Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.
Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.
Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33
***
Pagi-pagi sekali, kehangatan sudah melingkupi dapur mungil di sudut rumah baru Kenzo dan Alana. Udara yang biasanya sunyi kini dipenuhi aroma manis mentega pasah, lelehan vanila murni, dan keharuman adonan kue yang dipanggang dalam oven. Dapur bersih itu telah menjelma menjadi arena produksi kue mini.
Di depan meja counter kayu, Kenzo berdiri kaku dengan celemek kain polos berwarna hijau yang terikat canggung di pinggangnya. Pria tegap yang biasanya memimpin ribuan karyawan di gedung pencakar langit Elard Group itu kini tampak begitu menggemaskan. Rambut hitamnya sedikit acak-acakan, pipi mancungnya ternoda bintik-bintik putih tepung terigu, dan kedua matanya menatap mangkuk adonan dengan tingkat keseriusan yang melebihi analisis laporan keuangan bursa saham.
"Mas Kenzo, mengocok menteganya jangan terlalu kencang, nanti adonannya terlalu lembek," tegur Alana lembut dari sampingnya.
Alana duduk anggun di atas kursi kayu tinggi, mengenakan celemek kehamilan berwarna merah muda. Perutnya yang membuncit di usia 28 minggu tersangga nyaman. Jemari cantiknya sedang telaten memisahkan kuning telur ke dalam mangkuk porselen.
Kenzo seketika menghentikan pergerakan tangannya dengan panik, mematikan mixer listrik di genggamannya seraya menelan ludah kasar.
"Eh? Begitu ya, Nyonya Koki?" tanya Kenzo cemas, menatap Alana dengan raut muka serba salah. "Aku pikir makin cepat putarannya, teksturnya makin halus. Tadi aku pakai kecepatan tingkat lima."
Alana tak sanggup menahan kekehan renyahnya. Suara tawa yang merdu itu mengalun memenuhi dapur, membuat Kenzo terpaku menatap wajah istrinya yang kini merona cerah.
"Kalau pakai kecepatan lima, itu buat bikin adonan busa, Mas," goda Alana pelan. Ia meraih kain lap bersih, bangkit berdiri perlahan seraya menyangga pinggang belakangnya, lalu mendekati Kenzo. "Sini, letakkan pisaunya. Pipi Mas belepotan tepung lagi."
Dengan kelembutan yang teramat tulus, Alana mengusap bintik-bintik tepung di pipi dan hidung Kenzo. Kenzo tidak bergeming, menikmati setiap sentuhan jemari dingin istrinya di kulit wajahnya.
"Maaf ya, Alana..." bisik Kenzo parau, menatap mata bening Alana dari jarak yang amat dekat. "Asisten dapormu ini ternyata amat kaku. Padahal di kantor dulu, aku bisa menghafal puluhan angka saham dalam sekejap, tapi membedakan gula halus dan tepung maizena saja aku hampir keliru tadi."
Alana tersenyum manis, membalas tatapan Kenzo tanpa ada lagi dinding ketakutan di antaranya. "Tidak apa-apa, Mas. Untuk ukuran pria yang seumur hidupnya cuma tahu makan di restoran bintang lima, Mas Kenzo sudah hebat sekali. Mas mau belajar demi saya dan anak kita."
Kata-kata sederhana itu menghantam dada Kenzo dengan kehangatan yang luar biasa. Tanpa ragu, Kenzo merengkuh pinggang kurus Alana, memeluknya dengan sangat hati-hati agar tidak menekan perut istrinya yang membesar. Ia mendaratkan kecupan hangat di kening Alana.
"Aku akan belajar apa saja, Alana... asal itu membuatmu dan putri kita tersenyum," bisik Kenzo penuh rasa cinta.
"Nah, sekarang Asisten Kenzo, tolong angkat loyang bolu marmer ini ke dalam oven. Tapi ingat, pakai cempal kain, jangan pakai tangan kosong," perintah Alana dengan nada bercanda seraya menyerahkan dua pasang cempal tebal.
"Siap, Nyonya Koki Utama!" sahut Kenzo mantap, memberi gestur hormat konyol yang kembali memancing tawa Alana.
Tak disangka, sistem pre-order (PO) kue kering, nastar resep keluarga, dan bolu marmer yang diunggah Alana ke media sosial serta grup komunikasi warga komplek meledak manis melebihi ekspektasi mereka. Rasa kue Alana yang lezat, kaya akan mentega murni, serta harganya yang terjangkau membuat pesanan membanjiri ponsel mereka dalam hitungan jam.
Siang harinya, ruang tamu rumah mungil mereka telah dipenuhi oleh puluhan dus kue yang terkemas rapi. Pita merah muda melilit cantik di setiap kotak, disertai kartu ucapan buatan tangan Alana.
Ting tong!
Suara bel rumah berbunyi nyaring.
Kenzo yang baru selesai membungkus dus terakhir bergegas melangkah ke depan dan membuka pintu kayu utama.
