NovelToon NovelToon
Cinta Dibalik Perceraian

Cinta Dibalik Perceraian

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: fania Mikaila AzZahrah

Menjadi istri pengganti tidaklah mudah, apalagi ketika kamu hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakakmu sendiri.

Alih-alih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya, Kinanti justru harus menerima perlakuan kasar yang terus-menerus menyakitinya.

Kinanti tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menggantikan posisi sang kakak yang kabur bersama kekasihnya sehari sebelum akad nikah dengan pria bernama Yudha.

Demi keselamatan ayahnya dan masa depan kedua adik kembarnya, Kinanti terpaksa mengikhlaskan dan merelakan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Pernikahan yang telah berlangsung selama delapan tahun tidak pernah memberinya kebahagiaan. Namun, Kinanti memilih untuk tetap bertahan, bersabar, dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya.

Hingga sebuah kecelakaan tak terduga menimpa suaminya, Yudha Manggala.

Sejak saat itu, kehidupan pernikahan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 8. Kekecewaan Yudha

Kinanti buru-buru menghapus air matanya.

Ia tidak ingin Yudha melihatnya menangis.

Map tersebut kembali disimpan ke dalam laci. Kinanti menutup laci itu rapat-rapat, kemudian menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.

Setelah merasa cukup kuat, ia berjalan menuju lantai satu, tempat dapur berada.

Bersamaan dengan itu, Yudha keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri.

Kinanti segera menyiapkan beberapa menu makanan kesukaan suaminya.

Ia masih hafal semuanya. Yudha lebih menyukai sayuran dan daging daripada nasi.

Tanpa banyak bicara, Kinanti menyiapkan makan malam dengan cekatan.

Tangannya bekerja seperti biasa, tetapi pikirannya masih tertinggal pada map perceraian yang baru saja ia sembunyikan.

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki kecil mendekat. Naufal, anak sulungnya yang kini duduk di kelas dua sekolah dasar, berjalan menuju dapur.

Ia melihat mamanya yang sedang sibuk menyiapkan makanan.

“Mama, Papa sudah balik?” tanyanya.

Kinanti menghentikan sejenak kegiatannya. Wajahnya yang semula murung langsung berubah cerah ketika melihat putranya.

“Alhamdulillah, Papa baru saja pulang dari kantor. Kenapa, Nak?” tanyanya lembut.

Naufal mengambil sebuah apel dari meja.

Ia menggigitnya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan mamanya.

“Hari Kamis lusa ada pertemuan orang tua. Kata Bu Guru, Mama sama Papa wajib datang. Nggak boleh cuma Mama saja,” ucap Naufal sambil sedikit menundukkan kepalanya.

Seketika senyum di wajah Kinanti memudar. Tangannya yang sedang memegang peralatan dapur berhenti sejenak.

Pertemuan orang tua. Kamis lusa.

Dan kali ini, gurunya meminta kedua orang tua hadir.

Kinanti sontak terdiam.

Selama kedua anak kembarnya bersekolah, Yudha hampir tidak pernah terlibat dalam urusan pendidikan mereka.

Mengantar sekolah saja jarang.

Menanyakan perkembangan mereka pun hampir tidak pernah..Bahkan untuk sekadar menghadiri rapat orang tua, Yudha nyaris selalu memiliki alasan untuk tidak datang.

Kinanti menundukkan pandangan.

Ia tidak tahu harus menjawab apa kepada Naufal. Sebab, di satu sisi, ia tahu betapa bahagianya kedua anaknya jika papa mereka hadir.

Namun, di sisi lain, Kinanti juga tahu bahwa dirinya mungkin tidak akan lagi menjadi istri Yudha ketika hari Kamis itu tiba.

Bukan berarti Yudha tidak menyayangi anak-anaknya. Ia menyayangi Naufal dan Naura.

Namun, karena merasa sudah ada Kinanti yang mengurus semuanya, Yudha menjadi terbiasa menyerahkan seluruh urusan anak-anak kepada istrinya.

Mengantar, menjemput, menghadiri kegiatan sekolah, hingga menghadapi guru semuanya dilakukan oleh Kinanti.

