NovelToon NovelToon
Memilih Terbawa Arus

Memilih Terbawa Arus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Mengubah Takdir
Popularitas:414
Nilai: 5
Nama Author: CICAK rawa

Selama tujuh malam, dia memimpikan hal buruk tentang pria yang selama ini dicintainya. Ketika hari lamaran tiba, dia memilih membatalkan perjodohan dan menjadikan Arus, pria berandal yang dibenci warga desa, sebagai alasannya.

Namun, semakin dekat dengan Arus, semakin dia menyadari bahwa pria itu tidak seperti yang orang-orang katakan. Di balik luka dan reputasinya, tersimpan kehidupan yang tak pernah dia bayangkan.

Awalnya hanya pelarian. Tapi bagaimana jika arus yang dia ikuti justru membawanya menemukan cinta yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Sebelumnya arus sudah mengabari temannya. Malam itu dia di jemput menggunakan mobil oleh salah satu preman dengan penuh tato.

"kak, itu bukannya kak arus suminya Alya ya...."

"mau kemana dia, kenapa kok sama orang yang kayak preman" ujar Laras kepada Bagas.

Mereka yang sedang mempersiapkan kebutuhan nanti malam, tentu melihat kejadian itu.

Bagas menoleh, menatap arus yang naik mobil itu..

"pasti mau main sama temen premannya, dari dulu dia cuma bisa main main.." ungkap Bagas yang masih kesal karena Alya memilih meninggalkannya demi pria yang dia anggap begajulan.

"kasihan ya kak Alya, dia harus nikah sama pria kayak gitu" ucap Laras sambil menyembunyikan senyumnya saat melihat Bagas sudah memotret arus.

Di mobil, arus mengecek ponselnya. Ia membalas beberapa pesan dari teman kerja yang mengatur hal hal di luar negri.

"gimana Jun" tanya arus pada teman yang satu mobil dengannya.

"semua sudah di urus bang, pemuda pemuda itu cuma anak SMA yang udah sering malak pedagang keliling."

"anak SMA....?".

Arus terkejut, karena perawakan dan tindakan mereka memang bukan terlihat seperti anak sekolah.

"kenapa mereka bisa melakukan itu, apa karena mereka warga sini."

ajun menggeleng.....

"mereka warga desa di bawah gunung bang, bahkan anak anak itu termasuk orang berada."

"terus kenapa bisa sampai malak di sini....?"

"biasa bang, kejerat pergaulan... Mereka udah makek bahkan tahap kecanduan, minta ke orang tua tentu mereka gak berani. Kebetulan ada yang ngajak dan menampung mereka, jadi mereka brani ngelakuin ini di daerah sini. Tami tenang aja, anak anak yang lain udah ngurus hal ini..."

"baguslah, tapi kalok bisa jangan makek kekerasan... Selagi mereka gak nyerang terlebih dahulu jangan nekat.".

"aman bang, anak anak maju udah bawa polisi. Kebetulan polisi udah dapet pengaduan keresahan dari beberapa orang, tapi sebelumnya mereka gak bisa nemuin dalangnya gara gara dia udah kayak belut aja."

setelah cukup lama di kendaraan itu, akhirnya mobil yang arus naiki menepi di sebuah gubuk kecil di tengah kota.

Rumah berdinding triplek tipis seadanya itu sangat kontras dengan dinding dinding beton di sekitarnya.

Sebelum masuk, tak lupa arus mengetuk pintu rumah terlebih dahulu.

"assalamualaikum...".

"waalaikumsalam...." saut seseorang dari dalam.

Tak lama seorang anak membuka pintu, mungkin usinya masih 4 atau 5 tahun.

Anak itu langsung ketakutan saat melihat penampilan Ajun..

Menyadari hal ini, arus melambaikan tangan. Memberi kode ke temannya itu untuk menunggu di mobil.

Ajun mengangguk sebelum kembali ke mobil, sedangkan arus berjongkok mensejajarkan tinggi anak itu.

"bapaknya ada dek....?" tanya arus lembut.

"bapak...?" tanya balik anak itu.

Arus mengangguk ....

setelah itu anak kecil langsung berlari ke dalam sambil sedikit berteriak.

"pak... Ada orang..."

"ada apa dek ..." suara seorang perempuan yang arus dengar.

namun tak ada jawaban, jadi anak itu pergi ke luar.

Kali ini arus melihat seorang gadis kecil yang usianya mungkin 3 atau 4 tahun di atas anak yang tadi.

