NovelToon NovelToon
Dekapan Atasan Suamiku

Dekapan Atasan Suamiku

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

perempuan dimobil arga

Ponsel Arga masih tergeletak di atas meja makan.

Layar yang tadi menyala kini sudah kembali gelap. Namun, dua kata yang muncul di sana seolah terus menempel di kepala Nayla.

**Sayang Kantor.**

Nayla berdiri diam di dekat kursi, seakan tubuhnya tidak lagi mampu bergerak. Dadanya terasa sesak. Napasnya pendek-pendek, sementara air mata menuruni pipi tanpa bisa dicegah.

Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.

Pesan dari perempuan itu?

Nama kontak yang digunakan Arga?

Atau kenyataan bahwa suaminya menyimpan seseorang dengan panggilan sayang, sementara Nayla sendiri sudah berbulan-bulan tidak mendengar panggilan mesra dari bibir Arga?

Dari balik pintu kamar mandi, suara air masih terdengar deras.

Arga tidak tahu.

Ia tidak tahu bahwa ponselnya tertinggal.

Ia tidak tahu bahwa satu pesan telah cukup untuk menghancurkan ketenangan Nayla.

Tangan Nayla bergerak pelan menuju ponsel itu. Jarinya hampir menyentuh layar, tetapi ia berhenti ketika hatinya kembali berdebat dengan pikirannya sendiri.

Ia tidak seharusnya membuka ponsel Arga.

Apa pun yang terjadi, itu tetap barang pribadi suaminya.

Begitu selama ini Nayla memegang prinsipnya.

Namun apakah Arga masih berhak meminta privasi jika ia menggunakan privasi itu untuk menyembunyikan pengkhianatan?

Nayla menggigit bibir bawahnya.

Ia mencoba mengingat wajah Arga ketika baru pulang tadi. Cara suaminya menjawab pertanyaannya dengan kesal. Cara pria itu membentaknya hanya karena Nayla ingin bicara. Aroma parfum perempuan yang menempel kuat di tubuhnya.

Semua kepingan itu terasa seperti jawaban yang selama ini tidak ingin Nayla terima.

Ponsel Arga kembali bergetar.

Nayla tersentak.

Sebuah pesan baru masuk.

Layar menyala sesaat.

**Aku sudah sampai rumah. Jangan lupa hapus chat kita.**

Napas Nayla tercekat.

Pesan itu menghilang dari layar notifikasi beberapa detik kemudian. Namun Nayla sudah membacanya dengan jelas.

*Jangan lupa hapus chat kita.*

Mengapa harus menghapus percakapan jika tidak ada sesuatu yang perlu disembunyikan?

Jari Nayla bergetar ketika akhirnya mengambil ponsel itu. Layarnya tidak terkunci. Mungkin Arga terlalu terburu-buru masuk ke kamar mandi hingga lupa mengaktifkan kunci layar.

Nayla memejamkan mata sesaat.

“Maaf,” bisiknya, entah pada dirinya sendiri atau pada pernikahan yang sedang retak di hadapannya.

Lalu ia membuka aplikasi pesan.

Nama kontak itu berada di bagian paling atas.

**Sayang Kantor.**

Nayla menekan percakapan tersebut.

Seketika, tubuhnya seperti kehilangan tenaga.

Pesan-pesan di sana tidak menyisakan ruang untuk menyangkal.

Ada panggilan tak terjawab. Ada foto makanan dari restoran. Ada foto tangan seorang perempuan dengan kuku berwarna merah muda, sedang memegang gelas kopi di atas meja. Ada balasan dari Arga berupa emoji hati.

Dan ada percakapan yang membuat Nayla ingin muntah.

**Perempuan itu:** Kamu tadi bilang mau cepat pulang.

**Arga:** Istriku menunggu.

**Perempuan itu:** Kamu selalu pulang kalau dia menunggu. Aku jadi cemburu.

**Arga:** Jangan begitu. Kamu tahu aku lebih nyaman sama kamu.

**Perempuan itu:** Besok ketemu di basement, ya? Seperti biasa.

**Arga:** Iya. Jangan pakai parfum terlalu banyak. Nanti Nayla curiga lagi.

Air mata Nayla jatuh ke layar ponsel.

Jadi Arga tahu.

Ia tahu Nayla pernah mencium parfum perempuan lain di kemejanya. Ia tahu Nayla mulai curiga. Namun bukannya merasa bersalah dan berhenti, Arga justru memperingatkan perempuan itu agar lebih berhati-hati.

Nayla menggulir percakapan itu ke atas.

