CORE miliknya sudah mencapai seratus persen.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, pintu yang telah ia anggap tertutup tidak lagi terlihat benar-benar terkunci.
Ervan kembali menatap layar.
Satu bulan.
Terlalu singkat.
Mungkin bahkan mustahil.
Namun untuk pertama kalinya sejak dirinya dijuluki Zero, Ervan membiarkan satu pikiran yang sudah lama ia kubur muncul kembali.
Bagaimana kalau... aku mencoba sekali lagi?
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