Ayana pikir cinta berarti selalu berada di sisi orang yang dicintainya. Ketika Angga kehilangan kekasih dan ibunya dalam waktu berdekatan, Ayana hadir untuk membantunya bangkit. Bahkan tanpa sepengetahuan Angga, Ayana diam-diam menggunakan segala yang dimilikinya untuk membantu pria itu meraih kesuksesan. Hingga mereka bertunangan dan pernikahan tinggal menghitung hari. Namun masa lalu Angga kembali. Rara, mantan kekasihnya, datang membawa luka, air mata, dan seorang bayi dalam kandungan. Perlahan, Angga mulai memilih Rara. Meninggalkan Ayana di hari fitting gaun pengantin Membiarkan Rara duduk di sampingnya sementara Ayana harus duduk di belakang Bahkan meminta Ayana mengalah dalam pencatatan pernikahan demi masa depan anak Rara. Sampai akhirnya Ayana sadar, Ia bukan lagi calon istri yang diprioritaskan. Ia hanya pilihan yang diminta untuk mengerti. Ayana pun pergi. Tanpa dendam. Tanpa membalas. Ia hanya berhenti menyelamatkan pria yang tidak pernah menyadari bahwa selama ini, dialah yang membuat hidupnya begitu mudah. Ketika Ayana kembali ke kota besar dan bertemu Kenan, seorang pewaris yang setara dengannya, hidupnya perlahan berubah. Sementara itu, kehidupan Angga mulai runtuh. Dan saat Angga akhirnya mengetahui siapa sebenarnya Ayana, semuanya sudah terlambat. Karena perempuan yang dulu rela berdiri di belakangnya kini telah menemukan seseorang yang bersedia berdiri di sisinya. Akankah Angga mendapatkan Ayana kembali, atau harus hidup dengan penyesalan karena telah kehilangan perempuan yang seharusnya menjadi istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rara Tidak Lagi Sama
Pagi setelah surat dari klien tiba, Angga datang ke kantor dengan mata yang terasa berat. Ia hampir tidak tidur. Di kepalanya, angka-angka arus kas bercampur dengan tenggat lima hari kerja dan nama-nama pemasok yang harus dibayar.
Bu Lestari sudah menunggu di ruang rapat. Di sampingnya duduk Dimas, sementara beberapa berkas terbuka di atas meja.
“Kita bisa mengajukan pembayaran sebagian kepada klien,” kata Bu Lestari. “Tapi mereka belum memberi kepastian. Kalau tidak ada uang masuk pekan ini, kita harus menentukan pembayaran mana yang ditunda.”
Angga menarik kursi. “Jangan putuskan apa pun dulu. Kita akan mengirim evaluasi teknis hari ini dan meminta pertemuan lanjutan.”
Dimas menggeser sebuah map kepadanya. “Drafnya sudah disiapkan. Bagian yang memang menjadi tanggung jawab kita dipisahkan dari perubahan permintaan. Tetapi kita tetap perlu menghitung biaya perbaikannya.”
Angga membaca halaman pertama. Beberapa angka di dalamnya membuat dahinya berkerut. Ia ingin menyelesaikan persoalan itu secepat mungkin, tetapi setiap pilihan seperti meminta pengorbanan lain: uang, waktu, atau kepercayaan klien.
“Siapkan pertemuan,” katanya. “Kita cari titik tengah sebelum batas lima hari.”
Rapat berlangsung lebih lama dari yang direncanakan. Ketika akhirnya kembali ke ruangannya, ponsel Angga bergetar. Nama Rara muncul di layar.
“Aku sudah di klinik,” kata Rara begitu panggilan tersambung. “Dokter minta aku datang untuk pemeriksaan lanjutan. Katanya ada beberapa hal yang perlu dipastikan.”
Angga berdiri dari kursinya. “Kau sendirian?”
“Iya.”
“Kenapa tidak memberitahuku tadi?”
“Kau bilang sedang ada masalah kantor.” Suara Rara terdengar datar, tanpa nada menuntut. “Aku tidak mau membuatmu repot.”
Angga terdiam. Ia terbiasa mendengar Rara meminta ditemani. Kalimat itu seharusnya membuatnya lega, tetapi yang muncul justru perasaan tidak nyaman.
“Dokternya bilang apa?”
