NovelToon NovelToon
SELIR DI DALAM TUBUH NAYA

SELIR DI DALAM TUBUH NAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dide_Lara

Dulu dia mati karena diam. Sekarang dia hidup untuk bersuara.*

lie yun vei, seorang selir cerdas di era dinasti, mati tragis karena dijebak dan difitnah.
Di kehidupan barunya, dia bereinkarnasi jadi selebriti bawahan yang juga ditindas manajernya, Hans.

Tapi kali ini Naya tidak akan diam.
Dengan otak selir dan mental baja, dia akan membalikkan keadaan.
Di tengah drama, skandal, dan paparazzi... muncullah CEO dingin yang tiba-tiba tertarik padanya.

*Dendam harus dibayar. Ketenaran harus direbut.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dide_Lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGAKUAN DI TENGAH PERSELISIHAN

"Cepat serahkan Naya dan Tuan Ajimo, maka kalian tidak akan terluka!" ujar salah seorang anak buah Hans dengan suara menggelegar.

Tanpa menunggu jawaban, anak buah Hans langsung berlari menyerang ke arah kami. Jumlah mereka banyak, wajah mereka bengis seperti serigala lapar.

Dengan sigap, Vanka menghantam para algojo Hans. Tangannya yang gagah dan kekar bergerak cepat, setiap pukulannya menghantam tepat sasaran. Begitu pun dengan Dany, mereka saling menyerang tanpa henti, pertarungan sengit tak terhindarkan. Sedangkan aku ikut menyerang dengan peralatan masak yang ada di kedai.

Aku menyiramkan saus ke mata algojo Hans yang hendak meraihku. Ia berteriak kesakitan sambil memegangi matanya. Aku berlari, memberanikan diri menghantam kepala mereka dengan teflon yang cukup berat, sehingga membuat anak buah Hans tumbang satu per satu. Suara dentingan wajan dan teflon beradu dengan teriakan memenuhi kedai kecil itu.

Setelah perkelahian yang memakan waktu hampir dua jam, para anak buah Hans akhirnya tumbang. Mereka berjumlah sepuluh orang, tergeletak tak berdaya di lantai yang berantakan.

Vanka dan Dany segera mengikat tangan mereka dengan tali tambang yang kuat, agar tidak bisa melarikan diri.

Vanka kemudian menelepon pengawalnya untuk datang ke kedai Dany dan membawa polisi.

Dany langsung mendekat ke arahku, wajahnya penuh kekhawatiran.

"Naya, kamu tidak apa-apa?" tanya Dany dengan nada khawatir yang mendalam.

Aku hanya menggelengkan kepala, napasku masih terengah-engah.

Sedangkan Vanka duduk di kursi, terlihat lemas. Keringat membasahi pelipisnya.

Aku melihat punggungnya terluka, mengeluarkan darah yang cukup banyak sehingga terlihat dari luar bajunya yang putih. Darah itu merembes, membentuk noda merah yang mengerikan.

Aku langsung melangkah menghampiri Vanka yang sedang duduk, karena telah menolongku, punggungnya terluka parah.

"Vanka, punggungmu terluka!" ujarku dengan gugup, suaraku bergetar mengkhawatirkan Vanka.

"Sini aku lihat, lukanya cukup dalam, Vanka," ujarku seraya memegang lukanya dengan hati-hati.

"Auuch..." keluh Vanka yang kesakitan, rahangnya mengeras menahan perih.

"Dany, di mana kotak P3K?" tanyaku kepada Dany dengan panik.

"Bentar, aku ambilkan," ujar Dany seraya melangkah mengambil kotak P3K dari dalam lemari.

Dany menyerahkannya kepadaku, lalu dia mengambil alkohol dan air mineral untuk membersihkan luka Vanka dan meletakkannya di atas meja yang masih berantakan.

Aku langsung berdiri tegak di belakang Vanka. Vanka membuka bajunya secara perlahan. Terlihat dengan jelas punggung bidang Vanka yang kekar di depan mataku. Otot-ototnya tegas seperti pahatan. Dengan gugup dan tangan gemetar, secara perlahan aku membersihkan luka Vanka dan menuangkan sedikit alkohol, sehingga membuat ia sedikit meringis kesakitan. Bau alkohol menyengat hidung.

Aku memberinya obat merah dan memperbannya dengan hati-hati. Jantungku berdegup kencang tak karuan.

"Sudah selesai," ujarku dengan suara pelan.

Vanka langsung memakai bajunya lagi secara perlahan, menahan rasa nyeri yang luar biasa.

