NovelToon NovelToon
WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:882
Nilai: 5
Nama Author: aina susiyanti77

Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.

Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.

karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.

Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.


Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.

Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?

Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 : Laki Laki yang Tidak Lagi Sama

Bang... bangun, Bang. Sudah sampai Jambi ini."

​Suara sopir travel itu membangunkan Prasetio, Ia tersentak kaget.​Mata cekung nya yang memerah dan berair terbuka pelan. Di luar kaca jendela yang pudar oleh debu jalanan, kilatan cahaya sore dan riuh kendaraan menyambutnya.

​"Sudah sampai ya Bang?" tanya Prasetio parau. Tenggorokannya terasa kering.

​"Iya, kita sudah masuk Kota Jambi ini," jawab sang sopir sembari melirik ramah dari kaca spion tengah. Tangannya santai memutar kemudi. "Abang mau turun di mana? Mau ke alamat mana ini?"

​Prasetio termenung. Pertanyaan sederhana itu mendadak membuatnya linglung, karena Ia memang tidak tau seputaran wilayah Jambi.

​"Saya... sebenarnya tidak ada alamat pasti, Bang Saya buta sama sekali daerah sini. Saya cuma mau cari teman masa kecil saya... dulu dia pernah cerita tinggal di daerah bernama Sungai Gelam. Abang tahu itu di mana?"

​Sopir travel itu menghela napas pelan, menatap Prasetio dari spion dengan rasa iba.

​"Waduh, kalau Sungai Gelam itu bukan di dalam kota lagi, Bang," ujar sopir itu dengan nada bicara yang halus dan menenangkan. "Itu sudah jauh masuk ke pedalaman, melintasi jalan perkebunan. Mobil travel kita kan cuma mengantar sampai pangkalan pasar induk kota. Mana bisa saya antar sampai jauh ke dalam sana."

​Prasetio menelan ludah yang terasa pahit. Kebingungannya makin menjadi-jadi, kepalanya terasa kosong. "Jadi... kira-kira saya harus bagaimana ya, Bang?"

​"Abang saya turunkan di pangkalan Pasar Induk saja," tutur sopir itu memberi saran. "Di sana pangkalan utamanya. Biasanya angkutan pedalaman atau mobil-mobil pick up pengangkut hasil perkebunan dari Sungai Gelam sering mangkal dan cari muatan di situ. Siapa tahu di sana Abang bisa bertanya-tanya atau menumpang."

​"Oh... begitu ya, Bang. Ya sudah, turunkan kami di pangkalan pasar itu saja," tutur Prasetio pasrah.

​Sopir travel itu lalu menepi di dekat deretan lapak pasar, mematikan mesinnya. Ia menoleh ke belakang, menatap Prasetio yang sedang merangkul Pak Burhan di jok penumpang, lalu bertanya dengan suara lembut.

​"Ada koper atau tas pakaian Abang di bagasi belakang yang mau diturunkan?"

​Prasetio tersenyum tipis sebuah senyuman getir dari jiwa nya yang saat ini sedang dalam keadaan terpuruk.

​"Tidak ada, Bang. Kami cuma membawa baju yang melekat di badan ini saja," jawab Prasetio lirih namun tenang.

​"Oh... ya sudah, hati-hati ya, Bang. Semoga lekas ketemu temannya," ucap sopir itu tulus.

​Dengan amat perlahan dan penuh kehati-hatian, Prasetio menyangga tubuh kaku Pak Burhan, merengkuh ayahnya rapat-rapat di dada, lalu melangkah keluar dari mobil.

​Pintu mobil ditutup pelan, tak lama kemudian travel itu berlalu setelah menerima ongkos dari Prasetio.

​Prasetio berdiri terpaku di tepi jalanan pasar yang becek. Di bawah terik matahari Jambi yang membakar kulit, lengannya yang menopang tubuh Pak Burhan mulai gemetar hebat.

​Prasetio melangkah perlahan menyusuri trotoar pasar, melewati genangan air kotor dan deretan lapak pedagang. Beberapa tukang ojek dan warga yang mangkal menatapnya dengan dahi berkerut tajam—heran melihat seorang lelaki dewasa berwajah lelah membopong orang tua lumpuh tanpa membawa satu pun tas, koper, atau kantong perbekalan.

​Dulu, tatapan menghakimi orang lain seperti itu pasti akan memancing amarah atau rasa risih Prasetio. Ia adalah pria yang hidup di atas panggung kehormatan dikendalikan oleh gengsi, harta, dan kesombongan.

​Namun hari ini, jangankan marah, rasa malu itu pun sudah mati.

​Napasnya memburu, keringat bercucuran membasahi pelipis, Prasetio tetap berjalan dengan ayah dalam gendongannya. Ia melihat sebuah warung kopi tua beratap seng yang sepi di sudut pasar. Ia melihat ada dua bangku panjang yang kosong di dalamnya, Prasetio masuk kemudian mendudukkan dengan sangat pelan dan hati hati di bangku itu.

​

​" Maafkan Ayah, Pras..." suara Pak Burhan terdengar serak dan terputus-putus. Air mata bening meluncur melintasi kerutan pipinya yang kusam, menetes tepat di atas ibu jari Prasetio. "Ayah... cuma b-bikin kamu susah...ayah menyusahkan kamu..

