Selama lima tahun, Nadira Suryani rela membiayai keluarga mertuanya. Namun, kesabarannya habis setelah mengetahui putrinya, Naya, selalu diperlakukan berbeda dari cucu laki-laki mereka. Bahkan, ibu mertuanya diam-diam mengambil jatah biaya sekolah Naya untuk diberikan kepada cucunya.
Ditambah suaminya yang selalu lebih mementingkan keluarganya sendiri, Nadira akhirnya memutuskan untuk bercerai. Kali ini, ia tidak akan membiarkan keluarga mertuanya terus memanfaatkannya dan akan membuat mereka merasakan akibat dari semua perbuatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Cepat kembalikan
Imah langsung terkejut mendengar penjelasan wanita tersebut. Senyum puas yang sejak tadi menghiasi wajahnya seketika menghilang.
"Apa maksud Anda? Kenapa kami tidak diperbolehkan masuk? Ini apartemen milik menantu saya!" serunya dengan nada tinggi.
Wanita itu tetap bersikap tenang. "Saya sudah menjelaskan sebelumnya, Bu. Unit ini memang milik Nona Nadira. Namun, beliau memiliki hak penuh untuk menentukan siapa saja yang diperbolehkan memasuki unit tersebut."
Imah menggelengkan kepala tidak percaya. "Tidak bisa begitu! Saya ini ibu mertuanya. Jordi adalah suaminya, sedangkan Rania adalah adik iparnya. Kami ini keluarga! Apa Anda tidak mengerti?"
"Maaf, Bu. Hubungan keluarga tidak serta-merta memberikan hak kepada seseorang untuk memasuki properti milik orang lain tanpa izin pemiliknya."
Jordi yang sejak tadi berusaha menahan kekesalannya akhirnya ikut angkat bicara.
"Begini, Bu. Kami sudah datang jauh-jauh ke sini membawa barang-barang. Apa tidak bisa diberikan sedikit kelonggaran? Kami hanya ingin tinggal di sini, bukan melakukan sesuatu yang merugikan pihak apartemen."
Wanita itu menggeleng pelan. "Saya mengerti, Pak. Namun, saya tidak bisa melanggar instruksi pemilik unit. Apalagi nama Bapak dan Ibu sudah masuk dalam daftar orang yang tidak diperkenankan mengakses area apartemen ini."
"Apa? Bahkan nama kami sudah dicatat?" Imah membelalakkan matanya.
"Benar, Bu. Kami juga sudah menerima pemberitahuan resmi dari Nona Nadira."
Imah langsung meremas tali tas yang dibawanya. Ia benar-benar tidak menyangka Nadira akan bertindak sejauh itu. Selama ini, ia selalu menganggap menantunya tersebut sebagai wanita yang bisa diperlakukan sesuka hati. Namun, kali ini Nadira justru mempermalukannya di hadapan banyak orang.
"Kurang ajar! Berani sekali perempuan itu memperlakukan keluarga suaminya seperti ini!" geramnya.
Rania yang mulai merasa malu karena beberapa penghuni apartemen memperhatikan mereka segera mendekati Imah.
"Bu, sebaiknya kita jangan ribut di sini. Banyak orang yang melihat," bisiknya.
"Bagaimana Ibu bisa diam saja? Kita sudah datang sampai sini, bahkan barang-barang kita sudah dibawa!"
Jordi mengusap wajahnya kasar. Ia kemudian menatap wanita pengelola apartemen tersebut.
"Kalau begitu, bisakah Anda menghubungi Nadira sekali lagi? Kami ingin berbicara langsung dengannya."
"Tentu, Pak. Namun, sebelumnya Nona Nadira sudah menyampaikan keputusan yang jelas. Saya rasa tidak ada lagi yang perlu dikonfirmasi."
"Setidaknya coba hubungi dia! Saya ini adik iparnya!"
Wanita itu terdiam sesaat sebelum akhirnya mengeluarkan ponselnya. Ia mencoba menghubungi Nadira sesuai permintaan Jordi. Namun, panggilan tersebut hanya berlangsung beberapa detik sebelum tersambung.
