NovelToon NovelToon
Dukun Gadungan

Dukun Gadungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:514
Nilai: 5
Nama Author: Al-Ashar

Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aliansi Gelap di Gang Pinggir

​Bang Tato menarik napas berat, lalu perlahan menurunkan tubuh kekarnya hingga bersimpuh kasar di atas karpet plastik kontrakan Mamat. Dua anak buahnya yang bertato naga ikut duduk merapat di belakang sang bos, gerakan tubuh mereka tak lagi digerakkan oleh gertakan sok jagoan, melainkan oleh rasa cemas yang menusuk-nusuk benak.

​Mamat duduk kembali di balik meja plastiknya dengan sangat anggun. Tangan kanannya mengelus batu akik merah besar, sementara tangan kirinya memutar-mutar Keris Bengkok Brajamukti secara perlahan. Di balik gorden merah, Darto mengembuskan napas lega yang sangat panjang, memegang dadanya yang tadi sempat berdebar seperti mau copot.

​"Bang Tato," panggil Mamat, suaranya pelan namun bergema penuh tekanan tak kasat mata di dalam ruangan sempit itu. "Di dunia pertempuran jalanan, parang dan golok cuma bisa melukai daging. Tapi energi ghaib dan firasat... bisa menyelamatkan nyawamu sebelum sabetan senjata musuh mendarat."

​Bang Tato menelan ludah keringnya. "Nggih, Kang Mamat... Jadi... siapa anak buah saya yang berniat busuk itu?"

​Mamat memejamkan mata sejenak, berpura-pura komat-kamit membaca mantra bayangan. Otaknya yang cerdik bekerja cepat memanfaatkan celah emosi sang kepala preman.

​"Saya tidak akan menyebut nama secara langsung malam ini," ujar Mamat misterius, membuat Bang Tato makin penasaran setengah mati. "Tapi perhatikan anak buahmu yang belakangan ini paling sering tersenyum manis saat kamu kalah judi di dermaga, dan yang paling rajin menawarkan minuman keras saat kamu sedang lengah. Orang itu sedang mengincar posisi kepemimpinanmu di Gang Pinggir."

​Bang Tato seketika mengepalkan tangannya kencang-kencang sampai buku-buku jarinya memutih. "Jancuk! Si Brewok! Cuma dia yang sering senyam-senyum pas saya kalah di meja dadu!" desis Bang Tato penuh kebencian.

​Mamat tersenyum tipis dalam hati. Trik adu domba psikologis selalu berhasil pada orang yang dipenuhi rasa curiga, batinnya girang.

​"Nah, Bang Tato..." Mamat memajukan badannya ke depan. "Daripada Abang cuma narik uang keamanan recehan dari pedagang kecil dan kontrakan ini, bagaimana kalau kita buat kesepakatan saling menguntungkan?"

​"Kesepakatan bagaimana, Kang?" tanya Bang Tato cepat.

​"Setiap orang kaya, pengusaha toko, atau pemain judi di kawasan pelabuhan yang sedang kena masalah atau butuh 'keberuntungan extra', Abang arahkan untuk konsultasi ke tempat saya," papar Mamat menyusun strategi ekspansi bisnisnya. "Setiap mahar yang masuk dari pasien rekomendasi Abang, tiga puluh persennya langsung masuk ke kantong Abang secara tunai!"

​Mata Bang Tato yang merah bekas alkohol mendadak berbinar-binar. Tiga puluh persen dari mahar jutaan rupiah jauh lebih besar daripada sekadar memeras pedagang pasar lima puluh ribuan setiap minggu!

​"Sama satu lagi," tambah Mamat tegas. "Anak buah Abang harus jadi 'pagar betis' tempat ini. Kalau ada preman lain atau orang asing berniat rusuh di kontrakan saya, kalian yang selesaikan di luar."

​Bang Tato melompat berdiri, menepuk dadanya yang bidang dengan bangga. "DEAL! Siapa pun yang berani mengganggu Kang Mamat di Gang Pinggir ini, bakal berhadapan sama parang saya dan anak-anak! Mulai malam ini, Kang Mamat adalah Penasihat Spiritual resmi kelompok saya!"

​Mamat menyunggingkan senyum kemenangan. Tanpa perlu menyewa pengawal mahal, ia baru saja mendapatkan perlindungan gratis dari geng preman paling ditakuti di kawasan pelabuhan, sekaligus tim pemasaran baru yang siap membawakan pasien-pasien berdompet tebal!

​Keesokan harinya, strategi kemitraan Mamat dengan Bang Tato langsung membuahkan hasil manis.

​Sekitar pukul dua siang, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap tampak memaksakan diri masuk menembus lorong sempit Gang Pinggir. Kehadiran mobil mewah itu mendadak jadi tontonan warga dan anak-anak kecil yang sedang bermain kelereng.

