NovelToon NovelToon
SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:68.9k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.

Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.

Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.

Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.

Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.

Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.

Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mas Mau Cerai?

Waktu berlalu begitu cepat.

Pagi kembali menyambut rumah itu. Cahaya matahari masuk melalui jendela ruang makan, menerangi meja yang telah dipenuhi beberapa hidangan sederhana.

Raya duduk seorang diri sambil menikmati sarapannya. Ia menyendok nasi perlahan, lalu memasukkannya ke dalam mulut.

Belum sempat menghabiskan beberapa suapan, suara langkah sepatu pantofel terdengar dari arah lorong.

Tok... tok... tok...

Langkah itu semakin mendekat hingga akhirnya berhenti di dekat meja makan.

“Akhirnya kamu masak juga.” Zevan menarik kursi dan duduk. “Mas kangen sama masakanmu.”

Raya tidak menjawab. Ia tetap menatap piring di hadapannya dan melanjutkan sarapan tanpa menanggapi ucapan pria itu.

Namun, baru saja ia menyuapkan beberapa sendok makanan, tiba-tiba suara melengking dari ruang tamu membuatnya menghentikan gerakannya.

“Rara, Sayang!”

Raya menghela napas pelan.

“Ibu...” sahut Rara.

“Kamu makan apa, Rara?” tanya Bu Riana. “Makanan beginian?”

“Iya, Bu. Mbak Raya yang masak.”

“Oh, Raya...” Bu Riana terdengar mencibir. “Nggak usah dimakan, Sayang. Nggak sehat. Warnanya saja pucat begini. Pasti nggak ada nilai gizinya.”

Raya meletakkan sendoknya perlahan. Ia tidak merasa tersinggung.

“Makan atau enggak bukan urusanku,” jawab Raya datar. “Kalau mati karena nggak makan, jangan salahkan aku.”

“Zevan!” seru Bu Riana. “Lihat istrimu! Berani melawan ibu!”

Raya menoleh kepada Zevan.

Pria itu masih berdiri di dekat meja makan.

“Kalau nggak melawan,” ujar Raya tenang, “apa harus diam saja sambil menunggu Mas Zevan membelaku?”

Zevan tidak langsung menjawab.

“Enggak, kan, Bu?” lanjut Raya.

“Mbak...” Rara mencoba menyela. “Ibu cuma—”

Netra Raya beralih menatap Rara.

“Nggak usah sok lembut buat cari perhatian, Ra,” potong Raya.

“Maaf, Mbak,” jawab Rara pelan.

“Sudah, Ra. Nggak usah didengarkan ucapan Mbakmu. Ayo makan. Ibu bawakan makanan yang sehat dan bergizi.”

Raya hanya memandangi Bu Riana yang membuka rantang satu per satu. Berbagai makanan dikeluarkan dan diletakkan di atas meja, sementara makanan yang dibuat Raya justru di buang ke tempat sampah, seperti tak memiliki harga di mata ibu mertuanya.

“Maaf ya, Raya,” ucap Bu Riana. “Makanan ini mengganggu pemandangan Ibu.”

Raya tersenyum tipis. Ia kembali menyendok makanannya dengan tenang sebelum melirik Bu Riana.

“Nggak apa-apa, Bu. Buang saja semuanya.” Raya mengangkat bahu. “Takutnya kalau makan makanan yang ku masak, justru akan membuat menantu kesayanganmu keracunan.”

“Kamu...” Bu Riana tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi urung melanjutkan.

“Kenapa, Bu?” tanyanya. “Ucapanku benar, kan?”

Dengusan kesal terdengar dari hadapannya.

Raya menahan senyum. Karena kali ini ia berhasil membuat ibu mertuanya kesal tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga.

Namun, belum sempat Raya kembali menyantap makanannya, Bu Riana sudah membuka topik lain.

“Ibu dengar… Rara ingin kendaraan sama laptop, tapi kamu nggak kasih?”

Tangan Raya yang memegang sendok berhenti.

Ia mengangkat wajah, lalu menatap Rara yang berdiri tidak jauh dari meja makan dengan kepala tertunduk.

‘Ternyata dia mengadu?’

“Maaf, Mbak,” ujar Rara pelan. “Semalam aku rencananya mau minta Ibu mertua mencarikan aku pekerjaan, biar nggak merepotkan Mbak Raya sama Mas Zevan.”

Raya mengembuskan napas perlahan. Belum sempat ia menjawab, Bu Riana kembali menyela.

“Jadi kakak kok pelit sekali?” katanya. “Rara itu adikmu. Seharusnya dibelikan, dong.”

