Felicya adalah perempuan yang mempunya jiwa yang tenang. Ia memegang prinsip stoik; tidak semua hal harus dilawan, dan tidak semua luka harus dibalas.
Namun prinsip itu diuji ketika ia bertemu seorang laki-laki Machiavellian-cerdas, manipulatif, dan terbiasa memainkan manusia seperti bidak dalam permainan.
Di saat yang sama, Felicya harus berhadapan dengan perselingkuhan suaminya bersama seorang perempuan NPD.
Di antara kebohongan, manipulasi, dan permainan ego, Felicya perlahan menyadari bahwa membalas dengan elegan, bukan berarti jahat. karena mempertahankan boundariesnya dan tidak kehilangan jati dirinya, hanya perbuatan 2 orang yang mempunyai 2 sifat Dark Psichology.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Ayu Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Flashback dengan Pertemuan
Awan menyelimuti langit berwarna ke abu-abuan tidak terdapat pantulan bias cahaya di sana, di belakang hanya terdapat senja berwarna orange terlihat indah untuk di pandang. Felicya yang sedang duduk di taman halaman rumahnya ia menikmati angin di sore hari. Matanya menatap ke rerumputan dan ia bergumam.
"Ah rasanya kangen sekali suasana di rumah ibun, walau di sini cuacanya kadang panas, kadang mendung. tapi tetap saja aku kangen tinggal di bandung," Felicya menekukan palanya dan kakinya berayun di atas rumput. Saat kepalanya menengok ke atas langit Ia melihat ada senja, seketika hatinya merasa hangat, ia takjub dengan pemandangan senja yang berwarna jingga dibalik awan. Ia biasanya hanya bisa melihat senja itu di kampung halamannya. seketika ingatannya kembali saat ia masih dikampung dan mengingat pertemuan dengan galang.
Flashback
Felicya mempunyai hati yang lembut dan penyayang dengan anak kecil bahkan ia tidak malu masih bermain dengan anak kecil di sekitar rumahnya. Gerombolan anak kecil memanggilnya untuk mengajak bermain. "Teteh Felicya kita main layangan yuk," ucap Anak-anak kecil di depan pagar Felicya. Felicya yang sedang menyapu di dalam ruang tamu, ia mendengar dirinya di ajak main oleh anak tetangga. Lalu Felicya menghentikan menyapunya dan menaruh sapu itu kembali ketempat semula. Felicya mengambil kerudung di depan matanya dan mengambil uang di dalam dompetnya. Felicya segera melangkahkan kakinya menuju pintu pagar lalu membukanya dan menjawab panggilan dari anak-anak tersebut. "Iya adik-adikku sayang, memang kita mau main apa?" tanya Felicya membungkukan badannya dan menyentuh hidung salah satu anak yang di hadapannya dan tersenyum kepada mereka semua.
"Kita-kita ini mau ajak teteh main layangan, teteh maukan?" sahut serempak anak-anak kecil tersebut. Matanya memohon dan memelas pada Felicya agar mau ikut main dengan mereka semua.
"Iya ayo... kita main," Serunya penuh semangat, dengan salah satu tangannya angkat ke atas, menunjukan persetujuan untuk bermain dengan geng anak-anak tersebut, tersirat senyuman ceria di wajah Felicya. "Aku senang sekali bisa bermain sama mereka, nanti kalau aku sudah menikah, aku jadi terbiasa menghadapi anak kecil," gumamnya pelan. Felicya berjalan pelan bersama anak-anak kecil tersebut. Terlihat sangat bahagia di wajah mereka ketika Felicya setuju main. Langit sore berwarna ke jingga-jinggaan. Felicya pun berjalan dengan mereka semua. Saat Felicya tidak sengaja menoleh ke atas. Ia berhenti berjalan sebentar dan anak-anak itu pun ikut berhenti, mata felicya berbinar melihat senja di sana. Lalu ia memberitahu pada anak-anak kecil itu. "Hai liat deh warna di langit bagus yah, merah ke orange. menurut kalian, apa namanya?" tanya Felicya mencoba ingin tahu sejauh mana pengetahuan mereka tentang alam. Anak-anak kecil itu menjawab dengan serempak. "Itu senja teteh Felicya," sorak mereka dengan senyum pada Felicya. Ada yang bereaksi tepuk tangan ke girangan melihat senja. Felicya membalas senyuman mereka dengan hangat. "Nah betul, kalian ternyata pintar juga," Felicya menundukan setengah badannya dan tangannya mengeluarkan selembaran uang dua ribuaan untuk lima anak tersebut. "Nah ini untuk kalian," Felicya memberi uangnya satu persatu pada anak-anak tersebut. Felicya yang sedang asyik dengan anak-anak tetangganya, di seberang sana ada seorang pria yang memandangnya dari kejauhan. Ia tersenyum dan hatinya berdebar ketika melihat tingkah Felicya begitu penyayang dengan anak-anak. Pria tersebut melangkahkan kakinya untuk mendekati Felicya. Pria itu berjalan sedikit cepat. Saat pria itu sudah ada dibelakang Felicya, salah satu anak yang bersamanya menepuk lengan Felicya. "Teteh lihat kebelakang deh, ada pria jahat, jangan-jangan dia ingin mencuri uang teteh Feli," ucap anak itu dengan wajahnya yang curiga dan menunjuk pada pria tersebut. Lalu Felicya memutarkan tubuhnya menghadap pria tersebut. Felicya memasang wajah tidak senang dan tangan Felicya aba-aba ingin meninju wajah pria tersebut. "Dasar kau pencuri," saat tangan Felicya ingin meninju, pria tersebut menangkap pergelangan Felicya. Lalu pria tersebut berbicara. "Hai nona cantik, aku bukan pencuri," gerutunya di wajah Felicya, didalam hati pria tersebut kesal dituduh pencuri oleh Felicya.