"Selamat siang, Nona Nadira. Mohon maaf mengganggu. Saat ini keluarga Anda sedang berada di lobi apartemen dan meminta izin untuk memasuki unit."
Dari seberang telepon, Nadira yang sudah tahu sikap keluarga mertuanya itu hanya menghela napas.
"Berikan teleponmu ke ibu mertua saya," tegasnya.
Wanita itu segera mengangguk, ia menyodorkan ponselnya ke arah wanita tua itu. Imah yang tengah kesal segera mengambil ponsel itu dengan kasar, tanpa aba aba ia segera berteriak ke Nadira.
"Kamu ini menantu sialan! Berani sekali kamu membuat ibu mertuamu dan adik adik suamimu tidak punya tempat tinggal!"
Nadira menghela napas sejenak, "Jika ibu mau punya tempat tinggal, kembalikan pendaftaran sekolah Naya. Kalau ibu masih saja keras kepala, saya tidak akan lama lama mengirim kalian ke desa!"
Imah langsung terdiam beberapa detik. Ancaman Nadira membuatnya terkejut sekaligus semakin geram. Ia tidak menyangka menantunya itu berani berbicara setegas itu kepadanya.
"Kamu pikir kamu siapa, Nadira? Berani sekali mengancam ibu mertuamu sendiri! Jangan mentang-mentang punya uang banyak, kamu bisa memperlakukan kami sesuka hati!" bentaknya.
Nadira memijat pelipisnya. Ia sudah bisa menebak bahwa wanita itu tidak akan mudah diajak berbicara baik-baik.
"Saya tidak sedang mengancam, Bu. Saya hanya memberikan pilihan. Kembalikan berkas pendaftaran sekolah Naya, lalu kita selesaikan masalah ini. Sesederhana itu."
"Kalau saya tidak mau?"
"Kalau begitu, bersiaplah menerima konsekuensinya."
Imah terkekeh sinis. "Kamu benar-benar sudah keterlaluan! Apa kamu lupa kalau Jordi dan Rania juga bagian dari keluarga suamimu? Mereka itu adik-adik Arhan!"
Nadira tersenyum tipis. "Saya tidak pernah melarang mereka menjadi bagian dari keluarga saya, Bu. Namun, bukan berarti mereka bisa mengambil hak anak saya seenaknya. Saya rasa Ibu sudah cukup dewasa untuk memahami perbedaan antara keluarga dan memanfaatkan keluarga."
Wajah Imah semakin memerah. Ia ingin membalas perkataan Nadira, tetapi wanita itu kembali berbicara.
"Dan satu lagi, Bu. Jangan pernah berpikir bahwa saya akan terus mengalah hanya karena status Ibu sebagai ibu mertua saya. Saya sudah terlalu lama bersabar."
"Dasar menantu durhaka!"
"Terserah Ibu mau menganggap saya seperti apa. Yang jelas, saya tidak akan mengubah keputusan saya."
Nadira kemudian mengakhiri panggilan tersebut.. Imah menatap layar ponsel dengan penuh kemarahan. Tangannya bahkan sampai gemetar karena menahan emosi.
"Kurang ajar! Berani sekali dia memutuskan telepon saya!"
Ia segera mengembalikan ponsel itu kepada wanita pengelola apartemen dengan wajah masam. Wanita tersebut menerima ponselnya, lalu kembali memasukkannya ke dalam tas.
"Bagaimana, Bu? Apakah sudah ada keputusan dari Nona Nadira?"
Imah mendengus. "Tidak ada! Perempuan itu memang keras kepala!"
"Kalau begitu, mohon maaf, Bu. Kami tetap tidak bisa memberikan akses masuk ke unit tersebut."
Jordi yang sejak tadi mendengarkan percakapan itu akhirnya menghela napas panjang.
"Bu kenapa Nadira menolak ibu, terus kita harus bagaimana?" tanyanya.
Imah menatap putranya itu dengan sedikit kesal. "Dia benar benar keras kepala, dia mau mengembalikan apartemen kita hanya saja dia tetap ingin mengambil formulir sekolah untuk Arkan."
