Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.
Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pagi itu udara di kantor terasa lebih berat dari biasanya. Jam menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit saat Maxy melangkah masuk. Langkah kakinya pelan, seolah ada beban tak terlihat di pundak yang makin lama makin menekan. Dia menuju meja kerjanya, meletakkan tas, lalu duduk sambil menghela napas panjang.
Pandanganku tanpa sengaja tertuju ke arah meja Shella.
Wanita itu sedang menata berkas di atas meja, dan di pergelangan tangan kirinya — jam tangan mungil dengan tali kulit berwarna lembut dan bingkai perak yang elegan. Jam itu terlihat baru, terlihat mahal, dan Aku tahu persis siapa yang memberikannya.
Jantungku terasa seperti diremas pelan, memalingkan wajah cepat, pura-pura sibuk menyalakan komputer, tapi pikiranku tertahan di benda kecil itu. Setiap kali Shella menggerakkan tangan, kilau peraknya memantulkan cahaya lampu ruangan, seolah mengingatkan dia terus-menerus — bahwa di sisi lain, ada sosok yang bisa memberikan hal yang tidak mampu dia berikan.
"Pagi, Maxy!"
Suara Shella terdengar mendekat. Maxy mendongak, berusaha tersenyum wajar.
"Pagi, Shella."
"Kamu udah sampai lama ya? Tadi aku lihat belum ada," ucapnya sambil berdiri di dekat mejaku.
Gerakan tangannya terlihat jelas, dan jam itu berkilau setiap kali pergelangannya bergerak.
"Baru sampai kok" suaraku terdengar lebih datar dari biasanya. "Itu... jam baru ya?, Cantik"
Shella langsung tersenyum lebar, matanya berbinar. "Iya kan? Cantik banget lho! Ini hadiah dari Roxy kemarin malam di mall".
"Sumpah, aku nggak nyangka dia seperhatian itu. Kita cuma jalan sebentar, ngobrol, terus tiba-tiba dia kasih ini. Katanya cuma tanda terima kasih udah mau nemenin." Ucap Shella penuh kegembiraan.
Aku cuma bisa menelan ludah, menahan rasa sesak yang tiba-tiba menyergap. "Wah... mahal kelihatannya."
"Iya, aku juga kaget. Tapi dia ngotot bilang aku berharga dan berhak dihargai. Manis banget kan?" Shella tertawa kecil, memandang jam itu dengan pandangan yang penuh kekaguman.
"Dia tuh emang beda ya, Maxy. Tenang, dewasa, tau banget cara bikin orang ngerasa dihargai. Bicara aja udah bikin lega, apalagi dikasih perhatian kayak gini." lanjutnya.
Setiap kata yang keluar dari mulut Shella terasa seperti beban yang makin menumpuk di dadaku.
Aku tahu Roxy itu diriku. Tapi saat mendengar pujian itu keluar dari mulut wanita yang dia cintai, rasanya bukan seperti dipuji — rasanya seperti diingatkan bahwa dirinya yang asli belum cukup. Bahwa butuh topeng, butuh uang sistem dan butuh penampilan mewah, untuk bisa dilihat dan dihargai.
"Kamu suka ya sama dia?" tanyaku pelan, sembari sedikit menundukkan kepala.
Shella terdiam sejenak, lalu tersenyum malu. "Aku nggak bohong... aku nyaman banget sama dia. Bicara aja udah bikin tenang. Dia selalu tau apa yang aku butuhin, bahkan sebelum aku ngomong. Makanya aku seneng banget kalau dia ngajak ketemu."
Aku mengangguk pelan, tidak berkata apa-apa lagi. Shella sepertinya tidak menyadari perubahan ekspresi ku, karena dia langsung melanjutkan dengan semangat yang sama.
"Ah iya, Pak Arif juga nawarin aku makan siang bareng hari ini. Katanya ada restoran baru yang enak di pusat kota. Kamu mau ikut juga? Biar rame," ajaknya tiba-tiba.
"Eh... aku?" Tanyaku kaget.
"Iya, kamu kan teman dekatku juga. Sekalian kenalan lebih dewasa sama Pak Arif. Dia orang baik kok, cuma emang agak... gencar deketin aku akhir-akhir ini," candanya, tapi ada nada cemas yang terselip di sana.
Aku ragu sejenak. Bagiku, makan siang bersama Arif yang selalu tampil sempurna, mapan, dan percaya diri — rasanya seperti berdiri di panggung yang bukan miliknya. Tapi melihat Shella yang memandangnya dengan tatapan menunggu, dia tidak tega menolak.
"Ya... ya sudah. Aku ikut," jawabnya pelan.
"Asyik! Nanti aku jemput di meja kamu ya!" Shella tersenyum ceria, lalu berjalan kembali ke mejanya, masih sesekali melirik jam di pergelangan tangannya sambil tersenyum sendiri.