Semakin banyak yang ia baca, semakin hancur sesuatu di dalam dirinya.

Mereka sudah dekat setidaknya selama dua bulan.

Mereka sering bertemu di basement kantor.

Mereka pernah makan malam berdua.

Mereka bahkan punya tempat “seperti biasa”, seperti yang tertulis dalam pesan terakhir perempuan itu.

Nayla tidak sanggup membaca lebih banyak.

Ia menutup percakapan tersebut dan meletakkan ponsel Arga kembali di meja. Tangannya gemetar hebat. Ia buru-buru menghapus air mata dengan punggung tangan sebelum Arga keluar dari kamar mandi.

Suara air berhenti.

Nayla menarik napas panjang, lalu berusaha membuat wajahnya setenang mungkin.

Pintu kamar mandi terbuka.

Arga keluar dengan rambut basah dan kaus rumah berwarna hitam. Ia mengusap rambutnya menggunakan handuk, lalu langsung melirik ke arah meja makan.

Tatapannya jatuh pada ponsel.

“Kamu pegang ponsel aku?” tanyanya.

Nada suaranya membuat Nayla menegang.

“Ada panggilan masuk,” jawab Nayla. “Aku kira penting.”

Arga segera mengambil ponselnya. Jemarinya bergerak cepat membuka layar. Nayla bisa melihat perubahan kecil pada wajahnya saat ia menelusuri notifikasi.

“Kamu buka ponselku?” Arga menatapnya tajam.

Nayla menahan napas.

Ia ingin mengatakan semuanya. Ia ingin menunjukkan pesan-pesan itu dan meminta jawaban. Namun, jika ia melakukannya sekarang, Arga pasti akan menghapus semua bukti. Ia belum siap menghadapi kebohongan baru dari suaminya.

“Aku tidak tahu kode ponselmu,” jawab Nayla pelan.

Arga menatapnya beberapa detik. Terlalu lama sampai Nayla merasa ia sedang diuji.

Kemudian pria itu mengalihkan pandangan.

“Lain kali jangan sentuh barang pribadi aku.”

Kata-kata itu seperti pisau.

Nayla hampir tertawa pahit.

Selama tiga tahun menikah, mereka pernah saling meminjam ponsel. Nayla bahkan tahu kata sandi lama Arga. Dulu tidak ada yang perlu disembunyikan di antara mereka.

Namun kini, ponsel itu menjadi tembok yang tidak boleh ia lewati.

“Baik,” ucap Nayla lirih.

Arga menaruh ponselnya di saku celana, lalu berjalan menuju kamar.

“Kamu tidur saja. Besok aku berangkat pagi.”

Ia mengatakannya tanpa menoleh, tanpa bertanya apakah Nayla baik-baik saja, dan tanpa menyadari bahwa istrinya sedang berdiri dengan hati yang sudah hancur.

Malam itu, Nayla tidak masuk ke kamar.

Ia memilih tidur di sofa ruang tamu, meski tubuhnya tidak benar-benar beristirahat. Setiap kali memejamkan mata, ia melihat pesan-pesan Arga. Setiap kali mencoba tertidur, dadanya kembali terasa sesak.

Menjelang pagi, Nayla baru sadar bahwa ia tidak perlu lagi bertanya apakah Arga berubah.

Arga memang berubah.

Atau mungkin, pria itu sudah berubah sejak lama dan Nayla terlalu sibuk mempertahankan pernikahan mereka sampai tidak melihatnya.

***

Pukul enam pagi, suara pintu kamar membuat Nayla terbangun.

Arga keluar dengan kemeja biru muda dan celana hitam. Penampilannya rapi seperti biasa. Rambutnya disisir ke belakang, jam tangan terpasang di pergelangan kiri, dan wajahnya kembali tenang.

Tidak ada jejak bahwa semalam ia telah menyakiti Nayla.

Tidak ada rasa bersalah.

Tidak ada keinginan untuk memperbaiki apa pun.

Nayla perlahan duduk di sofa. Punggungnya terasa pegal karena tidur dengan posisi tidak nyaman.

“Kamu tidur di sini?” tanya Arga.

Nada suaranya terdengar datar, seolah ia hanya menanyakan hal kecil.

“Iya.”

“Kenapa?”

Nayla menatap suaminya. Ada begitu banyak jawaban yang ingin ia berikan.

*Karena aku tidak sanggup tidur di samping laki-laki yang mencintai perempuan lain.*

*Karena tempat tidur kita terasa kotor oleh kebohonganmu.*

*Karena aku takut melihat wajahmu dan berpura-pura semuanya baik-baik saja.*

Namun Nayla hanya menjawab, “Aku ketiduran.”

