Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GELOMBANG DI BALIK KELAM
Bisikan Ammar di atas permukaan bibirku bagaikan sulut api yang menyambar tumpukan jerami kering. Seluruh pertahanan dan keraguan yang sempat tersisa di dalam dadaku luluh seketika. Hembusan napas hangatnya yang teratur menyapu kulit wajahku, membawa aroma wangi minyak zaitun bercampur kesegaran tubuhnya yang amat memabukkan.
Sebelum aku sempat membalas ucapannya, bibir Ammar telah menempel sempurna di atas bibirku.
"Mmph..." desahku tertahan saat lumatan pertamanya mendarat begitu lembut namun sarat akan penekanan yang dalam.
Ammar menangkup kedua pipiku dengan jemari tegapnya yang hangat, memiringkan wajahnya untuk memperdalam pagutan. Lidahnya bergerak lincah dan menuntut, menyesap rasa manis dari bibirku tanpa memberi celah untuk bernapas. Aku memejamkan mata rapat-rapat, meremas kain kaus abu-abu yang membungkus dada bidangnya, merasakan detak jantungnya yang berpacu kencang sama hebatnya dengan degup di dalam dadaku.
"Ah... Mas Ammar..." desahku meloloskan suara parau ketika Ammar melepaskan tautan bibir kami sejenak, hanya untuk memindahkan ciuman hangatnya turun menyusuri garis rahang hingga ke leher sampingku.
Jemari tegap Ammar bergerak ke belakang tubuhku, menarik ritsleting piyama sutra yang kupakai hingga terbuka perlahan. Kain licin itu meluncur turun dari bahuku, membiarkan kulit mulusku bersentuhan langsung dengan udara malam yang dingin dan hangatnya telapak tangan suamiku.
"Kamu indah sekali, Aisyah... sungguh," bisik Ammar parau di dekat telingaku. Suara baritonnya yang biasanya terdengar tenang dan penuh wibawa di depan jemaah kini berubah menjadi sangat rendah, sarat akan gairah alami seorang pria yang mendambakan istrinya secara utuh.
Ammar menggendong tubuhku dengan mudah, membawaku melangkah ke arah ranjang berukuran king size di tengah kamar. Ia merebahkan tubuhku secara perlahan di atas kasur yang empuk, lalu menyusul menindihku tanpa membiarkan bobot tubuhnya sepenuhnya menekan dada saya.
Cahaya lampu tidur temaram bernuansa kuning hangat memantulkan lekuk tubuh kami di dinding kamar. Ammar menatapku lurus-lurus dari atas. Mata cokelat mewahnya berkilat penuh gairah yang pekat, membuat dadaku naik-turun memburu menantikan setiap sentuhannya.
"Mas... pelan-pelan..." bisikku gemetar, menyatukan jemariku di tengkuk leher tegapnya.
Ammar tersenyum tipis, sebuah senyuman tampan yang amat intens. "Saya akan menyesapmu perlahan, Istriku."
Bibirnya kembali menyerang bibirku dengan ciuman yang kian menuntut dan panas. Bersamaan dengan itu, telapak tangannya yang hangat menyusuri pinggangku, meremas lembut lekuk tubuhku hingga membuat sentakan halus menjalar cepat ke seluruh persendianku.
"Nghh... Ah, Mas..." jerit pelanku teredam oleh lumatan bibir Ammar ketika jemarinya mengusap area sensitif di balik pakaianku. Tubuhku melengkung refleks mendekat pada dadanya yang polos setelah ia melepaskan kaus atasannya sendiri.
Dada bidang Ammar yang hangat dan berotot menempel ketat di dadaku. Sensasi gesekan kulit ke kulit itu mengirimkan sengatan listrik yang luar biasa memabukkan. Setiap usapan, kecupan, dan gigitan kecil yang dilayangkan Ammar di sepanjang leher, bahu, hingga dadaku membuat napasku kian terengah-engah.
Ammar menyibakkan rambut hitam panjangku yang tersebar di atas bantal, lalu menyatukan jemari tangannya di sela-sela jemariku, menguncinya erat di atas kepala.
