NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala 2

Kutukan Jiwa Niskala 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Fantasi
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!

****

Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Rencana Gila di Kedai Arak

"Cari ke segala sudut pelabuhan! Jangan biarkan Nona Sulung melarikan diri!" seru komandan pengawal dari kejauhan.

Melihat seragam pengawal keluarganya dari kejauhan, So Hwa panik. Jantungnya berdegup kencang. Mengurungkan niat mencari kapal sang paman dari Baek Seo Jun, ia langsung melompat ke sebuah perahu kayu kecil yang tertambat di tepi dermaga. Beruntung, ia sempat memotong tali pengikat dan mendayung perahu itu kabur ke aliran sungai kota sebelum para pengawal menyadari keberadaannya.

Perahu kecil itu hanyut perlahan mengikuti arus bawah jembatan kota. Jin So Hwa menghela napas lega, menyandarkan tubuhnya yang lelah pada dinding perahu. Namun, saat perahu yang ia naiki melewati kolong sebuah jembatan batu yang besar, pandangannya tidak sengaja mendongak ke atas.

Langkah kaki So Hwa seperti terkunci oleh takdir. Di atas jembatan batu itu, terlihat seorang pria berjalan dengan jubah hitam yang familier. Langkahnya tenang, auranya dingin memikat, dan sebilah pedang tergantung di pinggangnya.

Itu Han Seol.

Mengingat kembali kejadian semalam di kamarnya, serta desas-desus yang didengarnya dari para pelayan bahwa pria bernama Han Seol ini adalah penyihir terkuat di seluruh negeri saat ini, sebuah ide gila yang teramat nekat mendadak melintas di kepala Jin So Hwa.

Jika dia adalah yang terkuat, maka Jinyowon sekalipun tidak akan bisa menyentuhnya, pikir So Hwa dengan mata berbinar.

Lantas, dengan nekat ia memutuskan untuk mengubah rencananya. Ia berencana menjadikan Han Seol sebagai calon suaminya yang baru, menggantikan pilihan ibunya.

Ya, walaupun rencana itu terdengar sangat tidak masuk akal dan gila lantaran ia baru saja mengenal Han Seol semalam, Jin So Hwa tidak peduli lagi. Nyawanya dan kebebasannya sedang di ujung tanduk.

Begitu perahunya menepi, Jin So Hwa segera melompat turun dan memburu langkah Han Seol. Ia mengikuti pria itu secara diam-diam menembus pasar, hingga langkah Han Seol berhenti di depan sebuah kedai makan yang sepi di sudut kota.

Tanpa ragu sedikit pun, begitu Han Seol mengambil tempat duduk di pojok ruangan, Jin So Hwa langsung melangkah maju dan duduk tepat di hadapan meja Han Seol, membuat sang penyihir agung menghentikan gerakannya yang hendak menuang teh.

Han Seol menatap wanita berpenutup kepala di depannya dengan alis bertaut. "Kau lagi? Bagaimana bisa kau keluar dari kamarmu?"

Jin So Hwa membuka penutup kepalanya, menampilkan wajah cantiknya yang kini menatap Han Seol dengan keseriusan penuh. Tanpa basa-basi atau bumbu pemanis, ia langsung mengungkapkan keinginannya yang paling dalam.

"Menikahlah denganku, Han Seol."

Han Seol yang sedang memegang cangkir teh hampir saja menjatuhkannya jika ia tidak memiliki refleks seorang penyihir tingkat tinggi. Ia menatap So Hwa dengan pandangan datar bin dingin.

"Kau sudah gila?"

"Aku tidak gila! Aku sedang sangat waras," sahut Jin So Hwa cepat, condong ke depan meja agar suaranya tidak terdengar pengunjung lain. "Saat ini, ibuku sedang memaksaku untuk menikah dengan seorang lelaki yang sama sekali bukan pilihanku. Dan yang paling mengerikan, bahkan setelah pernikahan itu terjadi, nasibku tidak akan berubah. Aku akan tetap dikurung di dalam ruangan gelap Jinyowon demi melahirkan anak pewaris. Aku tidak mau hidup seperti tahanan seumur hidup!"

Mendengar keluh kesah yang emosional itu, wajah Han Seol sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan. Baginya, urusan internal keluarga Jin bukanlah masalah yang harus ia campuri.

Hidupnya sendiri sudah terlalu bising oleh arwah jahat akibat Batu Es.

"Itu urusan keluargamu. Carilah penyihir lain untuk menolongmu," jawab Han Seol dingin, hendak berdiri dari kursinya.

"Tunggu! Kau tidak paham siapa aku, ya?" cegat So Hwa dengan nada mendesak, menahan lengan jubah Han Seol.

"Namaku Jin So Hwa. Aku adalah putri sulung Jinyowon yang sesungguhnya!"

Mendengar nama itu diucapkan, gerakan Han Seol seketika tertahan. Sorot mata sang penyihir agung sontak berubah dipenuhi sedikit rasa penasaran yang mendalam. Alisnya berkerut rapat.

Jin So Hwa?

Pasalnya, dari informasi yang beredar luas di kalangan penyihir kelas atas selama bertahun-tahun, putri sulung Jinyowon yang bernama Jin So Hwa dikabarkan telah lama meninggal dunia karena penyakit misterius sejak ia masih kecil. Mengapa sekarang wanita di depannya mengklaim identitas mayat tersebut?

Terlepas dari rasa penasaran yang mendadak muncul di benaknya tentang misteri identitas wanita itu, prinsip Han Seol tetap tidak tergoyahkan. Ia menarik napas dalam-dalam, mengunci pandangan dinginnya pada mata So Hwa.

