Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.
Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32.Batas di Ambang Batas
Udara di dalam gubuk bambu hitam itu terasa semakin pekat dan menyesakkan. Ciuman Sulung tidak lagi sekadar menuntut, melainkan telah berubah menjadi badai yang melahap habis sisa-sisa kesadaran Hera Grahansa.
Aroma kayu gaharu, tanah basah, dan hawa maskulin yang menguar dari tubuh pria itu mengunci seluruh indra Hera.
Hera mele-nguh pelan, jemarinya yang masih terbungkus sarung tangan lapangan kotor meremas bahu kekar Sulung semakin erat. Setiap jengkal sentuhan Sulung di ceruk lehernya memicu sengatan listrik yang melumpuhkan akal sehatnya. Logika sains, rumus molekuler, dan status profesornya menguap, digantikan oleh insting primitif yang mendesak.
"Sulung, ah_" des-ah Hera, suaranya parau dan terputus-putus.
Sulung tidak menjawab dengan kata-kata. Napasnya yang memburu dan panas menerpa kulit leher Hera yang sensitif. Tangan besar pria itu merayap naik dari pinggang, menyusup di balik jaket lapangan Hera yang tebal, mencari kehangatan kulit di baliknya.
Cengkeramannya kuat namun sarat akan proteksi, mengangkat sedikit tubuh Hera agar semakin melekat tanpa jarak pada dada bidangnya yang telan-jang.
Hera mendongakkan kepala, memberikan akses yang lebih luas. Sudut hatinya berbisik untuk menyerah sepenuhnya. Dia lelah bertarung, lelah menjadi wanita kota yang selalu dituntut rasional. Di atas kasur tanaman merambat ini, di bawah kungkungan pria rimba ini, dia hanya ingin menjadi wanita seutuhnya.
Di ambang kekhilafan yang nyaris di luar kendali, Hera mulai melonggarkan cengkeramannya di bahu Sulung, bersiap membiarkan pria itu menuntunnya melompati batas jurang gai-rah.
Namun, tepat ketika Hera siap menyerahkan seluruh dirinya, gerakan Sulung mendadak terkunci.
Tubuh besar yang menindih Hera itu menegang. Terdengar suara geraman rendah yang tertahan di tenggorokan Sulung, seperti seekor predator yang sedang bertarung sengit dengan dirinya sendiri.
"Sulung?"
bisik Hera, matanya yang sayu dan dipenuhi kabut gairah mencoba menatap wajah pria di atasnya dalam keremangan sisa bara api tungku.
Sulung tidak bergerak. Napasnya yang berat mengalun di dekat telinga Hera. Jantung pria itu berdegup sama kencangnya, menghantam dada Hera bertubi-tubi.
Perlahan tapi pasti, dengan kekuatan kontrol diri yang luar biasa kokoh, Sulung menarik kembali tangannya yang berada di dalam jaket Hera. Pria itu menjauhkan wajahnya, lalu bangkit berdiri dari atas kasur tanaman merambat.
Hera tere-ngah-en-gah di atas ranjang, mendadak merasa kedinginan saat tubuh besar yang menyelimutinya tadi menyingkir. Dia menatap Sulung dengan tatapan bingung dan linglung. Kesadarannya perlahan-lahan kembali, merayap masuk membawa rasa malu dan keterkejutan yang luar biasa atas apa yang baru saja hampir ia lakukan.
Sulung berdiri membelakangi ranjang. Punggungnya yang tegap naik turun dengan ritme napas yang tidak teratur. Otot-otot lengannya mengencang, dan tangan kanannya mencengkeram erat hulu Khanjar purba yang terselip di pinggangnya, seolah mencari pegangan untuk menenangkan badai di dalam dadanya.
"Kenapa?"
Suara Hera terdengar sangat lirih, hampir seperti bisikan angin malam.
Sulung tidak langsung berbalik. Dia memejamkan mata sejenak, menetralisir gemuruh insting teritorialnya yang nyaris membuat dia melewati batas suci hukum Alas Purba. Setelah beberapa detik yang menegangkan, dia menoleh sedikit, memperlihatkan rahangnya yang mengeras.