Kinanti menghela napas panjang. Ia mengusap kepala putranya dengan lembut.

“Nanti Mama coba bicara sama Papa, ya, Nak.”

Namun, kalimat itu belum sempat dilanjutkan. Kinanti tiba-tiba terdiam.

Ia takut bagaimana jika Yudha marah?

Bagaimana jika suaminya tidak menyukai permintaan tersebut atau lebih buruk lagi, bagaimana jika Yudha kembali menyakitinya seperti dulu.

“Ya Allah... apa aku sampaikan saja kepada Mas Yudha? Tapi kalau Mas marah dan aku nggak bisa membujuknya untuk datang, bagaimana?” batinnya.

Kinanti masih terdiam dalam kebingungan.

Namun, sebelum sempat mengatakan apa pun, terdengar suara langkah kaki dari arah tangga.

Keduanya nampak cemas dan panik jika apa yang mereka bicarakan membuat keduanya terkena masalah.

Tubuh Kinanti menegang, terlihat jelas gurat ketakutan, kepanikan di wajah cantiknya. Sudah banyak hal-hal negatif yang berseliweran di pikirannya saat ini.

“Ya Allah, semoga saja Mas Yudha nggak marah,” batinnya.

Yudha ternyata orang yang berjalan menuruni anak tangga. Ia rupanya mendengar percakapan antara Kinanti dan Naufal.

“Papa akan menemani kalian.” ucapnya.

Suara Yudha terdengar singkat, tetapi cukup jelas.

Kinanti langsung menoleh spontan matanya membulat sempurna.

“Apa benar dia itu Yudha Manggala Pratama jangan-jangan sewaktu kecelakaan mereka berganti orang?” batinnya.

Ia benar-benar tidak menyangka Yudha akan mengatakan hal tersebut. Naufal pun ikut terdiam beberapa detik seolah sedang memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar.

“Papa seriusan mau datang!?” tanyanya dengan wajah penuh kebahagiaan.

Yudha tersenyum. “Iya. Papa akan datang.”

“Benaran, Pa?” Naufal kembali memastikan agar dia tidak kembali kecewa.

“Beneran. Kenapa memangnya?” tanyanya balik Yudha yang ikut duduk di samping putranya.

“Selama ini Papa nggak pernah datang ke sekolah.” jawabnya Naufal dengan suara yang dikecilkan.

Yudha terdiam sejenak. Ia baru menyadari betapa seringnya ia melewatkan momen-momen penting dalam kehidupan kedua anaknya.

“Kalau begitu, mulai sekarang Papa usahakan untuk datang kalau memang kalian membutuhkan Papa.” jelasnya.

Naufal langsung tersenyum lebar.

Tak lama kemudian, Naura yang juga baru muncul dari arah ruang keluarga mendengar percakapan tersebut.

Gadis kecil itu langsung berlari menghampiri ayahnya dan memeluk tubuh tinggi tegap Yudha.

“Papa seriusan mau datang!?” tanyanya dengan wajah berbinar.

Yudha tertawa kecil sambil mengusap kepala putrinya.

“Iya, Sayang. Papa pasti datang.” jawabnya Yudha seraya mengecup pipi chubby Naura.

Naura langsung melompat-lompat kegirangan. “Yeay! Papa datang ke sekolah!”

Naufal pun ikut tersenyum lebar dan sudah membayangkan akan mengatakan kepada

Sementara itu, Kinanti hanya berdiri mematung. Ia masih sulit mempercayai apa yang baru saja didengarnya.

“Alhamdulillah walaupun mas Yudha berubah karena amnesia setidaknya nggak mengecewakan anak-anaknya,” batinnya.

Selama bertahun-tahun, ia selalu meminta sedikit perhatian dari Yudha untuk anak-anak mereka, tetapi hampir tidak pernah mendapatkannya.

Namun malam ini, tanpa diminta berkali-kali, Yudha justru bersedia datang.

Kinanti menatap suaminya dalam diam.

Ada rasa haru, bahagia, sekaligus perih yang bercampur menjadi satu.

