NovelToon NovelToon
Sistem Om Level Dewa

Sistem Om Level Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Hidup tenang Bayu sebagai karyawan sekaligus selebgram hancur seketika saat ia harus mengasuh enam keponakan perempuannya yang super aktif. Namun, kemunculan "Sistem Om Level Dewa" mengubah segalanya dengan menjanjikan kekayaan tak terbatas asalkan ia berhasil membuat para keponakannya bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Keesokan paginya, matahari baru saja terbit saat mobil Toyota Alphard putih milik Bayu melaju keluar dari mansion.

Bayu sengaja menggunakan mobil Alphard agar mereka semua bisa duduk dengan leluasa selama perjalanan jauh.

Di dalam mobil, Rara sudah tertidur kembali sambil memeluk boneka beruang kecilnya.

Bayu mengemudikan mobilnya menuju sebuah kompleks perumahan sederhana di daerah Jakarta Selatan sesuai lokasi yang dikirim Alya.

Tin tin.

Bayu membunyikan klaksonnya pelan saat mobilnya berhenti tepat di depan sebuah rumah berpagar putih.

Pintu pagar itu terbuka dan Alya keluar sambil membawa sebuah koper kecil beroda warna biru pastel.

Alya mengenakan pakaian kasual berupa kaos putih lengan panjang yang dibalut dengan kardigan rajut berwarna cokelat muda.

Rambut panjangnya dibiarkan tergerai indah tertiup angin pagi membuat Bayu sempat terpana selama beberapa detik.

Bayu segera turun dari mobil dan membantu Alya memasukkan kopernya ke dalam bagasi belakang.

"Selamat pagi Bayu, maaf membuatmu harus menjemputku ke mari," sapa Alya dengan senyuman manisnya.

"Selamat pagi juga Alya, tidak masalah sama sekali, ayo silakan masuk ke dalam mobil."

Cklek.

Pintu geser otomatis terbuka dan Alya melangkah masuk mengambil duduk di kursi penumpang bagian depan sebelah Bayu.

"Halo Tante Alya cantik, selamat pagi!" sapa kelima keponakan Bayu serempak dari kursi belakang.

Alya menoleh ke belakang dan melambaikan tangannya dengan sangat ramah.

"Halo anak-anak manis, kalian sudah siap untuk bermain air dingin di Puncak hari ini?"

"Sudah Tante! Kami membawa banyak mainan dan makanan ringan untuk dimakan di jalan," jawab Luna dengan polosnya.

Bayu kembali duduk di kursi kemudi dan perlahan melajukan mobilnya meninggalkan area perumahan tersebut.

Perjalanan menuju kawasan Puncak pagi itu terbilang cukup lancar tanpa adanya kemacetan parah yang berarti.

Di dalam mobil, Alya terus mengajak anak-anak mengobrol membuat suasana perjalanan menjadi sangat hangat dan tidak membosankan.

Alya sangat pintar mengambil hati anak kecil, dia bahkan membagikan permen cokelat yang dibawanya kepada mereka semua.

Sinta yang duduk di baris tengah sengaja mencondongkan kepalanya ke depan untuk menggoda Bayu lagi.

"Om Bayu, Tante Alya ini sudah sangat cocok menjadi seorang ibu, kapan Om mau melamarnya?" bisik Sinta dengan suara pelan namun masih bisa terdengar oleh Alya.

Wajah Bayu dan Alya seketika berubah menjadi sangat merah merona mendengar celetukan berani dari Sinta tersebut.

Uhuk.

Bayu sampai terbatuk pelan menahan rasa gugup yang mendadak menyerang jantungnya.

"Sinta sayang, makan saja permen cokelatmu dan jangan banyak bicara mengganggu konsentrasi Om menyetir."

Alya hanya menundukkan kepalanya menatap ujung sepatunya mencoba menyembunyikan senyuman tersipu yang menghiasi bibirnya.

