Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.
Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.
Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.
Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25.
“Hana? Kamu sedang melakukan panggilan video dengan bodyguard-mu? Sungguh?”
Hana langsung melompat dari tempat tidur untuk membekap mulut Patris.
Jika tidak begitu, sungguh dia tidak tahu apa yang akan terjadi.
“Apa-apaan ini?!”
Patris yang suasana hatinya masih tidak stabil juga tidak terima dengan cara Hana membekapnya. Dia melepaskan tangan sahabatnya itu dengan sedikit kasar.
“Shh… jangan katakan apa pun dulu.”
Patris melihat wajah panik Hana yang beberapa kali menoleh ke arah luar, memastikan tidak ada siapa pun di sana.
Melihat itu, amarahnya sedikit mereda, meskipun kedua alisnya masih bertaut penuh kecurigaan.
Setelah melepaskan diri dari Hana, Patris mendudukkan diri di kasur, sementara Hana berjalan menuju pintu dan menguncinya.
Benar-benar menguncinya.
“Saat kemari aku juga bertemu dengan bodyguard-mu. Dia bertingkah aneh, dan sekarang kamu juga. Ada apa dengan kalian?” tanya Patris penuh selidik.
Kalau bisa, Hana juga ingin jujur.
Sebelum hari ini, dia sudah terbiasa menceritakan segala sesuatu kepada Patris. Sahabatnya itu bahkan menjadi salah satu orang yang paling sering mengetahui apa pun yang terjadi dalam hidupnya.
Hanya saja, kali ini berbeda. Selain tidak enak karena semua ini jelas terdengar sebagai pengkhianatan, Hana juga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya,
atau Conrad akan menghajarnya habis-habisan.
“Jangan salah paham.”
Hana ikut mendudukkan diri di samping Patris.
Dia sendiri sebenarnya cukup bingung harus menjadikan apa sebagai alasan.
“Eh… bodyguard-ku itu sudah dipecat. Jadi aku mencoba mengecek keadaannya.”
Akhirnya, Hana menemukan sebuah alasan.
“Dipecat karena apa?”
Hana menelan ludah dengan kasar.
Sekarang dia harus berbohong.
Dia mengatakan bahwa Jethro dipecat karena menuruti keinginannya untuk pergi berjalan-jalan jauh akibat stres dengan apa yang terjadi dalam hubungannya dengan Alexander.
Dan boom.
Kecurigaan Patris yang semula begitu kuat berubah menjadi rasa bersalah.
Kalau dipikir-pikir, alasan itu memang masuk akal.
Hana sedang mengalami masalah besar dalam hubungannya. Tentu saja dia bisa saja mengalami stres sampai membutuhkan seseorang untuk menemaninya pergi.
“Sudahlah, tidak apa-apa.”
Hana bahkan belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Patris tiba-tiba memeluknya.
Sama seperti Patris merasa bersalah, Hana juga merasa bersalah karena harus berbohong kepadanya.
“Han, kamu jangan takut!” Patris mengeratkan pelukannya.
“Aku akan ada di pihakmu. Aku tidak akan membiarkan perempuan bernama Soraya itu macam-macam.”
Mendengar nama Soraya, Hana tanpa sadar mengangguk kecil.
Meskipun sudah hampir sampai pada titik rela melepaskan Alexander, dia juga tidak menampik bahwa ada sedikit rasa penasaran terhadap perempuan baru dalam kehidupan mantan kekasihnya itu.
Apalagi usianya jauh lebih muda.
“Patris, sudahlah…”
Hana hendak menarik tangannya yang sedang digenggam Patris sepenuh hati, tetapi perempuan itu tidak mengizinkannya.
“Kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Lebih baik—”
“Tidak, tidak, tidak!” Patris menggeleng cepat.
“Benar, kita tidak bisa mengubah apa pun. Karena itu, kamu harus tetap menikahi Kakakku.”
Hana mengernyit tertahan.
Dalam hati, dia mulai bertanya-tanya apakah Patris sudah gila? Dia tidak mau menjadi ibu tiri dalam hidup yang hanya dijalani sekali ini.
Namun di hadapan Patris, Hana hanya bisa mengangguk-angguk.
Dia tidak mungkin mengatakan apa pun yang melampaui batas yang ditetapkan Conrad.
Apalagi saat ini dia masih berada di dalam rumah.
Namun Hana juga tidak mau melakukan semua yang diperintahkan ayahnya, seperti mempertanyakan percepatan pernikahannya dengan Alexander.
“Han, kamu dengar tidak?”
“I-iya, aku mendengar.”
“Intinya, kamu tenang saja! Tadi aku sudah bicara dengan Soraya itu. Aku bilang kepadanya bahwa dia tidak bisa menikahi Kakakku karena hanya kamu yang bisa.”
“Serius?”
“Mm.”
