NovelToon NovelToon
Resep Cinta Om Dokter

Resep Cinta Om Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cinta Seiring Waktu / Konflik etika
Popularitas:47.6k
Nilai: 5
Nama Author: dtyas

Bertemu sebagai dokter dan pasien, dengan first impression yang baik dan meninggalkan kesan berbeda. Edward (31), dokter dengan status duda terlibat dengan urusan pribadi pasiennya, Cahaya Sekar Janitra (24).

Entah karena sumpah atau memang takdir Tuhan. Ketertarikan itu berubah menjadi perasaan mendalam saat Edward menolong Cahaya dari jebakan calon suaminya.

====

"Bilang apa kamu? Om? Aku dokter pribadi kamu."

"Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukan dokter aku. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?"

------
Hai, ketemu lagi di karya aku yang kesekian. Baiknya baca dulu Diam-diam Cinta dan Emergency Love

Ikuti sampai tamat ya dan jangan melompat bab. sampai bertemu di setiap babnya 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Nurut Dong Ay

Bab 13 

Hari ini Edward tidak ada jadwal di poli, melainkan jadwal piket di IGD, shift 2. Kebetulan lagi satu tim dengan Rendi dan Anji.

"Asyik, bawa apaan tuh." Anji mengambil alih kotak bekal yang dibawa Edward.

Sebotol juice dan dua kotak makanan. Membuka salah satunya, ternyata berisi dimsum. Kotak lainnya berisi 3 buah sandwich.

"Gue minta sandwich, belum sarapan." 2 nakes lainnya mengikuti jejak Anji. "Ini jatah lo." Anji mengembalikan kotak yang masih utuh.

Edward memakai jas putihnya, siap untuk bertugas. Suasana di IGD agak ramai. Setelah operan dia melanjutkan proses transfer pasien ke kamar rawat inap.

"Sudah nyambung dengan keluarganya?" tanya Edward pada perawat membicarakan status pasien di bed 4.

"Sudah dok, lagi otw."

"Bed 2 sudah boleh pulang," seru Anji lalu fokus dengan komputer di meja admin.

"Baik dok."

Ambulance datang membawa pasien kecelakaan. Rendi dan Anji langsung menghandle didampingi perawat. Edward masih fokus dengan layar komputer, dihampiri keluarga pasien dan mengedukasi sebelum pasien tersebut dibawa pulang. "Obatnya diurus dulu, nanti infusan akan kami lepas.”

Sempat mendengar ada karyawan rumah sakit meminta brankar karena ada yang pingsan, Edward hanya menoleh. Petugas di IGD menunjuk brankar kosong yang bisa digunakan.

Hari ini ia tidak ke cafe karena bibi sudah menyuguhkan makan siang termasuk bekal yang tadi sudah dicicipi Anji. Meneguk juice masih dengan tatapan ke layar komputer. Belum bertemu Cahaya dan tidak mampir ke cafe sekedar membeli kopi, ada penasaran dan rasa tidak biasa, mungkin saja ini rindu. Nyatanya benar, rindu itu berat. Dekat, tapi rasanya jauh.

Mengeluarkan ponsel bermaksud mengirim pesan, mungkin saja situasi di cafe sedang landai.

Brak

"Dokter, tolong! Ini pingsan!"

Brankar yang masuk diarahkan ke bed kosong oleh perawat. Edward berdiri, mendapati pegawai cafe yang ikut mendorong brankar.

"Dok, ini Cahaya pingsan."

"Aya." Gegas Edward menghampiri bahkan saat memindahkan dari brankar ke bed IGD, tidak menunggu aba-aba. Ia sendiri yang menggendong dan memindahkan.

"Lepas sepatu dan ikat rambutnya."

"Baik, dok."

Edward menempelkan diafragma stetoskop ke dada Aya, lalu memeriksa kelopak mata gadis itu dengan senter kecil. Cahayanya menyorot pupil yang melebar dan tak merespons.

"Pasang monitor sekarang!"

Bunyi bip-bip monitor mulai terdengar lambat, tapi masih teratur.

"Dok, tekanan rendah. Denyut jantung stabil."'