Jordi dan sang istri saling berpandangan hingga Jordi yang tidak tahu mau tidur di mana malam ini segera menatap ibunya itu.
" Sudahlah bu, berikan saja. Lagi pula Arkan masih bisa sekolah di sekolah lain, " ujarnya.
Namun, Imah tetap saja tidak terima. Ia mau cucu laki laki kesayangannya itu bersekolah di sekolah bagus. "Kamu ini, Arkan itu harus sekolah di sekolah bagus! Kenapa kamu malah meminta ibu untuk mengembalikan formulir itu."
Jordi yang kesal segera menatap ibunya itu, "Bu, berikan saja formulir itu! Kalau ibu tetap keras kepala mau tinggal di mana kita?"
Imah terdiam mendengar bentakan putranya sendiri. Ia tidak menyangka Jordi yang biasanya selalu mengikuti perkataannya kini justru berani membantah.
"Kamu berani membentak Ibu?" tanyanya dengan nada tidak percaya.
Jordi mengembuskan napas kasar. "Aku bukan membentak Ibu. Aku hanya meminta Ibu berpikir dengan benar. Kita ini sekarang tidak punya tempat tinggal. Apartemen yang sebelumnya kita tempati sudah tidak bisa digunakan lagi, sedangkan apartemen milik Nadira juga tidak bisa kita masuki."
"Tapi Ibu hanya ingin Arkan mendapatkan pendidikan yang terbaik!" balas Imah.
"Kalau begitu, biarkan Arkan sekolah di tempat lain. Apa harus dengan mengambil hak Naya? Arkan itu masih bisa mendapatkan sekolah bagus tanpa harus mengorbankan pendidikan sepupunya sendiri."
Rania yang sejak tadi diam akhirnya ikut mengangguk.
"Benar, Bu. Aku juga tidak keberatan kalau Arkan harus pindah sekolah. Yang penting sekarang kita punya tempat tinggal dulu. Aku juga sudah lelah harus berpindah-pindah seperti ini."
Imah menoleh tajam kepada menantunya. "Kamu juga ikut-ikutan membela Nadira?"
"Bukan begitu, Bu. Aku hanya memikirkan keadaan kita sekarang."
Imah menggelengkan kepala. Ia benar-benar tidak menyukai kenyataan bahwa orang-orang di sekitarnya mulai mendesaknya untuk mengalah.
"Sudah! Kalian tidak perlu mengajari Ibu! Ibu tahu apa yang harus dilakukan!"
Jordi mengusap wajahnya kasar. Ia kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mulai mencari tempat penginapan untuk mereka malam ini.
"Kalau begitu, terserah Ibu. Tapi aku tidak mau terus-terusan terlibat dalam masalah ini. Aku juga punya keluarga yang harus aku pikirkan."
Ucapan Jordi membuat Imah terdiam. Ia memperhatikan putranya yang kini sibuk dengan ponsel, sementara Rania berdiri di sampingnya dengan wajah lelah. Beberapa saat kemudian, Jordi menemukan sebuah hotel yang cukup dekat dari lokasi mereka.
"Untuk sementara kita menginap di hotel dulu. Besok baru kita pikirkan tempat tinggal selanjutnya," ujarnya.
Imah langsung menoleh. "Hotel? Kamu mau menghabiskan uang untuk menginap di hotel?Uang kita sekarang menipis, bahkan kakak laki lakimu saja sudah tidak memberi ibu uang!"
"Memangnya kita mau tidur di mana, Bu? Di jalanan?" tanya Jordi.
ga tau malu,ga tau diri....rsanya pgn..
hhkkkkk....
orng2 ga tau diri ky mreka,emng pnts jd gmbel.....drpd bkin repot orng trs.....🙄🙄🙄
aku udh mmpir....slm knal....
dr awl udh d bkin emosi....ko ada y wnita s'ga waras itu,yg lbh syng cucu laki2 drpdd ccu prmpuan.....mna hsil nyolong pula....kl aku jd nadira,dr lma udh usir mreka biar jd gmbel.....😡😡😡