NovelToon NovelToon
Tawanan Pangeran Siren

Tawanan Pangeran Siren

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Cinta Beda Dunia / Fantasi
Popularitas:685
Nilai: 5
Nama Author: Pena kira

JANGAN MAKAN AKU!
Aku hanyalah penyelam mutiara miskin yang bernasib sial. Niat hati mencari nafkah di kapal peneliti asing, aku justru terjebak dalam pembantaian keji di Teluk Bayangan. Kapal kami hancur, Sahabatku dibantai, dan laut berubah merah oleh darah.

Di hadapan para siren yang siap mengoyak dagingku, insting survivalku mendadak liar. Demi bertahan hidup, aku rela membuang harga diri, berlutut, menari dengan tubuh bersimbah darah, dan membualkan pujian setinggi langit untuk memohon ampunan. Bualan manisku rupanya menarik perhatian Pangeran Nataniel, iblis laut paling kejam dan mengerikan.

Bukannya dibunuh, aku malah diseret ke dalam istana karangnya sebagai satu-satunya tawanan manusia. Di mata Sang Pangeran, aku hanyalah seekor badut yang menarik untuk diamati. Di antara maut dan cengkramannya yang menyiksa, aku harus terus memutar otak dan bersilat lidah. Aku harus memastikan mulut manisku ini cukup ampuh untuk menjinakkannya, sebelum dia menjadikan ku santapan makan malam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pangeran Dan Kutukan Darah Istana

# Pangeran dan Kutukan darah Istana #

Hawa dingin sisa kedatangan Ibu Ratu perlahan memudar dari sudut-sudut Kamar Utama, digantikan oleh pendaran lampu kristal koral yang kembali menyala hangat. Namun, kehangatan itu sama sekali tidak sanggup meredakan gejolak kecemasan yang berputar hebat di dalam kepalaku.

Setelah Pangeran Nataniel berlalu sejenak untuk mensterilkan koridor dari sisa-sisa prajurit suruhan ibunya, aku langsung menggunakan kesempatan itu untuk membersihkan diri. Rasa lengket pasir arena, bekas sisa pertarungan dengan gurita koral, serta aroma amis yang menempel di kulitku benar-benar membuat frustrasi.

Di dalam kamar mandi kerajaan yang terbuat dari bongkahan batu kristal air transparan, aku berendam cukup lama. Namun, begitu melangkah keluar menuju lemari pakaian mewah yang disediakan, mataku mendadak melotot tajam.

("Ya Tuhan... ini lemari isi pakaian atau pajangan toko kostum maksiat?!") jerit batinku histeris seraya menatap deretan kain yang tergantung rapi.

Tidak ada gaun sutra panjang nan anggun seperti yang kupakai sebelumnya. Sebagian besar gaun tersebut sudah robek parah akibat gurita koral dan langsung dibuang oleh pelayan. Yang tersisa di lemari hanya jajaran gaun khas Siren gaya pesisir Teluk Bayangan. Bentuknya tidak lebih dari potongan kain sutra tipis bertabur Mutiara Hitam yang sangat minim, persis seperti bikini laknat bertingkat!

Mau tidak mau, demi menutupi tubuhku dan menghindari rasa dingin lautan, aku terpaksa mengenakan salah satu stel bikini laknat berwarna biru gelap-keemasan tersebut. Kainnya hanya menutupi bagian-bagian yang sangat krusial, menyisakan pinggang, perut mulus, serta seluruh punggungku terekspos bebas di udara terbuka.

"Apes! Benar-benar apes!" gumamku seraya melangkah canggung kembali ke area tempat tidur, mencoba menutupi dadaku dengan kedua tangan yang bersilang. "Posisi sudah naik jadi Pendamping Utama Takhta, tapi pakaian yang dipakai malah makin hemat bahan begini!"

Saat aku sedang sibuk mengumpat pelan, pintu batu Kamar Utama bergeser terbuka secara halus.

Pangeran Nataniel melangkah masuk. Zirah beratnya sudah dilepas, menyisakan jubah sutra hitam longgar tanpa kancing. Pakaian itu memperlihatkan garis-garis otot perutnya yang kokoh dan sisik keemasan samar di sepanjang tulang rusuknya. Ia membawa sebuah cawan kristal kecil berisi obat ramuan ajaib untuk menyembuhkan luka.

Begitu iris mata keemasannya menangkap sosokku yang berdiri canggung dalam balutan bikini laknat tersebut, sudut bibir Nataniel terangkat. Sebuah senyuman misterius yang penuh akan kepuasan, keangkuhan, dan niat jahat melintas begitu saja di wajah tampannya yang dingin.

Ia berjalan mendekat dengan langkah perlahan, bagaikan seekor predator yang menikmati ketakutan mangsanya yang terpojok.

"Pakaian yang sangat cocok untuk seorang penawar racun pribadi," cemooh Nataniel rendah, matanya yang tajam menyapu seluruh lekuk tubuhku tanpa rasa sungkan sedikit pun.