Lalu Felicya menjawab. "Terus kamu kenapa ada dibelakang aku? kalau bukan berniat mencuri," tanya Felicya kesal dengan raut wajah masamnya.
Pria itupun menjawab. "Emmm... aku cuma mau kenalan denganmu, soalnya aku tersentuh melihatmu begitu menyanyangi anak-anak," ujar Pria tersebut tanpa ada sedikit kebohongan di wajahnya, Mata Felicya menerka apa pria tersebut membohonginya atau tidak. Namun, saat ia selidiki, tak ada kebohongan di wajahnya. "Baiklah, kalau jawabannya kayak gitu," Felicya hanya diam tidak mengulurkan tangannya untuk menyambut bahwa pria itu ingin berkenalan dengannya. Pria itu lalu mengulurkan tangannya untuk mengajak berkenalan terlebih dahulu. "Okey kenalkan namaku Galang," ucap pria itu tersenyum manis dihadapan Felicya. Lalu Felicya menjabat tangannya. "Okey aku Felicya," ujarnya singkat lalu ia menundukan kepalanya. ia tidak ingin berlama-lama di depan pria tersebut, felicya merasa tidak enak dengan anak-anak di belakangnya. Ia tidak ingin di anggap memberi contoh tidak baik jika orang tua mereka tiba-tiba lewat melihatnya. "Maaf aku mau lanjut main sama mereka semuanya." Felicya memutarkan badannya memberitahu bahwa dia ingin kembali bersama anak-anak tersebut. Lalu pria itu menjawab dengan anggukan. Felicya dan anak-anak pergi melanjutkan jalannya tanpa menoleh ke arah pria tersebut.
Pria itu hanya tersenyum melihat Felicya pergi begitu saja. Ia memaklumi bahwa pertama kali perkenalan mereka, dan ia kembali ke rumah bibinya.
...****************...
Galang yang sudah di rumah bibinya. Ia mengetuk pintu rumah bibinya yang sudah terlihat tua.
Tok.. tok... "Assalamu'alaikum bi hana," ucap Galang dengan suara yang kencang. Seketika pintu terbuka. Bibinya tersontak kaget, ternyata dihadapannya adalah ponakannya yang dari jakarta. "Yaampun Galang, si ujang bibi yang masih kecil sekarang sudah besar dan tampan yah," ujar nya terlihat senang dan memegang kedua lengan tangan galang. Galang yang disambut dengan senang oleh bibinya. Ia menjawab. "Iya dong bi hana aku sekarang sudah besar, hehe...," Galang terkekeh kecil dihadapan bibinya, lalu bibinya ikut terkekeh juga. Bibinya langsung mengajaknya masuk kedalam. "Ayo jang kita masuk kedalam, kasihan berdiri terus nanti kakimu pegal," ucapnya sambil tertawa kecil dan menepuk lengan galang khas cewek biasa tertawa tangannya akan melayang. "Ayo bi," sahut Galang berjalan disamping bibinya. Ia ditepuk lengannya sudah terbiasa dengan tingkah lucu bibinya itu. Galang dan bibinya sudah berada di ruang tamu yang tidak begitu kecil ataupun lebar ruangannya. Galang merasa nyaman dengan ke adaan ruang tamunya yang bersih, tambah lagi suasana sore di bandung terasa sedikit dingin dikulitnya. ia meminta teh manis hangat pada bibinya. "Bi aku boleh monta buatkan teh manis hangat gak? aku haus juga dan sedikit dingin, hehe..," jawabnya dengan kekehan kecil. Bibinya mendengar langsung menjawab.
"Ya ampun iya bibi lupa buatkan teh manis untukmu Galang, tunggu yah," jawab bibinya yang lansgung melangkahkan kakinya ke dapur. Lalu Galang menyenderkan palanya di sofa empuk. "Capek juga yah dari jakarta ke bandung naik bus," ucap galang yang terlihat letih diwajahnya. Galang menghela napas dan memejamkan matanya sebentar karena mengantuk.
Bibinya masih sibuk di dapur. Galang tertidur di atas sofa. Saat bibinya kembali ke ruang tamu, bibinya terkejut melihat Galang tertidur dengan posisi duduk di sofa. Niat, ingin membangunkan keponakannya. Namun, ia urungkan. ia melihat Galang sudah kelelahan karena perjalanan jarak jauh. Bibinya mengambil selimut dan menutupi ketubuhnya Galang dengan pelan-pelan. Lalu bibinya kembali kekamar. Ruang tamu pun kembali sunyi hanya terdengar suara kipas angin.