Edward melakukan tindakan untuk membuat Aya sadar, dengan aroma di hidung gadis itu.

"Tes HB nya," seru Edward lagi. Ada rasa khawatir meski menangani secara kalem. Terkenal sebagai dokter dingin dan acuh, ia pun bisa mengontr0l perasaannya. "Hubungi keluarga pasien, kakaknya perawat di SM."

"Iyakah, dok?"

"Hm, dia pasien saya. Cahaya Sekar Janitra. Coba kamu cek di sistem."

Aya mulai sadar, jemarinya bergerak begitu pun dengan mata yang mulai mengerjap.

"Ay." Spontan Edward memanggilnya begitu, spontan juga suster yang membantunya melirik kaget. Tangan Edward mengusap pipi Aya. "Apa yang kamu rasakan?"

"Pusing, tadi gelap. Aku ... Pingsan ya?" Aya akan bangun, tapi ditahan oleh Edward.

"Tunggu dulu, tekananmu rendah. Kita mau ceh Hb."

"Sebentar ya mbak," ucap suster sudah menyiapkan alat untuk mengambil sampel darah.

"Eh, suntik? Nggak ah, nggak usah." Aya sampai menggeser dan siap beranjak, kembali ditahan oleh Edward.

"Kamu takut ... jarum?" Aya mengangguk.

"Ya ampun. Selama ini kamu tes lab gimana caranya?"

Kali ini Aya menggeleng. Rekan kerja Aya sampai terkekeh.

"Siapa yang pingsan, katanya karyawan SM?" Anji ikut merapat. "Lah, dede Cahaya. Kok bisa? Gara-gara om dokter pasti nih."

"Bantu ambil dar4h," ujar Edward memberi tanda lirikan mata pada Anji.

Anji yang paham lalu mengambil alih yang sudah disiapkan oleh suster. “Yaelah, masa takut sama jarum. Jarumnya om dokter lebih dahsyat tau.” Edward berdecak, kalau bukan karena situasi mungkin sudah digeplak si Anji ini.

“Kamu rebahan lagi. Kita mau periksa,” titah Edward.

“Gak usah ambil dar4h. Aku nggak pa-pa, mau pulang aja dok,” pinta Aya dan Edward membantunya merebah lalu menahan kedua tangan setengah memeluk. Aya sempat berontak, Anji gegas melakukan tugasnya.

“Udah kali, ya ampun. Kayak digigit semut ‘kan?”

Edward terkekeh Aya memasang wajah kesalnya. Pasrah karena tubuhnya sedang tidak bersahabat, memaksa turun tapi hampir terjungkal.

“Gak usah batu, Ay. Istirahat dulu, sambil tunggu hasil lab. Udah makan belum?” tanya Edward dijawab Aya dengan gelengan. “Bentar ya,” ujarnya menyibak tirai. “Sus, udah hubungi keluarganya?”

“Udah nyambung dok, tapi di bangsal masih repot. Segera dia kemari, katanya.”

Rekan Aya dari cafe sudah pergi karena Edward memastikan kalau Aya aman di sana. Bagaimana tidak, kalau dia langsung yang memastikan dan menangani gadis itu.

“Cahaya kenapa?” tanya Rendi ikut menjenguk ke bed mendengar ejekan Anji dari nurse station.

“Nggak pa-pa Dok, cuma pusing aja. Dokter Edwardnya lebay pake ambil dar4h segala.”

“Oh. Bukan lebay itu, tapi perhatian. Namanya juga pasien spesial. Istirahat dulu ya, kalau butuh sesuatu panggil aja,” seru Rendi.

Petugas dari dapur datang membawakan sebotol air mineral dan segelas teh manis hangat untuk Aya. Edward juga memberikan bekal cemilan berisi dimsum miliknya.

“Makan dulu Ay,” titah Edward.

“Aku nggak lapar, Om. Aku mau pulang,” sahut Aya lirih.

“Masih pusing?”

Aya mengangguk.

“Mual?”

Aya mengangguk lagi.

“Agak mutar pandangan kamu?”