"Anak-anak zaman sekarang memang pemikirannya jauh lebih dewasa dari usianya ya Bayu," gumam Alya mencoba mencairkan suasana.

"Iya Alya, terkadang aku merasa kewalahan sendiri menghadapi mulut tajam Sinta itu."

Perjalanan terus berlanjut hingga mereka mulai memasuki area jalan menanjak dan berkelok khas pegunungan Puncak.

Udara di dalam kabin mobil mulai terasa sangat dingin meskipun Bayu sudah mematikan pendingin ruangan.

Kaca mobil mulai sedikit berembun karena perbedaan suhu di luar dan di dalam mobil.

"Wah di luar banyak kabut putih Om, pemandangannya sangat indah," tunjuk Kania ke arah jendela kaca.

"Iya Kania, kita sudah hampir sampai di lokasi vila kita, bersiaplah untuk memakai jaket tebal kalian."

Bayu membelokkan mobilnya memasuki sebuah gerbang kayu raksasa yang dijaga oleh dua orang petugas keamanan berseragam.

Ini adalah kawasan vila pribadi super eksklusif yang sengaja Bayu sewa menggunakan Kartu Blackcard miliknya.

Harga sewa vila ini per malamnya mencapai seratus juta rupiah karena fasilitasnya yang setara dengan hotel bintang lima.

Brumm.

Mobil Alphard putih itu berhenti di depan sebuah bangunan vila kayu bergaya Eropa klasik yang sangat megah.

Bangunan vila itu berdiri di atas bukit dengan pemandangan langsung menghadap ke hamparan kebun teh yang hijau.

"Ayo semuanya turun, kita sudah sampai di istana gunung kita hari ini," umumkan Bayu sambil mematikan mesin.

Cklek.

Saat pintu mobil terbuka, hembusan angin pegunungan yang sangat dingin langsung menerpa tubuh mereka.

Wush.

"Brrr, udaranya dingin sekali Om Bayu seperti di dalam kulkas raksasa," gigil Rara sambil memeluk lengan kakaknya.

Alya segera turun dan membantu memakaikan jaket tebal berbulu kepada Rara dan Luna dengan sangat telaten.

"Ayo cepat masuk ke dalam rumah anak-anak, di dalam pasti ada penghangat ruangan agar kalian tidak masuk angin."

Mereka semua berjalan masuk ke dalam vila mewah tersebut dan langsung disambut oleh udara hangat yang sangat nyaman.

Bagian dalam vila itu didominasi oleh perabotan kayu jati dan lantai berlapis karpet tebal yang empuk.

Sebuah perapian besar menyala terang di sudut ruang tengah memberikan kesan hangat dan romantis.

[Ding!]

[Tuan berhasil membawa keponakan ke tempat rekreasi dengan tingkat kenyamanan maksimal.]

[Poin Kasih Sayang Keponakan bertambah 10 Poin.]

[Total Poin Kasih Sayang saat ini: 85/100 Poin.]

Bayu tersenyum tipis mendengar notifikasi sistem yang selalu muncul memberikan laporan pencapaiannya.

"Sedikit lagi poinnya akan penuh, aku penasaran kejutan apa yang akan sistem berikan jika poinnya mencapai angka seratus."

"Bayu, vila ini besar sekali dan fasilitasnya sangat lengkap, harganya pasti sangat mahal ya," ucap Alya sambil melihat-lihat.

"Tidak perlu memikirkan harganya Alya, yang penting kamu dan anak-anak bisa merasa nyaman berlibur di sini."

Bayu mengambil alih koper Alya dan membawanya menuju salah satu kamar utama yang ada di lantai satu.

"Ini adalah kamarmu Alya, ada kamar mandi dalam yang dilengkapi dengan pemanas air dan bak mandi besar."

Alya melongok ke dalam kamar tersebut dan sangat takjub melihat desainnya yang mewah.

"Terima kasih banyak Bayu, kamar ini bahkan jauh lebih bagus dari kamar tidurku sendiri di rumah."

