NovelToon NovelToon
Becoming Nyonya Kim

Becoming Nyonya Kim

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Selingkuh
Popularitas:430
Nilai: 5
Nama Author: Isaidno

Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.

Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.

Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.

Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3.

“Sor, kau darimana saja sih?”

Soraya memutar bola matanya, sedikit menyalahkan Ines atas apa yang terjadi padanya. Mendudukkan diri di kasur, Soraya kembali teringat kejadian tadi subuh.

“Inesaaaa, ini semua gara-gara kau ya, bengek!”

Ines yang sedang membereskan beberapa barangnya karena sudah akan berangkat mengernyit heran. “Apasih Sor? Udah telat nggak tahu kemana, datang marah-marah.”

“Iya, kenapa sih Sor?” timpal Julia yang sedang menyantap sarapan sambil men-scroll ponselnya.

Menghembuskan nafas kasar, Soraya melepaskan ketegangan pundaknya agar lemas. Tadi dia berbohong, tapi setelah dipikirkan kembali, harusnya tidak apa-apa untuk berbagi.

“Tadi itu aku bohong.”

“….“

Julia dan Ines masih diam setelah saling melempar pandangan.

“Aku sebenarnya tidak menyewa kamar di resort sebelah, tapi aku … tidur di mobil orang dan itu semua salahmu!” tunjuk Soraya pada Ines dengan sedikit sengit.

Ines mengangkat kedua bahunya, kaget sekaligus acuh karena tidak merasa melakukan hal yang salah.

“Soraya, … kalau sakit itu pergi rumah sakit, jangan pelit ma diri sendiri,” tolak Ines.

Tapi Soraya begitu kekeh. Dia masih ingat, bahwa dalam ketidakmampuannya mengendalikan diri akibat alkohol, dia sempat berpikir bahwa Alexander adalah pria penghibur yang dikirim Ines padanya. Jangan tanya kenapa, itu karena Ines suka bercanda seperti itu manakala Soraya atau Julia berulang tahun atau dalam momen tertentu. Jadi otak Soraya memproses hal ini begitu saja.

“Lah tunggu, kau tidur di mobil orang itu maksudnya gimana? Jangan-jangan kau tidur sama si pemilik mobil lagi?” tanggap Julia sedikit bercanda.

Namun betapa terkejutnya mereka ketika melihat reaksi Soraya dengan bibir dimanyunkan dan mata yang hampir berkaca-kaca.

“Omaygat!!!”

Julia berdiri sedikit heboh, begitupun Ines, tapi dia lebih sedikit khawatir.

“Tunggu Sor, jangan bilang ….?”

Soraya berdecak kesal. Kesedihan yang hampir datang berganti kesal dengan cepat. Satu sudut bibirnya terangkat sinis dengan mata memicing karena kesal. Semakin kesal mengingat Alexander menuduhnya memiliki sugar baby.

Dengan rincian cerita Soraya, baik Ines maupun Julia terdiam dengan mata membulat penuh. Sejenak kehilangan kata-kata karena keterkejutan mereka. Benar bahwa Ines suka menggunakan hal-hal aneh sebagai candaan, seperti mengirim pria penghibur saat ulang tahun dan sebagainya. Tapi itu benar-benar candaan, karena tentu saja tidak ada dari Julia atau Soraya yang akan membutuhkan hal itu.

“Sor, ini beneran?” tanya Julia tegang.

Berbeda dengan ketegangan Julia, Soraya meskipun kesal sedikit lebih acuh sekarang. Nampaknya setelah berbicara, perasaannya menjadi lebih ringan. Jadi Soraya hanya berdecak sebagai jawaban, tapi tetap sukses membuat Julia dan Ines histeris.

“Duh sudah ah, apaan sih! Namanya juga nggak sengaja, kek mau jadi sesuatu aja,” ujar Soraya mencoba mengakhiri.

Walaupun ada histeria dan beberapa pertanyaan lanjutan, Ines dan Julia menjadi diam pada kalimat Soraya tadi. Benar bahwa mereka mungkin terlalu berlebihan dalam khawatir. Lagipula tidak ada dari keduanya yang tidak tahu kondisi kesehatan Soraya, yang membuatnya tidak bisa seperti perempuan lain di luar sana.