Lagi-lagi mengangguk.

“Apa yang kamu bilang nggak pa-pa. Aku lepas kamu, tiga langkah juga ambruk. Aku dokter kamu, jadi nurut. Makan dan tunggu hasil lab, mbakmu bentar lagi kemari.”

“Hah, om panggil mbak Andin?”

Edward mengangguk lalu menaikan kepala ranjang dan menusukan dimsum dengan garpu kecil, menyodorkan ke mulut Aya.

“Buka mulut kamu atau mau aku infus.”

Membayangkan tangannya kembali ditusuk jarum untuk mengalirkan cairan infusan, Aya pun menerima suapan dari Edward.

“Emang di sini gak ada kerjaan lagi, cuma aku doang yang diurusin,” sindir Aya sambil mengunyah.

“Aman, ada Anji sama Rendi.” Edward kembali menyodorkan dimsum ke mulut Aya.

“Udah om, aku eneg.” Aya berbaring miring menghadap ke arah Edward yang berdiri di sisi ranjang.

“Minum dulu!”  Membantu Aya untuk duduk dan siap saat tubuh gadis itu mendadak oleng. “Kayak gini minta pulang.” Edward menarik selimut menutupi kedua kaki sampai pinggang. Aya memejamkan matanya mengabaikan Edward yang masih menasehati.

“Om kayak mbak, cerewet,” lirih Aya.

Rekan Aya datang membawakan tas dan ponsel milik Aya, Edward meletakkan di atas cabinet bed. Menghela lega karena Aya sepertinya tertidur. 

Sekitar jam 4 sore, Andin baru datang ke IGD. Menghampiri perawat di nurse station. 

“Cahaya Sekar, adik saya. Di mana dia?

Suster mengarahkan Andin menemui Edward. 

“Dok, adik saya gimana?” tanya Andin menghampiri Edward melepas sarung tangan, baru saja menangani pasien di bed 2.

Adikmu sudah bikin jantung saya deg-degan dan menari-nari di ingatan, batin Edward.

 

 

 

1
Shee_👚
cie si vampire bisa gombal juga🤣🤣🤣
Shee_👚
bener greget ya nji, hajar aja nunggu Edward mah kelamaan 😂
stnk
🤣🤣🤣🤣...tullll..
Shee_👚
lah terbaik kali, situ yang gak pantes buat aya🤪
Shee_👚
anji bukannya sibuk bantuin ini sibuk mendokumentasikan, tar habis ini di share di group terkutuk🤣🤣🤣
Shee_👚
bawa pak, yang jauh sekalian biar bebas dunia ini dari sampah😂
Shee_👚
pria sejati g mungkin melakukan hal tercela dengan menggunakan trik murahan😤
Shee_👚
hajat🤣🤣🤣🤣
duh dah kaya mau demo aja🤭
Shee_👚
si wiro emang sableng, anak Ko mau di nikahin sama pria baji ngan😤
Shee_👚
bahaya kalau Gita ikutan juga, yang ada itu group berubah namanya jadi istri terkutuk 🤣🤣🤣✌️
gina altira
Ampuunn Anji kompor bangettt
Iccha Risa
dan akhirnya, dok siap doon tuhh pintunya dah terbuka tinggal masuk eh ijab Kabul maksudnya sah dulu yahh
shabiru Al
ads hikmah nya juga ya edward,, langsung dtodong nikah... waaahhh gimana nih duren satu ini kira2 ya.....
Felycia R. Fernandez
siaaaap Anji 🤣🤣🤣🤣
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Si Anji isi pikirannya emang agak lain ya🤣🤣🤣
Felycia R. Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣
yang kemaren viral..tidak fantassss
mery harwati
Ward ku kirim kopi online biar kau sah dengan Cahaya di episode selanjutnya ya 💪
mery harwati
Aaannnjjiii 🐶🐶🐶 paling heboh deh, klo ada Rama Purwangga wuuiihh tambah rame tuh 😄💪
mmh nengmuti
gasken ward cepet halal biar tinggal nunggu anji aja🤭
Wien Ibunya Fathur
beneran geng pria terkutuk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!