Menjelang malam hari, suhu udara di luar vila turun drastis menjadi sangat dingin menusuk tulang.

Namun di dalam vila, keenam keponakan Bayu sedang asyik berenang di dalam kolam renang air hangat dalam ruangan.

Suara tawa dan cipratan air terdengar sangat ramai dari arah ruangan kaca tersebut.

Byur byur byur.

Bayu berdiri di balkon luar vila yang menghadap ke kebun teh, memegang secangkir cokelat panas di tangannya.

Dia hanya mengenakan kaos lengan panjang dan sebuah jaket tebal yang membalut tubuhnya.

Cklek.

Pintu kaca geser balkon terbuka dan Alya melangkah keluar menghampiri Bayu dengan hati-hati.

Alya membawa secangkir teh kamomil hangat yang asapnya mengepul tipis di udara dingin.

"Kamu sendirian di sini Bayu? Bukankah di luar sini sangat dingin?" tegur Alya dengan suara lembut.

Bayu menoleh dan tersenyum sangat hangat menyambut kedatangan wanita yang sejak tadi mengganggu pikirannya itu.

"Aku hanya sedang menikmati pemandangan kabut malam Alya, udaranya memang dingin tapi sangat menenangkan."

Alya berdiri di sebelah Bayu dan ikut menatap hamparan gelap kebun teh di bawah bukit sana.

Angin malam tiba-tiba berhembus cukup kencang membuat tubuh Alya sedikit menggigil kedinginan.

Wushhh.

Melihat Alya yang kedinginan, Bayu tanpa berpikir panjang langsung melepaskan jaket tebalnya.

Dia menyampirkan jaket besar itu ke atas bahu Alya dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh perhatian.

"Pakailah ini Alya, aku tidak ingin kamu jatuh sakit karena menemani pria bodoh yang berdiri di luar balkon malam-malam."

Alya menatap wajah Bayu dari jarak yang sangat dekat dengan perasaan jantung yang berdebar sangat kencang.

Wangi parfum maskulin milik Bayu menempel kuat di jaket tersebut membuat Alya merasa sangat aman dan dilindungi.

"Tapi nanti kamu kedinginan Bayu, kamu hanya pakai kaos tipis begitu," tolak Alya pelan mencoba mengembalikan jaket itu.

Bayu menahan tangan Alya dan menggenggam jemari wanita itu dengan sangat erat namun lembut.

"Aku tidak akan kedinginan selama kamu ada di sisiku Alya, kehadiranmu sudah cukup memberikan kehangatan untukku."

Gombalan tulus yang meluncur dari mulut Bayu itu sukses membuat wajah Alya merah padam mengalahkan warna tomat ceri.

[Ding!]

[Momen romantis malam pegunungan berhasil dieksekusi dengan sangat sempurna.]

[Tingkat keintiman Tuan dan target Alya Nadhira semakin meningkat pesat, segera persiapkan cincin pengikat.]

Bayu mengabaikan celotehan sistem di kepalanya dan hanya fokus menatap mata cokelat indah milik Alya.

Malam itu, di bawah temaram cahaya lampu balkon dan hembusan angin Puncak yang dingin, dua hati mulai bertaut semakin kuat.

Bayu merangkul bahu Alya dan membiarkan wanita itu menyandarkan kepalanya ke dada bidangnya menikmati kehangatan malam bersama.

1
Adelina Lin
thor,gimana ibunya anak anaknya gk diceritakan lagi
kiyoe: heheh iyaa nanti muncul kok kak ibu dari keenam anak² itu 🙏
total 1 replies
Wega Luna
yu, ponakan2 mu itu bisa dibuat model juga🤣🤣🤣🤣🤣
Wega Luna
apa gunanya sistem kalo tidak memberi peringatan, jangan sampai lah terjebak terlalu jauh ,semoga ketahuan,
Adelina Lin: thor jangan sampai rencana busuknya si vanya terlaksana, kasihan bayu dan keponakannya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!