Selama lima tahun, Nadira Suryani rela membiayai keluarga mertuanya. Namun, kesabarannya habis setelah mengetahui putrinya, Naya, selalu diperlakukan berbeda dari cucu laki-laki mereka. Bahkan, ibu mertuanya diam-diam mengambil jatah biaya sekolah Naya untuk diberikan kepada cucunya.
Ditambah suaminya yang selalu lebih mementingkan keluarganya sendiri, Nadira akhirnya memutuskan untuk bercerai. Kali ini, ia tidak akan membiarkan keluarga mertuanya terus memanfaatkannya dan akan membuat mereka merasakan akibat dari semua perbuatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Baikan?
Arhan segera menoleh ke arah sang istri yang memilih untuk memalingkan wajahnya sata ditatap suaminya. Arhan segera berdiri dan meraih tangan Nadira dengan lembut.
"Sayang, maaf.. aku sungguh meminta maaf kepadamu," ujarnya.
Nadira segera menarik tangannya, ia menatap dingin ke arah suaminya. "Kenapa? Apa keluarga kamu ga ngizinin kamu untuk bercerai denganku?"
Nadira segera menarik tangan Naya untuk masuk ke dalam rumah itu. Namun, Arhan buru buru menahan tangannya.
"Biarkan aku menjelaskan masalah ini Nadira, aku berjanji akan merubah sikap burukku yang begitu menyakitimu."
Nadira menghentikan langkahnya ketika Arhan menahan tangannya. Wanita itu menoleh, menatap suaminya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada kekecewaan, kelelahan, dan luka yang selama ini berusaha ia sembunyikan di balik sikap tenangnya.
"Berubah?" ulang Nadira pelan. Ia tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan. "Kamu selalu mengatakan hal yang sama, Arhan. Setiap kali kamu menyakitiku, kamu datang, meminta maaf, lalu berjanji akan berubah. Tapi setelah itu apa? Kamu kembali melakukan hal yang sama."
Arhan terdiam. Jemarinya yang semula menggenggam tangan Nadira perlahan mengendur.
"Aku tahu aku salah, Sayang. Aku tahu selama ini aku terlalu sering mengabaikanmu. Tapi kali ini aku benar-benar ingin memperbaiki semuanya."
"Kenapa sekarang?" tanya Nadira, memotong ucapan suaminya.
Arhan mengerutkan kening.
"Kenapa kamu baru ingin memperbaiki semuanya sekarang, setelah aku pergi dari rumahmu? Kenapa bukan ketika aku masih berada di sana, menunggumu pulang setiap malam? Kenapa bukan ketika aku berulang kali menghubungimu hanya untuk memastikan kamu baik-baik saja, tetapi kamu bahkan tidak punya waktu untuk mengangkat teleponku?"
Suara Nadira bergetar. Ia berusaha mempertahankan ketenangannya, tetapi mengingat semua kejadian itu membuat dadanya kembali terasa sesak.
"Dulu aku selalu berpikir bahwa mungkin kamu memang sibuk. Mungkin pekerjaanmu terlalu banyak. Mungkin ada sesuatu yang membuatmu harus pergi ketika ibumu memanggil. Aku terus mencari alasan untuk membenarkan sikapmu, Arhan. Aku bahkan menyalahkan diriku sendiri karena merasa tidak cukup baik menjadi istrimu. Bahkan kamu saja tidak bisa membela ku di depan keluargamu."
Arhan menundukkan kepalanya.
"Tapi sekarang aku lelah," lanjut Nadira. "Aku lelah menjadi satu-satunya orang yang berusaha mempertahankan pernikahan ini. Aku lelah harus memahami keadaanmu, sementara kamu tidak pernah berusaha memahami perasaanku."
"Sayang, aku—"
"Dan sekarang kamu datang ke sini karena apa?" Nadira menatapnya tajam. "Karena kamu merindukan Naya? Karena kamu baru sadar bahwa kamu punya seorang anak yang membutuhkan kehadiran ayahnya? Atau karena keluargamu tidak mengizinkan kita bercerai?"
Arhan terdiam mendengar pertanyaan terakhir itu. Ia memang datang setelah berbicara dengan keluarganya. Ibunya menentang keinginannya untuk berpisah dari Nadira, sementara beberapa anggota keluarganya yang lain juga mulai mempertanyakan keputusannya. Namun, bukan itu satu-satunya alasan yang membuatnya berada di rumah tersebut.
Ia datang karena sejak Nadira pergi, rumahnya terasa begitu kosong. Tidak ada lagi suara istrinya yang menyambut kepulangannya. Tidak ada lagi Nadira yang mengingatkannya untuk makan atau menunggunya meskipun ia pulang larut malam.
Dan yang paling menyakitkan, ia baru menyadari betapa besar peran wanita itu dalam kehidupannya setelah semuanya tidak lagi berada dalam jangkauannya. Dan yang terpenting ia baru tahu bahwa ibunya tidak benar benar menganggapnya.
"Bukan karena mereka," jawab Arhan akhirnya. "Aku datang karena aku tidak ingin kehilangan kalian."
Nadira tertawa kecil tanpa kebahagiaan.
"Kamu tidak ingin kehilangan kami, tetapi selama ini kamu tidak pernah takut membuat kami terluka."