Patris mengangguk bangga. “Lagipula, mana mungkin Alexander menikahi wanita selain dirimu? Dia kan sedang mencalonkan diri menjadi senator.”
Hana bisa merasakan ekspresi wajahnya seketika berubah. Meskipun dia mengerti maksud Patris lebih dari sekadar itu, tetap saja pembicaraan ini mengingatkannya bahwa hubungannya dengan Alexander hampir tidak pernah berjalan tanpa embel-embel.
Selalu ada alasan lain di baliknya.
“Patris, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Tapi sepertinya belum sekarang.”
Hana menatap sahabatnya.
“Cepat atau lambat, aku akan mendatangimu untuk membicarakan hal itu.”
Patris terlalu cemas, apalagi melihat wajah Hana yang begitu tenang tanpa gejolak emosi, dia takut pernikahan keduanya benar-benar batal.
Dan lebih buruk lagi, keadaan Alexander bisa bocor ke publik.
Karena itu, ketika tangannya kembali mendapatkan tangan Hana, Patris setengah memohon.
“Han, apa pun yang terjadi, kamu tidak perlu khawatir. Aku janji semuanya akan baik-baik saja, selama tidak ada campur tangan orang lain.”
KLEK.
Pintu tiba-tiba terbuka. Josephine muncul dengan senyum yang dipaksakan.
“Ma, kalau masuk ketuk pintunya.”
Hana bereaksi sedikit keras.
Dia semakin sadar bahwa pengawasan terhadap dirinya belakangan ini semakin ketat. “Maaf mengganggu kalian. Tapi Papamu sudah pergi tadi dan menitipkan pesan untuk Patris.”
Josephine kini menatap Patris.
“Patris, katakan kepada orang tuamu kalau Paman dan Bibi akan segera datang untuk membicarakan waktu pernikahan Hana dan Alexander, ya?”
Patris mengangguk antusias. “Kapan pun, Bibi.”
Mendengar itu, Hana hanya bisa terdiam tidak percaya.
Namun mengingat keputusan antara dirinya dan Alexander sudah bulat, dia percaya mantan kekasihnya itu pasti akan melakukan sesuatu untuk membatalkan pernikahan ini.
Jadi, ya, dia hanya akan menunggu Alexander bertindak.
•
•
Sementara itu, orang yang diharapkan Hana untuk bertindak justru sedang kelimpungan menghubungi Soraya.
Setelah cukup lama, akhirnya panggilan tersebut diterima.
Begitu tersambung, Alexander dengan gegabah langsung mengalihkannya menjadi panggilan video.
Untungnya, Soraya tidak keberatan.
Dua orang yang berada di apartemen masing-masing kini saling menatap melalui layar ponsel.
Soraya sedang duduk di kursi santainya dengan ponsel diletakkan di atas meja samping.
Karena posisinya seperti itu, Alexander hanya bisa melihat profil wajah Soraya dari samping yang sedang membaca buku.
Berbeda dengan Soraya yang masih memiliki kesibukan lain, secara fisik dan mental Alexander sepenuhnya tertuju kepada perempuan itu.
Dia tidak henti-hentinya meminta maaf atas perkataan Patris.
Tahu reaksi Soraya? Dia justru tertawa.
Tawa kecil itu membuat Alexander menatapnya.
“Ayolah, Kak. Sangat wajar adikmu marah atas apa yang terjadi.”
Alexander sempat mengira Soraya hanya sedang menghiburnya. Namun ternyata, perempuan itu benar-benar berpikir demikian.
“Tidak. Maafkan aku.”
Alexander menggeleng.
“Seharusnya dia tidak berbicara seperti itu kepadamu, Soraya. Aku benar-benar menyesal. Aku minta maaf.”
Di seberang sana, Soraya terdiam sambil menatap langit-langit.
Dia sudah memiliki pemikirannya sendiri mengenai semua ini.
Namun untuk sekarang, dia merasa tidak tepat membicarakannya melalui telepon.
•
•
Di tempat lain, di kediaman utama keluarga Kim, Barack dan Jiah duduk saling berhadapan di sofa dalam kamar mereka.
Kini, hanya berdua, keduanya bahkan tidak bisa menyandarkan punggung dengan tenang setelah apa yang terjadi.
Bohong jika perkataan Conrad tidak memengaruhi mereka.
“Berhenti menggigit kukumu seperti anak-anak.”
Barack memperingatkan istrinya.
Jiah segera menarik tangannya, tetapi masih menolak memandang Barack. Dia sedikit malu jika pikirannya sampai terbaca sekarang.
Bagaimanapun, belum lama ini dialah pihak yang begitu ngotot mengatakan bahwa tidak masalah jika Alexander menikahi wanita yang mengandung cucunya.
Namun sekarang semuanya terasa berbeda.