Melihat raut congkaknya, jiwa penjilat ulungku refleks menyala demi keamanan leher, namun rasa penasaran dalam otak kreatifku jauh lebih bergejolak tajam. Ada teka-teki besar yang terus berputar di kepalaku sejak penuturan Ibu Ratu tadi.

Aku memamerkan senyuman paling manis dan patuh, membungkuk sedikit seraya menangkupkan tangan di dada.

"Paduka yang Maha Perkasa..." cicitku halus, bernada menjilat setinggi langit. "Merupakan kebanggaan luar biasa jika pakaian pilihan istana ini menyenangkan mata agung Paduka! Namun... jika Paduka berkenan meredakan kebingungan hamba yang kerdil ini, ada satu hal yang terus mengusik benak hamba sejak kepergian Ibu Ratu."

Nataniel menghentikan langkahnya tepat satu tapak di hadapanku. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatapku dari atas ke bawah dengan raut meremehkan.

"Bicaralah, Serangga. Apa yang ingin kau ketahui dari penguasamu?"

Aku menelan saliva, berusaha menyusun kata-kata sehalus mungkin agar tidak memicu murka sang Penguasa Samudra.

"Mengenai... Kutukan Darah Kerajaan itu, Paduka," tanyaku lirih dengan binar mata menyembah yang pura-pura terharu. "Ibu Ratu bilang, Paduka membutuhkan darah manusia murni untuk mendinginkan organ dalam yang terbakar akibat sihir gravitasi. Tapi... bukankah setiap hari Paduka dan para bangsawan Siren mengonsumsi daging murni kami yang masih berdarah-darah? Bukankah harusnya organ dalam Paduka selalu sehat dan terbebas dari pembakaran itu? Kenapa bisa timbul takdir istimewa yang membuat Paduka menyukai kulit mulus manusia? Dan sebenarnya, siapa sosok terkutuk yang berani menjatuhkan sihir jahat itu pada Penguasa Samudra yang begitu agung?"

Nataniel tidak langsung menjawab. Ia justru terkekeh rendah, sebuah tawa dingin yang mengalun ambigu dan sarat akan rahasia kelam.

Ia melangkah mengitari tubuhku, berdiri tepat di belakang punggungku yang terekspos bebas. Hawa panas dari tubuhnya terpancar begitu dekat, membuat bulu kudukku berdiri tegak.

"Kau terlalu banyak bertanya untuk ukuran seekor serangga," bisik Nataniel tepat di samping telingaku, suaranya terdengar begitu berat dan penuh misteri. "Daging dan darah manusia yang dieksekusi di aula pembantaian hanyalah makanan kasar yang kotor. Darah mereka telah tercemar oleh rasa takut, keputusasaan, dan racun kematian. Darah seperti itu hanya akan membusukkan sihir gravitasi klan Siren dari dalam."

Jemarinya yang dingin perlahan mengusap bahuku, bergerak turun menuju garis punggungku.

"Kutukan Darah Kerajaan bukan berasal dari sihir musuh luar," lanjut Nataniel dengan nada yang sengaja dibuat ambigu dan menggantung. "Ia adalah harga mati yang harus dibayar oleh setiap pewaris tahta tertinggi Teluk Bayangan yang lahir dengan sihir gravitasi murni. Semakin besar daya hancur sihir yang kuledakkan, semakin pekat api abadi yang membakar jantungku. Dan hanya darah manusia murni sang pengguna energi Mutiara Laut Dalam, darah yang mengalir di dalam pembuluh darahmu, yang sanggup memadamkan api tersebut."

Ia berhenti sejenak, senyuman miringnya makin melebar di belakang punggungku.

"Mengenai mengapa aku sangat menyukai kulit mulusmu..." Nataniel merendahkan bisikannya, sengaja membentangkan aura intimidasi yang begitu menindas, "...itu karena kulit manusia adalah bagian paling rapuh, paling lunak, dan paling mudah dihancurkan. Melihatmu gemetaran dalam balutan kain tipis ini memberikan pemandangan yang sangat menghibur sebelum aku memutuskan untuk menjadikan mu cemilan saat racun dalam tubuhku memuncak."

*DEG!*

Mataku membelalak lebar! Seluruh aliran darah di tubuhku serasa berhenti mengalir seketika!

("Ya Tuhan!") jerit batinku yang langsung korslet parah. ("Penjelasannya muter-muter ambigu begitu tapi intinya tetep aja mengerikan! Jadi dia sengaja nolak darah manusia biasa karena ngejek, terus nunggu darahku matang sempurna di bawah pengaruh Mutiara Laut Dalam sebelum akhirnya diisap sampai habis?! Ini monster bener-bener mau bangun pabrik pemerahan darah manusia!")

Otak licikku langsung membayangkan cerita-cerita horor dari Ibu Ratu tadi. Gambaran bagaimana Nataniel akan mengoyak kulit ku, meminum darahku sampai kering, lalu membuang tulang-belulangku ke dasar samudra, membuat kedua kakiku gemetaran hebat.

