" Tolong keluarkan saya darisini...!! Saya mau keluar... Tolong bukain pintunya....!! " Triakan
keras Heru salah seorang eks pekerja pabrik garmen yang berlokasi di sentra industri terkemuka tak satupun ada yang merespon.
Entah tujuannya apa ia berkunjung ke area gudang yang sudah lama tutup akibat krisis yang berkepanjangan. Gudang kimia yang dulunya merupakan salah satu pabrik textile
terbesar yang pernah menyerap tenaga kerja
mencapai ribuan orang itu, kini tinggal nama saja karena sudah di alihfungsikan menjadi gudang penyimpanan zat kimia kain, sangat berbahaya bagi manusia . Gudang itu sendiri dulunya merupakan pabrik Garment terbesar yang pernah ada di negeri ini. Dan sekarang keberadaan gudang itu sendiri terbengkalai, tidak terawat sebagai mana mestinya. Kotor dan berdebu serta sebagian beberapa mesin operatornya banyak yang berkarat. Namun dibalik itu pun gudang kimia yang letaknya tak jauh dari deretan pabrik pabrik lainnya banyak menyimpan misteri kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martin deBs Komarudin1670, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Polisi terus memburu Robin
Sementara di sisi lain, Untuk yang kesekian kalinya namun tidak sering juga mobil sedan hitam mewah menerobos masuk ke halaman parkir yang sudah ditumbuhi rumput liar yang tinggi hingga berbentuk alang alang. Mobil berwarna hitam gelap itu bergerak sedikit lebih cepat dari yang biasanya normal saja.. Lalu berhenti tepat depan pintu gerbang gudang kimia tersebut. Tiba-tiba pintu gerbang terbuka, perlahan secara otomatis , layaknya sudah mengatahui siapa tamunya yang datang. Mobil sedan hitam gelap itu pun perlahan masuk kedalam. Lalu pintunya tertutup rapat kembali.
Didalam terlihat berbeda sekali pemandangan ketika selain orang yang ada di dalam mobil sedan tersebut dengan orang yang sudah jadi target kematian Jumadi. Suasananya terang benderang , seluruh kipas yang ada di ruangan berputar seperti biasanya. Tidak ada satupun yang mati, termasuk yang berbentuk baling- baling, semuanya hidup. Namun tetap saja nampak sunyi , yang terdengar hanya suara kipas angin sayup-sayup. Suasana gudang itu seperti mengingatkan, ketika pabrik garment tersebut masih aktif beroperasi, cuma yang tak bisa dipungkiri kondisi pabrik itu sendiri sudah di tutupi debu. Terlihat beberapa mesin yang dianggapnya masih layak pakai sengaja harus ditutupi sarung plastik agar tidak kotor namun justru plastiknya itu yang terlihat debu semua.
Sebagian mesin yang dibiarkan saja mangkrak
karena sebagian bodi mesinnya sudah karatan dan sudah pula menjadi kompleknya sarang Laba-laba berdiam disitu. Tidak lama seorang pria yang sudah nampak berumur itu turun dari mobil sedan mewahnya. Penampilannya masih tetap gagah dan kuat , memakai kaca mata hitam sesuai seleranya, itu menandakan lelaki tersebut masih awas dan normal dari cara penglihatannya. Biasanya pria seangkatan dirinya sudah menggunakan kacamata minus yang tebal tapi ini seperti anak muda berusia tiga puluh tahunan saja. Dan dari segi statistik
kepanca Indera annya masih terhitung normal.
Kekurangannya hanya kulit di wajahnya saja yang mulai sudah agak keriput. Menggunakan topi koboi sebagai ciri khasnya, pria tua itupun langsung melangkah menggunakan tongkat panjang dengan ujung diatasnya terukir simbol kepala ular naga yang sedang menganga dan tongkat ini sebagai formalitas saja sebenarnya padahal diri lelaki itupun masih kalo kuat untuk berjalan sekeliling komplek pabrik yang luasnya mencapai kurang lebih lima hektare.
Pria tua itu berjalan bag seorang menteri saja dan bedanya kalo menteri diikuti rombongan yang lain, ini cukup didampingi oleh Jumadi
saja. Sopir pria tua itu tetap standbye di mobil sambil menunggu perintah tuannya yang sedang mengadakan sidak darurat ke bekas pabrik yang sudah dijadikan gudang zat kimia tersebut. Seperti sudah terbiasa pria tua itu melangkah guna mengontrol area gudang yang kini sudah terasa mati suri, karena lama sekali tidak beroperasi. Namun yang menjadi anehnya tidak ada satu katapun ucapan yang keluar dari bibir mulutnya dan seperti tidak menemukan masalah yang didapat dari kunjungannya itu, makanya pria tua itu mungkin diam saja. Dan di ujung lawatannya pria tua itu tidak lupa untuk menyempatkan waktunya mengunjungi ruang yang sifatnya sangat ekstrimis yakni gudang penyimpanan zat kimia sejenis poison itu.
