Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.
Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.
Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Topeng Sang Guru
Sorot mata Cassandra terpaku pada wajah di hadapannya. Sensasi dingin merayap cepat dari keningnya hingga ke seluruh tubuh.
Pak Hermawan, guru komputer yang dikenal paling ramah di SMA Garuda, kini berdiri memegang senapan. Senyum hangat yang biasa ia tampilkan di kelas telah berganti menjadi tatapan penuh kejahatan.
"Pak Hermawan...?" bisik Cassandra dengan suara bergetar tak percaya.
Pria paruh baya itu terkekeh pelan, menyapu pandangannya dari Cassandra ke arah Narendra yang tergeletak di lantai. Senjata laras panjang di tangannya tetap terarah stabil tanpa getaran sedikit pun.
"Kalian berdua memang siswa paling cerdas yang pernah saya ajar," puji Pak Hermawan dengan intonasi santai. "Tapi kejujuran dan idealisme remaja kalian sungguh sangat mengganggu bisnis saya."
Ibu Cassandra menjerit histeris dari belakang, berusaha menarik tubuh putrinya menjauh dari jangkauan senjata. Namun, dua orang penjaga bertubuh tegap bergegas muncul dari kegelapan dermaga dan langsung mengunci kedua lengan ibu Cassandra.
Narendra batuk kecil di atas lantai beton yang dingin, mencoba mengangkat kepalanya yang terasa pening.
"Jadi, selama ini Bapak yang merancang arsitektur server pasar gelap milik ayah saya?"
"Tepat sekali, Narendra," jawab Pak Hermawan seraya melangkah mendekati tubuh Narendra yang terikat kabel baja. "Ayahmu hanyalah sosok pengusaha berotak tumpul yang menyediakan modal besar."
Ia mengarahkan ujung senapannya ke dada Narendra dengan raut wajah tanpa penyesalan. "Saya adalah otak sebenarnya di balik seluruh jaringan kejahatan digital ini."
Cassandra berusaha mengotak-atik ponsel pengontrol sinyal di balik punggungnya secara sembunyi-sembunyi. Jemarinya mengingat letak tombol bypass cepat yang pernah diajarkan Narendra di laboratorium.
Rizal berjalan mendekat dari dalam gudang dengan sisa rasa panik yang masih terlihat di wajahnya. "Pak Hermawan, tim SWAT polisi sudah berjarak lima belas menit dari tempat ini!"
"Tenang saja, Rizal," tanggap Pak Hermawan dingin tanpa mengalihkan pandangannya. "Kita punya cukup banyak sandera dan flashdisk enkripsi ini untuk memastikan kita bisa keluar negeri malam ini."
Narendra memanfaatkan fokus Pak Hermawan yang teralih sejenak untuk menatap Cassandra. Lewat isyarat kedipan matanya, ia memberi kode agar Cassandra menyalakan frekuensi gelombang pendek pada sistem keamanan gudang.
Cassandra mengerti kode itu seketika. Jemarinya mengeksekusi baris perintah terakhir pada ponselnya tepat saat Pak Hermawan berbalik hendak meraih tasnya.
BZZZZZZT!
Sebuah gelombang suara berfrekuensi tinggi mendadak memekakkan telinga meletup dari sistem speaker darurat gudang. Suara melengking tajam itu membuat Pak Hermawan dan Rizal spontan merintih kesakitan seraya menutup kedua telinga mereka.
Dua penjaga tegap yang memegang ibu Cassandra ikut kehilangan keseimbangan karena rasa sakit di kepala mereka.
"Ibu, lari ke arah kontainer!" jerit Cassandra memanfaat momen kekacauan tersebut.
Ibu Cassandra segera melepaskan diri dan berlari sekuat tenaga menuju barisan kontainer berkarat di pinggir dermaga.
Di saat yang sama, Cassandra melompat menubruk Pak Hermawan dari samping. Benturan keras itu membuat senapan laras panjang di tangan guru tersebut terlempar jatuh ke dasar laut di bawah dermaga.
BYUR!
"Bocah sialan!" bentak Pak Hermawan seraya menghempaskan Cassandra ke lantai beton gudang.
Narendra yang tangannya masih terikat kabel baja dengan nekat menerjang kaki Pak Hermawan menggunakan seluruh berat tubuhnya. Pria paruh baya itu tersungkur keras, membuat remote detonator di saku bajunya terlepas dan bergulir ke dekat pintu.
Rizal yang baru pulih dari efek suara melengking langsung menyergap remote tersebut dari lantai. Matanya menyala penuh dendam saat melihat Cassandra berusaha bangkit dari lantai.
"Selesai sudah permainan kalian!" teriak Rizal histeris seraya menekan tombol merah pada detonator di tangannya.
BIP! BIP! BIP!
Bukannya ledakan di dalam gudang yang terdengar, melainkan sirine peringatan dari tangki bahan bakar kapal jet pribadi yang bersandar di ujung dermaga tua. Tangki tersebut rupanya telah diset untuk meledakkan dermaga jika diaktifkan secara paksa.
Hitungan mundur sepuluh detik menyala merah terang di atas dinding kapal jet tersebut.
Pak Hermawan bangkit dengan wajah pucat pasi, menyadari kesalahan fatal yang dilakukan Rizal. "Rizal, kamu bodoh! Itu tombol penghancuran dermaga!"
Di tengah kepanikan massal itu, Narendra berhasil memotong kabel baja penikat tangannya menggunakan pecahan kaca di dekatnya. Ia berdiri dan menyambar lengan Cassandra untuk melarikan diri dari area bahaya.
"Cas, kita harus loncat ke laut sekarang!" seru Narendra kencang di tengah dengung sirine yang makin cepat.
"Tapi ibu gue gimana?!" jerit Cassandra ketakutan seraya menatap ke arah kontainer.
"Ibu kamu sudah aman di jalan raya!" balas Narendra mantap seraya memeluk pinggang Cassandra erat-erat.
TIGA... DUA... SATU...
BOOM!
Dermaga tua meledak dahsyat, menciptakan gelombang api besar yang melahap seluruh bangunan gudang dan kapal jet tersebut.
Narendra dan Cassandra melompat dari tepi dermaga persis di detik ledakan terjadi, tenggelam masuk ke dalam dinginnya air laut malam yang gelap.
Saat Cassandra mencoba berenang ke permukaan di tengah amukan api di atas air, sebuah cengkeraman tangan mekanis dari dalam kegelapan dasar laut mendadak menarik pergelangan kakinya turun ke bawah.