Di balik pintu, tiga orang pengemudi ojek online dengan jaket hijau berdiri berjejer di pekarangan. Tak jauh di belakang mereka, beberapa tetangga komplek juga tampak berjalan mendekati pagar kayu rumah mereka.
"Permisi, Tuan... Apakah ini Toko Kue Nyonya Alana?" tanya salah satu pengemudi ojek online seraya melihat aplikasi di ponselnya. "Saya dapat lima pesanan pengantaran bolu marmer dan nastar untuk daerah kota."
"Saya juga dapat tiga pesanan, Mas!" timpal pengemudi ojek online lainnya.
Kenzo tersentak kaku, matanya berbinar-binar penuh keterkejutan gembira. "I-iya, benar! Ini tempatnya! Silakan masuk, Pak!"
Alana melangkah pelan dari arah dapur, tersenyum hangat menyapa para kurir dan tetangga yang datang. "Selamat siang, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu... Pesanannya sudah siap semua di meja dalam."
Dengan cekatan dan penuh semangat, Kenzo membantu menata dus-dus kue tersebut ke dalam tas pengantar para pengemudi ojek online. Wajah tampannya yang terbiasa bersikap dingin dan berjarak kini memancarkan keramahan yang murni. Ia bahkan dengan sabar menjelaskan cara membawa dus kue agar bolu di dalamnya tidak hancur selama perjalanan.
"Hati-hati di jalan ya, Pak. Kuahnya—maksud saya, toping cokelatnya agak tebal, jadi tolong jalannya pelan-pelan," ujar Kenzo telaten.
"Siap, Mas! Wah, kuenya harum banget dari luar dus! Semoga laris manis ya, Mas!" sahut sang pengemudi seraya menyerahkan amplop pembayaran tunai dan menyelesaikan transaksi di aplikasi.
Satu per satu pengemudi ojek online dan tetangga komplek menyelesaikan pembayaran mereka lalu pamit pergi.
Setelah pagar kayu kembali tertutup dan suasana pekarangan mendadak hening, Kenzo berdiri mematung di ambang pintu. Di kedua telapak tangannya, ia memegang seikat lembaran uang kertas tunai lima puluh ribuan dan seratus ribuan—hasil pembayaran langsung dari para pembeli kue mereka siang itu.
Alana melangkah mendekat, menyandarkan tubuhnya di bahu kokoh Kenzo. "Mas... kenapa melamun di pintu?"
Kenzo menunduk, menatap lembaran uang di tangannya. Tangan tegap yang dulu biasa meneken cek bernilai puluhan miliar rupiah itu kini gemetar hebat. Air mata haru yang hangat perlahan menetes dari sudut mata Kenzo, jatuh membasahi lembaran uang kertas sederhana tersebut.
"Alana..." bisik Kenzo dengan suara yang pecah oleh isak tangis yang tertahan. Pria tegap itu berbalik, menatap istrinya dengan pandangan yang sarat akan rasa haru yang teramat dalam. "Uang ini... ini uang hasil keringat murni kita, Alana."
Alana menatap suaminya dengan mata yang ikut berkaca-kaca. Ia mengusap pipi Kenzo yang basah. "Iya, Mas. Ini uang halal hasil kerja keras kita berdua."
Kenzo berlutut perlahan di atas lantai kayu ruang depan. Dengan jemarinya yang bergetar, ia merengkuh pinggang Alana, menyandarkan dahinya tepat di permukaan perut istrinya yang membuncit di usia 28 minggu.
"Tuhan..." tangis Kenzo pecah dalam kepasrahan yang begitu indah. Ia menggenggam erat lembaran uang itu di samping perut Alana. "Dulu aku punya triliunan rupiah di bank... tapi aku tidak pernah merasa sebahagia dan sebangga ini. Uang ini... uang kue buatanmu ini yang akan aku pakai untuk membayar biaya persalinanmu dan membeli baju pertama untuk putri kita nanti..."
Alana menyusupkan jemarinya ke dalam rambut hitam Kenzo, mengelus kepala suaminya dengan rasa kasih yang membuncah.
"Terima kasih, Mas Kenzo..." bisik Alana lirih, air matanya menetes pelan menimpa pundak suaminya. "Terima kasih karena tidak pernah menyerah demi kami."
Dug... dug...
Janin di dalam rahim Alana memberikan respons, menendang halus tepat di posisi dahi Kenzo bersandar.
Kenzo mendongak dalam tangisnya, tersenyum lebar seraya mengelus lembut perut istrinya. "Lihat, Alana... putri kecil kita juga tahu kalau ayahnya sangat bahagia hari ini."
Di dalam rumah mungil yang hangat itu, di antara aroma manis kue panggangan dan lembaran uang hasil keringat murni mereka, Kenzo dan Alana akhirnya menemukan arti sejati dari sebuah keluarga: bukan tentang seberapa megah istana yang membungkus mereka, melainkan tentang ketulusan jiwa yang saling menopang di kala badai menghantam.
Bersambung...
thor sklian dong bikin cerita nya Kalila x lucas 🤭😂
aku sih berharap baby nya berubah jadi cowo🤣🤣🤣