Aku melangkah pergi untuk menyimpan kembali kotak P3K milik Dany. Namun, Vanka tiba-tiba menarik lenganku, membuatku harus mendongak sedikit ke atas karena badannya yang tinggi dan kekar. Mata kami beradu, saling tatap dalam keheningan yang menyesakkan.

"Kenapa dia sangat tampan, dengan bola mata berwarna hazel dan rambut yang disisir ke belakang, harum tubuhnya yang menusuk hidungku membuatku ingin selalu mengendusnya," gumamku dalam hati. Pesonanya seperti magnet yang menarikku.

"Ke-kenapa?" ujarku dengan gugup menatap mata Vanka yang dalam.

"Terima kasih," ujarnya dengan suara berat dan melepaskan tanganku secara perlahan.

Dany yang sedang membereskan meja melirik ke arah kami dengan tatapan tajam, seolah tidak senang dengan keberadaan kami yang begitu dekat.

Terdengar suara deru mobil secara bersamaan dari luar. Pengawal Vanka datang, diikuti dengan agen CIA. Mereka masuk ke dalam kedai dengan langkah tegap. Para agen CIA membawa para anak buah Hans masuk ke dalam mobil dan akan dibawa ke kantor CIA untuk menjadi tahanan.

Tidak lama kemudian, Puri dan Alex datang dengan mobil yang terparkir tidak beraturan di depan kedai.

Puri berlari ke arahku dan memelukku dengan erat.

"Naya, kamu terluka? Apa yang sakit?" ujar Puri mengkhawatirkanku, matanya berkaca-kaca.

"Aku baik-baik saja, Puri," ujarku menenangkan Puri yang panik.

"Kenapa kau tidak menghubungi kami, Naya?" ujar Alex yang kesal sekaligus khawatir, nada suaranya tinggi.

"Aku tidak ingin membuat kalian khawatir," ujarku menjawab pertanyaan Alex dengan lirih.

Alex tidak mengatakan apa pun dengan jawabanku. Ia langsung membantu Dany membereskan kekacauan akibat ulah para algojo Hans. Pecahan piring dan kursi berserakan di mana-mana.

Vanka sedang berbicara kepada pengawalnya di luar, entah apa yang mereka bicarakan dengan serius.

Dany melangkah mendekat ke arahku dengan membawa air mineral, seakan ia tahu aku sedang lelah dan kehausan.

"Ini minum, Naya, kau pasti lelah," ujar Dany seraya menarik kursi, menyuruhku untuk duduk.

Vanka menoleh ke arah kami, tatapan matanya sangat tajam padaku, seolah aku telah melakukan kesalahan besar. Ia melangkah ke arahku, entah mengapa dia sangat gagah dan tampan di mataku, seperti ksatria yang baru saja pulang dari medan perang. Lalu ia menarik kursi dan duduk di hadapanku, memegang pundakku dengan kedua tangannya yang hangat.

"Naya, kenapa mereka mencarimu? Siapa Tuan Ajimo yang mereka cari?" tanya Vanka dengan nada menuntut.

Aku hanya diam, aku tidak menjawab pertanyaan Vanka. Aku belum mengenal seperti apa Vanka sebenarnya, aku belum bisa percaya sepenuhnya.

Dany melihatku langsung menepis tangan Vanka dari tubuhku dengan kasar.

"Apa urusanmu?" ujar Dany dengan tatapan tajam pada Vanka, emosinya mulai tersulut.

"Jelas aku ingin tahu, aku ingin menjaga Naya," ujar Vanka menatap Dany balik tanpa rasa takut.

Puri dan Alex terkejut dengan perselisihan mereka, antara Dany dan Vanka. Suasana kedai yang baru saja tenang kini kembali memanas.

Aku masih duduk mematung, menatap mereka berdua yang saling beradu ego.

"Apa hakmu untuk menjaga Naya?" Dany yang mulai emosi menarik kerah baju milik Vanka dengan kuat.

"Aku menyukai Naya," ucap Vanka lantang, seraya mengibaskan tangan Dany dari kerah bajunya. Pernyataan Vanka itu membuat seisi kedai diam terkejut, hening seketika.

"Sudah cukup! Aku tidak perlu perlindungan siapa pun!" seruku sambil berdiri dengan dada berdegup kencang melihat perselisihan Dany dan Vanka. Air mataku hampir tumpah karena bingung.

Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.

Kreeek...

*Bersambung...*

1
Rosdianah 🌷
revisi kak, pelayan ku.
Nurull Sef Az: oke ka makasih
ya ka
total 1 replies
Nurull Sef Az
plotwis banget
muhammad fikriaz
suka sama alur ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!