Nataniel yang berdiri di belakangku dapat merasakan dengan sangat jelas bagaimana tubuhku bergetar kaku. Di dalam pikiran angkuhnya, Penguasa Samudra ini beranggapan bahwa manusia kerdil di hadapannya sedang berada di puncak ketakutan setengah mati. Ia yakin aku takut bahwa detik ini juga, aku akan disantap dan dimakan hidup-hidup sebagai pelampiasan lapar sang Pangeran Iblis.

Ia sengaja memanfaatkan ketakutan itu untuk menguji sejauh mana kepatuhan penjilat kecilnya.

"Berbaliklah, Alessia," titah Nataniel penuh nada perintah mutlak. Aku buru-buru memutar tubuhku kembali menghadapnya, memamerkan senyuman manis yang dipaksakan habis-habisan walau bibirku agak pucat.

"T-Tentu, Paduka yang Maha Perkasa..." cicitku dengan suara yang sedikit bergetar. "Hamba... hamba siap melayani dan mendengarkan setiap titah agung Paduka!"

"Duduklah di tepi ranjang," perintah Nataniel dingin seraya mengangkat cawan kristal berisi obat ajaib koral. "Luka di punggungmu akibat pecahan koral arena harus diolesi obat ini. Aku tidak sudi memiliki Pendamping Utama dengan kulit yang cacat."

"B-Baik, Paduka!" jawabku cepat.

Aku segera melangkah menuju tempat tidur koral berbalut sutra empuk, mendudukkan diri di tepinya seraya membelakangi Nataniel. Punggungku yang mulus kini sepenuhnya terbuka di hadapan sang Pangeran Iblis.

Nataniel melangkah mendekat, duduk di belakang tubuhku. Hawa dingin dari salep ajaib tercium jelas di udara, namun hawa dingin dari napas Nataniel yang berhembus di kulit punggungku jauh lebih membekukan seluruh pori-pori kulit ku.

Aku mengepalkan kedua tanganku di atas pangkuan, menahan napas panik.

("Tenang Alessia, tenang...") bisik batinku berusaha menenangkan diri. ("Dia cuma mau ngolesin obat! aku kan penjilat ulung, pura-pura pasrah aja biar dia seneng. Jangan bikin ikan purba ini mengamuk!")

Namun, sebelum jemari Nataniel menyentuhkan salep dingin tersebut ke kulitku, Pangeran Iblis itu justru mencondongkan wajahnya sangat dekat ke leher dan bahuku.

Bukan salep dingin yang menyentuh kulitku terlebih dahulu, melainkan helaan napas dinginnya yang berhembus lambat, disusul oleh seringai yang mengintimidasi.

"Kau benar-benar berpikir bahwa kau aman di ranjang ini, Serangga?" bisik Nataniel penuh nada mengejek. "Luka di punggungmu ini... memancarkan aroma darah yang sangat memancing selera makanku."

*DEG!*

Jantungku melonjak ke tenggorokan! Apakah Nataniel memutuskan untuk memakanku sekarang juga sebelum sempat mengoleskan obat ajaib tersebut?!

"P-paduka...apa yang anda lakukan..."

⭐⭐⭐⭐⭐

WADUH ALESSIA MAU DIMAKAN SEKARANG?! 😱🔥 Baju udah bikini laknat, Nataniel malah makin nempel dan memancing ketakutan Alessia!

Yuk, Kiravers kesayangan! Gass lanjut ke Bab 26 buat bongkar aksi gila Nataniel selanjutnya! ✨ jangan lupa kasih like & komen dulu yaa...

1
Helmy Faldy Alaydrus
ini si alesia makan apa thor
Pena kira: ikan lele kak😄
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
👍👍👍👍
Pena kira: 🙏 terimakasih kak
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
ada akademi vokal di dunia siren yak😄
Pena kira: mau join kak😄
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
ttp kek bocil😄
Pena kira: xixixixi
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
cobain dulu lah kabur
Pena kira: kesian kang ikan lele Dumbo nya kak kalo ditinggal kabur
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
lawak lawak
Pena kira: 🤣🤣🤣 terimakasih kk
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
👍👍👍👍
Pena kira: terimakasih kk
total 1 replies
Pena kira
tapi gantengnya nggak ngotak kak😭
Best
seramnye..
Pena kira: tapi gantengnya nggak ngotak kak 😭
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
ikut mual njirrr🤢
Pena kira: minum antimo kak..aman😅
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
👍👍👍 lanjut thor
Pena kira: asiap kak
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
👍👍👍
Pena kira: makasih kakak
total 1 replies
Best
hadir Thor..
Pena kira: thanks a lot kak
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
gila kuat banget mental si alessia
Pena kira: sempat hidup generasi sandwich kak 😂
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
bagus lho tapi masih sepi. semangat thor bagus cerita nya..next👍
Best: "Baby or Babi." judul novel terbaru aku. Romansa yang di taburi juga dengan humor dan fantasi. Yuk mampir
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!