NovelToon NovelToon
EFEK MANDAROBA

EFEK MANDAROBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: just Zii

Hujan deras mengguyur gang sempit malam itu. Napas Sesil terengah-engah, memburu bersama ketakutan yang makin membelenggu dada.

Di tengah hawa dingin yang menusuk tulang, ia memeluk erat sebuah buku catatan bersampul hitam—satu-satunya bukti kejahatan mematikan yang berhasil ia temukan.

​Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyilaukan memotong kegelapan dari arah belakang. Sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Sosok pria berpostur jangkung melangkah keluar.

Alden.

Dengan payung hitam di genggamannya, ia berjalan tenang menghampiri Sesil tanpa raut panik sedikit pun.

​BRAAKK!

​Dentang besi bersahut-sahutan mengudara saat tubuh Sesil terpental keras ke aspal basah. Rasa sakit menusuk seketika, disusul pandangan matanya yang perlahan mengabur dan menggelap. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, bisikan dingin berselimut nada manis terdengar tepat di telinganya:

​"Tidur yang nyenyak, Sesil. Pas bangun nanti, kamu bakal mencintai aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just Zii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: PESTA TOPENG

Malam merayap anggun di jantung ibu kota, membalut sebuah ballroom megah berarsitektur neoklasik dengan nuansa kemewahan yang menyilaukan.

Lampu-lampu gantung kristal berukuran raksasa memancarkan cahaya keemasan yang hangat, memantul sempurna pada lantai marmer Italia yang dipoles bagaikan cermin.

Alunan musik simfoni gesek membubung halus di udara, berpadu dengan denting gelas sampanye dan gema tawa berkelas dari kalangan elit yang memenuhi ruangan.

Ini adalah Mandaroba Gala for Hope—sebuah malam amal kelas atas bertema pesta topeng (masquerade) yang digagas oleh PT Mandaroba Medika untuk menggalang dana rehabilitasi saraf terpadu.

Di tengah lautan gaun malam mewah dan setelan tuksedo mahal, Alden berdiri tegak bagaikan pangeran penguasa.

Ia mengenakan setelan tuksedo hitam pekat dengan potongan sempurna dan topeng ukir perak berseni tinggi yang menutupi separuh wajah atasnya. Di sampingnya, Sesil berdiri dengan anggun, mengenakan gaun malam sutra berwarna biru malam yang berkilauan ditimpa cahaya lamp dan topeng perak senada.

Cengkeraman tangan Alden di pinggang Sesil terasa begitu protektif, hangat, namun di saat yang sama sarat akan pesan kepemilikan yang mutlak.

"Kamu terlihat luar biasa cantik malam ini, Sesil," bisik Alden tepat di samping telinga Sesil.

Suaranya terdengar begitu lembut, bergetar oleh rasa bangga yang dangkal. "Lihatlah sekelilingmu. Ini adalah duniaku... dan sebentar lagi, ini akan menjadi duniamu sepenuhnya."

Sesil menyunggingkan senyuman tipis dan manis di balik topeng peraknya—sebuah topeng fisik yang membungkus topeng psikologis yang telah dilatihnya selama berminggu-minggu.

Di mata Alden dan seluruh tamu undangan, Sesil adalah tunangan yang pemalu, rapuh, dan sedikit linglung akibat proses 'pemulihan amnesia' yang sedang dijalani.

Namun, di balik sepasang mata di belakang topeng perak itu, otak jurnalis investigasi Sesil Wijaya sedang bekerja dengan kapasitas penuh, merekam setiap detail, wajah, dan percakapan tanpa terlewat satu milidetik pun.

"Terima kasih, Alden," sahut Sesil dengan nada suara lambat dan penurut. "Semua ini... terasa sangat megah dan membingungkan bagiku."

"Tidak perlu bingung, Sayang," ujar Alden seraya mengecup pelipis Sesil. "Cukup berdiri di sampingku dan tersenyumlah."

Alden kemudian menuntun Sesil melangkah menuju sudut ruangan VIP yang lebih tertutup, diselimuti tirai beludru merah tebal yang memisahkan mereka dari kerumunan tamu biasa.

Di sana, berdiri tiga orang pria paruh baya bertubuh tambun dengan setelan jas eksklusif, memegang gelas wiski mahal.

Begitu Alden mendekat, ketiga pria itu menyambutnya dengan tawa lebar dan jabat tangan yang teramat sangat hangat.

"Ah, Alden! Sang bintang utama malam ini!" panggil salah satu pria berambut uban klimis dengan topeng emas berukir—Pria yang langsung dikenali oleh ingatan jurnalis Sesil sebagai Komisaris Jenderal Hendra, pejabat tinggi kepolisian yang memegang kendali atas divisi pengawasan kejahatan terorganisir dan obat-obatan.

"Komisaris Hendra," sapa Alden dengan senyuman penuh percaya diri. Ia lalu beralih menatap dua pria lainnya. "Deputi Bambang, dan Tuan Fahri dari Kementerian Kesehatan... sebuah kehormatan bisa menyambut Anda bertiga malam ini."

"Tidak usah terlalu formal, Alden," timpal Deputi Bambang seraya menyesap wiskinya. Matanya berkilat penuh ketamakan di balik topeng hitamnya. "Kami baru saja membicarakan persetujuan izin edar khusus untuk lini produk baru Mandaroba Medika. Draf keputusan mentri sudah berada di meja Tuan Fahri. Semua berkas lama... sudah dipastikan bersih dan diarsipkan secara permanen."

"Benar," tambah Fahri dengan tawa kecil yang terdengar culas. "Kasus audit independen dari jurnalis gadungan enam bulan lalu itu benar-benar tidak berbekas lagi. Kepolisian sudah memusnahkan semua berkas pengaduan dari medianya atas rekomendasi Pak Hendra."

