NovelToon NovelToon
Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kutukan
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Pak Tua

Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.

Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.

Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.

Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.

Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?

Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.

Dan dunia belum siap sama akibatnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: KENANGAN LAMA YANG KEMBALI

Sepulang dari minimarket malam itu, Bang Tua berjalan pulang dengan langkah yang jauh lebih berat dari biasanya, pikirannya penuh dengan wajah Farel yang menangis, mengingatkannya begitu kuat pada dirinya sendiri di masa lalu, saat dia juga pernah berada di persimpangan yang sama, memilih antara jalan yang benar dan jalan yang lebih mudah.

Sesampainya di kos, dia tidak langsung tidur, malah membuka lemari kecilnya, mencari map biru lama yang sudah lama tidak dia sentuh, tempat dia menyimpan bukti bukti kasus himpunan mahasiswa dulu. Dia duduk di lantai kamarnya, membuka map itu perlahan, membaca ulang catatan catatan lama yang sudah menguning dimakan waktu, mengingat kembali betapa sakitnya rasa dikucilkan karena berani jujur, tapi juga mengingat betapa dia tidak pernah benar benar menyesal karena tidak ikut jadi bagian dari kecurangan itu.

Dalam hati dia bergumam, "kalau dulu bapak nurutin aja permintaan buat diam, mungkin hidup bapak bakal lebih mulus, tapi bapak juga bakal jadi orang yang beda, entah lebih baik atau lebih buruk, nggak akan pernah tau juga sih". Dia tersenyum tipis membaca beberapa catatan lucu yang dulu dia buat, ternyata sejak muda dia memang sudah punya kebiasaan menyelipkan humor bahkan di tengah situasi paling berat sekalipun, kebiasaan yang ternyata bertahan sampai sekarang.

Salah satu catatan lama yang dia temukan bahkan membuatnya tertawa sendiri di tengah malam yang sunyi itu, coretan konyol dari dirinya yang dulu, "kalau nanti aku jadi profesor, aku mau bikin aturan, setiap ketua himpunan yang korupsi wajib disuruh push up seratus kali di depan mading kampus", tulisan tangan seorang mahasiswa muda yang penuh idealisme, jauh sebelum dia tahu bahwa dunia nyata jauh lebih rumit dari sekadar hukuman push up di depan mading.

Dia menutup map biru itu perlahan, menyimpannya kembali ke tempat semula, tapi kali ini dengan perasaan yang berbeda, bukan lagi sekadar kenangan pahit yang ingin dia lupakan, melainkan pengingat penting bahwa perjuangannya dulu, meski terasa sia sia saat itu, ternyata membentuk dirinya menjadi orang yang sekarang berani berdiri membela Farel, Riko, dan Dinda.

Malam itu dia menulis surat pendek, bukan untuk dikirim ke siapa pun, hanya untuk dirinya sendiri, semacam pengingat kenapa dia harus terus berjuang membantu Farel dan mahasiswa mahasiswa lain yang senasib. Dia menuliskan, "kejujuran itu mahal harganya, tapi kebohongan harganya jauh lebih mahal lagi, cuma dibayarnya belakangan, pelan pelan, sampai kita sadar udah kehilangan diri sendiri". Kalimat itu terasa berat bahkan bagi dirinya sendiri, sesuatu yang jarang sekali dia tuliskan sedemikian serius.

Keesokan harinya, dia sempat menghubungi Riko dan Dinda secara terpisah, sekadar menanyakan kabar mereka, memastikan keduanya masih bertahan dengan baik, dan diam diam berharap semoga Farel juga bisa bertahan dari godaan yang sedang dia hadapi. Dari Riko, dia dapat kabar baik, Dr. Marlina akhirnya benar benar membalas revisinya minggu itu, meski dengan catatan yang cukup banyak, tapi setidaknya progresnya mulai bergerak lagi. Dari Dinda, kabarnya juga cukup positif, meski Prof. Bonar masih terlihat dingin setiap kali berpapasan dengannya, tapi setidaknya tidak ada lagi tekanan berlebihan seperti sebelumnya.

Riko bahkan sempat mengirim pesan panjang lebar menceritakan progresnya, lengkap dengan emoji emoji semangat yang membuat Bang Tua tersenyum membacanya, mengingatkannya pada Riko yang ceria seperti dulu sebelum semua tekanan ini dimulai. Dalam hati dia berkomentar, "syukurlah, minimal satu dari tiga mahasiswa bapak udah mulai keliatan cahaya di ujung terowongan, semoga dua lagi nyusul secepatnya".

