[SEASON 2]
Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'
"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21.
"...jika kamu memilih untuk tetap bersikap keras kepala dan bersikeras meluncurkan serangan fisik kepadanya, maka dengan senang hati aku sendiri yang akan bertindak sebagai lawan bertarungmu malam ini. Aku bersumpah tidak akan segan-segan untuk mengunci seluruh pergerakan tubuhmu menggunakan manipulasi kekuatan es abadiku, membiarkan seluruh ragamu membeku kaku di tempat ini sendirian sepanjang malam sebagai hidangan gratis bagi ribuan kawanan nyamuk gila di luar sana."
Mendengar ancaman dingin yang meluncur tanpa keraguan dari bibir Alan, nyali serigala besar di dalam diri Edward seketika menciut drastis ke titik terendah. Ia tahu betul bahwa seorang Alan tidak pernah bermain-main atau melontarkan gertakan sambal jika sudah berkaitan dengan kekuatan elemen esnya yang dahsyat.
Membayangkan opsi mengerikan di mana seluruh wujud raganya harus membeku kaku tanpa bisa bergerak sedikit pun di tengah jalan setapak hutan, sambil dikerubungi dan diisap darahnya oleh ribuan nyamuk kelaparan, terasa jauh lebih mengerikan. Pilihan itu jelas jauh lebih buruk dibandingkan harus menurunkan ego bertarungnya di hadapan Damian.
Sreettt...
Dalam hitungan detik berikutnya, sebuah transformasi balik terjadi secara instan. Volume tubuh serigala raksasa berbulu biru keperakan itu mendadak menyusut drastis ke ukuran normal manusia. Lapisan bulu-bulu lebatnya menghilang menguap ke udara, digantikan kembali oleh wujud manusianya.
Ethan telah sepenuhnya kembali ke wujud aslinya sebagai seorang pemuda rupawan. Namun, sialnya bagi dirinya, kini ia terpaksa harus berdiri di tengah jalan setapak dalam keadaan tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya.
Seluruh perangkat kemeja mahal dan celana kain yang ia kenakan beberapa menit lalu telah hancur berkeping-keping menjadi potongan perca kain tidak berguna di atas tanah gembur akibat efek pemaksaan transformasi instan tadi.
Ethan berdiri mematung sekaku karang. Kedua belah telapak tangannya bergerak cepat mencoba menutupi area vital tubuhnya dengan gestur yang teramat canggung dan panik.
Sepasang mata merahnya menatap tajam ke arah Alan dengan pandangan penuh kekesalan. Untung saja bagi harga dirinya, kepekatan kegelapan malam yang turun memayungi area jalan setapak hutan terpencil ini bertindak sebagai perisai alami yang cukup efektif untuk menyembunyikan rasa malunya yang meledak. Meskipun tetap saja fakta realitas situasi saat ini terasa teramat sangat tidak nyaman bagi dirinya sebagai seorang calon Alpha dominan yang disegani.
Damian Dexter, yang sejak awal mula insiden itu terjadi hanya memilih untuk tetap diam terpaku menonton pertunjukan aneh di hadapannya menggunakan raut wajah polos tanpa dosa, akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara.
Ia tampak sangat bingung sekaligus takjub menyaksikan bagaimana bisa seorang pria secara magis memiliki kemampuan untuk mengubah wujud fisiknya menjadi seekor anjing raksasa, dan kini berakhir berdiri tanpa mengenakan busana sama sekali di tengah hutan.
"Maaf, Tuan... Apakah pria di depan kita saat ini merupakan sosok teman dekat yang Anda ceritakan di dalam ladang jagung tadi? Teman yang katanya memiliki rencana untuk pergi bertolak menuju ke Kota Vespera besok pagi?" tanya Damian polos.
Suara itu terdengar parau namun jernih, memecah keheningan malam yang dingin di antara riuh ilalang. Alan menolehkan kepalanya sedikit ke arah samping menatap Damian, lalu memberikan anggukan kepala pendek yang terkesan teramat santai.
"Iya, tebakanmu seratus persen benar, Damian. Pria di depanmu ini adalah sahabat dekatku, namanya adalah Ethan," jawab Alan dengan nada mantap tanpa beban.
Damian hanya membalas respons itu dengan seulas senyuman tipis yang teramat kaku, nyaris tidak kentara di balik kegelapan malam. Ia memberikan anggukan kepala kaku sebagai tanda penghormatan.
Tatapan mata Alan kemudian dengan cepat beralih kembali memandang wujud Ethan.
Pemuda calon Alpha dominan itu saat ini benar-benar tampak berada dalam kondisi yang sangat mengenaskan; jalinan rambut biru terangnya acak-acakan dipenuhi oleh patahan ranting pohon, dan saat ini ia tengah sibuk mengambil posisi berjongkok di atas tanah.
Kedua tangannya bergerak panik, berusaha mati-matian menutupi seluruh tubuh polosnya menggunakan tumpukan daun-daun jagung kering yang bergemerisik riuh setiap kali tubuh tegapnya bergerak gusar.
