NovelToon NovelToon
WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:888
Nilai: 5
Nama Author: aina susiyanti77

Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.

Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.

karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.

Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.


Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.

Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?

Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 :Kebenaran di Balik Debu Lemari Tua

​"Ibu..."

​Mendadak ku dengar suara Siska yang sudah berada dalam kamar,dia masuk dari pintu belakang yang memang tidak aku kunci.

"Kamu sudah pulang?" Ku lihat anak ku itu sedikit pucat.

"Kepala Siska pusing Bu, Ibu guru menyuruh Siska pulang." Anakku menjawab lemah.

​

Tanpa pikir panjang, ku ambil kartu atm ku terserah masalah obat ayah tagihan listrik dan yang lain lain, yang pasti aku harus beli obat dulu buat anak ku, "Siska diam dulu di rumah ya, Ibu keluar sebentar, tidak lama Ibu cuma mau beli obat dan susu Rian. " Pesan ku padanya.

​Siska mengangguk lemah, aku bergegas menuju brilink yang ada di sebrang rumah mertuaku ini melalui pintu depan melewati ruang tamu.

Sesampainya di sana aku segera menarik secukupnya, karena brilink itu sekalian menyediakan sembako lengkap, ku belanjakan semua kebutuhan dapurku. Susu Rian beras minyak dan semua kebutuhan dapur yang memang sudah habis tidak lupa Paracetamol obat untuk Siska.

Setelah merasa cukup apa yang aku butuhkan aku langsung pulang ke rumah secepatnya. Bergegas aku membuka pintu dapur langsung menuju kamar tidurku, ku lihat Siska tertidur. Saat ku sentuh tangannya Ya Allah suhu badan anakku itu panas sekali.

​"Nak bangun dulu sayang? minum dulu obat ini ya, ayo? " Aku membangunkan Siska dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.

Perlahan Siska membuka matanya, kornea matanya nampak sangat merah aku yakin itu karena suhu badannya yang memang sangat panas. " Makan dulu roti ini ya, lalu minum obat ya nak?" ucapku lembut.

Siska membuka mulutnya makan roti tawar yang aku suap. Setelah habis satu keping roti aku minumkan obat parasetamol yang aku beli tadi. kemudian Siska tidur lagi.

Aku segera bergegas pergi ke dapur untuk memasak nasi secepatnya dan menggoreng telur seadanya.

"Maya..... " Saat aku masih di dapur terdengar erangan ayah mertuaku memanggil. Aku pun berjalan menuju kamarnya.

​Ku lihat Pak Burhan masih terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang. Matanya terpejam rapat, dan dadanya naik turun dengan napas yang memburu halus.

Kerutan di keningnya yang dalam seolah menandakan bahwa dalam tidurnya pun, ia terus dikejar oleh bayang-bayang rasa bersalah yang tak terobati hingga mengigau. Tapi dalam iga uannya justru memanggil namaku. 'Ah rupanya lagi mimpi" batinku setelah melihat keadaan Beliau di dalam kamar.

Aku teringat tentang obat ayah mertuaku itu yang harus ku tebus, "tapi uang itu sudah aku belanjakan," haaaaaa aku mendesah panjang.n

Lalu terpikir dalam otak ku mencari berkas pengobatan Pak Burhan "ah siapa tau masih ada kwitansi yang bisa aku cairkan untuk menebus obat Beliau". Aku bicara sendiri.

​Aroma kayu jati tua dan kertas lapuk yang khas langsung menyengat indra penciumanku. Di tengah kesunyian kamar yang mencekam, suara gesekan kain dasterku saja terasa begitu nyaring. Jantungku berdegup.

Ketakutan membayangkan Pak Burhan tiba-tiba terbangun atau ada orang lain yang mendobrak pintu belakang membuat jemariku gemetar hebat saat menggeledah tumpukan map di rak bagian bawah.

​Napas ku atur sembunyi-sembunyi, sangat perlahan, takut desah nafasku memicu gerakan dari tubuh tua yang terbaring di ranjang itu. Aku butuh berkas asuransi atau kartu berobat Pak Burhan—apa saja yang bisa dicairkan—tetapi pencarianku sama sekali tak berjalan mudah.

​Tumpukan map di dalam lemari ini begitu berantakan dan tebal. Map-map plastik yang kaku saling mengunci satu sama lain. Setiap kali aku mencoba menarik satu map, lembaran kertas di dalamnya ber kresek nyaring, membuatku refleks menahan napas dan menghentikan gerakanku seketika.

​Deg!

​Tiba-tiba terdengar erangan dari atas ranjang. Kasur berdecit pelan. kulihat kepala Pak Burhan bergerak gelisah ke kiri dan ke kanan, jemarinya yang kurus mencengkeram sprei.

​"Ma... Maya..." gumamnya lagi dalam igauan, suaranya parau dan berat.

​ Aku menunduk dalam-dalam, menutup mata rapat-rapat, berdoa agar Beliau tidak membalikkan badan dan memergokiku merogoh isi lemarinya.

Detik-detik berlalu terasa bagai hitungan jam yang menyiksa. Setelah erangannya mereda dan ritme napasnya kembali teratur perlahan-lahan aku berani membuka mata.