“Belum ada hasil. Aku diminta menunggu.” Rara menarik napas pendek. “Kamu tidak perlu datang. Aku akan kabari kalau sudah selesai.”
Panggilan berakhir sebelum Angga sempat menjawab. Ia menatap ponsel yang gelap, lalu memandang berkas di meja. Beberapa minggu lalu, ia mungkin sudah meninggalkan rapat demi menyusul Rara. Hari ini, ia bahkan tidak yakin dirinya mampu meninggalkan kantor.
Dimas muncul di ambang pintu. “Ada kabar dari klien. Mereka bersedia menerima kita pukul dua.”
Angga mengangguk. “Baik. Pastikan tim teknis ikut.”
“Dan soal Rara?” tanya Dimas hati-hati.
“Dia sedang pemeriksaan. Katanya akan mengabari kalau ada sesuatu.”
Dimas tidak berkomentar. Ia hanya meletakkan jadwal pertemuan di meja, lalu kembali ke ruangannya.
Pukul dua, Angga dan Dimas bertemu pihak klien. Pembicaraan berjalan kaku. Tim teknis menjelaskan letak kesalahan dan perubahan instruksi, sementara pihak klien menolak menanggung biaya tambahan. Angga berusaha menjaga suaranya tetap tenang.
“Kami akan memperbaiki dua bagian yang memang tidak sesuai standar,” katanya. “Untuk perubahan lain, kami mengusulkan biaya dibagi dan tenggat diperpanjang.”
Perwakilan klien melihat catatan di hadapannya. “Kami tidak bisa menyetujui biaya tambahan sebelum direksi meninjau ulang.”
“Kalau begitu, kami membutuhkan kepastian kapan keputusan itu dibuat.”
“Besok siang.”
Bukan jawaban yang melegakan, tetapi setidaknya bukan penolakan. Angga menyetujui jadwal itu dan meminta semua poin dicatat dalam notulen resmi. Ia tak ingin kesalahpahaman lain tumbuh dari percakapan yang tak terdokumentasi.
Saat pertemuan selesai, ia menemukan dua pesan dari Rara. Pesan pertama hanya berbunyi, “Pemeriksaannya selesai.” Pesan kedua datang beberapa menit kemudian: “Dokter bilang bayinya baik-baik saja. Aku pulang sendiri.”
Angga membaca kedua pesan itu berulang kali. Ia mengetik, “Maaf aku tidak bisa menemanimu. Aku baru selesai rapat.” Lalu ia menghapus kalimat itu, menulis ulang, dan akhirnya mengirim pesan singkat: “Syukurlah. Istirahatlah. Kalau ada yang perlu, beri tahu aku.”
Balasan Rara datang tak lama kemudian. “Terima kasih. Tapi mulai sekarang, aku akan mengurus pemeriksaanku sendiri. Kamu punya banyak hal yang harus diselesaikan.”
Angga memandangi layar. Ia seharusnya merasa terbantu. Namun ada sesuatu dalam kalimat itu yang membuat jarak di antara mereka terasa lebih nyata.
Sore menjelang malam ketika ia pulang. Di rumah, Rara sedang duduk di ruang tamu dengan map pemeriksaan di pangkuan. Wajahnya tampak lelah, tetapi ia berusaha tersenyum.
“Kau sudah pulang,” kata Angga.
“Aku tidak lama menunggu.” Rara meletakkan map itu di meja. “Dokter bilang semuanya cukup stabil. Aku harus kembali minggu depan.”
“Kenapa kau tidak menelepon kalau perlu dijemput?”
Rara mengangkat bahu. “Aku bisa naik taksi.”
Angga duduk di seberangnya. “Kau tahu aku akan datang kalau kau memintanya.”
“Benarkah?” Rara menatapnya. Tidak ada kemarahan di matanya, hanya kelelahan yang tak bisa disembunyikan. “Kantormu sedang bermasalah. Aku tidak mau terus menjadi alasan kamu meninggalkan hal-hal yang harus kamu urus.”
“Kau bukan alasan.”
“Angga, kita berdua tahu selama ini aku sering meminta waktumu.” Rara menunduk, jemarinya merapikan sudut map. “Awalnya aku merasa tidak punya siapa-siapa. Aku takut menghadapi semuanya sendiri. Tapi sekarang aku harus mulai mengurus hidupku tanpa mengandalkanmu setiap saat.”
