NovelToon NovelToon
Zero Hunter

Zero Hunter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:558
Nilai: 5
Nama Author: LetterFromJusticia

Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 — Empat Hari Menuju Gerbang

Bunyi alarm memecah keheningan kamar.

Pukul 04.30 pagi.

Sebuah tangan bergerak dari balik selimut, meraba permukaan meja sebelum akhirnya menemukan ponsel yang terus bergetar.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 𝗡𝗼𝗶𝗿 membuka mata.

Untuk beberapa saat, ia hanya berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Udara pagi terasa dingin, sementara dari luar jendela terdengar suara kendaraan yang sesekali melintas.

Biasanya, hal pertama yang dilakukan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 setelah bangun adalah memeriksa kondisi tubuhnya. Memastikan tidak ada otot yang terlalu nyeri sebelum memulai latihan berikutnya.

Namun pagi ini, pandangannya justru tertuju pada kalender yang tergantung di dekat meja belajar.

Sebuah lingkaran merah mengelilingi tanggal yang sudah lama dinantikannya.

EMPAT HARI MENUJU SELEKSI HUNTER.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 duduk di tepi ranjang.

"𝘌𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘺𝘢..."

Suaranya masih serak oleh kantuk.

Tangannya bergerak menyentuh bahu, tepat di tempat bekas luka akibat pertarungan melawan BETA masih terlihat samar.

Sudah lebih dari dua minggu sejak dirinya keluar dari rumah sakit. Luka-luka yang dahulu hampir merenggut nyawanya kini nyaris tidak meninggalkan rasa sakit.

Tetapi ingatan tentang pertarungan itu masih jelas.

Tubuh yang kehilangan keseimbangan. Pukulan yang meleset. Serangan BETA yang datang terlalu cepat untuk diantisipasi.

Seandainya waktu bisa diputar kembali, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tahu setidaknya ada belasan kesalahan yang tidak akan ia ulangi.

Ia berdiri, merapikan tempat tidur, kemudian mengenakan pakaian olahraga.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 baru saja menempelkan kedua telapak tangan ke lantai untuk push-up pagi seperti biasa ketika ponsel di atas meja kembali bergetar.

Sebuah pesan masuk dari 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻: 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘭𝘶𝘢𝘯. 𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘰𝘳𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘵𝘶𝘳. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘰𝘵𝘰𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘤𝘢𝘱𝘦𝘬, 𝘬𝘶𝘴𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bangkit dari lantai dan tertawa kecil membaca pesan itu.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻: 𝘉𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪. 𝘒𝘢𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘦𝘳𝘢 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘢𝘳𝘬𝘶, 𝘺𝘢?

Balasannya datang hampir seketika.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻: 𝘉𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪. 𝘚𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪.

"𝘋𝘢𝘴𝘢𝘳..."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menggeleng, lalu meletakkan ponselnya kembali ke meja.

Dua minggu lalu, mungkin ia akan mengabaikan peringatan tersebut dan tetap berlatih sampai kelelahan.

Sekarang, ia memilih mengambil handuk dan pergi mandi.

Ada sesuatu yang lebih penting daripada memecahkan rekor latihan pagi ini.

Memastikan dirinya siap empat hari lagi.

---

Pukul 07.15 pagi.

Ruang latihan pribadi keluarga Greyad kembali dipenuhi bunyi langkah dan gesekan sepatu di atas lantai matras.

"𝘑𝘰𝘨𝘨𝘪𝘯𝘨 𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘭𝘶, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘯𝘢𝘮𝘪𝘴. 𝘉𝘦𝘣𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯." 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 berdiri di samping sebuah bangku, matanya tidak lepas dari program latihan di layar tablet.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, yang baru tiba, langsung mengikuti instruksi tersebut.

Sepuluh menit kemudian, tubuhnya mulai hangat.

Ia melanjutkan dengan gerakan mobilitas bahu, pinggul, dan pergelangan kaki sebelum mendekati area latihan kekuatan.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengangkat sebuah rompi pemberat. "𝘓𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘪𝘭𝘰. 𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘶𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘰𝘯𝘵𝘳𝘰𝘭𝘮𝘶, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢𝘮𝘶."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menerima rompi itu dan menimbangnya sebentar di tangan. "𝘉𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘵?"

"𝘋𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨-𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘭𝘪𝘮𝘢. 𝘐𝘴𝘵𝘪𝘳𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘶𝘴𝘶𝘳𝘶𝘩." 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengetuk layar tabletnya. "𝘉𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘬𝘯𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘳𝘶𝘴𝘢𝘬, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘥𝘶𝘭𝘪 𝘵𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘤𝘢𝘱𝘢𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengencangkan tali rompi di sisi tubuhnya, mengambil posisi push-up, lalu menunggu aba-aba.