Dalam hati kecilnya, ia bertanya-tanya, “Apakah keputusan untuk berpisah benar-benar pilihan yang tepat?”

Kinanti buru-buru menggelengkan kepalanya. Ia tidak boleh kembali berharap.

“Aku tetap akan bercerai dengan Mas Yudha karena semua yang terjadi saat ini karena dia lupa,” monolog Kinanti.

Sebab, ia tahu betul bahwa perubahan Yudha mungkin hanya terjadi karena laki-laki itu belum mendapatkan kembali ingatannya. Dan Kinanti tidak ingin suatu hari nanti harus kembali merasakan sakit yang sama.

Kinanti bersyukur karena untuk rapat orang tua kali ini, suaminya akan datang ke sekolah kedua anak kembarnya.

Malam itu, mereka berempat makan malam bersama. Tidak banyak suara yang terdengar dari meja makan karena Kinanti sudah membiasakan kedua anaknya untuk tidak terlalu banyak berbicara saat sedang makan. Akan tetapi, bagi Yudha, suasana tersebut justru terasa membosankan dan sedikit aneh.

“Kenapa kalian diam banget saat makan?” tanya Yudha kepada kedua anak kembarnya.

Naufal dan Naura saling berpandangan. Keduanya kemudian melirik ke arah Kinanti, sang Mama, yang sedang mengunyah makanannya.

Sedangkan Kinanti tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya terdiam, mematung dalam kebingungan.

Naufal sebenarnya ragu dan takut untuk menjawab pertanyaan papanya. Namun, karena semua orang terdiam, akhirnya dia memberanikan diri untuk berbicara.

“Biasanya Papa kalau kita makan bersama keluarga melarang kami berbicara,” jawab Naufal jujur. Setelah itu, dia langsung menundukkan kepalanya karena takut dimarahi.

“Papa kan marahin Mama kalau Naura sama Abang Naufal berisik saat makan. Katanya, Papa dulu harus pintar membedakan waktu makan dengan waktu diskusi,” timpal Naura polos.

Kinanti merasakan makanan yang baru saja ditelannya terasa seperti batu. Dia waswas suaminya akan memarahinya setelah mendengar perkataan kedua anak mereka.

“Ya Allah, semoga saja Mas Yudha nggak memarahi anak-anak. Kasihan kalau mereka sampai kena omelannya Mas Yudha,” batin Kinanti.

Yudha menatap kedua anaknya secara bergantian. Kemudian, pandangannya beralih kepada sang istri yang ternyata tidak jauh berbeda dengan sikap kedua anaknya.

“Mulai malam ini, nggak apa-apa kalian berbicara saat makan. Asalkan jangan berlebihan, jangan berbicara kasar, dan jangan mengatakan sesuatu yang bisa menyakiti orang lain,” jelas Yudha dengan nada lembut.

Kinanti menghela nafasnya dengan lega. Ternyata suaminya tidak marah ataupun mempermasalahkan hal tersebut.

“Mungkin aku salah, ya Allah, kalau aku berharap Mas Yudha selamanya amnesia karena sejak kehilangan ingatan, dia nggak pernah lagi memukul ataupun memarahiku,” batin Kinanti.

Naufal dan Naura pun kembali berbicara. Mereka menceritakan berbagai hal yang dilakukan sepanjang hari, mulai dari belajar di sekolah, bermain, mengikuti les mengaji, belajar piano, hingga kursus bahasa Inggris.

Sesekali mereka tertawa kecil ketika menceritakan kejadian lucu yang mereka alami.

Yudha hanya tersenyum mendengarkan celotehan kedua anaknya. Tanpa Kinanti isadari, Yudha tiba-tiba mengusap punggung tangannya yang ada di bawah meja. Namun, Kinanti refleks menghindar sehingga tangan Yudha hanya menyentuh udara.

Senyum Yudha seketika memudar.

Dia terlihat sedih karena ditolak oleh istrinya sendiri. Namun, Yudha tidak mengatakan apa-apa dan memilih menyimpan perasaannya.

Sementara itu, Kinanti berpura-pura tidak terjadi apa-apa dan kembali melanjutkan makannya.