"Kau bukan wanita dari rimba ini, Hera," kata Sulung. Suaranya terdengar berat, dalam, dan bergetar karena menahan diri. "Rasa ini, bisa membunuh logikamu. Dan aku tidak mengambil apa yang tidak seharusnya menjadi milikku secara terpaksa."
"Aku tidak terpaksa," kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Hera sebelum dia sempat menyaringnya. Begitu menyadari apa yang dia katakan, Hera langsung menggigit bibir bawahnya, wajahnya memerah padam karena malu.
Sulung membalikkan tubuhnya sepenuhnya, menatap Hera yang masih terduduk lemas di atas kasur dengan pakaian yang sedikit berantakan. Sorot mata pria itu tidak lagi liar seperti beberapa menit lalu, melainkan tajam dan dingin, walau sisa gai-rah masih tersirat di sana.
"Kau khilaf," cetus Sulung pendek. "Otak kotamu sedang mati karena udara malam. Besok, saat matahari terbit, kau akan menyesali malam ini jika kita meneruskannya."
Hera terdiam. Kata-kata Sulung menghantamnya tepat di dada. Sisi profesornya yang angkuh mendadak bangun dari tidur panjangnya. Sulung benar. Apa yang dia pikirkan tadi? Bagaimana bisa seorang Grahansa hampir menyerahkan kehormatannya pada seorang pria asing di tengah hutan belantara yang tidak tersentuh peradaban?
"Kau, kau meremehkanku?" tanya Hera, mencoba membangun kembali dinding pertahanannya yang runtuh berkeping-keping. Suaranya mulai kembali tegas, walau masih ada getaran di sana.
Sulung mendengus pelan, sebuah tawa hambar yang sinis. "Aku justru sedang menyelamatkanmu dari dirimu sendiri, Ilmuwan."
Sulung melangkah mundur, menjauh dari ranjang tanaman merambat tersebut. Dia mengambil sehelai kain tenun kasar yang tergeletak di sudut gubuk, lalu melemparkannya ke pangkuan Hera.
"Pakai itu. Hawa malam Alas Purba bisa membuat orang waras menjadi gila," ujar Sulung dingin.
Hera menerima kain itu, meremasnya erat-erat untuk menyembunyikan tangannya yang masih bergetar hebat. "Lalu kau mau ke mana?"
"Udara di dalam sini terlalu panas," jawab Sulung singkat tanpa menatap Hera lagi. "Aku butuh angin malam."
Tanpa menunggu jawaban atau protes lebih lanjut dari Hera, Sulung membalikkan badan dengan gerakan cepat yang efisien. Langkah kakinya yang ringan tanpa suara membawanya menuju pintu gubuk bambu hitam. Dia mendorong pintu anyaman itu, lalu melangkah keluar ke atas dahan pohon raksasa yang menjadi fondasi tempat tinggal mereka.
Brak.
Pintu anyaman bambu tertutup rapat, menyisakan keheningan yang mencekam di dalam gubuk.
Hera menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan perlahan. Dia menyandarkan punggungnya pada dinding gubuk, memeluk lututnya, dan menyelimuti tubuhnya dengan kain tenun yang diberikan Sulung. Jantungnya masih berdegup kencang, namun kabut gairah yang tadi menguasainya kini telah sirna sepenuhnya, digantikan oleh rasa campur aduk antara malu, bingung, dan kekaguman yang aneh.
Di luar gubuk, angin malam Alas Purba berembus kencang, menerpa wajah Sulung yang berdiri di tepi dahan besar. Pria itu memandang ke arah kegelapan hutan yang luas di bawahnya.
Dia menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara sedingin es mengisi paru-parunya, mencoba meredakan sisa-sisa api yang masih membakar gairahnya di dalam gubuk tadi.
Kontrol diri seorang Panglima rimba telah diuji malam itu, dan dia berhasil memenangkannya—meski dengan harga pertarungan batin yang teramat sangat menyiksa.
Kembali, Sulung menghela nafasnya, wanita itu, yang seorang perempuan bernama Hera, perlahan tapi pasti merayap menelan hatinya, dan hal itu semakin membuat Sulung antisipasi akan perasaan nya, bagaimana pun pada akhirnya Hera akan berusaha kembali ke dunianya seperti sedia kala.
Jangan lupa komennya.