"𝘔𝘶𝘭𝘢𝘪."

Tubuhnya turun perlahan.

Siku menekuk. Dada mendekati lantai, kemudian kedua lengannya kembali mendorong tubuh ke atas.

Satu.

Dua.

Tiga.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 memperhatikan posisi punggung dan pinggulnya.

"𝘗𝘦𝘭𝘢𝘯. 𝘉𝘢𝘥𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘭𝘶𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘵𝘶𝘮𝘪𝘵. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘶𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memperbaiki tempo.

Set pertama selesai tanpa kesulitan berarti.

Set kedua dan ketiga juga berjalan lancar, meskipun napasnya mulai terdengar lebih berat.

Memasuki set kelima, keringat menetes dari dagunya.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengamati waktu pemulihan di antara set. Napas 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 kembali teratur lebih cepat daripada yang ia perkirakan.

𝘓𝘢𝘨𝘪-𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪?

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 tidak berkomentar. Ia hanya mencatat sesuatu di tabletnya.

"𝘓𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵. 𝘑𝘢𝘨𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘶𝘮𝘶, 𝘝𝘢𝘯."

Latihan berlanjut.

Pada set kedelapan, kedua lengan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mulai bergetar ketika memasuki repetisi terakhir.

"𝘋𝘶𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩... 𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵."

Ia menurunkan tubuh sekali lagi, lalu mendorong dengan sisa tenaga yang ada.

"𝘋𝘶𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘭𝘪𝘮𝘢!"

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bertahan sesaat sebelum akhirnya menjatuhkan lutut ke matras.

Napasnya memburu.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mendekat sambil menyerahkan botol minum. "𝘋𝘶𝘢 𝘳𝘢𝘵𝘶𝘴, 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘳𝘰𝘮𝘱𝘪 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘪𝘭𝘰. 𝘋𝘶𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘱𝘰𝘴𝘵𝘶𝘳𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘴 𝘪𝘵𝘶."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menerima botol tersebut, meneguk sedikit, lalu menyeka mulut dengan punggung tangan. "𝘒𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘶𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵. 𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘵 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩—"

"𝘊𝘶𝘬𝘶𝘱."

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 bahkan tidak menunggu kalimat itu selesai.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mendongak. "𝘛𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘥𝘢, 𝘚𝘦𝘣."

"𝘕𝘢𝘩, 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘩." 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengetuk layar tabletnya. "𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘱 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴. 𝘌𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦 𝘭𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘱𝘶𝘴𝘩-𝘶𝘱."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terdiam.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 lalu menunjuk lengannya. "𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵. 𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘨𝘦𝘮𝘦𝘵𝘢𝘳, 𝘬𝘢𝘯? 𝘚𝘦𝘵 𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩 𝘵𝘦𝘬𝘯𝘪𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘦𝘭𝘦𝘬. 𝘌𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘮𝘱𝘶𝘬 𝘤𝘢𝘱𝘦𝘬. 𝘒𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melirik kedua tangannya.

Getaran halus itu memang masih terasa.

Akhirnya ia membuka pengait rompi dan meletakkannya di lantai. "𝘠𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪."

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengangkat alis. "𝘞𝘢𝘩, 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘶𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵. 𝘌𝘳𝘷𝘢𝘯 𝘕𝘰𝘪𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘥𝘦𝘣𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵 𝘥𝘶𝘭𝘶."

"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘭𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘤𝘦𝘳𝘢𝘮𝘢𝘩𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘴𝘪𝘢𝘯𝘨."

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 memutar bola mata. Beberapa detik kemudian, keduanya tertawa.

Setelah waktu pemulihan yang cukup, latihan dilanjutkan dengan squat ringan, plank, dan beberapa gerakan stabilitas tubuh. 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengurangi intensitas begitu melihat tanda kelelahan mulai memengaruhi gerakan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

Program fisik pagi itu pun berakhir tanpa perlu memaksakan satu repetisi tambahan.

Namun sesi berikutnya justru membutuhkan konsentrasi yang jauh lebih tinggi.

Basic Combat.

"𝘗𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘶𝘢𝘳𝘥."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan wajah. Kaki kirinya berada sedikit di depan, sementara berat badannya dibagi agar ia bisa bergerak tanpa kehilangan keseimbangan.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengenakan sarung tangan latihan. "𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯. 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘬𝘰𝘮𝘣𝘪𝘯𝘢𝘴𝘪 𝘴𝘦𝘥𝘦𝘳𝘩𝘢𝘯𝘢. 𝘒𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘉𝘢𝘤𝘢 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘢𝘳𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢, 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬."

"𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘴𝘢𝘳𝘢𝘯?"

"𝘚𝘢𝘴𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴." 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 membenturkan kedua sarung tangannya. "𝘉𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯, 𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘤𝘦𝘭𝘢𝘩, 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘬𝘢. 𝘋𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘴𝘪𝘣𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘯𝘥𝘢𝘳 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘶𝘳 𝘫𝘢𝘳𝘢𝘬."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 merapatkan siku ke rusuk.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 bergerak lebih dulu.

Sebuah jab meluncur menuju wajah 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

Ia menggeser kepala, tetapi gerakannya terlalu lebar.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 segera menyusul dengan straight yang berhenti setelah sarung tangannya menyentuh pelindung bahu 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

"𝘒𝘦𝘯𝘢."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengembuskan napas. "𝘒𝘶𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘭𝘶𝘢𝘯."

"𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶. 𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘩𝘶, 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘱𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶𝘭. 𝘉𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵."

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 kembali mengambil posisi.

Serangan berikutnya datang lebih cepat.

Jab.

Straight.

Kemudian sebuah feint yang membuat 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 secara refleks mengangkat guard terlalu tinggi.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menyentuh bagian samping tubuhnya menggunakan sarung tangan.

"𝘒𝘦𝘯𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menatap lawannya. "𝘛𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘢𝘯?"

"𝘒𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢. 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘶𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯-𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘱𝘶𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘪𝘱𝘶. 𝘉𝘦𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭."

Mereka mengulang latihan tersebut beberapa kali.

Pada percobaan keenam, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mulai memahami sesuatu.

Ia tidak perlu menghindari setiap serangan dengan gerakan besar.

Cukup menggeser kepala seperlunya, menjaga pusat berat tubuh, lalu mengembalikan posisi guard.

Ketika 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 kembali melancarkan jab, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melakukan parry kecil dengan tangan kanannya.

Kali ini berhasil.

Ia segera membalas dengan jab yang diarahkan ke pelindung dada 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.

Namun 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 memutar tubuh, mengubah sudut, dan menyentuh sisi kepala 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sebelum pukulannya mencapai sasaran.

"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘳𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨. 𝘉𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴, 𝘬𝘢𝘬𝘪𝘮𝘶 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘣𝘶𝘳 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘯𝘢-𝘮𝘢𝘯𝘢."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mundur sambil mengatur napas. "𝘚𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢."

"𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘉𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘮𝘶𝘭𝘶𝘵𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘪𝘴𝘵𝘪𝘳𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵."

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 tersenyum, tetapi senyum itu perlahan menghilang ketika sesi latihan berlanjut.

Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

Kesalahan yang dilakukan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 pada percobaan pertama semakin jarang muncul. Footwork yang tadi terlalu lebar perlahan menjadi lebih ekonomis. Gerakan parry-nya mulai tepat, meskipun ia masih sering terlambat menghadapi kombinasi yang lebih cepat.

𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘣𝘢𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶?

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 teringat pengalamannya sendiri ketika pertama kali mempelajari teknik serupa.

Butuh latihan panjang untuk mengubah kebiasaan tubuh. Bahkan sekarang pun ia masih melakukan kesalahan apabila menghadapi lawan yang jauh lebih berpengalaman.

Sedangkan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻...

Baru dua minggu.

"𝘚𝘦𝘣?"

Suara 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membuyarkan pikirannya.

"𝘒𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢? 𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘬𝘪𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴."

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengangkat kepala. "𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘫𝘢𝘮𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘰𝘵𝘢𝘬 𝘤𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘶𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘮𝘪𝘯𝘨."

"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢, 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘶𝘭𝘶. 𝘓𝘦𝘭𝘶𝘤𝘰𝘯𝘮𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩."

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mendengus.

Namun sebelum melanjutkan latihan, ia kembali mencatat perkembangan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 pada tabletnya.

Adaptasi gerakan: meningkat terlalu cepat.

---

Menjelang siang, keduanya duduk di tepi ruang latihan.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyandarkan punggung pada dinding sambil menghabiskan air minumnya.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 membuka rekaman latihan mereka. "𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪."

Pada layar, tampak 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 kehilangan keseimbangan setelah mencoba melakukan counter.

"𝘎𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘢𝘩𝘢𝘮𝘪. 𝘔𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘰𝘯𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘯. 𝘉𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘶𝘵𝘦𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘬𝘦𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘮𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘭𝘢𝘨𝘪."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 meminta rekaman itu diputar ulang. Kali ini ia memperhatikan kaki kirinya yang terlambat bergeser, sepersekian detik sebelum tubuhnya miring.