Kinanti tidak merasa bersalah, dia tetap melanjutkan kegiatan makannya sedang Yudha merasa sedih dan hatinya sedikit mencelos mendapatkan perlakuan seperti itu.

“Kinan, apa selama ini aku terlalu menyakiti perasaan dan hatimu sehingga kamu begitu tega menolakku sedang aku hanya ingin memegang tanganmu saja?” batinnya Yudha.

Kinanti sesekali melirik ke arah Yudha,” maafkan aku Mas, ini memang seharusnya aku lakukan, lagian nggak lama lagi kita akan bercerai. Aku melakukan hal itu agar ketika aku menandatangani surat cerai kita hati ini tidak terlalu sedih.”

Yudha diam-diam memainkan ponselnya namun entah apa yang diperbuatnya hanya Allah SWT yang Maha Kuasa dan author yang mengetahui saat ini Yudha Manggala sedang berbuat apa.

“Kinanti, aku akan melakukan segala cara agar cintamu nggak pudar, agar hanya aku lelaki di dunia ini yang kamu cintai nggak ada yang lain yang bisa menggantikan posisiku di hatimu dan hidupmu,” batinnya Yudha.

“Mas Yudha, perlakuan lemah lembut dan perhatianmu padaku entah itu sampai kapan? aku nggak ingin terus hidup dalam ilusi. Aku nggak ingin terbuai oleh perlakuan manismu yang suatu saat hanya akan menyakitiku dan membuatku kembali menderita jika aku berharap dan bermimpi kamu akan mencintaiku selamanya sedangkan kamu seperti ini karena kamu saat hilang ingatan,” batin Kinanti.

1
Eva Karmita
Kinanti aku tau sakitmu sudah terlalu dalam ..tapi tidak seperti itu juga Kinanti lihatlah kedua anakmu yg begitu ingin melihat kedua orang tua nya bersatu kembali.... teruntuk Yudha tetap semangat benar kata anakmu jgn mudah menyerah tunjukkan bahwa kamu bisa berubah jgn buat anak"mu kecewa , perlahan namun pasti rebut kembali hari Kinanti selalu berusaha dan tidak lupa dengan doa" di sepertiga malam mu rayulah tuhanmu untuk membuka kan pintu hati Kinanti
Eva Karmita: betul sih pemikiran orang beda beda ..ada yg ingin bertahan karena anak"nya dan ada juga yg memilih pergi demi ketenangan dan mencari kebahagiaan ...
total 2 replies
araaself
lanjutt kakk
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: insha Allah besok lagi kak
total 1 replies
Eva Karmita
semoga masih bisa rujuk lagi ...
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: kayaknya hehehe
total 1 replies
Eva Karmita
semangat Yudha semoga Mak otor merestuimu
Eva Karmita
Kinan kasih kesempatan untuk Yudha untuk membuktikan Yudha sudah berubah dan ingin memulai dgn lembaran baru
Eva Karmita
ayo jujur Yudha katakan kalau kamu sudah ingat semuanya dan kamu ingin berubah
Eva Karmita
si pelakor sudah datang....
Eva Karmita
semoga masih bisa di perbaiki.... semangat Yudha perjuangkan rumah tangga mu
Eva Karmita
membaca kisah mereka membuat perasaan mengharu biru sedih dan bahagia nano" 🔥😭💔❤️
Eva Karmita
semoga saja Kinan masih bisa mempercayai mu
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: semoga yah karena kayaknya....😄🤭
total 1 replies
Eva Karmita
❤️❤️❤️
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: Alhamdulillah makasih banyak 😍
total 1 replies
Eva Karmita
peluk Kinan 🤗😭
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: Alhamdulillah makasih banyak sudah mampir kakak 😍🙏
total 1 replies
Inha Khaerunnisa
wajarlah
Inha Khaerunnisa
terlambat pak wkwk
Inha Khaerunnisa
apa Yudha hilang ingatan??
Inha Khaerunnisa
knp anaknya jadi ditukar dengan hutang??
Inha Khaerunnisa
tega mulutnya ember
Naila
knp harus minta cerai klo masih cinta
Naila
kayaknya
F3 Tehnik
apa yang terjadi???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!