"Siapa pun dirimu, hidup atau mati, aku tetap tidak bisa menyetujui penawaran gila ini. Aku tidak memiliki alasan, ataupun keinginan, untuk menikah denganmu atau bermusuhan dengan ibumu," ucap Han Seol dengan nada mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.

Mendengar penolakan mentah-mentah itu, Jin So Hwa yang masih menaruh harapan besar kepada kekuatan raksasa di dalam diri Han Seol tidak lantas menyerah begitu saja.

Ia tahu pria seperti Han Seol tidak bisa dipaksa dengan kata-kata biasa, melainkan harus diberi umpan yang tepat.

So Hwa bangkit dari kursinya, memakai kembali penutup kepalanya, namun sebelum melangkah pergi, ia membungkuk sedikit dan berbisik di dekat telinga Han Seol dengan nada penuh penekanan.

"Pernikahanku dengan pria pilihan ibuku akan dilangsungkan tepat saat bulan purnama penuh di bulan ini, Han Seol. Alhasil, jika dalam beberapa hari ke depan kau berubah pikiran—atau jika kau butuh jawaban atas kekuatan batu es yang bersemayam di dalam dadamu—kau tahu di mana harus mencariku. Datanglah ke pesta itu, dan bawalah aku pergi dari sana. Aku akan menunggumu."

Setelah mengucapkan kalimat tantangan yang sarat akan teka-teki itu, Jin So Hwa berbalik dengan cepat. Langkah kakinya melesat keluar dari kedai, menghilang di balik keramaian jalanan Kota Niskala, meninggalkan Han Seol yang kini terdiam mematung menatap cangkir tehnya yang perlahan mendingin, sementara bisikan-bisikan tak kasat mata di sekeliling batinnya mendadak berbisik lebih riuh dari biasanya.

****

Malam bulan purnama yang dinantikan akhirnya tiba. Langit di atas Negeri Niskala bersih tanpa awan, menampilkan sang rembulan yang bersinar bulat sempurna, memantulkan cahaya keperakan di atas permukaan air. Di salah satu aula megah Jinyowon yang didekorasi dengan kain sutra merah dan emas, seorang pria paruh baya berpakaian pengantin mewah tampak tak bisa menyembunyikan senyum lebarnya.

Pria itu adalah Baek Yun O. Pamannya Baek Seo Jun itu terlihat teramat bahagia, berkali-kali merapikan jubah pernikahannya sembari menunggu kedatangan calon istrinya dengan dada yang berdebar riang.

Tidak jauh dari sana, Jin Hwa Young berdiri dengan tatapan penuh kepuasan. Pemimpin wanita Jinyowon itu sudah tidak sabar untuk mendapatkan cucu dari rahim anak sulungnya. Baginya, pernikahan ini adalah gerbang emas untuk melahirkan penerus dengan bakat spiritual paling murni yang pernah ada.

Sementara itu, di dalam kamar rias yang sunyi, Jin So Hwa duduk membeku di depan cermin. Gaun pengantin yang indah melekat di tubuhnya, dan riasan wajahnya telah selesai dengan sempurna, membuatnya tampak secantik dewi khayangan. Ia bersiap untuk berangkat menuju aula.

Namun, jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, So Hwa mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Matanya terus menatap jendela, masih mengharapkan mukjizat—mengharapkan kedatangan sesosok pemuda berjubah hitam yang ia temui di kedai makan waktu itu.

Han Seol... apakah kau benar-benar tidak akan datang menolongku? bisik batinnya pilu.

****

Di belahan kota lain, tepatnya di kediaman Do Kwang yang hangat namun sederhana, suasana terasa jauh lebih tenang. Han Seol baru saja menghabiskan waktu malamnya untuk bernostalgia bersama Do Hyun dan Baek Seo Jun yang baru kembali.

Pertemuan itu sempat mencairkan sedikit ketegangan di antara mereka, namun begitu kedua penyihir muda itu pamit ke halaman depan, menyisakan Han Seol dan Do Kwang di dalam ruangan, kabut kelam kembali menyelimuti pikiran Han Seol.

Han Seol menatap tangannya sendiri, merasakan aliran energi besar sekaligus dingin yang terus berputar di dalam nadinya. Batu Es. Kekuatan langit yang membuatnya tak pernah bisa merasakan kebahagiaan sejati.

"Paman," panggil Han Seol datar, namun terselip kelelahan yang teramat sangat dalam suaranya.

Do Kwang yang sedang merapikan cangkir teh langsung menoleh. "Apakah yang akan terjadi... jika ada seseorang dengan kekuatan luar biasa, yang mampu mengeluarkan Batu Es ini dari dalam tubuhku?"

Do Kwang tertegun, meletakkan cangkirnya perlahan. "Mengapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?"

"Aku sudah tidak sanggup lagi," gumam Han Seol, matanya menatap kosong ke lantai.

"Setiap detik, arwah-arwah jahat dan monster mengerikan itu selalu berkumpul di sekelilingku. Mereka berisik, dingin, dan terus mengganggunya tanpa henti. Belum lagi..."

Han Seol mencengkeram dadanya sendiri, merasakan sesak yang teramat sangat. "Perpisahanku dengan Seol Ah... rasanya seolah-olah ada sebilah pedang tajam yang menancap mati di dadaku setiap hari. Hidup dengan kekuatan ini terasa seperti kutukan yang menyiksa."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!