"eh ada tamu...." ungkap gadis itu dengan ramah.

"duduk dulu kak.." lanjutnya menunjuk tempat duduk dari kayu yang ada di depan rumah.

Arus tak sungkan, ia duduk di sana.

entah karena tak enak atau apa, gadis kecil itu menemani arus duduk.

Arus mulai menanyakan beberapa hal kepada anak itu.

Untungnya anak gadis itu memiliki sifat ceria dan lebih terbuka.

Dari anak itu arus tau kalau ternyata mereka hanya hidup bertiga, sedangkan ibunya meninggal saat melahirkan sang adik.

Setelah kepergian sang ibu, ayah mereka sempat depresi hingga membuat hidup mereka terpuruk.

Rumah terjual, barang barang sebagian terjual.

untungnya mereka masih memiliki sepetak tanah ini, dan memiliki sedikit uang yang tersisa untuk modal ayahnya berjualan dan membangun gubuk kecil ini.

Walau menceritakan dengan wajah masih ceria, tapi mata anak itu tak bisa berbohong. Ada kesedihan mendalam terlihat jelas di mata anak itu.

Tak lama sang ayah datang, ia membawa anak yang tadi membuka pintu bersamanya.

"gimana pak, apa sudah tak apa apa..." tanya arus.

Bapak itu tersenyum...

"berkat tuan ini, saya tak apa. Bahkan kami bisa makan enak." senyum bapak itu.

"gak usah panggil tuan pak, panggil saja arus."

"baik nak arus... tapi ada kenapa ya nak arus datang ke sini..."

"enggak pak, aku ke sini mau nanya tentang yang tadi siang kita bicarakan..."

bapak itu menatap kedua anaknya sesaat, ia tak sanggup berpisah dengan kedua buah hati..

Namun jika tetap di sini bersamanya, kedua anaknya tak mungkin bisa hidup layak..

"tapi nak arus, apa saya masih bisa ngejenguk mereka...? bagaimanapun mereka tetap anak saya."

"tentu pak, bahkan sebenarnya aku mau ngajak papak sekalian...".

"ngajak saya...? Bukannya tempat nak arus cuma Nerima anak anak sama lansia...?"

"ia pak, tapi kebetulan saya mau ngebuka warung. tapi masih bingung tentang siapa yang mengelola, kebetulan kemarin nyoba bakso bapak enak. Jadi gimana kalok bapak yang ngelola warung bakso itu..."

"bapak tenang, semua modal dari saya. Dan bapak bekerja di sana, untuk gaji memang tak besar. Tapi ada mes kariawan dan di sediain makan 3 kali sehari".

Mendengar ini mata bapak itu berbinar sesaat, namun saat mengingat semua kebaikan arus. Dia jadi merasa tak enak.

"gak usah di gaji aja gimana nak, lagi pula nak arus udah mau bantu biaya sekolah kedua anak saya. Yang penting masih bisa makan sana anak anak lanjut sekolah aja kami udah sangat bersyukur. Kalok masih di gaji saya malah merasa tidak enak.."

"kalo soal ngebantu itu sudah kewajiban pak, sebagai sesama muslim kita ini termasuk saudara. Gak mungkin saja tega ngeliat saudara saya kesusahan. Soal gaji akan tetap ada, lagi pula itu adalah hasil keringat bapak. Jadi tolong terima ini pak, kalo bapak menolak saya yang malah merasa tak enak...."

setelah berfikir akhirnya bapak itu setuju, arus pun tak menunda lagi.

Sengaja dia membawa mobil agar bisa membawa keperluan bapak ini.

Sedangkan di grup satu desa yang berisi 4 RT tengah heboh.

Karena satu foto arus dengan wajah yang masih lebam, pergi bersama preman menggunakan mobil di unggah oleh Bagas.

Entah apa maksud pria itu mengunggah foto arus tanpa memberi pesan lain.

Tapi banyak pesan balasan dari warga yang ikut ke puncak maupun para warga yang tak ikut.

Entah siapa yang memulai, tapi narasi buruk mulai muncul di grup itu.

Alya terus membaca pesan itu, ingin membela. Tapi ia tak memiliki keberanian.

Sampai pada akhirnya ada yang mengunggah foto lain, sebuah foto arus yang tengah memegang sebuah tongkat besi dan ada pria tua yang tergeletak bersimbah darah di dekatnya.

lagi lagi foto itu tak di sertai keterangan, membuat beberapa orang mulai menebak.

Alya akhirnya berdiri dari kasurnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!