Raya meletakkan sendoknya.

“Kalau Ibu kasihan, belikan saja. Nggak papa kok Bu.” Tatapannya lurus kepada Bu Riana. “Jangan cuma menyuruhku. Memangnya cari uang itu gampang? Tinggal petik dari pohon?”

Jari telunjuk Bu Riana langsung terarah kepadanya.

“Kamu—”

Raya tidak bergeming. Ia justru mengalihkan pandangan kembali kepada piringnya.

“Lagian, uang yangku hasilkan terserah ku mau di gunakan untuk apa, atau ku berikan pada siapa.” Raya kembali mengambil sendok. “Kecuali itu uangnya Mas Zevan, tentu aku kasih karena aku tahu diri.”

Bu Riana mengembuskan napas keras.

“Ya ampun, Zevan. Kenapa sih kamu menikahi istri yang seperti ini?”

Raya menghentikan gerakannya. Ia menoleh kepada Zevan yang sejak tadi hanya diam tanpa melakukan aksi apapun.

“Mas mau cerai?” tanya Raya tiba-tiba.

Zevan tampak terkejut.

“Kamu ngomong apa, sih, Ray? Pernikahan nggak untuk main-main.”

Raya mengangkat alis.

“Kamu nggak dengar apa yang Ibu katakan?” tanyanya. “Ibu sedang kasih kode agar kita bercerai, agar kamu sama Rara bisa bersama.”

Pandangan Raya kembali menatap Ibu mertuanya. “Iya, kan, Bu?”

“Jangan ngomong sembarangan kamu—”

“Bu, sudahlah,” potong Zevan cepat sambil mengusap wajahnya. “Jangan memperbesar masalah. Lagian, nanti apa yang Rara mau akan aku usahakan, Bu.”

Raya menatap Zevan selama beberapa detik.

Kemudian, pandangannya beralih kepada Bu Riana dan Rara. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring.

“Dengar itu, Ra?” ucap Raya. “Mas Zevan akan memberikan apa yang kamu mau. Jadi, jangan merengek minta dibelikan ini dan itu kepada aku, apalagi mencari simpati.”

Rara hanya terdiam.

“Istri yang baik, nggak akan pernah menyulitkan suami.”

Raya kemudian berdiri dari kursinya. Ia menghela napas sembari membenahi pakaiannya yang sedikit kusut.

“Ya beginilah, jika seorang istri nggak pernah menggantungkan hidupnya pada suami, tentram dan damai.”

Setelah mengatakannya, Raya berbalik dan melangkah pergi meninggalkan meja makan tanpa menunggu tanggapan dari siapa pun.

.

Setelah Raya menghilang di balik dinding.

Zevan masih duduk di tempatnya. Pandangannya tetap tertuju ke arah Raya yang perlahan mulai menjauh dari pandangannya.

Beberapa detik kemudian, suara ibunya terdengar dari belakang.

“Dasar menantu pelit!” gerutu Bu Riana dengan nada kesal. “Aku sumpahin rezeki kamu seret!”

Zevan mengembuskan napas panjang. Kemudian ia bangkit dari duduknya dan meraih tas kerja yang berada di samping kursi.

“Bu, Zevan berangkat sekarang,” katanya sambil melangkah menuju pintu. “Assalamualaikum.”

“Zevan, tapi makanannya… Waalaikumsalam.”

.

Setelah punggung Zevan menghilang dari pandangannya, Riana menggeleng pelan. Ia kemudian mengalihkan perhatian kepada Rara yang masih berdiri di dekat meja makan.

Riana meraih tangan Rara dan menepuknya pelan.

“Kamu ini, Ra.” Ia mengusap lengan Rara. “Sudah disakiti begitu, kamu masih saja baik. Entah terbuat dari apa hatimu itu.”

Riana menggeleng-gelengkan kepala.

“Seandainya saja Zevan bertemu dengan kamu lebih dulu, Ibu pasti sangat senang.”

“Bu, nggak apa-apa.” Rara tersenyum tipis. “Yang penting Rara masih bisa kuliah. Doakan Rara cepat lulus dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari Mbak Raya.”

“Amin,” jawab Riana sambil mengangguk.

Ia kemudian mendorong piring yang berisi makanan ke arah Rara.

“Sudah, makan yang banyak. Biar kamu dan bayinya sehat.”

Rara menurut dan mulai menyantap makanan yang dibawakan Riana.

Sementara itu, pandangan Riana jatuh pada makanan yang sebelumnya dibuat Raya. Masih tersisa cukup banyak di atas meja.