Di depan ruangan yang berpagar teralis besi itu sudah bisa terlihat kedua mayat terletak begitu saja yakni masing-masing Sugeng dan Ajul, kenek yang terakhir dihabisi oleh Jumadi saat dirinya ingin melarikan diri. Pria tua itu biasa saja melihatnya, tidak ada perasaan kaget atau takut bahkan seperti orang yang senang atas intruksi yang diinginkannya ternyata dijalankan dengan sukses oleh Jumadi. Tak lama pria tua itupun kembali menuju mobilnya . Tidak ada pesan dan kesan apalagi ucapan yang diterima pihak Jumadi , orang tua itu langsung bablas aja keluar dari area bekas pabriknya. Kemudian di tempat lain yang berbeda tim Reskrim yang dibentuk untuk memburu Robin terus menyisir tempat tempat yang biasa pria itu nongkrong namun Robin tak pelak ditemukan.
" Selamat siang.... Apakah mas kenal orang
yang bernama Robin.....? Ini foto orangnya
seperti ini....? " Tanya salah seorang polisi berpakaian preman sambil menunjukkan foto
Robin pada salah seorang warga yang tengah asik nongkrong sambil bermain kartu.
" Ya saya kenal, Pak..... Tapi udah lama dia gak
nongkrong disini.... " Cetus salah seorang warga sambil melihat jelas foto Robin.
" Ada yang kenal rumahnya.....?? " Celetuk rekan polisi lagi yang menggunakan jaket kulit hitam.
Warga yang jumlahnya empat orang itu saling menoleh bingung. Setau mereka Robin orang baik tidak pernah berurusan dengan orang lain
apalagi polisi. Ini pasti ada yang gak beres dan patut mencari tau juga.
" Saya sih tau Pak rumah Robin..... Tapii bapak
percuma juga..... Dia itu orangnya jarang ada
dirumah, Pak.....?? " Kata salah seorang warga yang hampir seangkatan usianya sama Robin.
" O ya.... Coba kami minta alamatnya...? " Kata polisi yang mengenakan topi hitam. Namun warga tak serta merta memberikan alamat Robin begitu saja. Polisi itu dituntut harus mau menjelaskan duduk persoalan yang membuat
Robin itu bisa berurusan dengan pihak yang berwajib. Takutnya hanya salah paham atau ada orang yang sengaja ingin menghancurkan
Robin sendiri.
" Begini Pak..... Saya tau betul Robin orangnya
seperti apa.... Yang jelas dia gak pernah punya
masalah sama orang..... Kok bisa bisanya dia
berurusan sama polisi..... " Kata salah seorang warga sedikit aneh bertanya pada polisi.
" Soal itu bisa dijelaskan nanti di kantor.....Saya
cuma menjalankan tugas untuk membawa
Robin ke kantor kami secepatnya..... " Tegas anggota polisi dua yang berambut gondrong itu. Bahwa sebenarnya dia hanya menjalankan perintah untuk menangkap Robin atas tuduhan yang dilakukan oleh kelompok yang dimotori Toha sebagai kordinator gerakan itu. Jadi Polisi pun punya alasan kuat untuk menciduk Robin untuk dimintai keterangan benar tidaknya ia melakukan perbuatan yang melawan hukum.
Toha sendiri melaporkan Robin bukan karena punya alasan yang membuat polisi bisa begitu yakin karena dilengkapi dengan surat surat dan didampingi para saksi yang melebihi lima orang sebagai syarat yang harus dipenuhi oleh pihak pelapor.. Namun polisi tidak buru buru menetapkan Robin sebagai tersangka, karena setidaknya harus memeriksa pria itu terlebih dahulu. Jika memang menyakitkan Robin berbuat kesalahan ya mau gak mau pria yang kimi tengah memburu Heru itu harus relah
dirinya masuk penjara.
" Tapi memang setau kami teman temannya....
Robin itu orangnya baik, Pak..... Dia pasti
ngomong sama kita kita disini, kalo dirinya
punya masalah sama orang.... " Celetuk warga yang lain meyakinkan polisi. Yang lain sekedar manggut manggut saja seraya membenarkan ucapan temannya itu. Namun polisi tetap pada keputusannya, akan menangkap Robin dimana pun pria itu berada. Urusan benar atau salah pihak pengadilan lah yang memutuskan. Pihak nya hanya menjalankan tugas yang diberikan atasannya.