Ingatan tentang hal ini membangkitkan rasa bersalah dan kecanggungan, tapi beruntung segera dihempas Soraya dengan berita baru yang membuat ketiganya teralih begitu saja.

“Ngomong-ngomong lupakan itu. Kita harus kembali dari sini sekarang juga, karena—”

“Karena apa?” potong Ines tidak sabar.

Mengulum senyumnya dengan dibuat-buat, Soraya sedikit bermain-main sebelum menjawab.

“Karena aku sudah terima telepon dari Montera.”

“APA?” — “Sumpah?”

“Mm. Aku akan ke negera itu.” Angguk Soraya bangga.

“YEEEAAAYYYY!!!”

•

•

Semenjak hari itu, dua pekan pun berlalu.

Di dua belahan dunia yang lain, dua orang asing dengan takdir terikat mencoba menjalani hari-hari mereka sebiasa dan sebisa mungkin.

Untuk seseorang yang acuh seperti Soraya mungkin hampir tidak ada perubahan apapun, tapi tidak bagi seseorang seperti Alexander. Bahkan jika dua pekan telah lewat dan kini dia sudah kembali duduk di kursi kebesarannya untuk melanjutkan bisnis yang bergantung padanya, pikiran Alexander masih selalu kembali pada saat dan tempat itu.

“Maaf Bos, saya masuk tanpa mengetuk. Saya memanggil tapi tidak kunjung mendapatkan jawaban, jadi sedikit khawatir.”

Menarik nafas panjang disertai kepalan tangan yang menutup area mulutnya, Alexander mencoba menyembunyikan keterkejutannya. Sebagai seorang Bos, dia jelas terlalu malu didapati sedang merenung kosong.

“Ada apa?”

Langsung Alexander tanpa mencoba menjelaskan pada sang Sekretaris.

Sekretaris pun memberikan beberapa berkas untuk Alexander baca, sebelum pria itu melabuhkan tanda tangan di atas kertas-kertas tersebut dan menyerahkannya kembali.

Sementara sang Sekretaris, pria yang hampir sebaya dengannya itu mengambil kembali berkas dengan canggung. Sudah dua minggu sejak kembalinya sang Bos dari negara T, dan dia melihat bahwa Bos-nya itu bersikap tidak seperti kebiasaan.

Karena alasan kekhawatiran dan bagian dari tanggung jawab, maka dia memberanikan diri untuk membahasnya.

“Ehmm, … Bos maaf kalau saya lancang. Tapi apakah anda baik-baik saja? Entah ini hanya perasaan saya, tapi belakangan ini anda—”

“Karel,” Alexander menggumamkan nama sang Sekretaris pelan sebagai tanda agar berhenti. Seolah-olah dia punya sesuatu untuk dikatakan, tapi tidak tahu apa yang harus dikatakan juga.

Jadi dalam keterdiaman Karel, Alexander menarik nafas panjang yang benar-benar panjang. Mengalihkan pandangan dari pria di depannya itu, Alexander menatap keluar ruangannya yang terbuat dari dinding kaca yang kokoh. Pikirannya seperti melayang, menatap hamparan indah kota Soiil sebagai jantung negara itu.

Tapi bahkan dengan pemandangan itu, masih tidak bisa membuat hatinya tenang atau siap untuk berkata. Dia benar-benar tersesat, hingga melempar pandangannya ke arah langit-langit ruangan dan berganti ke seluruh ruangan yang didominasi oleh nuansa kayu yang indah.

Sudah dua pekan dan dia benar-benar tidak bisa melupakan kejadian hari itu. Dia tidak berdaya dan sangat diliputi kecemasan. Pernikahannya sudah ada di depan mata, sementara kondisi atau hasil akhir wanita muda itu masih tidak diketahui.

Dia sangat takut jika masalah kecil yang dia buat akan menjadi besar, yang entah mengapa, instingnya mendukung ketakutannya. Jadi tidak ingin menghindari hal ini lebih lama, Alexander akhirnya mengambil keputusan.