Riana segera meraih piring tersebut.

“Yang ini Ibu buang saja.”

“Bu...” Rara menahan tangannya. “Sayang sekali kalau dibuang.”

Riana menoleh.

“Nggak perlu kasihan sama makanan.” Ia mengibaskan tangannya. “Makanan seperti ini memang nggak layak dimakan.”

Tanpa menunggu jawaban Rara, Riana membawa sisa makanan itu ke tempat sampah dan membuangnya begitu saja.

“Sudah, Nak. Habiskan makananmu. Jangan pikirkan Mbak kamu yang arogan itu.”

Rara hanya mengangguk dan kembali menyantap sarapannya.

1
sutiasih kasih
jgn lm" ditundanya.....
sutiasih kasih
y karna km itu bukan ank tuan kansa & ny raya....
pahamm....!!
Anita Rahayu
Thor lansung libas ank pungut dan ortunya jgn menye menye alur ceritanya macam lapak sebelah greget😤😤😤😤😤😤😤😤😤😤😤😤😤
Herdian Arya: betul..ibu dan anak macam ular kaya gitu di pelihara, ntar anak kandung celaka baru nyesel.
total 1 replies
Shuttttttttttt
CERITA APA SIH YG AKU BACA ANJGG...... mau pemeran utama pria/wanita sama² GOBLOK ANJING, mau² aja ngurus anak ular, gak ada otak hodoh, oon bgttt ihh.... buang² waktu aku baca ajaaa, kirain pintar, tau² oon bgttt. kelakuan ortunya aja gtu, mau² aja terima anak hasil pengkhianatan, sudah gtu malah ngurus bareng anak kandung, ini lagi si raya oon, gak belajar dri masa lalu nya apaa, si kansa jga bodoh, CEO tapi goblok, mau² aja terima anak dri org yg sdh lecehkan istrinya, sekarang liat kan, "BUAH JATUH TIDAK JAUH DARI POHONNYA ". baik jga gpp tpi goblok jgn anjing, baca cerita kya gini bkin emosi bgtt anjingghg, buang2 wktu.
Shuttttttttttt
muak bgtt anjirr
Shuttttttttttt
baik iyaaa, oon jangan
Shuttttttttttt
gak takut apaa, nnti anaknya kya ortunya. lagi pula kalian itu klo memiliki anak, trus anak si pengkhianat dua itu, iri dengki kaya mamanya gimn tuh? gak pikir apa smpe sana
Shuttttttttttt
ngapain urus anak pengkhianat
Shuttttttttttt
goblok bgttt anjinggg
Herdian Arya
membesarkan anak ular.
sutiasih kasih
andai kansa & raya tau..
nyesel kalisn miara ank tak tau diri... yv justru sll mnyskiti ank kndung kalian....
Meee
tuhkan anak g tau diri dah fitnah buah g jatuh dari pohonnya,emaknya jahat ya anaknya juga g beda.
sutiasih kasih
udh tau kturunan dajjal.... knapa jga dipiara sih.....
mna kelakuan g ada baik"nya tuh ank dajjal....
bkal nyesel km raya & kansa.... merawat ank tak tau diri🙄🙄
sutiasih kasih
gila ya.... ank pungut tak tau diri🙄🙄
Yuni Ngsih
Authooor ceritramu bgs bangeeeet ku yg baca asyik ,membaca jln ceritra ,banyak fakta dlm kehidupan nyata Thor terutama Kaka mengurus adiknya ,Kakanya punya suami eh suaminya di embat ,....smg lanjutannya Raya bahagia sm Kansa selamanya ok ditunggu lanjutannya
Ma Em
Lagian Raya dan Kansa mau saja merawat anaknya Rara dan Zevan , apa bodoh atau gimana sih mereka berdua cuma bikin penyakit saja harusnya kalau Raya sdh lepas dgn Zevan Raya tdk usah pedulikan lagi dan mau saja mengurus anak Rara dan Zevan .
Elina thea
nanti kalo keluargamu hancur,salahkan dirimu sendiri,oke~~~
Elina thea
terserahmu raya~~~
stela aza
bibitnya y aja beda kelakuan tetep mengikuti ibu kandungnya walaupun dia udh di adopsi dari bayi ,,,🤦 loe j yg bodoh mau nampung bayinya orang yg udh pernah merusak rumah tangga kamu 🤦
sunaryati jarum
Anisa, berawal kau yang salah tapi kok dendam dengan Raya.Kau bekerja dengan tekun akan enak hidupmu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!