Rasa yang tidak seharusnya ada itu kian tumbuh pada Carol, dari sebuah kekaguman berubah menjadi cinta. Carol mengubur semua itu dalam-dalam karena cinta itu tidak akan pernah bisa dia gapai. Sampai suatu hari dimana ternyata semesta seperti memberinya sebuah kesempatan. Dan Carol tidak mau menyia-nyiakannya, dia berjuang mendapatkan sesuatu yang sebelumnya terasa sangat mustahil itu. Dia mengambilnya meski harus menghadapi banyaknya sudut pandang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeNickname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Keesokan harinya..
Berakhirlah Carol disini, di dalam gedung perusahaan besar milik Andrew. Karena mulai hari ini Carol akan bekerja menjadi asisten dari sekretaris Andrew.
Carol sungguh tidak menyangka dia bisa menjadi orang kantoran seperti ini. Karena dari awal dia itu tidak pernah serius dengan pendidikannya.
Bukan karena tidak cerdas justru Carol sangat cerdas hanya saja dia berprinsip untuk apa belajar toh cita-citanya sedari kecil adalah menikah muda yang ujung-ujungnya akan dibiayai suami kan? Jadi kalau ada yang mudah kenapa harus susah-susah? Begitulah kira-kira isi otak seorang Carol saat itu.
Jika bukan karena Andrew mana mau dia menyelesaikan kuliahnya, dengan waktu yang cepat pula.
Sementara itu Andrew baru saja datang, namun ketika pria itu masuk ke dalam ruang kerjanya dia sangat terkejut saat mendapati seorang wanita yang sedang duduk sambil membelakangi pintu.
"Selamat Pagi, Tuan Lawson." Carol memutar kursinya, dia menatap Andrew dengan senyum manisnya.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Hanya melihat-lihat."
Andrew terkekeh, "Hanya kau yang berani menduduki kursiku."
"Oh benarkah?" balas Carol terkejut.
Gadis itu berdiri dan mendekat.
"Ya. Beruntungnya kau hanya seorang gadis kecil jadi aku tidak akan memarahimu."
Wajah Carol berubah masam, dia jelas tidak suka, "Sudah ku bilang berhenti memanggilku seperti itu. Aku ini.."
"Selamat pagi, Presdir. Maaf saya terlambat." suara seorang wanita yang tiba-tiba muncul di ambang pintu menghentikan percakapan mereka.
Carol memicing saat kedua bola matanya melihat wajah seorang wanita yang cukup cantik namun pakaiannya di luar nalar.
Andrew menoleh sedikit, "Tidak apa-apa Jenn."
"Maaf. Siapa dia Tuan? Apa dia membuat keributan di ruangan anda?" tanya wanita itu lagi.
Sebagai sekretaris Andrew yang hampir setiap hari mengekori pria itu Jenn sama sekali tidak mengenal Carol. Ini adalah kali pertama mereka bertemu.
Tiba-tiba Carol menyahut dan menyodorkan tangan, "Perkenalkan, aku.."
"Dia orang yang saya ceritakan tempo hari, yang akan ikut membantu sebagian pekerjaanmu."
Jenn mengangguk kecil sambil menatap Carol dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Tolong di bimbing, Jenn."
Wanita dengan nama asli Jennie itu mengangguk kecil kemudian tersenyum penuh tipu, "Baik Presdir."
"Dan Carol ruanganmu ada di sebelah ruangan Jenn. Sekarang kau ikut dia!" ucap Andrew.
Carol menatap Andrew dengan kesal sebelum akhirnya berjalan mengekori Jenn.
...----------------...
"Jadi, siapa namamu?" tanya Jenn penuh selidik.
"Namaku Carol."
"Oh, oke. Aku Jennie panggil saja aku Nona Jenn. Sementara aku akan memberimu beberapa berkas ringan untuk dipelajari."
"Ow baik, No-na Jenn." balas Carol sedikit risih.
Kenapa harus Nona? Astagaa.
Jenn pun keluar dan kembali dengan beberapa berkas yang dia ambil dari ruangannya, "Untuk sementara, ini pekerjaanmu."
Carol mengangguk kecil, Jenn melangkah keluar dan dia pun mulai duduk membuka satu persatu berkas dan mempelajarinya.
Sementara itu Andrew dan Jenn nampak bersiap untuk pergi meeting dengan klien. Carol yang saat itu keluar dari ruangannya untuk menanyakan beberapa hal yang belum dia mengerti pada Jenn langsung menghadang langkah Andrew.
"Mau kemana?" tanyanya polos.
"Meeting." balas Andrew datar.
"Berdua?"
Andrew mengangguk tipis.
"Kenapa aku tidak diajak? Aku kan asisten Jenn. Maksudku Nona Jenn." protesnya.
"Carol, tugasmu itu membantu Jenn untuk mengurus data. Kau tidak di butuhkan di lapangan."
"Tapi aku.."
"Cukup, kami sudah terlambat. Ayo Jenn!"
"Baik, Presdir!" Jenn sangat sigap. Dia cukup puas dengan jawaban Andrew pada anak baru itu.
Dia tersenyum meledek saat melewati Carol tepat di depannya. Membuat Carol kesal setengah mati. Sorot matanya seolah mengibarkan bendera perang.
Saat pintu lift tertutup Andrew tampak masih memandangi Carol dengan wajahnya yang datar. Dia yakin Carol merasa tidak nyaman dengan responnya. Tapi tempat itu adalah kantor, area professional. Memang seharusnya dia membicarakan hal ini pada gadis itu.