​Dari dalam mobil, turun seorang pria paruh baya bertubuh agak kurus, mengenakan kemeja batik sutra mahal, kacamata emas, dan jam tangan bermerek yang memantulkan sinar matahari. Pria itu adalah Pak Gunawan, seorang pengusaha perhotelan dan tempat hiburan malam di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas. Ia datang setelah dibujuk habis-habisan oleh Bang Tato yang menjamin keberadaan "Konsultan Sakti Mandraguna" di Gang Pinggir.

​Darto yang mengenakan kemeja batik kusam segera menyambut Pak Gunawan di bawah tangga dan mengantarkannya naik ke lantai dua.

​Di dalam kamar konsultasi yang kini beraroma wangi dupa kayu cendana murah, Mamat sudah duduk anggun di kursi kayu lipat. Penampilannya kian meyakinkan dengan rompi hitam menutup kemeja putihnya dan Keris Bengkok Brajamukti tergelar di atas kain beludru merah.

​Pak Gunawan melangkah masuk dengan raut muka ragu bercampur putus asa. Ia mengamati kontrakan sempit itu dengan tatapan menilai, seolah tak yakin pria muda di hadapannya bisa menyelesaikan masalah besarnya.

​"Selamat siang, Kang Mamat..." sapa Pak Gunawan dengan nada datar. "Saya datang karena rekomendasi Tato. Tapi jujur, saya ini orang modern dan berpendidikan. Saya tidak percaya hal-hal klenik murahan."

​Mamat tidak tersinggung sedikit pun. Ia justru tersenyum tenang, merapikan kacamata tanpa minusnya.

​"Orang cerdas memang tidak boleh mudah percaya pada hal-hal murahan, Pak Gunawan," jawab Mamat santai namun menohok. "Dan saya di sini bukan penjual mantra ghaib. Saya hanya pembaca pola energi. Jika Pak Gunawan datang ke sini, artinya logika dan pendidikan tinggi Bapak sudah tidak sanggup lagi menemukan jawaban atas kerugian besar di bisnis perhotelan Bapak, betul?"

​Pak Gunawan tersentak kecil. Pertahanan skeptisnya mulai goyah oleh serangan kata-kata Mamat yang sangat lugas dan tepat sasaran.

​"Usaha hotel dan bar saya di pelabuhan sepi drastis sejak tiga bulan lalu," aku Pak Gunawan akhirnya, mendesah berat sambil duduk di atas karpet. "Padahal pelayanan bagus, fasilitas lengkap. Tapi tamu selalu batal memesan kamar di menit-menit akhir. Saya rasa ada pesaing bisnis saya yang pakai cara kotor."

​Mamat memejamkan matanya rapat-rapat. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya yang mengenakan batu akik merah ke atas meja beludru. Otak kelicikan Mamat langsung memutar memori dari informasi acak yang pernah ia dengar dari Bang Tato tadi malam tentang persaingan hiburan malam di dermaga.

​"Pesaing Bapak tidak mengirim jin atau santet, Pak Gunawan," bisik Mamat dengan nada sangat yakin.

​Pak Gunawan melotot. "Lho? Jadi bukan santet?"

​"Bukan!" tegas Mamat mendramatisir. "Musuh bisnis Bapak memainkan 'Psikologi Magnetik'. Mereka memanfaatkan aurat tempat dan manajemen orang dalam yang membocorkan daftar harga serta strategi promosi Bapak kepada pihak luar sebelum program Bapak meluncur!"

​Pak Gunawan membelalakkan matanya lebar-lebar. Pengusaha kaya itu menepuk pahanya kencang-kencang! JANCUK! Jeritan batin Pak Gunawan bergema. Tebakan Mamat menyenggol tepat pada kecurigaan terbesarnya selama ini yang tak pernah ia buktikan!

​"Masya Allah... Kang Mamat beneran jenius!" seru Pak Gunawan penuh takjub yang tak terbendung. "Saya memang curiga ada manajer pemasaran saya yang bermain belakang!"

​Mamat tersenyum tipis, menikmati momen di mana orang kaya berpendidikan tinggi baru saja ditaklukkan oleh analisis jalanannya.

​"Untuk membersihkan 'energi sial' di hotel Bapak dan mengunci kembali kerahasiaan bisnismu," kata Mamat melanjutkan perannya. "Bapak butuh Proses Netralisasi Aura Ruangan menggunakan media Air Garam Brajamukti dan penataan ulang tata letak pintu masuk sesuai aliran mata angin."

​"Berapa mahar yang harus saya siapkan, Kang Mamat?" tanya Pak Gunawan tanpa ragu sedikit pun, dompet kulitnya yang tebal sudah berada di tangannya.

​Mamat membusungkan dadanya, memasang tarif tertinggi sepanjang karirnya sebagai penipu. "Untuk penataan energi bisnis skala besar... maharnya adalah sepuluh juta rupiah."

​Pak Gunawan bahkan tidak mengedipkan mata! Pria kaya itu merogoh tas kerjanya dan langsung mengeluarkan seratus lembar uang seratus ribuan baru yang terikat rapi dalam dua bundel!

​"Ini sepuluh juta rupiah tunai, Kang Mamat!" kata Pak Gunawan mantap. "Kalau dalam sebulan hotel saya ramai lagi, saya akan beri bonus satu unit sepeda motor matic baru untuk operasional tempat ini!"