Arga mengangguk singkat. Ia tampak tidak terlalu peduli.

Nayla berjalan ke dapur dan membuat kopi seperti rutinitas biasanya. Ia tidak tahu mengapa masih melakukan itu. Mungkin karena tubuhnya terbiasa. Mungkin karena sebagian kecil dirinya belum siap menerima bahwa kebiasaan-kebiasaan kecil mereka sudah kehilangan makna.

Ia meletakkan secangkir kopi di meja.

Arga mengambil tas kerjanya.

“Aku berangkat.”

Nayla menatapnya. Kali ini ia tidak berdiri untuk mengantar sampai pintu. Ia tidak merapikan kerah baju Arga seperti biasanya. Ia tidak mencium pipinya.

“Hati-hati,” katanya singkat.

Arga berhenti sesaat. Tatapannya berpindah dari Nayla ke cangkir kopi di meja.

“Kamu kenapa, sih?” tanyanya.

“Tidak apa-apa.”

“Kamu kelihatan aneh.”

Nayla memaksakan senyum kecil. “Mungkin aku kurang tidur.”

Arga tidak bertanya lagi. Ia hanya mengangkat bahu, kemudian membuka pintu apartemen.

“Jangan lupa makan,” ucapnya sambil melangkah keluar.

Kalimat itu terdengar seperti kepedulian. Namun bagi Nayla, kalimat itu terlambat. Terlalu kosong.

Pintu tertutup.

Nayla berdiri diam selama beberapa detik.

Lalu ia berjalan cepat ke jendela ruang tamu.

Dari sana, ia bisa melihat sebagian area depan apartemen dan jalan menuju basement. Nayla tidak yakin apa yang ingin ia lihat. Mungkin ia hanya ingin membuktikan bahwa semua pesan semalam hanyalah mimpi buruk.

Namun beberapa menit kemudian, mobil Arga keluar dari area parkir.

Nayla menatap mobil itu tanpa berkedip.

Mobil tersebut tidak langsung melaju ke jalan utama.

Arga berhenti di dekat sisi gedung, tepat di dekat taman kecil yang biasanya sepi pada pagi hari.

Seorang perempuan berjalan mendekat.

Perempuan itu mengenakan blus warna merah muda pucat dan rok hitam. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai. Dari kejauhan, Nayla tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Namun ia bisa melihat cara perempuan itu tersenyum saat mendekati mobil Arga.

Pintu penumpang depan terbuka.

Perempuan itu masuk.

Dan sebelum mobil melaju, Nayla melihat Arga menoleh kepadanya.

Suaminya tersenyum.

Senyum yang dulu selalu Nayla tunggu ketika Arga pulang.

Air mata Nayla kembali turun.

Kali ini, ia tidak menghapusnya.

Ia membiarkan air mata itu jatuh, sambil menyadari satu hal yang sangat menyakitkan.

Selama ini, Arga tidak pulang terlambat karena pekerjaan.

Arga pulang terlambat karena ada perempuan lain yang membuatnya lebih ingin tinggal.

Ponsel Nayla bergetar di tangannya.

Sebuah nomor tidak dikenal menelepon.

Nayla mengusap cepat pipinya, lalu mengangkat panggilan itu.

“Halo?”

“Selamat pagi. Apakah ini Ibu Nayla Pradipta?”

Suara pria di seberang terdengar tenang dan formal.

“Ya, benar. Dengan siapa?”

“Saya Dimas, asisten pribadi Pak Raka Aditya dari PT Arunika Properti.”

Nayla mengernyit.

Raka Aditya.

Nama itu tidak asing. Raka adalah direktur operasional di perusahaan tempat Arga bekerja. Arga jarang membicarakannya, tetapi Nayla tahu Raka dikenal tegas, dingin, dan sangat disegani semua karyawan.

“Maaf, ada apa?” tanya Nayla.

“Pak Raka meminta Ibu datang ke kantor hari ini, jika Ibu berkenan.”

Jantung Nayla kembali berdetak lebih cepat.

“Untuk urusan apa?”

Ada jeda singkat sebelum Dimas menjawab.

“Pak Raka mengatakan, ada sesuatu yang sebaiknya Ibu ketahui secara langsung.”

Nayla menggenggam ponselnya semakin erat.

Apa yang diketahui atasan Arga?

Dan apakah hal itu berhubungan dengan perempuan yang baru saja masuk ke mobil suaminya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!