Darah Sesil mendidih seketika.

Setiap kata yang keluar dari mulut pejabat-pejabat berwenang itu terasa bagaikan pukulan godam yang menghantam dadanya. 'Jurnalis gadungan' yang mereka maksud adalah dirinya! Dan 'kasus audit independen' itu adalah laporan investigasi tentang kejahatan obat-obatan terlarang yang telah diperjuangkannya dengan mempertaruhkan nyawa!

Di dalam ruang VIP ini, di balik tirai mewah dan di antara denting gelas porselen, Sesil menyaksikan secara langsung betapa busuk dan berakarnya konspirasi yang dibangun oleh Alden.

Pria itu tidak hanya seorang sosiopat yang menculik dan mencuci otaknya; Alden adalah raja kecil di dalam sebuah jaring laba-laba korupsi raksasa yang melibatkan aparat penegak hukum dan pejabat kementerian tertinggi!

"Terima kasih atas kerja samanya, Gentlemen," kata Alden, suaranya tenang dan penuh kendali. Pria itu menjentikkan jarinya pelan ke arah asisten pribadinya yang berdiri tak jauh dari sana. "Dana hibah untuk yayasan kalian masing-masing sudah ditransfer melalui rekening cangkang di Swiss seperti biasa. Tidak ada jejak, tidak ada masalah."

Komisaris Hendra tertawa puas, menepuk bahu Alden dengan akrab. "Kamu memang selalu bisa diandalkan, Alden. Kerja sama yang sangat menguntungkan."

Hendra lalu mengalihkan pandangannya ke arah Sesil yang berdiri mematung di samping Alden. "Dan siapa wanita cantik di sampingmu ini, Alden? Aku mendengar rumor bahwa kamu membawa calon istrimu malam ini?"

Alden merapatkan cengkeramannya pada pinggang Sesil, menarik wanita itu sedikit lebih maju. Senyuman posesif melintas di bibirnya.

"Ini Sesil," jawab Alden dengan kebanggaan yang dingin. "Tunanganku. Dia sedang dalam masa pemulihan akibat kecelakaan tragis yang menimpanya beberapa waktu lalu. Memorinya masih belum sepenuhnya pulih."

Komisaris Hendra menatap Sesil dari atas ke bawah melalui celah topeng emasnya. Tatapan mata pria tua itu menyipit curiga selama sepersekian detik, seolah-olah bentuk tubuh atau garis wajah Sesil membangkitkan ingatan tentang berkas jurnalis yang pernah dimusnahkannya.

"Sesil..." gumam Hendra pelan. "Nama yang sangat familiar... bukankah nama ini mirip dengan—"

Sebelum Hendra menyelesaikan kalimatnya, Sesil bertindak dengan sangat cepat dan cerdik. Ia sengaja melemaskan lututnya, membuat tubuhnya limbung dan bersandar sepenuhnya pada dada Alden. Tangannya menyambar lengan baju Alden, dan ia memejamkan matanya seraya memegang dahinya dengan helaan napas pendek-pendek—menirukan gejala kebingungan kognitif dan pusing yang biasa dipicu oleh overdosis racun.

"Alden... kepalaku..." bisik Sesil dengan nada suara tercekik dan terdistorsi, persis seperti reaksi korbannya. "Ruangan ini... terlalu bising... suaranya berputar-putar..."

Perhatian Alden seketika teralih sepenuhnya dari pembicaraan politik korup itu. Naluri dominasi dan kecemasannya akan kondisi obat Sesil terpicu seketika. Pria itu menopang tubuh Sesil dengan kedua tangannya yang kuat.

"Maafkan aku, Gentlemen," ujar Alden cepat kepada para pejabat di depannya, suaranya dipenuhi ketergesaan. "Efek pemulihan sarafnya belum stabil. Saya harus membawanya ke ruang istirahat khusus di lantai atas."

"Tentu, tentu, utamakan calon istrimu, Alden," sahut Hendra yang kehilangan minat kecurigannya saat melihat kerapuhan fisik Sesil.

Alden merangkul bahu Sesil, menuntun wanita itu keluar dari ruang VIP, melintasi tepi ballroom yang ramai menuju lift privat menuju area kamar VIP di lantai atas pesta amal tersebut.

Di dalam lift yang berdinding kaca dan bergerak naik perlahan, Alden memeluk Sesil erat-erat dari belakang, mengecup leher Sesil dengan kehangatan yang dipenuhi obsesi mutlak.

"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" bisik Alden prihatin. "Aku tahu orang-orang tadi terlalu menekan untuk pikiranmu yang sedang rapuh."

Di balik pelukan Alden dan di dalam kegelapan bayangan lift kaca, mata Sesil terbuka lebar—dingin, tajam, dan sama sekali tidak memperlihatkan jejak pusing atau kelemahan sedikit pun.

Dunia Alden memang penuh dengan intrik berbahaya dan kekuasaan gelap yang mengerikan. Pria itu memiliki polisi, pejabat, dan uang tak terbatas di belakang punggungnya. Namun malam ini, di dalam pesta topeng yang megah ini, Sesil telah melihat peta musuhnya dengan sangat jelas.

Ia menyandarkan kepalanya di dada Alden, mendengarkan detak jantung pria itu.

Nikmatilah kemewahan dan kebohonganmu malam ini, Alden, batin Sesil dengan dendam yang sudah memuncak di puncak tertinggi.

Sebab saat topeng kejahatanmu dan teman-teman koruptormu terkuak nanti, tidak ada satu pun uang atau kekuasaan di dunia ini yang bisa menyelamatkanmu dari kehancuran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!