"Lihat saya, Aisyah," perintah Ammar dengan napas berat yang berhembus di atas wajahku.
Aku membuka kelopak mataku yang sayu, menatap mata suamiku yang dipenuhi ketulusan dan gairah yang membakar.
"Kamu milik saya... sepenuhnya milik saya," bisik Ammar intens tepat sebelum ia menyatukan inti tubuh kami dalam satu dorongan yang dalam dan perlahan.
"Aah! Mas Ammar...!" jeritku parau, menengadahkan kepala saat rasa penuh dan hangat membuncah hebat di ceruk tubuhku. Mataku berair oleh percampuran antara rasa pekat yang asing dan kenikmatan tiada tara yang menjalar ke seluruh saraf.
Ammar memejamkan matanya rapat-rapat, menahan napas sejenak seraya mempererat genggaman tangannya pada jemariku. "Mmmph... Aisyah..." desah Ammar rendah, menyuarakan namaku dengan nada yang teramat pasrah pada kenikmatan malam itu.
Pria berwibawa itu mulai bergerak ritmis. Penetrasi yang awalnya perlahan dan lembut bertahap berubah menjadi ketukan-ketukan tegap yang menuntut dan bertenaga. Setiap tempo gerakan Ammar menghantam titik terpeka di dalam diriku, membangkitkan gelombang sensasi panas yang membuat seluruh tubuhku bergetar hebat.
"Nghh... ahh... Mas... lebih... ahh!" desahanku makin tak terkontrol, bergema halus di dalam kamar yang tertutup rapat dari dunia luar.
Suara gesekan kulit, helaan napas yang memburu, dan desahan napas kami saling bersahutan memenuhi udara malam. Ammar menundukkan wajahnya, memagut bibirku kembali untuk menyerap setiap jeritan kenikmatan yang keluar dari tenggorokanku. Gerakan pinggulnya kian cepat dan menohok, membawaku menaiki puncak kenikmatan yang belum pernah kusentuh seumur hidupku.
"Aisyah... sebentar lagi... bertahannya, Sayang..." bisik Ammar parau di sela-sela napasnya yang terengah-engah. Kecepatannya memuncak, menghantam ceruk terdalam tubuhku secara bertubi-tubi.
"Ah! Ah... Mas Ammar! Aku... aku gak kuat... ahh!" jeritku tertahan sewaktu gelombang kehangatan yang amat dahsyat meledak hebat di dalam perutku. Seluruh otot tubuhku mencengkeram erat, menyambut puncak kenikmatan tiada tara.
Bersamaan dengan pelepasan dahsyat yang dialamiku, Ammar memberikan dorongan terakhir yang paling dalam dan erat. Pria itu mengerang rendah di leherku "Mmmhh, Aisyah!" saat benih kehangatan yang meluap-luap disemburkan sepenuhnya di dalam rahimku.
Tubuh kami terkulai lemas di atas kasur dalam posisi bertautan erat. Napas Ammar memburu hebat di atas dadaku yang naik-turun. Pria itu menyandarkan dahi basahnya di dahiku, membiarkan sisa-sisa pelepasan dan getaran gairah mereda secara perlahan dalam keheningan yang syahdu.
Ammar menarik selimut tebal menutupi tubuh kami yang polos dan basah oleh keringat. Ia merengkuh tubuh rampingku rapat-rapat ke dalam dekapannya, mendaratkan ciuman yang teramat panjang dan penuh rasa syukur di keningku.
"Terima kasih, Istriku..." bisik Ammar halus, mengusap punggungku yang polos dengan penuh kelembutan.
Aku menyandarkan kepalaku di dada bidangnya yang bernapas teratur, mendengarkan detak jantungnya yang kini menjadi irama paling menenangkan dalam hidupku. Di balik kegelapan malam, kami telah menyatu sepenuhnya bukan hanya secara hukum dan janji suci, tetapi juga jiwa dan raga yang tak lagi terpisahkan.