​"Sudah Jangan bicara begitu lagi, Yah," Jawab Prasetio tenang.

"Teh nya Bu dua dan mi goreng juga dua porsi bu. " Prasetio memesan minuman pada pemilik kedai.

"Baik bang?! " Jawab ibu itu.

​Prasetio duduk sambil tangannya melindungi Sang Ayah takut kalau ayahnya jatuh, tiba tiba dia ingat anak anak nya Shifa dan Naura yang berada di Pekan Baru, ke dua putrinya itu sangat manja dan dekat dengan dirinya "ah anak anak yang harus jadi korban. " Desah Prsetio.

Tak lama kemudian Si Ibu datang membawa pesanan dua mangkuk mi goreng dan dua gelas teh hangat. Si Ibu tersenyum ramah meletakkan pesanan itu di depan meja prasetio.

"Minum dulu Yah teh nya selagi hangat. " Prasetio mendekatkan gelas teh itu ke bibir ayahnya tapi sang ayah nampak kesusahan kalau harus minum langsung seperti itu.

"Ibu ada pipet nggak ya?! " Tanya Prasetio sopan pada Ibu pemilik warung.

"Oh ada nak, sebentar Ibu ambilkan. " Ibu warung itu mendekat memberikan pipet panjang bewarna hijau pada Prasetio, "Terimakasih Bu. " Ujar Prasetio menerima pipet yang di berikan si Ibu.

Prasetio mendekatkan kembali gelas yang berisi teh hangat itu ke bibir Pak Burhan Ayahnya. Dengan telaten pipet itu di masukkan ke dalam mulut Pak Burhan. Secara perlahan Pak Burhan mulai menyedot teh hangat yang ada dalam gelas. "Cukup." Ujar Pak Burhan setelah menghabiskan setengah gelas teh hangat.

"Kamu makanlah dulu Pras. " Ujar Ayahnya.

"Iya Yah. " Prasetio mulai menyuapkan mi goreng dalam mangkuk yang ada di depannya.

"Sebenarnya kita mau ke mana Pras? " Tanya Pak Burhan pelan.

"Ada sahabat Saya bernama Pandi, dia berada di Desa Sungai Gelam yah. " Jawab Prasetio.

"Apa Pras Sungai Gelam?" Tanya ayahnya seakan terkejut.

Prasetio memandang ayahnya heran, saat ayahnya terkejut ketika nama daerah Sungai Gelam di sebutkan.

"Mengapa? apa ayah tahu tempat itu?! "

"Engggg tidak Pras tidak apa apa. "

"Ya sudah sekarang ayah makan dulu, biar pras suap yah? " Ayahnya menganggukkan kepala, lalu membuka mulutnya dan mulai mengunyah dengan sangat pelan setiap mi yang Prasetio suapin ke dalam mulutnya.

Area seputaran pasar itu mulai terlihat sepi tidak terlalu banyak lagi kendaraan umum yang lewat. Seraya menyuapi ayahnya Dia teringat akan Maya, "Ah seperti inilah Maya merawat ayah setiap hari." Batinnya

Ada kekhawatiran dalam dadanya terhadap Maya, entah mengapa tiba tiba dia gelisah memikirkannya. Dia takut dengan kejahatan Prilia dan Ibunya, akankah mereka masih nekat untuk menyingkirkan Maya? Prasetio tenggelam dalam lamunannya.

Bersambung

1
Night Watcher
pak burhan?
Aina Senja: Trimakasi kk koreksinya🙏🙏😍
total 1 replies
Night Watcher
satu halaman diulang😇
Aina Senja: iya salah kirim kk, mau perbaikan tapi lagi di audit jadi belum berani kotak katik dulu, sebelum turun kontrak🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
kok nasi?
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
Aina Senja: hoho iya iya😍😍trimaksi kk
total 1 replies
Night Watcher
tadi pas prilia yg menyeret langkah kakinya mundur, lantainya kayu.
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇
Aina Senja: trimakasi kk, ini dia yg ku tunggu komen yg membangunkan tidurku 😍😍😍
total 1 replies
Night Watcher
mulai bosan,
Night Watcher
ngapain masih ngurusin karung bangkai yg nyimpen & ngelindungi para penyakit itu mayaaa..?!!
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kamu kuat maya. kamu tidak salah. mereka sendiri yang mengundang mu. kamu datang dengan niat tulus
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kasihan kamu. padahal kamu datang bukan sebagai pelakor
Aina Senja: trimakasi kk sudah mau mampir😍
total 1 replies
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
oh akhirnya aku paham. memang tak selamanya istri kedua itu di utamakan
Aina Senja: begitulah nasib istri ke dua🥲🥲
total 1 replies
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kok bisa Thor. aku masih belum paham?
Aina Senja: yg mana kk?
total 1 replies
Night Watcher
jangan kelamaan susahnya.. mulai trik² menjatuhkan lawan & nikmati sedikit² kebahagiaan.
Aina Senja: siap bosku
total 1 replies
Night Watcher
coba mampir... mudah²an cerita sengsaranya gak kesuwen..
Aina Senja: sangat tersanjung dengan hadirnya dirimu😍😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!