Entah bagaimana, Jiah justru mulai berpikir bahwa mungkin akan lebih baik jika Alexander bisa menikahi Hana sekaligus tetap memiliki cucunya.
“Jangan egois.”
Pada akhirnya, Barack adalah orang yang paling mengenal teman hidupnya. Meskipun Jiah tidak mengatakan apa pun, dia tetap bisa membaca pikirannya.
“Jangan berpikir kau bisa mengangkut semuanya sekaligus.”
Barack menghela napas.
“Putra kita telah melakukan kesalahan di sini. Jadi, hal yang paling benar adalah membiarkan dia bertanggung jawab.”
Jiah menatap suaminya dengan kegelisahan yang jelas. Mengetahui bahwa dirinya telah terbaca, Jiah tidak lagi membuat alasan.
Dia langsung membalas.
“Ayolah, Suamiku. Ini lebih dari sekadar bertanggung jawab.”
Jiah mengakhiri ucapannya dengan kekehan tawar.
“Ini bukan masalah sekolah atau pekerjaan. Ini masalah pernikahan. Masalah tentang dengan siapa putra kita akan menghabiskan sisa hidupnya.”
Dia menarik tangannya ke dalam pangkuan.
“Sebagai orang tua, kita berhak ikut bertanggung jawab dan mengambil keputusan mengenai hal ini.”
Barack sebenarnya cukup jelas dan kukuh ingin membiarkan keputusan tetap berada di tangan Alexander.
Namun di bawah sikap Jiah yang kini berbicara mata ke mata dengannya, dia tidak mungkin tidak goyah.
“Mari kita temui wanita itu.”
Jiah mencondongkan tubuh sedikit. “Kita lihat dan cari tahu. Mungkin juga kita bisa langsung menanyakan, bisa saja dia setuju....”
Barack masih terdiam.
“Bagaimanapun, Alexander adalah orang asing baginya. Siapa yang mau menikahi orang asing begitu saja?”
Barack belum sempat menjawab ketika Jiah dengan gegabah langsung mengambil ponsel suaminya.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Barack.
“Aku akan menghubungi Karel.”
Alis Barack terangkat. “Untuk apa?”
“Apalagi? Dia adalah sekretaris Alexander. Sudah pasti dia tahu sesuatu tentang wanita ini.”
“Jiah, jangan gegabah. Mari kita bicarakan hal ini dengan Alexander dan—”
Kata-kata Barack menggantung di udara.
Dia mengira Jiah hanya akan mengetik pesan.
Ternyata perempuan itu langsung melakukan panggilan.
Hanya membutuhkan waktu dua detik sebelum panggilan tersebut diangkat Karel.
Jiah langsung meletakkan satu jari di depan mulut, memperingatkan Barack agar tidak memotong pembicaraannya dengan Karel.
Barack yang melihat itu hanya bisa menarik napas dalam-dalam.
Meskipun dia sangat marah dan kecewa kepada Alexander, dia masih percaya putranya tahu bagaimana mengambil keputusan terbaik untuk dirinya sendiri.
Namun jika sudah seperti ini, dia juga tidak memiliki banyak pilihan.
Jiah hanya mengatakan beberapa kata kepada Karel sebelum panggilan tersebut berakhir.
Tidak lama kemudian, bunyi notifikasi terdengar.
Jiah membuka pesan yang masuk dan membaca informasi tersebut.
“Kota Nevara, kampus NIY.”
Dia membaca lebih lanjut.
“Namanya Soraya Al-Kala.”
Jiah menahan nafas, ketika tiba pada bagian foto Soraya. Dia menunjukkan pada Barack, membuat pria paruh baya itu ikut terdiam.
Barack berdecak kecil. “Gadis secantik ini, kenapa dia bisa jatuh pada Alexander?”
Informasi mengenai Soraya bisa diperoleh Karel secara strategis melalui riwayat transaksi tuan mudanya.
Bagaimanapun, sebelum menjadi sekretaris Alexander, Karel adalah orang kepercayaan Barack.
Karena itu, dia tidak bisa menyembunyikan apa pun dari tuannya.
“Al-Kala?”
Barack bergumam.
“Dia dari wilayah Timur?”
Jiah mengangguk. “Wanita ini berasal dari latar belakang yang begitu berbeda dengan kita. Dia benar-benar tidak akan cocok dengan Alexander.”
“Jangan menyimpulkan seperti itu.”
Barack langsung memperingatkan.
“Apalagi sampai membawa-bawa ras. Kita bahkan belum mengenalnya.”
Jiah tahu dirinya sedikit keterlaluan.
Dia terdiam beberapa saat sambil masih memegang ponsel. Kemudian, tanpa banyak basa-basi, dia kembali berujar. “Aku sudah memesan penerbangan.”
Barack menatapnya.
“Kita akan pergi diam-diam.”