Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Kringgg!
Suara jam beker memecah keheningan pagi di kamar kecil itu.
Tommy membuka matanya perlahan dan langsung duduk di tepi kasur.
Ia tidak merasakan kantuk sedikit pun seperti hari-hari sebelumnya.
Pikirannya terasa sangat jernih dan segar.
"Ini bukan mimpi," gumam Tommy sambil menatap telapak tangannya.
Ia segera mandi dan bersiap-siap menuju sekolah dengan perasaan yang aneh.
Di meja makan, ibunya sudah menyiapkan sepiring nasi goreng sederhana.
"Tumben kamu bangun pagi, Tom," sapa ibunya sambil menuangkan air putih ke dalam gelas.
"Iya, Bu, Tommy mau berangkat lebih awal hari ini," jawab Tommy sambil tersenyum.
"Jangan lupa dimakan sampai habis ya, biar belajarnya kuat."
"Pasti, Bu," sahut Tommy dengan semangat yang baru.
Sepanjang perjalanan kaki menuju sekolah, Tommy melihat lingkungan sekitarnya dengan cara yang sama sekali berbeda.
Otaknya yang kini memiliki IQ delapan puluh delapan mulai memproses informasi dengan lebih teliti.
Ia bisa memperkirakan kecepatan motor yang lewat, menghitung waktu tempuh langkahnya, hingga mengingat deretan plat nomor kendaraan hanya dengan sekali lihat.
Ting!
Sebuah layar biru transparan tiba-tiba muncul melayang di depan wajahnya saat ia melangkah melewati gerbang sekolah.
[MISI HARIAN TERSEDIA.]
[Misi: Ikuti pelajaran hari ini tanpa mendapatkan teguran atau hukuman dari guru.]
[Hadiah: +2 Poin IQ.]
"Misi yang mudah," batin Tommy sambil terus berjalan santai menuju kelasnya.
Suasana kelas sebelas IPS dua masih cukup sepi ketika ia masuk melewati pintu.
Hanya ada beberapa murid yang datang awal, termasuk Nadin Aulia.
Nadin adalah siswi paling pintar di kelas, sekaligus ketua kelas yang selalu disiplin dan dingin.
"Tumben lo datang jam segini, Tom," tegur Nadin tanpa mengalihkan pandangannya dari buku catatan di mejanya.
"Lagi pengen aja, Din," jawab Tommy singkat sambil berjalan menuju bangkunya di sudut belakang.
Bruk!
Pintu kelas tiba-tiba didorong dengan kasar dari luar hingga menabrak dinding.
Bagas dan Reno masuk ke dalam kelas dengan gaya arogan seperti biasa.
"Wah, keajaiban dunia nih," seru Bagas saat melihat Tommy sudah duduk manis di bangkunya.
"Si bodoh udah datang pagi, mau nyapu kelas lo?" timpal Reno sambil tertawa mengejek.
Tommy hanya menatap mereka berdua tanpa minat sedikit pun untuk membalas.
"Heh, ditanya malah diam aja lo!" bentak Bagas sambil menghampiri meja Tommy dan menggebraknya pelan.
"Gue cuma mau duduk tenang, Gas," ucap Tommy dengan nada sedatar mungkin.
"Gaya lo sok tenang, palingan juga nanti dimarahi guru lagi," cibir Bagas sambil berlalu menuju bangkunya sendiri.
Kringgg!
Bel masuk berbunyi nyaring menggema ke seluruh penjuru sekolah.
Tidak lama kemudian, Bu Rina melangkah masuk ke dalam kelas membawa setumpuk kertas di tangannya.
Guru fisika yang terkenal disiplin dan pelit nilai itu meletakkan kertas-kertas tersebut di atas meja guru.
"Selamat pagi semuanya, simpan semua buku dan catatan kalian ke dalam laci sekarang juga," ucap Bu Rina dengan suara tegas.
"Loh, ada apa ini, Bu?" tanya salah satu murid dari barisan tengah dengan nada panik.
"Hari ini kita ulangan harian dadakan."
Keluhan panjang langsung terdengar serempak dari seluruh penjuru kelas.
"Bu, kan minggu lalu belum dikasih tahu!" protes Reno dengan wajah terkejut dan panik.
"Ulangan dadakan tujuannya memang untuk menguji kesiapan kalian, bukan untuk dihafal semalam suntuk," balas Bu Rina dingin tak terbantahkan.
Lembaran soal mulai dibagikan secara estafet dari barisan depan ke belakang.
Tommy menerima kertas soalnya dan menatap sepuluh pertanyaan pilihan ganda serta lima soal esai yang tercetak di sana.
Hanya butuh waktu beberapa detik bagi matanya untuk memindai dan memahami seluruh soal tersebut.
"Soal tentang gaya dan hukum Newton," batin Tommy dengan perasaan sangat santai.
Semalam ia sudah membaca seluruh buku paket fisika dan mengingat semuanya dengan sangat sempurna.
Bagi Tommy saat ini, soal-soal di kertas itu terlihat semudah pertanyaan perkalian anak sekolah dasar.
Srak! Srak! Srak!
Suara alat tulis yang beradu dengan kertas mulai memenuhi ruangan kelas yang tegang.
Tommy memegang pulpennya dan mulai menyusun strategi di dalam kepalanya.
"Kalau aku menjawab semuanya dengan benar seratus persen, Bu Rina pasti akan sangat curiga," batin Tommy sambil memutar pulpennya di sela jari.
Ia harus mendapatkan nilai yang biasa saja agar tidak mencolok, tidak terlalu jelek tapi juga tidak terlalu bagus.
"Targetku nilai enam puluh lima saja," gumam Tommy pelan nyaris tanpa suara.
Ia mulai menyilang jawaban pilihan ganda dengan cepat namun terukur.
Untuk soal esai, ia sengaja menjawab tiga soal dengan rumus yang benar namun ia buat salah pada hasil akhir perhitungannya.
Dua soal sisanya ia biarkan kosong melompong agar terlihat seperti Tommy yang biasanya.
"Selesai," batin Tommy hanya dalam waktu lima belas menit sejak ujian dimulai.
Ia menoleh ke sekeliling kelas dan melihat teman-temannya masih berkeringat dingin mengerjakan soal.
Bahkan Bagas terlihat sedang menggigit ujung pulpennya dengan wajah sangat frustrasi.
Di barisan depan, Nadin tampak mengerutkan dahi saat mencoba memecahkan soal esai terakhir.
Waktu empat puluh lima menit yang menyiksa bagi murid lain akhirnya berlalu.
"Waktu habis, kumpulkan kertas kalian ke depan sekarang juga!" perintah Bu Rina sambil menepuk meja.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