​Dengan sisa keberanian yang ada, jemariku yang kaku kembali menyusup ke sela-sela tumpukan paling bawah. Ada satu map plastik biru tebal yang tersangkut di balik lipatan kertas karton tua.

Aku mencengkeram ujungnya, menariknya dengan sangat hati-hati, berusaha menahan gesekan kertas agar tidak menimbulkan suara.

​Namun, karena panik dan terburu-buru, sudut map biru itu tersangkut pada tali pengikat tumpukan di atasnya.

​Sret! Bruk!

​Tali benang pengikat yang sudah lapuk itu terputus seketika! Sebuah amplop cokelat tebal berdebu berukuran besar yang tersembunyi di paling belakang ikut terseret, jatuh terhempas ke atas lantai.

​Isinya terhambur keluar. Kertas-kertas tebal berstempel resmi berserakan tepat di depan lututku. Suara jatuhnya amplop itu menggema di kamar yang sunyi.

​"Siapa itu?" suara Pak Burhan terdengar agak lebih jelas dari sebelumnya, matanya bergerak-gerak di balik kelopak yang terpejam, seolah berjuang keras untuk terbuka.

​ Dengan tangan gemetar tak terkendali, aku berlutut cepat, memungut lembaran-lembaran kertas itu sekilat mungkin. Aku harus membereskannya sebelum mata tua itu terbuka sempurna!

​Namun, saat jemariku menyentuh lembaran pertama dan hendak memasukkannya kembali secara acak, mataku menyipit menangkap tulisan berukuran besar di bagian atas kertas segel yang mulai menguning tersebut. Gerakan tanganku mendadak terkunci rapat. Mataku terbelalak, tak percaya dengan apa yang baru saja kubaca.

​SURAT PERJANJIAN PENYERAHAN ASET DAN HAK MILIK LAHAN

​Dahiku berkerut tajam. Di kertas putih yang sudah nampak menguning itu terukir namaku—Maya Restianti dan nama almarhum ayah kandungku. Hendra Wijaya tertulis jelas di atas kertas segel sebagai pemilik sah atas lahan perkebunan kelapa sawit seluas ratusan hektar di daerah Riau. Yang di kelola oleh CV ABADI PERMAI.

​ Jemari ku bergetar hebat bukan lagi karena takut, melainkan shock yang luar biasa—aku membentangkan lembaran kedua. Kertas itu berisi SURAT PENGALIHAN HAK KELOLA SEMENTARA atas nama Prasetio Utomo. Surat pengalihan itu ditandatangani sekitar sepuluh tahun yang lalu.

​Serta ada catatan yang tertulis bagai kan sebuah perjanjian.

​"Seluruh modal usaha, dan aset perkebunan adalah hak mutlak milik keluarga Hendra Wijaya. Jika terjadi sesuatu padaku kelak, Pras wajib mengembalikan seluruh hak milik anak Hendra (Maya), atau menanggung kehancuran dan kutukan dunia akhirat."

​Deg!

​Pandanganku mendadak kabur. Rasa tak percaya akan kenyataan ini seakan membuat mataku terasa gelap.

​"Jadi ini... ini utang besar yang Paman maksudkan tadi?" bisikku lirih, suaraku seakan tercekat penuh di tenggorokan.

​

​Tiba-tiba suara Rian yang datang menyusul ku ke kamar. Aku memeluk amplop cokelat tebal itu erat-erat di dalam dekapan dadaku.

Ku letak kan kembali amplop itu aku berdiri menghampiri Rian anak ku.

Bersambung

​

1
Night Watcher
pak burhan?
Aina Senja: Trimakasi kk koreksinya🙏🙏😍
total 1 replies
Night Watcher
satu halaman diulang😇
Aina Senja: iya salah kirim kk, mau perbaikan tapi lagi di audit jadi belum berani kotak katik dulu, sebelum turun kontrak🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
kok nasi?
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
Aina Senja: hoho iya iya😍😍trimaksi kk
total 1 replies
Night Watcher
tadi pas prilia yg menyeret langkah kakinya mundur, lantainya kayu.
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇
Aina Senja: trimakasi kk, ini dia yg ku tunggu komen yg membangunkan tidurku 😍😍😍
total 1 replies
Night Watcher
mulai bosan,
Night Watcher
ngapain masih ngurusin karung bangkai yg nyimpen & ngelindungi para penyakit itu mayaaa..?!!
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kamu kuat maya. kamu tidak salah. mereka sendiri yang mengundang mu. kamu datang dengan niat tulus
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kasihan kamu. padahal kamu datang bukan sebagai pelakor
Aina Senja: trimakasi kk sudah mau mampir😍
total 1 replies
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
oh akhirnya aku paham. memang tak selamanya istri kedua itu di utamakan
Aina Senja: begitulah nasib istri ke dua🥲🥲
total 1 replies
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kok bisa Thor. aku masih belum paham?
Aina Senja: yg mana kk?
total 1 replies
Night Watcher
jangan kelamaan susahnya.. mulai trik² menjatuhkan lawan & nikmati sedikit² kebahagiaan.
Aina Senja: siap bosku
total 1 replies
Night Watcher
coba mampir... mudah²an cerita sengsaranya gak kesuwen..
Aina Senja: sangat tersanjung dengan hadirnya dirimu😍😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!