Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.
Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.
Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga hangat sang suami
Di dalam kamar utama yang luas, Celeste berdiri anggun di depan cermin tinggi. Gaun sutra navy pemberian Lucian melekat sempurna di tubuhnya, menonjolkan kulit pucat serta lekuk tubuhnya yang indah. Namun, jemarinya sedikit kesulitan saat mencoba meraih garis resleting di bagian punggung.
"Mei, tolong bantu menaikkan resletingnya sebentar," panggil Celeste seraya menoleh pelan.
"Baik, Nyonya," sahut Mei sigap. Dengan cekatan dan penuh hati-hati, Mei menarik resleting tersebut hingga ke atas, lalu merapikan lipatan kain gaun itu agar jatuh sempurna.
Celeste membiarkan rambut hitam bergelombangnya terurai bebas tanpa banyak aksesori, memancarkan kesan cantik yang alami. Tiba-tiba, daun pintu kamar terkuak pelan. Lucian melangkah masuk dengan setelan jas hitam yang sudah rapi dan tampak segar usai berbenah.
Melihat kedatangan sang tuan rumah, Mei refleks membungkuk hormat lalu mengundurkan diri dengan senyap, meninggalkan pasangan suami istri yang menurutnya terlihat teramat serasi itu.
"Apa aku membuatmu menunggu lama, Ian? Sampai kamu harus menjemputku ke kamar begini?" goda Celeste halus, mengulas senyum tipis di bibirnya.
Lucian tak membalas dengan mengetik. Pria itu terus melangkah mendekat hingga berdiri rapat di belakang tubuh istrinya. Dari dalam saku jasnya, ia mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam kecil dan membukanya tepat di depan cermin.
Di dalamnya, melingkar sebuah kalung berlian yang teramat unik. Liontinnya berbentuk paduan kelopak bunga night-blooming cereus dan lekuk bulan sabit yang dihiasi sisa batu permata hitam serta berlian transparan. Kalung eksklusif yang dinamai 'L'Étoile de Minuit' yang berarti Bintang Tengah Malam.
Mata hazel Celeste berbinar takjub. Tangannya terulur mengusap lembut kilau permata itu. "Ya Tuhan... ini indah sekali, Ian."
Tanpa bersuara, Lucian menyibakkan rambut panjang Celeste ke atas satu bahunya. Jemari hangatnya menyenggol leher jenjang Celeste saat mengaitkan rantai kalung tersebut. Namun sebelum menarik tangannya kembali, Lucian menunduk dan mendaratkan lumatan bibir yang sedikit basah tepat di bahu terbuka Celeste.
Deg.
Celeste menegang kaku, menatap pantulan mata hitam suaminya dari cermin di hadapan mereka. Ia berbalik perlahan, menatap Lucian dengan dahi berkerut penasaran. "Kapan... kapan kamu memesan kalung seindah ini?"
Lucian merogoh ponselnya, lalu mengetik singkat.
[Sebelum kita menikah.]
"Terima kasih..." bisik Celeste tulus. Walau begitu, di dalam benaknya rasa heran makin membuncah. Kenapa pria ini menyiapkan segalanya dengan begitu manis? Padahal mereka berdua disatukan tanpa dasar cinta. Mungkinkah Lucian punya rencana lain di balik semua perhatian ini? Celeste menggeleng pelan, menepis pikiran buruk itu.
Mereka berdua berjalan menuju mobil di pelataran. Di sepanjang lorong, tidak ada genggaman tangan atau rengkuhan mesra di pinggang. Lucian berjalan sedikit di depan dengan langkah lebarnya yang tegap.
Di dalam kabin mobil yang hening, Lucian kembali menyibukkan diri dengan tablet kerjanya. Celeste memilih menggeser sedikit kaca jendela di sisinya, membiarkan terpaan angin malam menyapu wajah dan menyibak rambutnya. Ia memejamkan mata, meresapi sensasi dingin yang menenangkan. Malam hari adalah satu-satunya waktu di mana ia merasa benar-benar bebas dan diterima, berbeda dengan matahari yang selalu menolaknya.
Tanpa Celeste sadari, Lucian menghentikan ketukannya di atas tablet. Alis tebal pria itu bertaut samar, memperhatikan lekat-lekat raut damai di wajah istrinya yang tampak sangat bahagia hanya karena hembusan angin malam. Ada sesuatu dari diri Celeste yang selalu berhasil menarik perhatiannya secara misterius. Istrinya sangat berbeda dengan wanita di luar sana. Auranya keluar begitu saja, walaupun hanya diam.
Tak lama kemudian, mobil mereka membelok memasuki pelataran mansion utama St. Claire. Bangunan bak istana kerajaan itu tampak makin spektakuler di malam hari, disoroti pendar ratusan lampu hias yang memantul di atas air mancur marmer.
