Bagaimana jadinya jika jiwa seorang remaja cewek tomboi modern yang hobi tawuran, bermulut tajam, dan ceplas-ceplos terlempar ke masa lalu? Sialnya lagi, dia bangun di dalam tubuh permaisuri Xia Ruo, wanita paling rapuh dan tertindas di Kekaisaran Han yang baru saja mencoba bunuh diri karena tidak tahan diabaikan oleh kaisar yang penguasa berdarah dingin yang terkenal kejam.
Kini, tidak ada lagi Permaisuri Xia Ruo yang hobi menangis terisak. Yang ada hanyalah permaisuri baru yang berani duduk bersila di atas ranjang sutra sambil memanggil sang Kaisar kejam dengan sebutan "Mas Bro". Didampingi oleh Yuan er, pelayan setianya yang selalu menangis histeris dan berusaha keras mendidik sang permaisuri agar bisa berbicara lembut, Xia Ruo harus memutar otak untuk bertahan hidup. Mulai dari melabrak dapur istana demi makanan enak, melatih fisiknya yang selemah triplek basah, hingga menghadapi Kaisar kejam yang anehnya... justru mulai terobsesi dengan perubahan barbar dirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15 : paviliun baru dan ujian yang belum selesai
"Wah... gila, ini baru namanya tempat tinggal! Gak kayak paviliun kemarin yang mirip gudang angker!"
Ara berdiri di tengah halaman paviliun barunya dengan mata berbinar-binar. Atas perintah mendadak dari Kaisar Yan setelah insiden skakmat di perjamuan teh kemarin, Ara resmi dipindahkan ke Paviliun Teratai Biru. Tempat ini jauh lebih besar, bersih, dan lokasinya dekat dengan kolam ikan istana. Lantainya terbuat dari marmer kualitas nomor satu, dan pilar-pilar kayunya diukir sangat rapi tanpa ada debu sedikit pun.
Di belakangnya, Yuan-er sibuk mengarahkan para pelayan baru untuk mengangkat peti-peti berisi pakaian sutra dan kepingan perak hasil rampasan dari Biro Keuangan kemarin. Wajah pelayan kecil itu tampak berseri-seri, dadanya dibusungkan angkuh di depan para pelayan paviliun lain yang dulu sering meremehkannya.
"Permaisuri, lihat ini! Kaisar bahkan mengirimkan kasur bulu angsa yang sangat empuk dan arang kualitas terbaik untuk musim dingin nanti!" seru Yuan-er girang sambil menunjukkan tumpukan barang mewah yang baru datang. "Ini tanda kalau Kaisar sudah mulai memperhatikan Anda!"
Ara hanya mendengus sambil berjalan menuju tepi kolam teratai. Dia mengambil sebutir batu kecil, lalu melemparkannya ke dalam air hingga membuat riakan besar. "Alah, si Mas Bro itu pasti punya maksud terselubung. Gak ada makan siang gratis di dunia ini, vitamin. Semakin dia baik sama gua, biasanya makin banyak juga kerjaan atau masalah yang bakal dateng."
Tebakan Ara sama sekali tidak meleset. Tepat setelah kalimat itu keluar dari mulutnya, Kasim Gao melangkah masuk ke dalam gerbang Paviliun Teratai Biru dengan wajah yang dipenuhi senyuman ramah, senyuman yang menurut insting preman Ara sangat mencurigakan.
"Salam kepada Permaisuri Xia Ruo," Kasim Gao membungkuk hormat, sikapnya kini jauh lebih sopan dibandingkan beberapa hari lalu. "Hamba datang membawa titah rahasia dari Kaisar."
Ara melipat kedua tangannya di dada, menatap Kasim Gao dengan pandangan menyelidik. "Tuh, kan, bener dugaan gua. Baru juga pindahan, udah ditagih utang aja. Apaan titah rahasianya, Mas Bro Tua? Buruan ngomong, gua mau lanjut latihan fisik."
Kasim Gao mendeham kecil, sudah mulai terbiasa dengan bahasa ceplas-ceplos sang Permaisuri. "Kaisar meminta Anda bersiap-siap. Dua minggu lagi, Kekaisaran Han akan mengadakan Acara Berburu Tahunan di Hutan Larangan. Kaisar menitahkan agar Permaisuri ikut serta mendampingi Beliau di barisan paling depan."
Mendengar hal itu, Yuan-er yang sedang memegang nampan teh langsung lemas. "Ber-berburu? Tapi Hutan Larangan itu penuh dengan binatang buas dan... dan medannya sangat berbahaya untuk Permaisuri!"
Berbeda dengan Yuan-er yang ketakutan, mata Ara justru berkilat tajam penuh semangat. Semburat senyuman miring yang sangar perlahan muncul di wajah jelitanya. Berburu di hutan? Itu artinya dia bisa keluar dari lingkungan istana belakang yang membosankan ini! Dia bisa bergerak bebas, memanah, berlari, dan mungkin... menjajal kekuatan fisik barunya yang sudah mulai terbentuk.
"Mendampingi di barisan depan, ya?" gumam Ara sambil mengepalkan tangan kanannya hingga buku jarinya berbunyi pelan. Dia menoleh ke arah Kasim Gao dengan tatapan menantang. "Bilangin sama bos lu si Mas Bro Kaisar, gua terima tantangannya. Suruh dia siapin busur paling kuat dan kuda paling cepet buat gua. Jangan sampai nanti di hutan, malah dia yang ketinggalan di belakang gua karena kudanya lemes!"
Kasim Gao menelan ludah melihat keberanian Permaisuri yang di luar nalar ini. Dia buru-buru pamit undur diri untuk menyampaikan pesan barbar tersebut kepada sang Kaisar.
Setelah Kasim Gao pergi, Ara berjalan ke tengah halaman paviliun baru yang luas itu. Dia mengambil posisi siap, lalu mulai melakukan gerakan tendangan berputar ke udara dengan sangat cepat dan bertenaga. Angin hasil tendangannya bahkan membuat daun-daun kering di lantai marmer berhamburan.
Fase adaptasinya di istana belakang ini sudah selesai. Sekarang, saatnya dia bersiap untuk tantangan yang lebih besar di luar sana.
"Hutan Larangan, ya? Sini maju lu semua, mau macan atau musuh politik, bakal gua sikat sampai rata!" batin Ara penuh rasa percaya diri.
Paksu Kaisar berharap banget pada ibu negara 🤣🤣🤣
ketawa mulu mah gue
kok nggak ada yg komen ya?
apakah para pembaca pada terhipnotis krn novel ini enakn dibaca ya?
Kayaknya Kaisar Yan akan mendapatkan lawan seimbang
Gue suka mulut Permaisuri yg badas... yg bikin para pejabat pada setrok berjemaah ketika Permaisuri memberikan kuliah subuh 🤣🤣🤣🤣