​Mamat menahan napasnya. SEPUTIH PULUH JUTA RUPIAH CASH! Mata Mamat terasa memanas karena kegirangan yang tiada tara. Dari seorang pengangguran di Kampung Kalisari yang dikejar penagih utang pinjol lima ratus ribu, kini ia memegang uang sepuluh juta rupiah dalam satu kali sesi konsultasi!

​"Terima kasih, Pak Gunawan," kata Mamat seolah uang sepuluh juta itu adalah hal biasa baginya. "Besok malam, anak buah saya akan mengantarkan Air Garam Brajamukti ke hotel Bapak."

​setibanya Pak Gunawan turun menuju mobil mewahnya, Mamat langsung melompat dari kursi dan memeluk dua bundel uang kertas itu sambil berteriak gembira bersama Darto dan Bowo di atas karpet!

​Dua minggu berlalu sejak Mamat resmi beroperasi di Gang Pinggir.

​Nama "Kang Mamat Consultant" kini tumbuh menjadi fenomena terselubung di kawasan Kota Semarang pinggiran. Dari karyawan toko yang patah hati, pemain judi pelabuhan, hingga pengusaha restoran dan hotel, semuanya antre membawa uang untuk mendapatkan "Terapi Aura Brajamukti".

​Kontrakan sempit lantai dua itu kini telah direnovasi kecil-kecilan oleh Bowo: dipasangi kipas angin gantung baru, karpet merah empuk, dan sofa empuk untuk ruang tunggu. Dalam dua minggu, Mamat berhasil mengumpulkan tabungan bersih lebih dari tiga puluh juta rupiah!

​Sore itu, suasana Gang Pinggir tampak tenang. Mamat sedang duduk santai di balkon lantai dua sambil menikmati es kopi susu dan mengisap rokok mahal, sementara Darto dan Bowo sedang sibuk menghitung hasil pendaftaran pasien hari itu.

​Namun, di ujung lorong Gang Pinggir, sebuah sepeda motor tua bersuara bising mendadak berhenti.

​Pengendara motor itu mengenakan jaket lusuh dan helm kusam. Ketika helmnya dilepas, tampaklah wajah seorang pemuda dengan muka pias dan mata licik yang sangat familier.

​Pemuda itu adalah Jumadi—murid setia Mbah Jambrong dari Kampung Kalisari!

​Jumadi diutus oleh Mbah Jambrong untuk membeli pasokan minyak wangi dan dupa khusus ke Pasar Johar Semarang. Namun, saat melewati lorong Gang Pinggir, matanya tak sengaja menangkap spanduk kecil berwarna hitam tulisan emas yang tergantung di lantai dua kontrakan:

​"KLINIK CONSULTANT AURA & SOLUSI BERSAMA - KANG MAMAT"

​Jumadi memicingkan matanya, mengamati papan nama itu dengan cermat. "Kang Mamat...? Mamat? Mamat dukun gadungan penipu Kalisari?!" bisik Jumadi terperanjat kaget.

​Untuk memastikan kecurigaannya, Jumadi memarkir motornya di dekat pos ronda dan merangkak mengendap-endap mendekati tangga kontrakan. Dari bawah lorong tangga, Jumadi melihat Darto sedang menghitung tumpukan uang kertas merah ratusan ribu di atas meja pendaftaran!

​Tak hanya itu, Jumadi juga melirik ke arah dinding ruang tunggu, di mana Keris Bengkok Brajamukti—keris karatan yang dulu menghancurkan reputasi gurunya dengan ledakan mesiu petasan—terpajang gagah di dalam bingkai kaca!

​Darah Jumadi seketika mendidih hebat! Matanya merah membara dipenuhi rasa dendam yang meluap-luap.

​"Jancuk! Beneran si Mamat penipu itu!" desis Jumadi dengan napas memburu kencang. "Ternyata dia kabur ke kota, menyembunyikan kedoknya jadi konsultan aura, dan mengeruk uang jutaan rupiah di sini!"

​Jumadi tidak bertindak bodoh dengan langsung melabrak Mamat sendirian, sebab ia tahu di sekitar kontrakan ada beberapa preman bertato anak buah Bang Tato yang sedang bersiaga.

​Jumadi menyunggingkan senyum licik yang sangat penuh kejahatan. Ia melangkah mundur perlahan-lahan, kembali ke motor tuanya, lalu menyalakan mesin dengan kencang.

​"Tunggu kamu, Mat..." maki Jumadi sambil menyeringai dendam. "Aku bakal balik ke Kalisari sekarang juga! Mbah Jambrong sama Pak Bintoro harus tahu tempat sembunyimu ini! Kita ratakan tempat ini sama tanah!"

​Motor tua Jumadi melaju kencang meninggalkan Gang Pinggir, membawa ancaman badai pembongkaran rahasia yang siap meledak dan menghancurkan seluruh kerajaan baru yang telah dibangun Mamat di Kota Semarang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!