Kalimat itu membuat Arhan membeku. Di samping mereka, Naya yang sejak tadi berdiri sambil memegangi ujung baju ibunya mulai mendongak. Gadis kecil itu memperhatikan kedua orang tuanya bergantian. Ia tidak sepenuhnya memahami pembicaraan mereka, tetapi ia tahu bahwa papanya sedang berusaha membujuk mamanya untuk kembali.
"Papa," panggil Naya pelan.
Arhan segera menoleh. Ia berusaha tersenyum kepada putrinya meskipun hatinya terasa semakin berat.
"Iya, Sayang?"
Naya menatapnya dengan wajah serius. "Papa mau mengajak Mama pulang ke rumah kita lagi?"
Arhan terdiam sesaat sebelum mengangguk. "Iya, Sayang. Papa ingin kalian pulang. Kamu mau pulang bersama papa kan?"
Naya menggigit bibir bawahnya. Ia melirik Nadira yang berdiri dengan wajah lelah, kemudian kembali menatap ayahnya.
"Tapi Mama nggak mau pulang. Naya juga senang di sini."
Arhan merasakan dadanya seperti diremas. "Papa tahu. Karena itu Papa sedang berusaha berbicara dengan Mama."
Naya mengangguk pelan. Ia kemudian melangkah mendekati ayahnya dan menarik ujung kemeja pria itu.
"Papa, kalau Papa sayang sama Mama, kenapa Papa sering bikin Mama menangis? Kasihan sekali saat mama menangis."
Arhan terdiam. Pertanyaan sederhana itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada semua teguran yang pernah ia terima dari orang dewasa. Ia menatap wajah mungil putrinya, mencari jawaban yang bisa menjelaskan kesalahannya tanpa membuat anak itu semakin kecewa.
Namun, tidak ada satu pun alasan yang pantas ia gunakan untuk membenarkan sikapnya selama ini.
"Papa salah, Sayang," jawabnya lirih. "Papa terlalu sering membuat Mama sedih. Papa juga terlalu sibuk memikirkan hal lain sampai lupa kalau Mama membutuhkan Papa."
"Kalau begitu, Papa jangan bikin Mama menangis lagi."
Arhan mengangguk cepat. "Iya. Papa janji. Papa tidak akan membuat mama menangis lagi."
Naya justru menggeleng kecil. "Jangan janji saja, Pa."
Arhan tertegun.
Gadis kecil itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Soalnya Papa pernah janji mau datang ke acara sekolah Naya. Tapi Papa nggak datang. Naya sudah menunggu Papa lama sekali."
Arhan merasakan tenggorokannya tercekat. Ia masih mengingat hari itu. Ada pertemuan penting yang harus ia hadiri, dan ketika Naya menghubunginya, ia berjanji akan menyusul setelah urusannya selesai. Namun, ia tidak pernah datang.
Saat itu, ia menganggap Naya masih kecil dan akan melupakan kejadian tersebut. Ia bahkan tidak menyadari bahwa putrinya terus menunggunya sampai acara berakhir.
"Papa minta maaf, Sayang," bisiknya.
Naya mengusap matanya dengan punggung tangan.
"Naya sayang sama Papa. Naya juga kangen dipeluk Papa. Tapi Naya nggak suka kalau Papa bikin Mama sedih."
Arhan segera berlutut di hadapan putrinya. Ia menggenggam kedua tangan kecil Naya, kemudian mengecupnya dengan lembut.
"Papa mengerti, Sayang."
"Naya mau Papa datang kalau Naya ada acara di sekolah. Naya juga mau Papa pulang kalau Mama menunggu Papa. Jangan pergi terus ke rumah Nenek."
Arhan menunduk. Matanya terasa panas, tetapi ia berusaha menahan air mata di hadapan putrinya.
"Iya, Sayang. Papa akan berusaha menjadi ayah yang lebih baik."
Naya mengangguk kecil, kemudian memeluk ayahnya sekali lagi. Arhan membalas pelukan itu erat-erat, menikmati kedekatan yang selama ini sering ia abaikan.
Namun, di balik pelukan tersebut, ia menyadari satu hal. Memperbaiki hubungannya dengan Naya mungkin masih bisa ia usahakan. Akan tetapi, mendapatkan kembali kepercayaan Nadira bukanlah sesuatu yang bisa ia tuntut hanya karena ia telah meminta maaf.
Apalagi, wanita itu kini berdiri beberapa langkah darinya dengan sorot mata yang tidak lagi menunjukkan harapan seperti dahulu.
"Naya, Sayang, kamu mau bermain sebentar sama nenek ya?" tanya Nadira setelah beberapa saat.
Naya melepaskan pelukannya dari Arhan, kemudian menoleh kepada ibunya. Ia lalu mengangguk dan kembali masuk ke dalam rumah itu. Setelah Naya pergi Nadira segera menatap suaminya itu.
"Kalau kamu kesini hanya untuk membahas perceraian, lebih baik pergi! Aku tidak akan mengubah keputusanku."
aku udh mmpir....slm knal....
dr awl udh d bkin emosi....ko ada y wnita s'ga waras itu,yg lbh syng cucu laki2 drpdd ccu prmpuan.....mna hsil nyolong pula....kl aku jd nadira,dr lma udh usir mreka biar jd gmbel.....😡😡😡