"Perbuatan aneh apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan saat ini, Ethan?" tanya Alan sembari mengeluarkan suara kekeh tawa geli yang tertahan di tenggorokan.
Alan sebenarnya tahu betul kalau sahabat karibnya itu saat ini sedang berjuang keras mempertaruhkan harga dirinya pasca dipaksa melakukan transformasi balik secara instan.
Mendengar suara teguran bernada ejekan dari Alan, Ethan sontak mendengus kasar dengan raut wajah yang memerah padam. Ia mendongakkan kepalanya ke atas, memberikan tatapan pelototan mata yang teramat tajam seolah-olah ingin menusuk menembus manik mata Alan saat itu juga.
"Apa sepasang mata butamu itu tidak bisa melihat kalau aku saat ini sedang berada dalam kondisi sibuk dan panik, hah?!" bentak Ethan dengan nada suara tertahan yang sarat akan emosi meluap.
Ia kemudian menjulurkan dagunya yang sedikit gemetar, menunjuk lurus ke arah posisi Damian berdiri di belakang Alan dengan pandangan penuh permusuhan.
"Mungkin jika makhluk asing sialan itu tidak ada di tempat ini, aku bersumpah aku tidak akan pernah sudi kehilangan seluruh pakaian mahalku dan berakhir dalam kondisi menyedihkan seperti ini!"
Napas Ethan memburu kacau. Rongga dadanya yang bidang namun kini telah kotor dipenuhi oleh noda tanah tampak naik-turun dengan ritme cepat. Ia mendelik penuh kobaran permusuhan ke arah Damian yang berdiri tenang.
"Kenapa kamu malah menimpakan kesalahan dan menyalahkan dia atas kecerobohanmu sendiri? Sudah sangat jelas dalam hukum logika kalau kamu yang bertindak salah di sini," sahut Alan tenang sembari melipat kedua belah tangannya di depan draf dada.
"Kenapa kamu langsung gegabah berganti wujud serigala tanpa membuka seluruh pakaianmu terlebih dahulu? Dan kenapa kamu tidak berniat bertanya dulu padaku sebelum menyerang?" cecar Alan logis.
"Ck. Sialan!"
Ethan berdecak kasar penuh rasa frustrasi. Ia memalingkan wajah tampannya ke arah samping, menggerutu tanpa kejelasan sembari kedua belah tangannya terus menggenggam erat tumpukan dedaunan kering di atas pangkuan paha telanjangnya yang mulai terasa membeku.
Alan menghela napas panjang yang sarat kelelahan mental, menyaksikan betapa keras kepalanya watak sang kawan. Ia menurunkan tas punggung berbahan kulit tebalnya yang tampak bermuatan berat ke atas tanah, lalu merogoh jemari tangannya ke dalam kompartemen utama.
Pria itu mengeluarkan sepotong jaket kulit hitam tebal miliknya serta sehelai celana kulit berburu cadangan yang masih bersih.
Alan tahu betul fakta realitas bahwa Ethan pergi mengikutinya membelah hutan secara impulsif—tanpa adanya persiapan logistik yang matang, tanpa membawa pakaian ganti cadangan sepotong pun, bahkan tanpa sempat berpamitan resmi pada pihak keluarganya di Pack House.
"Ini, cepat ambil dan pakailah pakaian ini!" Alan melemparkan bungkusan pakaian itu ke depan wajah Ethan.
Dengan tingkat kecekatan instan seorang predator malam, Ethan menangkap lemparan pakaian tersebut tepat di udara. Tanpa melontarkan sepatah kata pun sebagai ucapan terima kasih, ia segera mengenakan celana kulit berburu dan jaket tebal milik Alan dengan gerakan tangan yang terburu-buru. Ia menyembunyikan permukaan kulit tubuhnya yang kedinginan di balik tebalnya pakaian pelindung.
"Ayo kita bergegas pergi dari tempat ini sekarang," ajak Alan setelah memastikan Ethan selesai berpakaian dengan rapi.
Mereka bertiga pun mulai melangkahkan kaki bersama-sama, membelah jalur jalan setapak tanah yang kian remang menembus kegelapan. Langit malam di atas mereka tampak semakin pekat menakutkan, dan embusan angin mulai menusuk tajam hingga ke dalam sumsum tulang.
Di sepanjang sisi kanan dan kiri jalur berjalan mereka, objek yang terlihat hanyalah hamparan ladang jagung yang sangat luas tanpa batas. Batang-batang jagung yang menjulang tinggi melambai-lambai misterius tertiup angin malam, menciptakan suara gesekan daun kering yang menyeramkan persis layaknya untaian bisikan makhluk gaib dari kegelapan.
Sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan pemukiman warga lokal di sekitar area tersebut. Suasana yang sunyi itu mendadak terpecah oleh bisikan penuh penekanan dari Ethan yang berjalan di samping Alan.
"Apa otakmu sudah benar-benar gila sampai yakin akan mengajak makhluk itu ikut berjalan bersama kita?"