"𝘑𝘶𝘫𝘶𝘳 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘚𝘦𝘣. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘫𝘢𝘶𝘩?"

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 tidak langsung menjawab. Ia menghentikan rekaman, membiarkan gambar 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 yang setengah terhuyung membeku di layar.

"𝘑𝘢𝘶𝘩. 𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘫𝘶𝘫𝘶𝘳, 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘰𝘭𝘦𝘴 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘉𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘚𝘋. 𝘈𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘴𝘪𝘮𝘶𝘭𝘢𝘴𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘶𝘳, 𝘱𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘙𝘦𝘨𝘢𝘭𝘪𝘢 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯, 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘪𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘩𝘶𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯-𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menunduk menatap kedua tangannya. "𝘋𝘶𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘺𝘢."

"𝘚𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵, 𝘪𝘺𝘢. 𝘚𝘪𝘢-𝘴𝘪𝘢, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬." 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menepuk bahunya. "𝘋𝘶𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘭𝘢𝘭𝘶, 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘬𝘶𝘭, 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘸𝘢. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘶𝘵."

"𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘰𝘭𝘦𝘩𝘮𝘶."

"𝘉𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘩𝘢𝘳𝘪, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯𝘬𝘶? 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘚𝘎𝘈 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tertawa.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 meletakkan tabletnya di lantai. Ketika ia bicara lagi, nada bercanda itu sudah hilang dari suaranya.

"𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘭, 𝘝𝘢𝘯. 𝘋𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘢𝘯𝘤𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘪𝘯. 𝘗𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘢𝘶 𝘬𝘶𝘢𝘴𝘢𝘪, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘬𝘯𝘪𝘬 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘩𝘦𝘣𝘢𝘵."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak langsung menjawab. Jarinya mengusap bekas luka di bahu, nyaris tanpa sadar.

"𝘈𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘪 𝘨𝘦𝘥𝘶𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶."

Kali ini 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 tidak membalas dengan candaan.

Ia tahu betul gedung mana yang dimaksud sahabatnya.

---

Malam harinya, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 kembali ke panti asuhan.

Setelah membantu merapikan beberapa perlengkapan dan memastikan anak-anak yang lebih kecil sudah menyelesaikan kegiatan mereka, ia masuk ke kamar.

Tubuhnya terasa lelah, tetapi tidak sampai mengganggu gerakan.

Ia duduk di depan meja belajar dan membuka jurnal latihan.

Beberapa halaman dipenuhi catatan mengenai stance, guard, footwork, defense, serta kesalahan yang masih harus diperbaiki.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menambahkan catatan baru.

Jangan mengorbankan keseimbangan demi counter.

Jangan menanggapi setiap feint.

Jaga napas dan jarak.

Setelah menutup jurnal, tangannya meraih map berisi dokumen Seleksi Hunter.

Satu per satu ia memeriksa berkas tersebut.

Hingga akhirnya, ia menemukan salinan hasil pemeriksaan CORE lamanya.

Di sana tertulis jelas:

NAMA: ERVAN NOIR

CORE RESONANCE COMPATIBILITY: 99%

CORE INSTALLATION PROGRESS: 0%

STATUS: BUG

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terdiam.

Selama bertahun-tahun, angka nol itu telah menentukan bagaimana orang lain memandangnya.

Anak yang gagal.

Pemuda yang mustahil menjadi Hunter.

Zero.

Namun kini ia mengetahui sesuatu yang belum diketahui kebanyakan orang.

CORE miliknya sudah aktif sepenuhnya.

Dan meskipun tubuhnya telah berubah, ia masih harus membuktikan bahwa dirinya mampu menggunakan kesempatan kedua itu.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melipat kembali dokumen tersebut, lalu mengalihkan pandangan menuju kalender.

"𝘌𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘩𝘢𝘳𝘪..."

Jari-jarinya mengetuk pelan permukaan meja.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, membayangkan dirinya berdiri di hadapan para penguji tidak lagi terasa seperti khayalan yang mustahil.

Tetapi ada satu hal yang juga ia sadari.

Orang-orang yang mengenalnya sebagai Zero belum tentu mengetahui bahwa dirinya telah berubah.

Dan empat hari lagi, mereka mungkin akan kembali mengucapkan julukan itu tepat di hadapannya.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menatap berkas seleksi sekali lagi.

Kali ini, ia tidak berniat menghindar.

— BAB 20 SELESAI —

1
Renjana
keren👍
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊
ラマSkuy
nice 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!