Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA PULUH DUA
Pagi setelah kejadian semalam, Wulan tidak berani keluar rumah sama sekali. Tubuhnya masih terasa nyeri di beberapa bagian—kepalanya berdenyut akibat jambakan keras semalam, lututnya lecet karena terseret di halaman berbatu kecil depan rumah kontrakannya. Namun luka yang jauh lebih menyakitkan justru bukan luka fisik itu, melainkan rasa malu yang terus menghantui pikirannya sejak subuh tadi.
Ia duduk di ruang tamu, menggendong Raka yang masih tertidur, sesekali melirik ke arah jendela yang tirainya sengaja ia tutup rapat, tidak ingin melihat atau dilihat oleh siapa pun di luar sana. Namun suara-suara samar dari luar tetap saja terdengar—suara ibu-ibu yang biasa berkumpul di pos ronda kecil dekat rumahnya, membicarakan sesuatu dengan nada yang, meski tidak jelas kata per katanya, cukup jelas arah pembicaraannya.
"Katanya sih perempuan itu istri kedua, nikah siri. Pantesan aja nggak pernah kelihatan ada acara-acara keluarga," terdengar suara salah seorang ibu, cukup jelas terdengar meski jaraknya cukup jauh dari rumah Wulan.
"Iya, kasian juga istri pertamanya. Tapi ya, perempuan yang mau-maunya jadi istri kedua kayak gini juga salah sih, ngerusak rumah tangga orang," sahut suara lain, nada bicaranya penuh penghakiman yang tajam.
Wulan menutup telinganya rapat-rapat, mencoba menghalau suara-suara itu, namun kata-kata yang sudah terlanjur terdengar tetap saja bergema di kepalanya, memperkuat rasa malu dan kehancuran yang sudah ia rasakan sejak semalam.
---
Menjelang siang, seorang tetangga dekat, Bu Yanti, yang selama ini cukup ramah padanya, mengetuk pintu rumah kontrakan Wulan. Dengan ragu, Wulan membuka pintu, mendapati wajah Bu Yanti yang tampak khawatir namun juga menyimpan rasa ingin tahu yang besar.
"Wulan, kamu baik-baik aja? Semalam rame banget ributnya," tanya Bu Yanti, matanya melirik sekilas ke arah lebam kecil di lengan Wulan yang tidak sepenuhnya tertutup lengan baju.
"Baik, Bu. Cuma salah paham aja kemarin," jawab Wulan, mencoba menutupi kebenaran meski ia tahu, setelah kejadian semalam, hampir mustahil untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi.
"Wulan, Ibu denger dari tetangga lain, katanya kamu itu istri kedua dari laki-laki yang udah punya istri sah. Bener nggak sih?" tanya Bu Yanti, langsung tanpa basa-basi, membuat Wulan terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk pelan, tidak sanggup lagi berbohong.
"Aduh, Wulan," Bu Yanti menghela napas, raut wajahnya campuran antara prihatin dan kecewa. "Ibu kira kamu ini janda muda yang lagi berjuang sendirian buat anaknya. Ternyata..."
Kalimat yang tidak selesai itu terasa lebih menyakitkan bagi Wulan dibandingkan jika Bu Yanti langsung mengucapkan kalimat penghakiman secara terang-terangan. Ia menunduk, tidak berani menatap mata tetangganya itu, merasakan beban rasa bersalah yang, entah kenapa, baru benar-benar terasa berat setelah kebenarannya terbongkar secara terbuka di hadapan orang-orang di sekitarnya.
---
Sore harinya, situasi semakin tidak nyaman bagi Wulan. Beberapa anak-anak kecil di sekitar kontrakan mulai berbisik-bisik sambil menatapnya dengan tatapan penasaran setiap kali ia lewat, meski Wulan sendiri sudah berusaha untuk tidak keluar rumah kecuali benar-benar terpaksa. Seorang ibu muda lain, yang biasanya cukup akrab dengannya karena anak-anak mereka sering bermain bersama, kini tampak sengaja menghindar setiap kali berpapasan.
Wulan duduk termenung di teras kecil rumahnya, menatap Raka yang sedang bermain sendirian dengan mainan sederhana, tidak menyadari kekacauan besar yang sedang melanda kehidupan ibunya. Air mata kembali menggenang di mata Wulan, kali ini bukan karena amarah atau rasa sakit fisik, melainkan karena kesadaran baru yang mulai tumbuh dalam dirinya—kesadaran bahwa keputusan yang ia ambil dua tahun lalu, menerima status sebagai istri kedua secara diam-diam, kini membawa konsekuensi sosial yang jauh lebih berat dari yang pernah ia bayangkan sebelumnya.
*Apa aku emang sejahat itu?* batinnya, sebuah pertanyaan yang mulai menghantuinya sejak semalam, sesuatu yang selama ini selalu ia hindari untuk direnungkan secara mendalam, lebih memilih untuk fokus pada kebutuhan hidupnya sendiri dan Raka daripada memikirkan dampak dari pilihannya terhadap orang lain.
---
Malam harinya, Bayu datang berkunjung, wajahnya tampak lelah dan penuh beban, jauh berbeda dari biasanya yang selalu berusaha tampil tenang di hadapan Wulan.
"Gimana keadaan kamu, Lan? Aku denger dari tetangga soal kejadian semalam," tanya Bayu, duduk di sofa kecil sambil menatap Wulan yang masih menyisakan bekas lebam di beberapa bagian tubuhnya.
"Gimana lagi, Bang? Aku dipermalukan di depan semua tetangga. Sekarang mereka semua tau aku ini apa," jawab Wulan, suaranya getir, campuran antara marah dan putus asa.
"Aku minta maaf, Lan. Aku nggak nyangka Ayu bakal senekat itu," Bayu mencoba menenangkan, meski jauh di dalam hatinya, ia sendiri masih merasa bingung dengan sisi baru istrinya yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Maaf doang nggak cukup, Bang! Sekarang aku harus gimana hidup di sini? Semua tetangga udah tau, mereka pasti bakal terus ngomongin aku, ngejauhin aku," Wulan mulai terisak, kemarahannya bercampur dengan ketakutan akan masa depan yang kini terasa jauh lebih tidak pasti.
Bayu terdiam, tidak memiliki jawaban pasti untuk menenangkan kekhawatiran Wulan, menyadari bahwa situasi yang selama ini berhasil ia jaga keseimbangannya, kini benar-benar sudah runtuh total, meninggalkan kekacauan yang harus dihadapi oleh kedua perempuan dalam hidupnya, dengan cara yang sama sekali berbeda namun sama-sama menyakitkan.
"Kita pindah aja, Lan. Aku bakal cariin kontrakan baru di daerah lain, biar kamu bisa mulai lagi tanpa harus dikenal sama orang-orang di sini," usul Bayu, mencoba mencari solusi praktis atas masalah yang, sebenarnya, jauh lebih kompleks dari sekadar berpindah tempat tinggal.
Wulan tidak langsung menjawab, hanya menatap kosong ke arah Raka yang sudah tertidur di ayunan kecil, memikirkan apakah berpindah tempat benar-benar bisa menghapus rasa malu dan kehancuran yang sudah terlanjur ia rasakan malam itu—ataukah ini hanya akan menjadi salah satu dari banyak pelarian lain yang harus ia jalani selama terus mempertahankan status sebagai istri simpanan yang, kini, sudah bukan lagi rahasia bagi siapa pun yang mengenalnya.
---