Sepanjang pagi, Aku mencoba fokus bekerja. Tapi mataku sering melirik ke arah meja Shella, dan setiap kali melihat jam itu, perasaannya makin campur aduk. Di sisi lain, Aku tahu itu dirinya yang memberikannya. Tapi di sisi lain, Aku juga tahu bahwa untuk memberikannya, Aku harus menyembunyikan siapa diriku. Harus jadi orang lain.
Menjelang siang, Pak Arif berjalan mendekat ke meja Shella. Pria itu mengenakan setelan jas yang rapi, sepatu mengkilap, jam tangan bermerek yang terlihat jelas di pergelangan tangannya. Dia tersenyum ramah, menatap Shella dengan tatapan yang penuh perhatian — tatapan yang membuat Maxy merasa makin kecil di kursinya.
"Shella, sudah siap?" tanya Arif dengan suara yang terdengar penuh keyakinan. "Mobil sudah menunggu di depan."
"Bentar ya Pak, aku ajak Maxy, biar dia juga ikut," jawab Shella sambil menoleh ke arah aku berada.
Arif baru menyadari keberadaan Diriku. Dia menatap sejenak, lalu tersenyum — ramah, tapi ada sekilas tatapan yang seolah menilai. "Oh, Maxy juga ya? Boleh, silakan. Sekalian kita kenalan lebih dekat."
Aku berdiri, merapikan pakaian seadanya. "Terima kasih sudah diizinkan ikut, Pak."
"Sama-sama. Yuk, berangkat," kata Arif, lalu memberi jalan agar Shella berjalan duluan, dan dia berjalan di sampingnya.
Sedangkan Aku, cuma bisa berjalan di belakang, seolah mengikuti alur yang sudah ditentukan orang lain.
Di dalam mobil mewah milik Arif, Shella duduk di kursi penumpang depan.
Aku?? tentu di kursi belakang.
Arif mengemudi sambil berbicara dengan santai — tentang proyek, tentang rencana perusahaan, tentang tempat-tempat bagus untuk liburan. Dia berbicara dengan nada yang percaya diri, seolah semua yang dia ucapkan sudah pasti.
"Restoran ini tempatnya bagus lho, Shella. Suasananya tenang, makanannya juga enak. Aku sudah coba beberapa kali," ucap Arif sambil sesekali melirik ke arah Shella. "Nanti kamu pilih saja yang kamu suka, jangan sungkan."
"Terima kasih, Pak Arif. makasih udah ajak," jawab Shella dengan sopan.
"Sama-sama. Kamu kan rekan kerja yang berharga, wajar kalau dihargai," jawab Arif sambil tersenyum.
Aku menatap ke luar jendela. Pemandangan kota yang lewat terasa kabur.
"Kalau saja Aku bisa bicara setenang Arif, kalau saja Dirinya bisa mengajak Shella ke tempat bagus tanpa harus hitung-hitungan gaji".
"Kalau saja Aku tidak perlu menunggu jam enam malam untuk jadi orang yang layak dilihat... mungkin Aku tidak akan merasa sekecil ini" pikiran ini terus berputar dikepalaku.
Sesampainya di restoran, tempatnya memang elegan — pencahayaan lembut, meja-meja tertutup taplak meja yang rapi, pelayan menyambut dengan hormat. Arif membiarkan Shella duduk di kursi yang menghadap ke jendela, lalu Dia duduk di sebelahnya.
Sedangkan Aku, duduk di seberang, di ujung meja, seolah bukan bagian dari percakapan itu.
"Silakan, pilih yang kamu suka. Jangan ragu," kata Arif sambil menyerahkan menu ke Shella. "Maxy juga, silakan, jangan sungkan."
"Terima kasih, Pak," jawabku pelan, menatap daftar harga yang tertulis kecil di sudut halaman. Angkanya membuat Aku menelan ludah. Satu porsi di sini bisa untuk makan tiga hari di kantin.
Shella mulai membicarakan banyak hal — pekerjaan, proyek, dan tak lama kemudian, topik beralih ke Roxy lagi.
"Ah iya Pak, kamu pernah dengar soal Roxy nggak?" tanyanya tiba-tiba.
Arif mengerjap. "Roxy? Belum pernah dengar. Rekan kerja kita juga?"
"Eh bukan, dia orang luar. Kenal di restoran deket kantor. Dia tuh... gimana ya, dewasa banget, ngertiin orang, selalu bikin aku ngerasa tenang kalau lagi bersamanya. Kemarin malam kita jalan ke mall, terus dia kasih ini lho".
Shella memperlihatkan jam di pergelangan tangannya dengan semangat.
"Cantik kan?." lanjutnya.
Arif melirik sekilas, lalu tersenyum tipis. "Jam yang bagus. Mahal kelihatannya. Orang kaya ya?"