Dia membalas pesan Riko dengan candaan ringan, "bagus kali itu, jangan lupa nanti kalau udah sidang, traktir bapak kopi ya, itung itung rayakan progresmu", yang dibalas Riko dengan tawa emoji dan janji akan mentraktir bukan cuma kopi tapi juga makanan berat, sebuah pertukaran pesan sederhana yang berhasil membuat malam itu terasa sedikit lebih ringan di tengah beratnya beban pikiran yang sedang dia tanggung.

Hanya Farel yang masih membuatnya cemas, karena setiap kali dia coba menghubungi, balasannya selalu singkat, "baik baik aja, Pak", tanpa detail lebih jauh, membuat Bang Tua bertanya tanya apakah mahasiswanya itu benar benar baik baik saja, atau justru sedang bergulat sendirian dengan godaan yang semakin berat, sesuatu yang membuatnya memutuskan untuk lebih sering mampir ke minimarket itu di hari hari berikutnya, meski dia harus rela membeli lebih banyak mi instan dari yang sebenarnya dia butuhkan.

Suatu sore, saat sedang mengecek informasi akademik di sistem kampus untuk urusan lain, dia tanpa sengaja menemukan menu tersembunyi soal bantuan dana darurat mahasiswa, sesuatu yang ternyata memang ada tapi nyaris tidak pernah disosialisasikan, terkubur di antara puluhan menu lain yang lebih sering diakses. Dia mencatat detail persyaratannya baik baik, merasa menemukan secercah harapan konkret yang bisa dia tawarkan ke Farel, meski dia juga menyadari proses pengajuannya sendiri terlihat cukup berbelit, seolah sengaja dibuat rumit supaya tidak banyak yang benar benar mengajukan.

Dia mencetak halaman persyaratan itu, melipatnya rapi, dan menyimpannya di dalam map biru yang sama tempat dia menyimpan bukti bukti lama, seolah map itu kini bertransformasi jadi semacam arsip perjuangannya membela orang orang yang tidak berdaya menghadapi sistem yang timpang. Malam itu dia sempat mengirim pesan singkat ke Farel, "Farel, bapak nemu info soal bantuan dana darurat mahasiswa, nanti kapan kapan kita bahas ya, siapa tau bisa bantu meringankan bebanmu dikit", pesan yang dibalas Farel hanya dengan emoji jempol, tapi cukup membuat Bang Tua merasa sedikit lega, setidaknya ada satu langkah nyata yang sudah dia lakukan.

Beberapa hari berikutnya, dia juga sempat berdiskusi dengan Pak Ferdinand soal kemungkinan mengalokasikan sebagian dana penelitian kecil mereka berdua untuk membantu mahasiswa mahasiswa yang kesulitan finansial, sebuah ide yang disambut baik oleh Pak Ferdinand meski keduanya sadar itu hanya solusi kecil yang tidak akan menyelesaikan masalah struktural yang jauh lebih besar, tapi setidaknya, seperti kata Bang Tua sambil bercanda, "mendingan bantu sedikit sedikit daripada cuma ngedumel doang tanpa aksi nyata, kalau ngedumel doang mah bapak udah jago dari dulu".

Pak Ferdinand tertawa mendengar candaan itu, lalu menepuk pundak Bang Tua sambil berkata, "kau ini berubah banyak kali belakangan, Sahat. Dulu paling diem aja kalau ada masalah, sekarang malah jadi paling rajin cari solusi. Ada apa sebenarnya sama kau ini?" pertanyaan yang membuat Bang Tua sempat terdiam sejenak, tergoda untuk menceritakan rahasia besar yang selama ini dia simpan sendirian, sebelum akhirnya memilih menjawab dengan candaan untuk mengalihkan topik, "mungkin efek kebanyakan makan gorengan Bu Rohana, Pak, jadi lebih berenergi buat mikirin orang lain", jawaban yang disambut tawa oleh Pak Ferdinand tanpa curiga sedikit pun akan kebenaran yang sesungguhnya.

1
Aisyah Suyuti
menarik
AGRI
sangat menarik
Nazira Kania: Hai Kak 😊 Saya dari tim redaksi Perkasa Satu. Naskah Kakak di NovelToon menarik dan layak diterbitkan menjadi buku. Saat ini kami membuka Program Terbit Gratis Edisi Oktober untuk 10 naskah tercepat, dengan Free ISBN dan buku yang diterbitkan dapat masuk Gramedia digital maupun offline (s&k). Fasilitas lainnya: editing, desain cover, sertifikat penulis, promosi, serta royalti 20–30%. Tertarik? Hubungi Admin 📱 083197323183.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!