Lucian melangkah turun, diikuti Celeste dari belakang. Begitu pintu ganda aula utama terbuka, Eleanor dan Reginald yang sudah menunggu langsung menyambut kedatangan pengantin baru itu.
"Celeste, Sayang! Akhirnya kalian sampai juga!" seru Eleanor dengan senyum berbinar hangat. Ia melangkah cepat, merangkul Celeste penuh kasih sayang lalu mengecup kedua pipinya. "Kamu cantik sekali malam ini! Gaun pilihan Lucian memang paling pas untukmu."
Reginald menyunggingkan senyum hangat yang berwibawa, menepuk pelan bahu Lucian sebelum beralih menatap menantunya. "Selamat datang kembali di rumah utama, Celeste"
"Terima kasih banyak, Mom, Dad," balas Celeste lembut seraya tersenyum tulus. Kehangatan kedua orang tua mertuanya seketika meluluhkan rasa canggung yang sempat bersarang di dadanya. Padahal yang Celeste tahu, ayah mertuanya sangatlah dingin, kini ia bersikap hangat kepadanya.
Tak lama berselang, para anggota keluarga besar St. Claire yang tengah berkumpul di ruang tengah ikut melangkah mendekat untuk menyapa.
Dominic, putra sulung yang berwajah paling mirip dengan Reginald, tegas, bergaris rahang tajam, dan beratur dingin. Ia mengulurkan tangannya kaku. "Dominic. Kakak pertama Lucian. Dan ini istriku, Helena."
Helena, wanita anggun keturunan bangsawan Inggris, menyunggingkan senyum lembut seraya menjabat tangan Celeste. "Senang akhirnya bisa berkenalan langsung denganmu, Celeste."
"Senang berkenalan dengan Kak Dominic dan Kak Helena juga," sahut Celeste ramah.
Berikutnya, Sebastian yang berwajah tampan dengan senyum miring penuh pesona melangkah maju seraya merangkul santai istrinya. "Aku Sebastian, dan ini istriku yang paling cantik, Giselle. Selamat bergabung di keluarga gila ini, Celeste."
"Jangan mendengarkannya, Celeste. Dia hanya semakin melantur," kekeh Giselle menepuk pelan lengan suaminya sebelum tersenyum manis. "Selamat atas pernikahan kalian, ya."
Tiba-tiba, seorang anak perempuan berusia 8 tahun, putri Sebastian dan Giselle, menyeruak di antara kedua orang tuanya. Ia menatap Celeste dengan mata bulat yang berbinar-binar penuh kekaguman.
"Bibi Cantik! Aku Xaviera!" panggil anak kecil itu dengan suara cemprengnya yang lucu, membuat orang-orang di ruangan itu tertawa pelan. "Bibi Cantik sangat wangi seperti bunga!"
Celeste tertawa geli, refleks berlutut menyamakan tingginya dan mengusap pelan pipi gembul Xaviera. "Terima kasih pujiannya, Putri Kecil."
Flavio juga menyapa hangat bersama suaminya, Arthur sang jaksa agung dan di ikuti Leonard, adik bungsu suaminya yang mana Xaviera lebih tua setahun sebagai keponakan Leonard dan gadis itu harus memanggilnya apa ya? paman kecil?
Namun, di tengah hiruk-pikuk kehangatan itu, berdiri seorang wanita paruh baya bergaun merah marun di sudut ruangan. Ia adalah Chantal, adik kandung Eleanor. Tatapan mata Chantal saat memperhatikan Celeste terasa begitu tajam, dingin, dan sarat akan rasa tidak suka yang tersembunyi rapat di balik senyum kakunya.
Saat mereka semua hendak melangkah menuju ruang makan utama, pintu depan kembali terbuka. Seorang remaja pria berseragam sekolah internasional dengan jaket kulit hitam melangkah masuk dengan gaya santai. Ia adalah Bryan anak tunggal Chantal yang baru berusia 17 tahun.
"Maaf semuanya, aku terlambat" ujar remaja itu berpamitan kasual.
Namun, saat matanya secara tak sengaja bertabrakan langsung dengan sosok Celeste yang berdiri tepat di samping Lucian, langkah kaki Bryan seketika terhenti kaku. Matanya membelalak lebar dalam keterkejutan yang amat nyata.
"K-kau...?" bisik remaja itu tertahan, napasnya seolah tercekat di tenggorokan. "Bukankah kau... Queen?!"
Celeste mengerutkan dahi, menatap remaja itu dengan pandangan polos dan bingung, sama sekali tak mengenali siapa pemuda di hadapannya. Sementara di sisinya, raut wajah Lucian mendadak berubah sangat dingin, dan cengkeraman tangannya di pinggang Celeste seketika mengeras secara protektif.
Siapakah 'Queen' yang dimaksud oleh remaja itu, dan rahasia besar apa lagi yang belum terkuak dari masa lalu Celeste?