"Entah, tapi dia baik banget. Bukan cuma soal barang, tapi perhatiannya. Beda banget sama orang lain yang cuma nawarin bantuan kalau ada untungnya," puji Shella, matanya berbinar.
"Kadang aku ngerasa... dia tuh orang yang paling ngerti aku di dunia ini." imbuhnya.
Setiap kata pujian itu, menembus lebih dalam, langsung menusuk tepat di jantungku lebih dari yang Aku kira. "mungkin ini yang disebut luka tapi tak berdarah"
Aku memegang sendok di tangan, meremasnya pelan. Aku tahu Roxy itu diriku. Tapi kenapa rasanya seperti Shella sedang memuji orang lain yang bukan dirinya? Kenapa rasanya Aku sedang kalah dalam pertandingan yang Aku ciptakan sendiri?
"Kamu suka sama orang ini ya?" tanya Arif pelan, nada suaranya sedikit berubah.
Shella tersenyum malu, menunduk ke arah gelas air di depannya. "Aku nggak tahu... nyaman aja. Beda sama yang lain. Dia nggak mendesak, nggak nuntut, cuma ada di sana."
Arif terdiam sejenak, lalu menatap ke arahku, seolah baru ingat keberadaanku. "Maxy, kamu kenal orang yang bernama Roxy ini?"
Aku tertegun sejenak, menelan ludah. "Tidak... kenal secara langsung," jawabku pelan, tidak berani menatap mata siapa pun.
"Begitu ya," Arif kembali menatap Shella.
"Shella, aku cuma mau bilang, hati-hati juga ya. Orang yang terlalu sempurna di awal, belum tentu sama nanti. Kita belum tahu latar belakangnya, tujuannya apa. Kamu orang baik, aku nggak mau kamu terluka." ucap Arif pelan.
Shella mengangguk, meski terlihat sedikit keberatan. "Terima kasih udah perhatian, Pak. Tapi aku rasa dia orang baik. Setidaknya itu yang Aku rasa."
"Bagus kalau begitu. Aku cuma pengen kamu hati-hati aja," ucap Arif lembut, lalu mengalihkan topik ke hal lain.
Makan siang itu berjalan terasa sangat lama bagiku. Aku makan sedikit, tidak banyak bicara, hanya mendengarkan Shella memuji Roxy dan Arif berusaha menawarkan dirinya sebagai pilihan yang lebih aman, lebih dikenal, lebih pasti. Di antara keduanya, Aku merasa seperti penonton yang tidak diundang.
Saat kembali ke kantor, langkah kakiku terasa berat. Shella masih bercerita tentang Roxy di sepanjang jalan, tentang rencana mereka bertemu lagi, tentang betapa beruntungnya dia bisa kenal orang sebaik itu.
Aku mendengarkan dalam diam, tersenyum seperlunya, sementara di dalam dada ada rasa sakit yang makin dalam.
Sesampainya di meja kerja, Aku baru saja duduk ketika notifikasi sistem muncul di udara.
DING!
Hubungan dengan Maxy: 20% (-3%)
Hubungan dengan Roxy: 25% (+1%)
Sumber: Fokus perhatian Shella terpusat pada Roxy; kehadiran fisik Maxy tidak cukup menandingi citra emosional yang terbentuk. Penurunan bukan akibat perilaku buruk, murni karena belum cukup dilihat dan dihargai sebagai dirinya sendiri.
Aku menatap angka itu lama sekali. 20%. "Turun lagi" gumamku pelan.
Dan Aku tahu, kalau terus seperti ini, lama kelamaan Shella beneran akan jatuh cinta pada Roxy, suatu hari nanti angkanya akan menyentuh nol. Dan saat itu terjadi, bukan sistem yang akan kalah — dia yang akan kehilangan Shella.
Aku menatap ke arah jendela, di mana Shella sedang berdiri berbicara di telepon, masih sesekali memandang jam di pergelangan tangannya sambil tersenyum. Rasa cemburu, rasa tidak mampu, rasa minder.
Semuanya bercampur jadi satu. Aku tahu jalan keluarnya: jujur. Tapi kenapa rasanya begitu berat? Kenapa rasanya kalau Aku bilang yang sebenarnya, Aku akan kehilangan semuanya?
"Apa mungkin karena Aku belum yakin??
Belum yakin kalau Shella akan tetap memilihku saat tahu bahwa Roxy dan Maxy adalah orang yang sama??
Belum yakin kalau cintanya cukup kuat untuk menerima kenyataan yang tidak sempurna??".
Dan di tengah keraguannya, Pak Arif masih di sana — menunggu, mengamati, dan setiap hari makin dekat.
Aku menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke kursi. Hari ini berat. Besok mungkin lebih berat lagi. Tapi Aku tahu satu hal: Aku tidak bisa terus membiarkan orang lain menceritakan siapa diriku, atau menentukan siapa yang pantas untuk Shella.
Suatu hari nanti, Aku harus mengambil keputusan..