Angga tak segera menjawab. Ia ingin berkata bahwa ia tetap akan membantunya. Ia ingin mengingatkan bahwa dulu mereka pernah saling mencintai, bahwa ia tak akan membiarkan Rara menghadapi kehamilan ini seorang diri. Namun semua kalimat itu terasa seperti janji yang tidak sanggup ia tepati sepenuhnya.
“Aku tidak akan meninggalkanmu,” katanya akhirnya.
Rara tersenyum tipis. “Aku tidak meminta kamu berjanji begitu.”
Hening turun di antara mereka. Angga baru menyadari bahwa Rara tak lagi memandangnya seperti satu-satunya tempat untuk pulang. Barangkali ia memang mulai berdiri sendiri. Barangkali juga ia sudah lelah menunggu Angga menjawab setiap panggilannya.
Ponsel Angga bergetar. Pesan dari Bu Lestari masuk: klien meminta tambahan dokumen sebelum memberi keputusan. Angga membacanya, lalu mengembuskan napas panjang.
“Ada masalah lagi?” tanya Rara.
“Klien belum menyetujui usulan kita.”
“Kamu harus kembali ke kantor?”
“Tidak malam ini.”
Rara mengangguk. “Kalau begitu, makanlah dulu. Kamu kelihatan belum makan.”
Perhatian itu terasa asing. Dulu Rara akan meminta Angga tetap duduk di sampingnya, menceritakan setiap hal yang terjadi. Kini ia justru memberi ruang, seolah tak ingin menjadi beban.
Mereka makan dalam percakapan ringan. Rara membicarakan jadwal pemeriksaan berikutnya dan kebutuhan bayi yang harus mulai ia siapkan. Angga mendengarkan, tetapi pikirannya terus kembali pada surat klien dan perusahaan yang menunggu keputusan darinya.
Setelah makan, Rara berdiri dan membawa piringnya ke dapur.
“Biar aku saja,” kata Angga.
“Tidak apa-apa. Aku masih bisa melakukan hal sederhana.” Rara berhenti sejenak di ambang dapur. “Jangan merasa harus menebus semuanya dengan mengurusku.”
Angga membeku. “Maksudmu?”
Rara tidak langsung menjawab. “Aku tahu kamu merasa bertanggung jawab karena masa lalu kita. Tapi aku tidak ingin menjadi alasan kamu mengabaikan hidupmu sendiri.”
Kata-katanya tidak terdengar kejam. Justru karena itu, Angga tak tahu harus membantah dari mana.
Malam itu, ia kembali membuka laporan keuangan di ruang kerja. Dari ruang tengah terdengar suara televisi pelan, lalu sunyi. Rara sudah masuk ke kamarnya.
Angga berusaha membaca angka-angka di hadapannya. Namun untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa bahkan Rara mulai mundur dari tempat yang selama ini ia sediakan untuknya.
Ia tak tahu apakah Rara menjauh karena tak lagi membutuhkan dirinya, atau karena akhirnya memahami bahwa Angga sendiri tidak sanggup menjadi sandaran bagi siapa pun.
Ponselnya menyala lagi. Pesan dari Dimas: klien akan memberi keputusan besok siang. Sementara itu, pemasok utama meminta kepastian pembayaran sebelum mengirim bahan untuk proyek lain.
Angga menatap dua persoalan itu bergantian. Di satu sisi, perusahaan yang mungkin kehilangan proyek besar. Di sisi lain, perempuan dari masa lalunya yang kini belajar berjalan tanpa dirinya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa tak ada seorang pun yang benar-benar menunggunya menyelesaikan masalah.
Emak akan memberi 5 bintang jika Angga benar-benar hancur
slah sndiri lbh memilih memungut smpah masa lalu....
mna g sadar diri... egois.... maunya sll di mngerti... tpi tak mau mngrti org lain....
harusnya km sadar angga.... perempuan yg dlu mninggalknmu... tk akn mngkin brubah.... dan mau mnemanimu di saat susahmu....
lihatlah skrg.... disaat km butuh suport & butuh ktenangan.... masa lalumu tak prnah mau mngrti keadaanmu... tak peduli dgn smua msalahmu... krna dia maunya sll km yg harus mngerti dia....