“Soraya. Aku tidak tahu nama lengkapnya tapi yang jelas Soraya. Wajahnya sangat cantik, usianya sekitar awal dua puluhan, benar-benar sangat segar. Seperti ras campuran tapi lebih ke ras As-bar.”

Karel, Sekretaris sekaligus teman yang dipilih Ayah Alexander untuk mendampingi sejak awal, tidak bisa menahan keterkejutan. Mulutnya sempat ternganga, namun dengan cepat ditutupi dengan kepalan tangan saat tersadar.

“Ehm, …maaf Bos, tapi apa maksud ini semua?”

Tidak menatap Karel, Alexander berpura-pura menatap laptop dengan serius. “Carikan akun media sosial gadis itu secepat mungkin, dan tidak boleh ada yang tahu soal ini. Tidak satu pun.”

Sedikit lambat, namun setelah mendapatkan kesadarannya Karel segera membungkuk hormat tanda ketaatan. Sikap inilah yang paling disukai Alexander dari Karel.

“Baik Bos, akan segera saya dapatkan,” ujarnya sebelum meninggalkan ruangan Alexander.

Barulah setelah pintu ditutup, Alexander yang tadi berpura-pura sibuk bekerja kini menghembuskan nafas lega hingga bahunya lunglai.

Ya, dia harus mengakui, bahkan jika Karel adalah pekerja dan juga temannya, dia tetap malu ketahuan berurusan dengan wanita lain.

“Tidak ada, semua belum terlambat,” yakin Alexander yang merasa sedikit frustasi.

Tapi baru juga sebentar melepas ketegangan, ketegangan lainnya datang mengetuk pintu kerjanya.

TUK. TUK. TUK.

Pintu yang diketuk dengan cara yang aneh dan tanpa pemberitahuan dari luar memberitahu Alexander bahwa yang mengetuk adalah sang kekasih yang telah dihindarinya belakangan ini.

Alexander panik dan mulai mengusap dahi yang penuh keringat di ruang dingin dengan telapak tangan, hingga membenarkan jasnya yang bergaya classic fit suit berwarna biru.

Mengembangkan senyum kaku yang entah darimana, Alexander memaksa diri menjadi luwes untuk menyambut sang calon istri.

KLEK. — Pintu dibuka.

Menampilkan seorang wanita dengan tinggi sekitar seratus tujuh puluh dua sentimeter, badan langsing sesuai standar kecantikan, kulit putih dan wajah yang tidak senang.

“Hana, ….”

Lii Hana, nama wanita itu, tidak mengindahkan tangan terbuka yang dibuat Alexander menyambutnya. Dengan langkah tegas dia masuk ke dalam, mengabaikan si pemilik ruangan.

Alexander yang diperlakukan seperti itu tidak mempermasalahkan sama sekali. Karena jauh di dalam hati, dia bahkan sudah merasa diri tidak layak untuk Hana. Wanita baik, berpendidikan, dan berpendirian teguh pula.

“Jadi Tuan Alexander yang sangat sibuk, kamu dari mana saja belakangan ini?” tanya Hana setelah mendudukkan dirinya di sofa khusus tamu.

Mengenakan dress cha-nella hijau pendek, dengan kaki yang tersilang dan sedikit mengekspos bagian kakinya yang jenjang, Alexander yang ikut duduk di depannya sontak menundukkan pandangan lebih dalam menghindari hal ini.

Kemarin-kemarin ini masihlah hal biasa baginya. Namun setelah kejadian dua minggu lalu, dia merasa tertuduh sebagai orang munafik saat ini. Bayangkan menjaga diri dari wanitamu sendiri, tapi jatuh kepada wanita lain.

“Alexander,” Hana memanggil dengan nada yang datar tapi terdengar ketidaksenangannya.

“Alexander. Alexander Kim.”

Kali ini nadanya meningkat satu oktaf, yang berhasil memulihkan Alexander dari jebakan pikirannya sendiri.

“Maaf Hana, aku tidak sengaja. Kamu bilang apa tadi?”

Walaupun sempat kesal, Hana hanya bisa meluruhkan bahunya letih. Alexander bukan satu-satunya yang bermasalah disini, dia pun begitu.

Bukan hanya dua minggu, tapi sudah hampir dua bulan dia dibuat kesal dengan orangtuanya yang tidak pernah berhenti menanyakan persiapan pernikahan mereka. Kapanpun dan dimanapun itu selalu menjadi topik, dan dia tertekan. Benar-benar tertekan.

Menyandarkan punggungnya ke sofa dengan tangan terlipat di dada, ada keterdiaman untuk beberapa saat di antara mereka.

Alexander sebagai pihak yang dipenuhi rasa bersalah dan ketidakmampuan untuk menentukan keputusan saat ini, berusaha keras tampak normal.

“Maaf, belakangan ini ada banyak hal yang harus ku'urus sampai membatalkan beberapa janji kita.”

Mendengar pernyataan kaku ini, mata monolid Hana dengan tambahan menyipit menatap Alexander penuh penghakiman.

“Ini bukan sekadar janji temu biasa, ini adalah persiapan pernikahan kita. Dan kamu telah mempermalukan diriku, Tuan Alexander, dengan membuatku mengurus semuanya sendiri.” Hana tidak terima.

Menundukkan kepalanya, Alexander bahkan tidak bisa menatap mata Hana. Dia bergumul dalam moral untuk beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk.

“Mm, kamu benar Hana, aku sangat bersalah. Mari jadwalkan pertemuan lagi dengan para vendor.”

Hana membuang wajahnya mendengar ini, masih kesal dengan beberapa hal yang lewat. Tapi begitu dia bukan tipe kekanakan yang akan membuat masalah, dengan tangan terlipat di dada, dia juga mengangguk setuju.

“Mm, … tapi tidak perlu menjadwalkan pertemuan diluar. Kamu sediakan waktu saja, mereka yang akan datang kemari. Persiapan pernikahan akan kita laksanakan disini, mengingat saking sibuknya mempelai pria,” tutup Hana, yang masih menyelipkan sarkas.

Alexander tidak nyaman dengan penempatan ini. Jika ini sebelumnya, dia akan menolak. Dia tidak suka hal pribadi dibicarakan dalam tempat kerja. Namun ditawan rasa bersalah pada Hana, membuatnya tidak punya pilihan.

“Bagus, aku membuat waktu secepatnya.”

Lagi, kecanggungan terjadi di antara keduanya. Hana yang menyadari hal ini, mengira bahwa itu datang darinya yang kesal. Sebagai wanita dewasa dalam menghadapi pernikahan, maka dia pun mencoba menjadi lebih halus setelah ketegangan terurai.

Mengurai tangan tersilangnya dari dada, dia mengembangkan senyum lembut. Berdiri untuk berpindah di samping Alexander, dan mengalungkan tangannya di bahu pria yang sedikit gemetar itu.

“Sayang, kamu jangan ulangi lagi seperti ini. Aku itu hampir kena stroke ditanya mama dan papa soal pernikahan kita setiap hari. Mana alasannya kamu sibuk terus.”

Memaksakan senyumannya, Alexander mengusap punggung tangan Hana dengan sayang.

“Maaf, maaf sekali soal itu. Maafkan aku Hana, maaf sekali.”

Mendapati permintaan maaf yang sedikit berlebihan dari Alexander, hati Hana meleleh. Dia melayangkan kecupan pada pipi Alexander tiba-tiba, membuat pria yang sebenarnya meminta maaf karena kesalahan yang diperbuatnya di belakang itu tertegun.

Ciuman tanda kasih sayang seperti ini harusnya hal biasa di antara mereka, tapi entah kenapa, jantung Alexander berdegup kencang kali ini.

Sebuah perasaan tidak seharusnya datang merayap, memberitahu Alexander bahwa ini tidak benar. Memberitahunya bahwa dia tidak layak untuk ciuman itu, apalagi ketika dia sudah terikat dengan orang lain.

Terikat?

Tunggu?

“Apa ini?”

“Kenapa sayang?” tanya Hana bingung dengan kata ‘Apa ini?’ dari sang tunangan.

Alexander terdiam, berpikir serius.

Sejak kapan dia mengikatkan diri pada orang lain? Dan siapa orang lain selain Hana yang terikat padanya?

Gadis itu?

1
Isaidno
Tolong like atau tinggalkan komentar ya, kalau suka 🥀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!